
Bimo berusaha untuk meminta maaf kepada Almaira. Ketika dirinya menyadari apa yang ia lakukan malam itu. Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Almaira, Bimo khawatir kalau Almaira sudah pergi meninggalkan rumah utama keluarga Setiawan.
Devan datang menghampiri Bimo. Mami dimana Papi? tanya Devan yang belum melihat kehadiran Almaira di sana. Sepertinya Mami masih marah kepada Papi. Coba kamu yang mengetuk pintunya dan memanggil Mami." ucap Bimo berharap jika Devan yang memanggil Almaira akan membuka pintunya.
Tok....
Tok....
Tok.....
Mom.. .. apa Mami di dalam, buka dong mom."rengek Devan meminta kepada Almaira agar segera membuka pintu kamarnya. Almaira bangkit dari tempat duduknya. sebenarnya ia sudah mendengar suara Bimo memanggil namanya.
Tapi sepertinya Almaira belum siap untuk bertemu dengan Bimo, bayang-bayang Apa yang dilakukan Bimo kepadanya masih terngiang di kepalanya. Almaira berlalu membuka pintu kamarnya. Karena ia tidak tega dengan mendengar suara rengekan Devan.
Almaira membuka pintu kamarnya menatap depan sudah berdiri di depan pintu kamar itu.
"Mami kok belum sarapan? Mami sakit? ucap Devan sambil memegang dahi Almaira yang lagi berjongkok meraih tubuh Devan kepelukannya. "Mami demam? ucap Devan merasakan hangatnya tubuh Almaira.
"Tidak apa-apa sayang, kamu tidak perlu khawatir."tapi Mami demam nih, Devan tidak ingin Mami sakit. Devan ingin mami langsung berobat." ucap Devan sambil memeluk Almaira dengan pelukan tulus dari seorang anak kecil yang menyayangi Almaira.
"Tidak sayang, mami tidak sakit hanya saja mami saat ini butuh istirahat." sahut Almaira berusaha menenangkan Devan kalau dirinya tidak sakit. "Benarkah Mami? Mami tidak bohong kan? Devan kembali meyakinkan dirinya kalau saat ini Almaira benar-benar tidak sakit.
Sementara di tempat lain, terlihat Stefani sudah menunggu kehadiran Almaira di kampus. Tetapi Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi yang ditunggu tak kunjung tiba. Stefani yang sedikit panik karena mendapat perintah dari dosen kalau mereka ada pertemuan saat ini di kampus. langsung meraih ponselnya yang ada di tas sandang miliknya.
Stefani mencari nomor ponsel milik Almaira disana. Setelah menemukannya, Ia pun menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Berharap sambungan telepon selulernya tersambung kepada Almaira.
Kring....
Kring....
Kring....
suara deringan ponsel milik Almaira terdengar jelas di telinganya. Almaira meraih ponselnya yang ada di atas nakas, tepatnya di samping tempat tidur yang menemani tidurnya, selama berada di rumah utama keluarga Setiawan.
"Mom, Mami ke kampus ya?" tanya Devan penuh selidik karena Almaira tiba-tiba saja mendapatkan sambungan telepon seluler. Almaira mengangguk lalu ia menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Stefani.
"Hallo assalamualaikum." Sapa Almaira di dalam sambungan telepon
"Syalom...., sahabatku Sayang. kamu dimana sekarang? Apa kau tahu dosen pembimbing kita sudah lama menunggu dirimu dan dia memintaku untuk langsung menghubungimu.
"Wait 10 minutes, aku akan tiba di sana." ucap Almaira di dalam sambungan telepon selulernya. Sambil berbicara dengan Stefani, ia menghidupkan speaker phone-nya, lalu bersiap untuk segera berangkat ke kampus membawa skripsi yang sudah ia susun. berharap dosen pembimbingnya menandatanganinya, sebelum sang dosen pembimbing berangkat ke Singapura.
Dengan gerak cepat dan berpakaian seadanya, Almaira bergegas keluar dari kamar yang selama ini ia tempati. Ia meminta kepada Devan untuk tidak rewel dan meminta maaf kalau pagi ini, ia tidak dapat menemani Devan bermain karena saat ini juga dia harus berangkat ke kampus.
"Maafkan Mami sayang, pagi ini juga Mami harus berangkat ke kampus. Tidak apa-apa kan kamu sama bibi dulu." ucap Almaira tanpa mempedulikan keberadaan Bimo disana.
"Tidak apa-apa mom, tapi kalau sudah pulang dari kampus langsung pulang ya mom, karena Devan ingin bermain dengan Mami." ucap Devan sambil mengembangkan senyumnya menatap Almaira dengan tatapan penuh arti.
Almaira juga berpamitan kepada Nyonya Anita. Ia meminta maaf kepada Nyonya Anita karena pagi itu, ia tidak bisa menemani Nyonya Anita sarapan pagi dan menyiapkan sarapan pagi kepada keluarga itu.
Padahal Nyonya Anita sudah terbiasa memakan sarapan pagi, masakan Almaira. Ia begitu lahap memakan masakan Almaira karena Citra rasa masakan Almaira pas di lidah Nyonya Anita.
"Sudah Sayang, tidak apa-apa kamu berangkat saja ke kampus. Mudah-mudahan Kamu masih bisa bertemu dengan dosen kamu sebelum dosen kamu berangkat ke Singapura." ucap Anita yang Mendengar pembicaraan Almaira di dalam sambungan telepon selulernya dengan Stefani.
Almaira berlari keluar rumah utama keluarga Setiawan. Ketika Almaira berpamitan kepada Nyonya Anita, Bimo Sudah terlebih dahulu keluar dan bersiap ingin menghantarkan Almaira ke kampus. Karena ia tahu saat itu Almira buru-buru harus tiba di kampus dengan secepat mungkin.
Ketika Almaira sudah melewati mobil yang dikendarai oleh Bimo sendiri, Bimo keluar dari mobil miliknya lalu menarik tangan Almaira. "Masuk!" Biar saya antar. Nanti kamu telat." ucap Bimo dengan memohon kepada Almaira. Almaira memberontak ia menghempaskan tangan Bimo. Tak sudi rasanya Bimo menyentuhnya saat itu.
Masalah nanti malam nanti kita bahas. Yang penting sekarang kamu harus cepat tiba di kampus. Apa Kamu mau tidak mendapatkan tanda tangan dari dosen pembimbing mu? tanya Bimo mengingatkan Almaira agar segera tiba di kampus saat itu juga.
Almaira berpikir sejenak ia tidak Sudi rasanya Satu mobil dengan Bimo saat ini. Tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Jika ia menunggu taksi online bisa saja dia akan semakin telat.
Bimo langsung menggendong tubuh Almaira masuk ke dalam mobil miliknya, dan mendudukkannya di kursi samping kemudi. lalu ia menutup pintu mobil dan memutar mobil itu, masuk ke dalam mobil duduk di kursi kemudi.
Bimo menghidupkan mesin mobil miliknya, lalu melajukannya ke arah jalan raya menuju kampus yang selama ini tempat Almaira menimba ilmu. Berharap dirinya lulus dengan waktu sesuai dengan yang ditargetkan Almaira, ia dapat meraih gelar sarjana.
Di sepanjang perjalanan, Almaira hanya terdiam menatap lurus ke depan. Sementara Bimo berusaha untuk meminta maaf atas perlakuannya malam itu, yang sudah membuat Almaira merasa dilecehkan.
Tetapi sejujurnya Bimo melakukan itu semua, karena ia tidak ingin Almaira dekat dengan lelaki lain. Apalagi sang dosen sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Almaira. Ia khawatir Almaira akan pergi dari rumah utama keluarga Setiawan.
Walaupun Bimo belum mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya, kalau dirinya sudah merasa nyaman dan mulai mencintai Almira. Ia benar-benar tidak ingin wanita yang sudah mampu memporak-porandakan hatinya memilih lelaki lain dibandingkan dirinya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓