
Beberapa bulan kemudian, kini usia kandungan Almaira sudah genap 9 bulan. Sebelumnya Almaira dan juga Bimo sudah menyiapkan semua perlengkapan bayi.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Terlihat Alamak sudah tampak gelisah. Ia sudah tidak bisa tidur, lagi akibat perutnya sudah terasa sakit dan mules.
Ia bangkit dari pembaringannya, berjalan masuk ke kamar mandi. Ia terhenyak saat berada di kamar mandi, ia melihat kalau di pakaian dalamnya sudah ada darah yang mengental keluar dari bagian ***********.
Almaira pun terkejut, ini berarti menurut yang aku baca di Google aku berarti akan segera melakukan melahirkan." gumamnya dalam hati sambil berusaha berjalan menghampiri Bimo, yang tertidur di tempat tidur yang berukuran King size itu.
Suara rintihan kesakitan Almaira mengusik tidur Bimo. Bimo pun langsung mencari keberadaan istrinya. Yang ternyata istrinya tidak ada di sampingnya. Ia sedikit panik dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
" Sayang, kamu di mana? Sayang kamu di mana? tanya Bimo untuk yang kedua kalinya sambil mencari keberadaan Almaira. Almaira berusaha untuk keluar dari kamar mandi, dengan langkah yang begitu lemah.
Almaira menghampiri Bimo. "Aku di sini Mas." ucapnya sambil merintih kesakitan.
" Kamu kenapa sayang, Apa kau sakit? pertanyaan itu yang langsung dilontarkan oleh Bimo, dan meraih tubuh Almaira. Menuntunnya kembali duduk di tempat tidur.
"Jangan, aku sudah tidak bisa duduk lagi. segeralah bersiap aku kemungkinan akan melahirkan pagi ini. Karena sudah keluar tanda saat aku di kamar mandi.Lagian ini sudah waktunya aku melahirkan." ucap Almaira kepada Bimo.
Bimo langsung berlari keluar berteriak meminta tolong kepada asisten rumah tangga yang ada di sana. Begitu juga dengan sopir pribadi Bimo, agak segera mempersiapkan mobil membawa Almaira ke rumah sakit.
Mendengar suara teriakan dari putranya, Nyonya Anita keluar dengan langkah tertatih-tatih. Bertanya kepada asisten rumah tangga, yang masih berada di sana.
"Ada apa, mengapa Putraku Bimo berteriak?" tanya Nyonya Anita kepada asisten rumah tangga itu.
Sepertinya Nona Almira akan segera melahirkan nyonya. Karena Tuan Bimo mengatakan kalau sudah ada tanda yang keluar dari bagian ******** Nona Almaira. Jadi kita harus segera membawa Nona Almaira ke rumah sakit, untuk melakukan persalinan." ucap asisten rumah tangga itu.
Hal itu membuat Nyonya Alena terhenyak. Ia pun meminta kepada orang-orang yang ada di rumah utama keluarga Setiawan. Untuk bersiap, segera berangkat ke rumah sakit. Bimo menggendong tubuh Almaira, keluar dari kamar, menuruni anak tangga masuk ke dalam mobil.
Nyonya Anita langsung mengikuti langkah putranya, masuk ke dalam mobil untuk menemani Almaira di sana. "Cepat jalankan mobilnya." perintah Bimo kepada sopir pribadinya, Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, yang kebetulan jalanan masih terlihat sepi karena pukul 02.00 dini hari.
"Mas sakit....!!!! teriak Almaira,karena merasakan rasa sakit yang amat dahsyat di bagian perutnya.
"Iya sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Kamu tahan ya." bujuk Bimo sambil terus memberikan kecupan hangat di kening istrinya, berharap istrinya kuat.
"Tapi sepertinya Almaira sudah tidak tahan lagi Mas." ucap Almaira sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
"Kamu harus bertahan sayang, demi anak kita dan demi mas. Mas yakin, kamu bisa kamu wanita yang kuat yang mampu merasakan sakit yang begitu dahsyat.
" Mas tahu itu Sayang." ucap bingung sumber terus mengelus perut Almaira. Berharap ketika Bimo mengelus perut Almaira, rasa sakit yang dirasakan Almaira berkurang. jeritan tangis Almaira kembali terdengar jelas di telinga Bimo dan nyonya Anita. Membuat Bimo merasa tidak tega melihat istrinya. "Mom, ini bagaimana? tangis Bimo yang sudah mulai mengkhawatirkan istrinya.
Bimo merasa khawatir melihat istrinya sudah mulai lemah. Terlihat keringat Almaira bercucuran, akibat menahan rasa sakit yang begitu luar biasa ia rasakan. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit lamanya, mereka tiba di rumah sakit terdekat dari rumah utama keluarga Setiawan.
Bimo langsung menggendong tubuh istrinya, berteriak meminta tolong kepada dokter dan suster yang lagi bertugas di rumah sakit itu. Dokter langsung datang menghampiri Bimo dan membaringkan tubuh Almaira di atas branker yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Ketika dokter sudah memeriksa kondisi Almaira. Dokter mengatakan kepada Bimo kalau Almaira harus segera melakukan perjalanan saat ini juga. "Maaf Tuan Bimo, sepertinya istri Anda harus segera melakukan persalinan saat ini."ucap dokter itu kepada Bimo.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya. Saya tidak ingin istri dan anak saya kenapa-kenapa." ucap Bimo memohon kepada dokter itu, agar menyelamatkan istri dan anaknya
Kini Almaira sudah dibawa ke ruang bersalin. terlihat dokter ahli di bidangnya sudah datang memeriksa kondisi Almaira. saat ini ketika dokter sudah memeriksa Almaira dokter itu mengembangkan senyumnya.
"Wah, Anda sangat luar biasa nyonya. Ini pembukaan, sudah pembukaan delapan. Itu berarti sebentar lagi proses persalinan segera kita mulai." ucap dokter itu sambil mengelus perut Almaira yang terasa sakit. Berharap ketika dokter itu mengelus perut Almaira. Almaira merasa sedikit nyaman
Almaira menjerit minta tolong kepada dokter. Karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Ia juga meminta kepada suster, agar suaminya ikut masuk menemani dirinya, melakukan persalinan. Dan suster itu mengembangkan senyumnya, lalu melakukan perintah yang diminta oleh Almaira. Suster itu pun memanggil Bimo.
"Dengan Tuan Bimo Setiawan." panggil Suster itu.
"Iya, saya suster." sahut Bimo panik
"Tuan, diminta istri Tuan untuk tetap menemaninya di ruang bersalin." ucap Suster itu kepada Bimo. Bimo menatap Nyonya Anita, seolah dirinya meminta persetujuan dari Nyonya Anita. Sejujurnya Bimo tidak sanggup untuk melihat darah, Apalagi itu darah istrinya sendiri.
Tetapi untuk saat ini, Bimo harus melakukannya demi istri yang sangat ia cintai. Sementara Nyonya Alena menghubungi nomor ponsel Milik ibu Fatimah. Untuk memberitahu kalau saat ini Almaira sudah berada di rumah sakit, berharap Ibu Fatimah dan anak-anak Panti lainnya, berdoa untuk persalinan Almaira lancar.
Ketika sambungan telepon seluler itu tersambung kepada Ibu Fatimah, Ibu Fatimah terhenyak melihat nomor ponsel nyonya Anita yang menghubungi dirinya. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Karena mereka merasa khawatir, ibu Fatimah langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Nyonya Alena.
"Hello selamat pagi." sapa ibu Fatimah di ujung telepon.
"Waalaikumsalam, Ibu Fatimah ini saya Anita, ingin memberitahu kalau saat ini Almaira sudah berada di rumah sakit. Dan sepertinya Almaira akan segera melakukan proses persalinan." ucap Nyonya Alena memberitahu kepada Ibu Fatimah dan anak-anak Panti lainnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya emak