GAIRAH DUDA KECE

GAIRAH DUDA KECE
BAB 62. KEJUTAN DARI BIMO_GDK


Bimo masih setia memperhatikan interaksi antara Almaira dan putranya Devan. Dan juga beberapa adik Panti yang ikut menghadiri acara wisudawan wisudawati yang diselenggarakan di sebuah kampus ternama di kota Jakarta. Ia memilih untuk berkomunikasi dengan dekan dan beberapa dosen lainnya. Tetapi netranya tidak luput mengawasi Almaira dan juga putranya.


Suara deringan ponsel milik Bimo terdengar jelas di telinganya. Ia melihat di layar ponselnya kalau yang menghubungi dirinya anak buahnya yang ia perintahkan untuk menyiapkan segala kejutan yang akan Ia berikan kepada Almaira, di acara wisudanya.


"Katakan apa semuanya sudah kelar? tanya Bimo di dalam sambungan telepon selulernya ketika Bimo sudah menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


"Semuanya sudah beres Bos. bos tenang saja." ucap salah satu anak buahnya yang ia perintahkan untuk menyiapkan segalanya.


"Bagus, sebentar lagi kami akan ke sana." sahutnya Lalu langsung memutuskan sambungan telepon selulernya. Bimo berpamitan kepada para dosen yang ada di sana . "Saya pamit dulu, Lain kali kita ngobrol bersama lagi." ucap Bimo dibalas anggukan kan dari beberapa dosen lainnya.


Bimo menghampiri Almira yang sedang asyik berfoto bersama dengan adik-adik Panti lainnya. Stefani menghampiri Bimo.


"Tuan Bimo yang terhormat Dari mana saja kamu, Mengapa tidak memberi selamat kepada temanku Apa Tuan Bimo tidak bersyukur kalau temanku Almaira mendapat nilai tertinggi di kampus ini?" tanya Stefani penuh selidik mengintimidasi Bimo.


Bimo hanya diam saja, dengan wajah yang datar. Sementara Ricardo menarik Stefani agar tidak terlalu banyak bicara kepada Bimo. karena ia mengetahui sikap Bimo terhadap orang yang tidak begitu dekat dengannya sangatlah dingin. "Sayang sudah fotonya? Kita pulang yuk." ajak Bimo yang mampu membuat Almaira mengerutkan keningnya. tak ada ucapan selamat ataupun memberikan sekuntum bunga mawar kepada Almaira.


"Katanya dia sayang, tapi memberikan sekuntum bunga atas wisuda yang aku raih dia tidak mau. jangankan memberi bunga, mengucapkan selamat saja tidak." batin Almaira tetapi ia tetap saja mengikuti perintah Bimo. Ia meminta kepada Devan untuk mengikuti mereka masuk ke dalam mobil.


Ibu Fatimah sebelumnya sudah mendapat instruksi dari Bimo. Tetapi ibu Fatimah sengaja tidak memberitahu kepada Almaira, karena itu kejutan untuk Almaira. Anak-anak Panti lainnya sudah berada di mobil yang tadinya mau mereka tumpangi sampai ke kampus, dimana Almaira menyelenggarakan wisuda.


Almaira mendudukkan bokongnya di samping kemudi sementara Devan duduk di bangku penumpang bersama seorang baby sitter.


Hening......


tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Devan yang merasa sedikit lelah Langsung tertidur pulas di bangku penumpang tanpa disadari oleh Almaira dan juga Bimo.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit kemudian, Bimo menghentikan mobil miliknya di sebuah restoran ternama. "Kenapa kita berhenti di sini? Aku ingin pulang tubuhku sudah terasa gerah memakai jubah dan toga ini." ucap Almaira melirik ke arah Bimo.


Bimo hanya diam saja Ia sama sekali tidak menjawab. sang sopir pribadi langsung menggantikan Bimo duduk di bangku kemudi. Almaira belum juga turun dari mobil itu. Bimo membuka pintu mobil miliknya untuk Almaira.


"Ayo turun! Apa kau masih tetap bersama Pak Yono? ucap Bimo dengan wajah yang datar membuat Almaira sedikit heran melihat perubahan sikap Bimo terhadapnya.


"Kesambet apa ini orang? Mengapa tiba-tiba saja dia berubah. Memangnya apa kesalahanku kepadanya sehingga sikapnya datar dan dingin seperti ini kepadaku? pertanyaan demi pertanyaan muncul di hati Almaira sambil menatap lelaki yang sangat mencintainya terlihat cuek kepadanya.


Almaira pun keluar dan berdiri tepat di samping Bimo. Bimo menggenggam tangan Almaira berjalan masuk menuju restoran. terlihat dua orang pelayan pria mengucapkan selamat datang kepada Bimo dan Almaira.


"Mengapa mereka mengetahui namaku. Aku sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke restoran ini."tanya Almaira kepada Bimo.


Lagi lagi Bimo diam dan memilih tidak menjawab pertanyaan Almaira. Membuat Almaira semakin kesal terhadap Bimo. kemudian seorang pelayan wanita datang menghampiri Bimo dan juga Almaira menuntun keduanya duduk di ruangan yang sudah disediakan dan dipersiapkan oleh anak buah Bimo memberikan kejutan kepada Almaira.


Restoran ini, restoran mahal dan biasanya ini ramai. Mengapa tempatnya terlihat sepi?" gumam Almaira dalam hati sembari terus berjalan mengikuti Bimo masuk ke ruangan itu. Ruangan itu terlihat gelap hanya penerangan seadanya saja.


"Apa-apaan sih membawa aku ke tempat gelap seperti ini? gimana makannya kalau gelap seperti ini?" gerutu Almaira. Tiba-tiba saja lampu sorot menyala dari setiap sudut ruangan. Sorot lampu itu menerangi sebuah meja yang sudah ditata sedemikian rupa untuk Bimo dan juga Almaira.


Almaira sedikit heran melihat meja yang sudah tertata rapi dan layaknya makan seorang pria dan wanita yang romantis. Bimo menarik kursi yang ada di sana mempersilahkan Almaira duduk di sana, kemudian diikuti oleh bemo duduk tepat di hadapan Almaira.


Alunan musik mulai terdengar jelas di telinga Almaira. Bimo meraih bunga yang sudah ia persiapkan kepada Almaira. "Selamat sayang atas wisuda dan meraih IP tertinggi di kampus." ucap Bimo sambil memberikan bunga mawar putih dipadukan dengan bunga mawar merah kepada Almaira.


Almaira terhenyak mendapat kejutan yang diberikan oleh Bimo. Almaira mengembangkan senyumnya yang tadinya sudah murung, karena sama sekali tidak mendapatkan ucapan dan bunga dari Bimo saat berada di kampus.


Kemudian Bimo berjongkok tepat di samping Almaira. "Almaira Will you marry me?" ucap Bimo sambil memberikan sebuah cincin untuk Almaira membuat Almaira semakin terhenyak sekaligus terharu mendapat kejutan dari Bimo. Almaira tidak langsung menjawab, karena ia seolah tidak percaya akan apa yang dilihat dan didengarnya saat ini. "Katakan Mas, kalau ini tidak mimpi." ucap Almaira kepada Bimo


"Tidak sayang, ini tidak mimpi. mas benar-benar sangat mencintaimu. "Apakah kau bersedia menjadi pendamping hidupku untuk selamanya dan menjadi maminya Devan selamanya?" tanya Bimo penuh harap.


Almaira semakin terharu, air bening sudah memenuhi kedua kelopak matanya.


"Iya Mas, aku mau menjadi pendamping hidup Mas dan menjadi maminya Devan untuk selama-lamanya." ucap Almaira sambil meneteskan air matanya lebih tepatnya air mata bahagia.


Bimo memasangkan cincin itu ke jemari manis Almaira, lalu ia meraih tubuh Almaira ke pelukannya dan menghujani Almaira dengan kecupan demi kecupan. Alunan musik itu membuat keduanya terbawa dengan suasana.


Bimo meraih tangan Almaira hingga keduanya pun berdansa romantis di lokasi yang sudah dipersiapkan oleh anak buah Bimo dan pelayan restoran itu. "Apakah mas sudah mempersiapkan ini segalanya sebelumnya?" tanya Almaira penuh selidik kepada Bimo.


Bimo mengembangkan senyumnya lalu menganggukkan kepalanya. "Berarti Mas sengaja cuek dan diam saja saat berada di kampus?"kembali Almaira bertanya kepada Bimo. Bimo mengembangkan senyumnya lalu mengecup bibir manis Almaira penuh dengan rasa cinta yang begitu mendalam.


Bersambung.....


Hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


mampir yuk ke karya baru outhor ceritanya seru loh.