
Langit biru perlahan berubah menjadi jingga, pertanda matahari mulai terbenam secara perlahan, menutup hari yang betul-betul melelahkan bagi para pejuang jihad di jalan Allah. Ameer dan Jhony kini tiba di rumahnya menjelang maghrib.
"Assalamu 'alaikum.." ucap Ameer, namun tak ada satupun orang yang menjawab.
Beberapa kali Ameer mengulangi salamnya disertai dengan ketukan pintu, namun tak ada satupun jawaban dari dalam rumah.
"Kemana yah mereka? tumben-tumbennya rumah dalam keadaan kosong," gumam Ameer.
"Kenapa bro?" tanya Jhony heran.
"Keluargaku nggak ada di rumah, aku akan coba menghubungi adikku dulu," tukas Ameer lalu menghubungi Ameerah.
"Halo, assalamu 'alaikum, dek?" sapa Ameer.
"Wa'alaikum salam, iya kak ada apa?" tanya Ameerah dari seberang telepon.
"Kamu lagi dimana? Ibu dan ayah dimana?" tanya Ameer.
"Aku, ibu dan ayah lagi di rumah paman Yusuf, ada apa kak? Mau bicara sama ibu yah?"
"Nggak, cuma nanya aja kok, ya sudah kalau gitu, assalamu 'alaikum," ucap Ameer lalu mengakhiri panggilannya setelah Ameerah menjawab salamnya.
"Jhon, ikut aku sekarang," ujar Ameer lalu kembali menahan taksi yang lewat.
"Kita mau kemana bro?" tanya Jhony bingung.
"Ke rumah pamanku, untuk menitipkanmu disana," jawab Ameer.
"Astaga, memangnya aku barang pake acara di titip-titip segala," dengus Jhony, membuat Ameer terkekeh.
Mereka berdua pun akhirnya bertolak ke rumah Yusuf dan Yasmin dengan menggunakan taksi. Kurang lebih 20 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah mewah Yusuf dan Yasmin.
"Assalamu 'alaikum," ucap Ameer sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam," jawab Yasmin setelah membuka pintu, "Ameer? Kamu kapan balik dari Singapura?" tanya Yasmin yang terkejut.
"Baru saja aunty, oh iya, ibu dan ayah ada disini yah?" tanya Ameer.
"Iya, mereka lagi di dalam, ayo masuk nak, ajak teman kamu juga," ujar Yasmin.
Ameer dan Jhony akhirnya masuk bersama menuju ruang keluarga tempat orang tuanya berkumpul.
"Kak Ameer," pekik Ameerah saat melihat Ameer tiba, ia dengan cepat berlari dan langsung memeluk kakak satu-satunya itu.
"Duh adikku makin cantik aja," goda Ameer, membuat wajah Ameerah merona malu
"Ameer?" ujar Anna dan Wildan bersamaan, mereka ikut berdiri karena terkejut dengan kedatangan Ameer yang tiba-tiba.
Ameer perlahan melepas pelukannya dengan Ameerah, kemudian berjalan menghampiri kedua orang tuanya untuk mencium punggung tangan mereka lalu beralih ke Yasmin dan Yusuf. Jhony yang melihatnya juga mengikuti apa yang dilakukan Ameer. Ameer kemudian memperkenalkan Jhony kepada mereka semua, dan mereka menyambut hangat kedatangan Jhony.
"Hei Will, anak kamu makin tampan aja, kalah jauh sekarang sama kamu yang udah berumur," celetuk Yusuf.
"Sembarangan aja kamu ngatain aku sudah berumur, kita ini seumuran, kalau aku berumur ya kamu juga pasti berumur lah, lagi pula buah jatuh tidak jauh dari tempatnya, kalau anakku tampan, ya itu sudah tidak perlu di pertanyakan lagi darimana ketampanan itu berasal," celoteh Wildan.
"Hahah, sepertinya hanya kepercayaan dirimu saja yang masih kencang, Will, selain dari itu semua yang ada pada dirimu sudah berkerut," seloroh Yusuf membuat Wildan mendengus sementara yang lain menahan tawa akibat perkataan Yusuf yang ambigu.
"Eh, kamu jangan sembarangan ngomong, mengatai aku berkerut sama saja kamu mengatai dirimu juga berkerut, kita seumuran bro, jangan lupa itu," kilah Wildan tidak ingin kalah.
"Astaghfirullah ini bapak-bapak berdua, udah tua masih aja suka berdebat," sela Yasmin.
"Iya nih, ingat umur dong," timpal Anna.
"Noh, suami kamu yang duluan, Yas! Asap nggak akan muncul kalau nggak ada api," ujar Wildan sambil mengedikkan dagunya ke arah Yusuf.
"Iya iya, aku tahu kamu udah bau asap," celetuk Yusuf, membuat Yasmin hanya bisa tepuk jidat.
"Kan, mulai lagi dia," dumel Wildan.
"Astaga, sudah bang, kalau gini terus kapan berhenti berdebatnya? Malu sama anak-anak," lirih Anna, membuat Wildan seketika diam, ia baru sadar bahwa kebiasaannya berdebat dengan Yusuf sudah menjadi tontonan anak-anaknya saat ini.
"Pssst, Meer, mereka bertengkar yah?" bisik Jhony.
"Aneh juga yah caranya," cicit Jhony dengan muka yang juga ikut serius.
🌷🌷🌷
Di tempat lain, Rabiah dan Khadijah masih setia menunggu Kamil yang katanya ingin datang menjemput.
"Biah, apa nggak sebaiknya kamu hubungi suami kamu lagi?" tanya Khadijah.
"Insya Allah dia akan datang, kalau kamu udah mau pulang, kamu duluan aja, aku nggak papa kok sendiri di sini," jawab Rabiah.
"Biah, kamu belum pulang?" suara bariton seorang pria mengagetkan Rabiah maupun Khadijah.
"Eh kak Rahul, belum kak, masih nungguin mas Kamil jemput," jawab Rabiah.
"Ya udah aku temenin kamu tunggu mas Kamil, kalau saja nanti dia nggak bisa jemput, aku bisa langsung anterin kamu," ujar Rahul.
"Emm Biah, karena kak Rahul udah disini, aku pulang duluan yah," cicit Khadijah, membuat Rahul menoleh ke arahnya.
"Oh iya, makasih yah udah temenin aku sejak tadi," jawab Rabiah.
"Iya, assalamu 'alaikum," ucap Khadijah.
"Wa'alaikum salam," jawab Rabiah dan Rahul bersamaan.
Ting
Suara pesan masuk di ponsel Rabiah.
Suami
Sayang, maaf yah, mas nggak sempat jemput kamu, soalnya Rani lagi kurang sehat, mungkin juga mas akan bermalam disini karena nggak ada yang jagain Rani, dia sejak tadi muntah-muntah soalnya. Kalau kamu mau bermalam di rumah abi juga nggak papa sayang, mas izinkan kamu kok.
Rabiah menghembuskan napasnya kasar setelah membaca pesan itu, "kak kita pulang ke rumah abi yuk," ujar Rabiah lesu.
Rahul yang melihat raut wajah sedih Rabiah pun paham akan maksud dari adiknya itu.
"Ya udah, ayo," ucap Rahul.
Mereka pun akhirnya pulang bersama ke kediaman orang tua mereka. Selama dalam perjalanan, tidak ada suara yang terdengar dalam mobil itu.
Rahul yang berada di samping Rabiah sesekali melirik ke arah adiknya yang sejak tadi hanya diam tak bersemangat.
"Aku tidak menyangka saudara kembarku ini ternyata sangat kuat," ujar Rahul membuka percakapan.
"Kuat?" tanya Rabiah menoleh ke arah Rahul.
"Iya, kamu di terpa masalah bertubi-tubi tapi masih bisa melakukan apapun seperti biasa, jika orang lain yang mengalami masalah seperti kamu, mungkin mereka sudah menghilang dari kehidupan sehari-harinya," terang Rahul, membuat senyuman tipis tersungging di bibir Rabiah.
"Terima kasih kak sudah selalu mendukung Rabiah tanpa membuat Rabiah terlihat lemah, menasehati Rabiah tanpa membuat Rabiah terlihat bodoh dan selalu bersama Rabiah tanpa membuat Rabiah terlihat kesepian," ucap Rabiah.
"Tentu saja, kamu tidak sendiri Biah, kenapa harus marasa kesepian? kamu cerdas, kenapa harus merasa bodoh? Dan kamu itu kuat, kenapa harus merasa lemah? Apalagi dengan adanya masalah ini, mental dan fisikmu akan semakin kuat, bukankah masalah itu ada untuk menguatkanmu?" ujar Rahul.
Rabiah mengangguk sambil tersenyum, "benar kak, kak Rahul memang kakak terbaik yang pernah ada, btw, bagaimana kabarnya Rahil yah? Aku merindukan dia," ujar Rabiah.
"Tenang saja, sebentar lagi kan libur nih, dia pasti akan pulang," ucap Rahul.
Mobil yang tadinya sunyi senyap kini mulai terdengar suara tawa dari Rabiah dan Rahul. Benar, kehadiran seseorang yang mendukung dapat dengan mudah membangkitkan semangat seseorang yang sedang bersedih atau bahkan terpuruk.
Tak terasa mobil mereka tiba di halaman rumah mewah tempat mereka tumbuh besar. Dengan menggandeng tangan Rahul, Rabiah berjalan dengan senyuman yang senantiasa melekat di wajahnya, seolah ia tidak memiliki masalah sama sekali.
"Assalamu 'alaikum," ucap Rahul dan Rabiah bersamaan sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Seketika jantung Rabiah seolah berhenti saat ia mendapati sosok pria yang dulu pernah mengisi hatinya sedang berdiri tepat di hadapannya.
Begitupun Ameer, jantungnya seketika berdebar hebat saat kedua netra mereka bersirobok. Setelah sore tadi ia melihat Rabiah dari jauh, kini Rabiah benar-benar muncul di hadapannya.
-Bersambung-