
Matahari mulai tergelincir ke ujung barat. Warna jingga dan biru yang begitu indah kini menghiasi langit yang cerah. Suasana cafe sore itu masih sangat ramai oleh pengunjung, tak terkecuali bagi 4 orang yang masih asik bercerita satu sama lain, lebih tepatnya Jhony, Valen dan Grace. Ameer benar-benar tidak banyak bicara sore itu, hanya bicara seperlunya jika di tanya.
"Oh iya Ameer, aku penasaran dengan sikapmu yang begitu dingin seperti ini. Apa kamu pernah memiliki kekasih?" tanya Grace yang kini mulai memaklumi sikap Ameer, sebab Ameer bukan pria pertama yang pernah ia temui dengan sikap dingin seperti itu.
"Aku tidak pernah memiliki kekasih," jawabnya sambil memandang Grace singkat.
"Oh aku sudah menduganya, lalu apa kamu pernah memiliki seorang wanita yang kamu cintai di dalam hatimu? Atau bahkan sekarang?" tanya Valen yang ikut penasaran.
Ameer terdiam sejenak, "iya ada," jawabnya kemudian, membuat ketiga orang dihadapannya sangat terkejut.
"Wow, men, ku pikir awalnya kau tidak tertarik dengan wanita karena sikap dinginmu itu, ternyata kamu masih perkasa," seru Jhony sembari memperlihatkan lengannya yang berotot, membuat Ameer sedikit tersenyum.
"Hey, apakah kamu baru saja tersenyum, ayolah jangan kaku begitu, sering-seringlah tersenyum agar tubuhmu bisa lebih rileks dan sehat," cetus Grace.
"Betul itu, lihatlah, bahkan kini wajahmu tampak lebih segar setelah tersenyum," timpal Jhony.
Sore itu, mereka habiskan dengan bercanda satu sama lain, dan itu cukup membantu Ameer untuk melupakan sejenak masalah hati yang masih sering mengganggunya.
Hingga tak terasa pertemuan merekapun berakhir. Ameer telah pulang lebih dulu, sementara tiga orang itu masih duduk manis di cafe itu.
"Bagaimana Grace, apa kamu menyukai temanku itu?" tanya Jhony.
"Jujur saja aku menyukainya, tapi aku tidak ingin melanjutkannya karena aku tahu dia mencintai wanita lain di dalam hatinya," jawab Grace.
"Hei, bukankah kamu masih bisa berusaha untuk mengalihkan hatinya itu?" tanya Valen yang ikut mendukung Grace bersama Ameer.
Grace menggelengkan kepalanya pelan, "tidak, aku tidak akan barusaha mengambil hati orang yang sudah mencintai wanita lain, aku masih punya harga diri, masih banyak laki-laki lain yang tertarik padaku," jawab Grace percaya diri.
Jhony tersenyum melihat sikap positif sepupunya itu. "Betul, kamu memang sepupuku yang terbaik, jangan pernah merendahkan dirimu di hadapan pria hanya untuk mengambil hatinya sementara di dalam hatinya sudah ada wanita lain, kecuali jika dia telah menjadi suamimu," timpal Jhony sembari mengacungkan ibu jarinya kepada Grace.
🌷🌷🌷
Di Indonesia
Rabiah sedang menonton TV sambil menyenderkan tubuhnya di atas sofa. Hari pertamanya belajar sebagai mahasiswa membuatnya benar-benar lelah, pasalnya jam kuliahnya hari ini begitu padat dari pagi sampai sore, kemudian ia lanjutkan dengan memasak makan malam spesial untuk sang suami.
Tak berselang lama, suara mobil berhenti di depan rumah membuat Rabiah segera berdiri dan merapikan jilbabnya, ia sangat antusias untuk menyambut kedatangan sang suami yang sudah ia nantikan sejak tadi.
"Assalamu 'alaikum.." ucap Kamil saat memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam.." jawab Rabiah lalu menghampiri sang suami dan mencium punggung tangannya.
"Gimana kuliahnya hari ini Biah?" tanya Kamil sambil berjalan ke arah kamar mereka.
"Alhamdulillah lancar mas, dan sedikit melelahkan," jawab Rabiah sambil ikut berjalan di samping Kamil.
"Baguslah, kalau begitu aku akan mandi dulu," ucap Kamil sembari membuka kemejanya di bantu Rabiah.
Rabiah mulai mengumpulkan pakaian Kamil yang ia pakai kemarin dan hari ini untuk segera dicuci. Satu per satu ia masukkan ke dalam mesin cuci, hingga saat giliran baju dalam Kamil yang akan ia masukkan, tiba-tiba matanya tertuju pada sehelai rambut panjang berwarna pirang melekat di bagian dadanya.
"Astaghfirullah apa yang ku pikirkan, bisa saja ini rambutku atau rambut orang yang tidak sengaja terbawa angin," gumam Rabiah lalu memasukkan baju dalam itu segera ke dalam mesin cuci.
Rabiah jelas tahu bahwa rambut itu sangat berbeda dengan rambutnya yang hitam pekat, namun ia benar-benar tidak ingin su'udzhon (berburuk sangka) pada suaminya.
"Berbaik sangka itu lebih baik walau kenyataannya berbeda daripada berburuk sangka sekalipun kenyataannya benar." Begitu pesan Yasmin yang selalu ia ingat sampai sekarang.
Sembari menunggu cuciannya selesai, Rabiah menyempatkan untuk membuat kopi untuk Kamil yang tadi terlihat sangat lelah.
"Mas, minum dulu kopinya yah, biar tubuh mas hangat," ujar Rabiah sambil meletakkan kopi di atas nakas, tepat di samping Kamil yang sedang menyenderkan punggungnya di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Makasih yah sayang," ucap Kamil lalu menyeruput kopi itu perlahan. "Hmm..kopi buatan istriku memang yang paling nikmat," lanjut Kamil yang begitu menikmati kopi buatan Rabiah. Hal itu berhasil membuat senyuman tipis tersungging di wajah Rabiah.
"Apa mas sudah makan malam?" tanya Rabiah masih dengan senyuman tipisnya.
"Udah tadi, kamu?" tanya Kamil dan Rabiah menggelengkan kepalanya pelan, senyum di wajahnya tadi perlahan menghilang. "Ya udah, kamu makan dulu yah, jangan suka telat makan, nanti maagnya kambuh loh," lanjut Kamil membuat Rabiah mengangguk pelan lalu pergi.
Rabiah berjalan gontai ke meja makan, perlahan ia membuka tudung saji yang sejak tadi menutupi makanan spesial yang telah ia siapkan khusus untuk sang suami. Namun kenyataannya, makanan itu hanya akan di makan sendiri olehnya.
Rasa kecewa tentu ada, tapi sekali lagi Rabiah berusaha memakluminya. Lagipula Rabiah juga yang salah karena tidak mengabari suaminya terlebih dahulu bahwa ia ingin makan bersama malam ini.
🌷🌷🌷
Malam kini berganti pagi, Kamil dan Rabiah sedang bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya di luar rumah. Seperti biasa, Rabiah akan memasangkan dasi di leher Kamil.
"Eh udah gampang masangnya nggak kayak kemarin," lirih Rabiah tepat di hadapan Kamil, membuat Kamil menarik ujung bibirnya.
"Sepertinya tubuh kamu semakin tinggi juga sayang," canda Kamil membuat Rabiah menunduk karena malu, namun Kamil justru mengangkat dagunya, lalu mendekati wajah Rabiah.
Cup
Sebuah kecupan hangat berhasil mendarat di kening Rabiah, "terima kasih yah sudah melayani suamimu ini dengan baik, kamu memang istri yang hebat," gumam Kamil lalu menggenggam lembut tangan Rabiah dan membawanya turun untuk sarapan.
Aktivitas keseharian mereka membuat keduanya semakin saling memahami akan kesibukan satu sama lain. Hingga tak terasa usia pernikahan mereka kini telah berjalan 6 bulan.
Sudah menjadi rutinitas bagi Kamil dan Rabiah sejak 4 bulan terakhir untuk menikmati waktu liburan berdua di akhir pekan, apakah itu di pantai, di puncak atau di tempat wisata lainnya. Hal itu dinilai cukup efektif bagi Rabiah untuk memupuk rasa cinta yang perlahan mulai tumbuh di dalam hatinya.
Seperti hari ini, Rabiah dan Kamil sedang menikmati akhir pekan mereka di puncak. Menikmati udara yang sejuk dan menenangkan bersama.
"Apa kamu bahagia menikah denganku Biah?" tanya Kamil sambil duduk di sebuah ayunan bawah pohon tepat di samping Rabiah.
Rabih tersenyum lalu memandangi wajah Kamil, "tentu saja aku bahagia, mas, bagaimana dengan mas sendiri?"
"Aku juga bahagia, tapi seperti rumah tangga yang lain, pasti akan ada saja ujian yang ikut menerpa rumah tangga kita." Kamil terdiam sejenak sambil memandangi wajah teduh Rabiah, "jika suatu hari nanti kamu menemukan kekuranganku atau bahkan melakukan kesalahan, apakah kamu akan memaafkanku?" lanjutnya bertanya dengan tatapan yang penuh makna tersirat kepada Rabiah.
Entah kenapa mendengar pertanyaan dari sang suami di tambah melihat sorot matanya, membuat jantung Rabiah berdegup kencang, seolah ada pesan khusus yang ingin disampaikan Kamil kepadanya. Apakah itu sesuatu yang baik atau sebaliknya, Rabiah tidak tahu.
-Bersambung-