GAIRAH DUDA KECE

GAIRAH DUDA KECE
BAB 51. MERASA DI PUJI_GDK


Bimo merogoh dompet yang ada di saku celananya, dan mengambil beberapa uang pecahan seratus ribu rupiah diberikan nya kepada kedua anak kecil itu.


"Dek kenapa kalian Mengamen?


"Apa kalian tidak sekolah? tanya Almaira "Kami sekolah kak. Tapi kami sudah pulang." jawab salah satu anak kecil itu.


"Terus di mana orang tua kalian? tanya Almaira penuh selidik.


"Ibu dan ayah kami, sudah meninggal karena kecelakaan. Sekarang kami tinggal bersama nenek. Tapi sekarang nenek sedang sakit." jawab kedua anak kecil itu. Mendengar kedua anak kecil itu mengatakan kalau mereka sudah kehilangan kedua orang tuanya, membuat Almaira merasa iba. "Ya Allah ternyata ada juga yang senasib dengan aku, hidup tanpa belaian kasih sayang orangtua. Tapi mereka masih beruntung mengetahui siapa jati diri mereka.


Tidak seperti aku yang tidak tau asal usulku darimana. Yang aku tau, aku hidup di panti asuhan di asuh dan di besarkan oleh Ibu Fatimah." gumam Almaira dalam hati sambil memperhatikan kedua anak kecil itu.


Oh ya kak, kami permisi dulu, kami mau menemui nenek. Soalnya saat ini nenek sedang sakit. Kami ingin membawa nenek berobat dengan menggunakan uang ini." ucap kedua anak kecil itu kepada Almaira.


"Tuan terima kasih sudah memberikan kami bantuan. Semoga kelak Allah membalas budi baik tuan." ucap kedua anak kecil itu dibalas anggukan dari Bimo. Devan menghampiri kedua anak kecil. "Hai namaku Devan dan Ini ayahku. ucap Devan sambil mengulurkan tangannya kepada kedua anak kecil itu. Lalu kedua anak itu menyambut salam dari depan sambil mengembangkan senyumnya.


Kedua anak kecil itu berlalu dari rumah makan milik mang udin. Almaira dan Bimo pun bergegas pulang. dan mereka berencana ingin membawa nenek mereka berobat dengan menggunakan uang hasil mengamen mereka hari itu.


Sebelum mereka pulang, Bimo bertanya kepada Mang Udin. "Berapa Mang?


"Empat puluh lima ribu Tuan." jawab mang Udin kepada Bimo.


"Apa?


"Empat puluh lima ribu?"kok murah banget? sudah makan segini banyak cuman segitu bayarnya? tanya Bimo tidak percaya.


" Ya Tuan disini makanya empat puluh lima ribu." jawab Mang Udin


Bisma mengambil beberapa uang pecahan seratus ribu dan memberikannya kepada Mang Udin.


"Tuan kok banyak sekali? tanya mang udin karena merasa heran melihat Bimo memberikan uang yang begitu banyak untuknya.


"Ambil saja Mang, hitung-hitung dapat rejeki dan tak bagus menolak rejeki." ucap Almaira kepada Mang udin. mungkin Mas Bimo lagi berbaik hati.


Karena Almaira sangat mengetahui kalau Bimo saat ini ingin membantu mang udin


"Ya Mang, ambil saja." sahut Bimo


"Baik tuan, terima kasih banyak." ucap mang udin, semoga hubungan kalian langgeng sampai maut memisahkan." ucap mang udin sambil mengembangkan senyumnya, dibalas senyuman dari Bimo.


"Iya dong kek, papi dan mami Devan memang baik kok." ucap Devan berceloteh Membuat Bimo dan Almaira terkekeh


"Sayang kita pulangnya," takutnya nanti papi terlambat masuk kantor ." ucap Almaira kepada Devan sambil langsung meraih tubuh Devan dan menggendongnya masuk kedalam mobil. Sementara sang sopir pribadi yang sudah lebih dulu berada di dalam mobil, langsung keluar dan membuka pintu mobil untuk sang majikan.


Di perjalanan menuju Kantor, Bimo selalu memandangi Almaira yang masih setia memangku tubuh Devan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Almaira sama sekali tidak mengetahui.


"Mas kok lihatin aku terus sih." tanya Almaira kepada Bimo


Karena ia merasa heran melihat Bimo terus memandangi nya "Tidak apa-apa. Pengen lihat kamu saja." jawabnya singkat.


"Memangnya ada yang salah ya di penampilanku hari ini? tanya Almaira penuh selidik. Karena ia merasa heran mengapa Bimo tetap melihatnya membuat dirinya merasa risih.


"Tidak ada yang salah di penampilan kamu malah kamu terlihat semakin cantik. Ternyata aku tidak salah selama ini menilai kamu." ucap Bimo kepada Almaira membuat Almaira mengerutkan keningnya. Ia bingung apa maksud Bimo.


"Mas tidak perlu menggombalku seperti itu. kalau memang cinta katakan saja cinta.


"iya memang Mas mencintaimu malah sangat mencintaimu. Mas tidak akan bisa hidup tanpa kamu apalagi kamu lihat sendiri Devan begitu dekat dengan kamu.


Almaira terdiam menatap Bimo dengan tatapan penuh arti. Sulit baginya menjelaskan perasaannya kepada Bimo. walaupun Bimo Sudah seorang duda anak satu, tetapi sepertinya Almaira merasa nyaman berada di tengah-tengah Kedua lelaki berbeda generasi itu.


Entah mengapa sulit bagi Almaira berpisah dengan bocah kecil yang selalu mencuri perhatiannya. Almaira benar-benar menyayangi Devan. "Sudah Mas jangan memandangku seperti itu. Nanti kebawa mimpi."ucap Almaira sambil terkekeh. Sementara Pak Yono sopir yang melajukan mobil yang mereka tumpangi, hanya mengembangkan senyumnya melihat interaksi mereka dari kaca spion mobil itu.


Waktu tidak terasa ketika mereka bercanda gurau ternyata mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di kantor. Bimo meminta kepada sopir pribadi untuk segera kembali dengan menggunakan taksi. Karena ia ingin menyetir mobil sendiri bersama dengan Almaira dan juga.


"Mas Jika kami ikut masuk ke kantor apa kami tidak mengganggu pekerjaanmu?


"tidak kalian bisa bermain di ruang istirahat. Mas hanya sebentar kok, ada asisten yang mengurusnya semua. ada beberapa berkas yang harus Mas tanda tangani hari ini." ucap Bima kepada Almaira. Almaira menganggukkan kepalanya lalu berjalan mengikuti Bimo masuk ke khusus petinggi perusahaan bersama Devan.


Terlihat pada karyawan karyawati Yang Melihat kehadiran Bimo, Devan dan Almaira di sana bangkit berdiri memberi hormat kepada CEO sekaligus pemilik perusahaan itu. Siska sang sekretaris menatap kedatangan Bimo Devan dan Almaira yang terlihat begitu dekat seperti pasangan suami istri yang lagi bahagia, menatap Almaira dengan tatapan tajam.


Siska benar-benar tidak terima melihat kedekatan Amira dengan Bimo lelaki yang sudah lama ia cintai. "kamu bisa tertawa dan tersenyum Sekarang aku tidak akan membiarkanmu bersanding dengan Bimo lelaki yang sangat aku cintai." gumam Siska dalam hati sembari memperhatikan interaksi Almaira ,Devan dan juga Bimo.


Para karyawan lainnya merasa bahagia melihat bocah kecil yang berada di gendongan Almaira yang tampak terlihat tampan dan juga bijak. "Wah Tuan muda Devan sangat tampan sekali Puji salah satu karyawan yang bertugas di sana.


"Iya dong Om, namanya juga Papinya tampan." ucap Almaira menirukan suara khas anak kecil, membuat Bimo dan yang lainnya tertawa cengengesan mendengar suara Almira yang menirukan suara anak kecil. Bimo merasa kalau Almaira memuji dirinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏


sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya teman emak