
Almaira hanya mengembangkan senyumnya. Kalau boleh jujur Almaira juga tegak tega meninggalkan tuan muda Devan di sini tuan. Karena saya sudah sangat menyayangi dia dengan tulus. Tetapi saya juga menyayangi Ibu Fatimah dan anak-anak yang ada di panti.
Jika saya berada di sini, siapa yang akan menemani Ibu Fatimah menjaga anak-anak Panti? hal itu yang saya pikirkan saat ini Tuan. ucap Almaira kepada Bimo yang mengharapkan Almaira tetap tinggal di sana.
Kalau masalah menemani Ibu Fatimah, dan mengasuh anak-anak panti. Kamu tenang saja. Saya sudah menyediakannya. Asisten yang dari sini akan saya pindah tugaskan ke sana. Kamu jangan khawatir."ucap Bimo berharap Almaira setuju akan tawarannya.
Tampak Almaira sedang berpikir bagaimana caranya ia membicarakan hal itu kepada Ibu Fatimah. Ia juga khawatir Ibu Fatimah akan sangat merindukannya, jika dirinya meninggalkan panti itu. Begitu juga dengan Almaira ia pasti sangat merindukan Ibu Fatimah dan anak-anak panti yang sudah lama menemani dirinya semenjak kecil.
Tiba-tiba suara di Deringan ponsel milik Almaira terdengar jelas di telinganya. ia meraih ponsel jadul miliknya, yang ada di saku celana jeans yang digunakan oleh Almaira. Ia melihat nomor ponsel ibu Fatimah yang menghubunginya.
"Hallo Assalamualaikum Ibu." sapa Almaira di dalam sambungan telepon selulernya.
"Waalaikumsalam Nak. kamu masih di rumah sakit tidak?tanya ibu Fatimah penuh selidik.
"Tidak bu," baru saja Almaira Tuan Bimo, dan Tuan muda Devan sudah kembali ke rumah karena dokter sudah mengizinkan pulang ke rumah.
Karena kondisi kesehatan Tuan muda Devan saat ini sudah membaik sekarang. Tuan muda Devan sedang tertidur pulas di kamarnya. Ada apa ya Bu? apa yang bisa Almaira bantu? tanya Almaira penuh selidik.
" Oh tidak nak, hanya saja yang memiliki lahan ini kembali datang semalam.Untuk mengatakan kalau kita harus segera meninggalkan tempat ini. Jujur Ibu sudah menemukan tempat. Tetapi sepertinya tempat itu harganya terlalu mahal , hingga Ibu tidak memiliki uang sebesar yang mereka minta." ucap Ibu Fatimah kepada Almaira memberitahu kalau untuk ibu Fatimah sudah menemukan tempat untuk mereka tempati.
Tetapi dana yang mereka miliki saat ini tidak mencukupi. Hal itu membuat Almaira langsung terdiam. " Ibu tenang saja, nanti kita pikirkan. Sebentar lagi Almaira akan pulang. ucap Almaira kepada Ibu Fatimah.
Lalu setelah selesai berbicara dengan ilmu Fatimah Almaira memutuskan sambungan telepon selulernya. Ia pun tiba-tiba terdiam memikirkan apa yang diucapkan oleh ibu Fatimah. Kalau panti benar-benar membutuhkan dana saat ini.
"Ada apa?
"Siapa yang menghubungi?
"Ibu Fatimah yang menghubungiku Tuan.
"Iya kenapa ibu Fatimah menghubungimu? Tanya Bimo kepada Almaira yang terlihat bengong ketika sudah menerima sambungan telepon seluler dari ibu Fatimah.
"Maaf tuan tetapi sepertinya saya harus segera pulang ke panti. Ada sesuatu hal yang ingin kami bicarakan.
"Okey, kamu pulang ke panti sekarang. aku akan menghantarkan Mu langsung." ucap Bimo sambil menarik tangan Almaira keluar dari kamar yang ditempati oleh Devan.
Bimo memanggil asisten rumah tangga dan baby sitter yang selama ini merawat Devan dan juga Nyonya Anita. Meminta mereka untuk bersiaga-berjaga Devan. Karena saat itu juga Bimo akan menghantarkan Almaira ke panti sesuai dengan apa yang dikatakan Almaira kepadanya.
Almaira berpamitan kepada Nyonya Anita.
"Nyonya Tenang saja saya akan sering-sering datang ke sini untuk mengunjungi nyonya. dan mengunjungi tuan muda Devan ucap Almaira sambil mengembangkan senyumnya memberi salam kepada Nyonya Anita sambil mencium punggung tangan Nyonya Anita.
"seandainya dia menantuku pasti cucuku akan merasa bahagia. ya Allah semoga gadis cantik itu berjodoh dengan Putraku Bimo. aku memang terlalu serakah ya Allah memohon kepadamu agar Gadis itu berjodoh dengan Putraku yang seorang duda. tapi itu memang yang sangat saya inginkan ya Allah ucap Nyonya Anita di dalam doanya.
Almaira dan Bimo berlalu meninggalkan rumah utama keluarga Setiawan. Bimo melajukan mobil miliknya ke arah jalan raya menuju panti asuhan yang selama ini ditempati oleh Almaira dan adik-adik pantinya.
setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit Mereka pun tiba di panti asuhan. Bimo sengaja tidak meminta kepada Pak Yono untuk menghantarkan mereka karena ia ingin menyetir sendiri menghantarkan Almaira langsung ke panti.
Assalamualaikum Bu Safa Almaira ketika dirinya sudah masuk cari keberadaan ibu Fatimah. Waalaikumsalam kamu sudah pulang nak tanya ibu Fatimah sembari mengembangkan senyumnya beberapa adik-adik pantainya langsung berhamburan memeluk Almaira. Kak Almaira Dari mana saja kok semalam tidak pulang? kami sangat merindukanmu Kak ucap anak-anak panti itu yang tampak antusias memeluk Halmahera.
Kakak Tidak kemana-mana kok hanya saja tuan muda Devan saat ini sedang sakit jadi tuan muda Devan membutuhkan Kakak di sana ucapnya sambil mengembangkan senyumnya menatap anak-anak pantai itu dengan tatapan penuh arti. Ibu Fatimah mempersilahkan Bimo duduk di kursi rotan yang ada di pantai. Silakan duduk tuan ucap Ibu Fatimah mempersilakan Bimo.
Abi ya sudah mengetahui kehadiran Almaira dan Bimo di sana keluar dari dapur. Dengan membawakan beberapa cangkir kopi untuk disuguhkan kepada Bimo, Almaira dan ibu Fatimah. "Silakan diminum Tuan, Kak Almaira Ibu ucap Abi yang sudah terlihat mulai dewasa walaupun usianya masih 14 tahun.
Karena Abi salah satu anak yang paling besar di yang membutuhkan tempat tinggal dan juga kasih sayang dari ibu Fatimah. Abi juga merupakan anak yang kurang beruntung ia dibesarkan di panti semenjak usianya 2 tahun ketika gempa bumi mengguncang tanah kelahirannya. Yang membuat Abi kehilangan kedua orang tuanya. "Abi beri salam kepada Tuhn Bimo. Dia salah satu penyandang dana di panti asuhan ini.
Abi mengembangkan senyumnya memberi salam kepada Bimo. "Terima kasih Tuan sudah memberikan bantuan kepada kami anak-anak panti yang ada di sini. Jujur entah bagaimana caranya Kami mengucapkan terima kasih kepada Tuan.
Mungkin kalau tidak ada yang memberikan bantuan ke panti asuhan ini, entah bagaimana nasib kami. Termasuk saya, anak yatim piatu korban gempa bumi membuat hidupku kehilangan kedua orang tuaku.
Untung saja Allah mempertemukan Abi dengan ibu Fatimah. Yang tulus menjaga dan merawat Abi bersama anak-anak panti yang ada di sini." ucap Abi sambil mengingat-ingat masa masa sulit berada di pantai asuhan.
Mendengar apa yang diucapkan Abi kepada Bimo Setiawan. Membuat Bimo Setiawan langsung terdiam. "Kasihan sekali mereka, jika harus terusir dari tempat ini." gumamnya di dalam hati sembari menelisik seisi ruangan.
"Maaf Ibu Fatimah kalau boleh saya tahu siapa pemilik baru tempat ini, seperti yang Ibu ucapkan sebelumnya." tanya Bimo Setiawan kepada Ibu Fatimah.
Sebenarnya Ibu juga kurang mengetahuinya. Tetapi sepertinya kepala lingkungan dan juga lurah yang ada di sini pasti mengetahui Siapa pemilik baru tempat ini. Entahlah benar atau tidak Mereka akan membangun taman hiburan di sini. Sehingga mereka meminta kami untuk segera pindah dari panti ini." ucap Ibu Fatimah membayangkan bagaimana ketika pemilik tanah panti yang selama ini mereka tempati.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up yuk mampir ke karya teman emak.