GAIRAH DUDA KECE

GAIRAH DUDA KECE
BAB 12. TETAP SAYANG_GDK


Keesokan paginya, Almaira sudah menyusun barang bawaan milik Devan selama berada di rumah sakit. Seperti apa yang dikatakan dokter kepada mereka. Kalau hari ini dokter sudah mengizinkan Devan pulang ke rumah karena kondisi kesehatan Devan sudah membaik.


"Saya sudah membereskan segala administrasinya. Tinggal menunggu dokter memeriksa kondisi kesehatan Devan sebelum kita kembali pulang ke rumah."ucap Bimo tiba-tiba datang menghampiri Devan dan Almaira di ruang rawat inap Devan.


"Alhamdulillah akhirnya Putra Mami akan segera pulang ke rumah. Tetapi Ingat jangan makan sembarangan dulu, istirahat yang cukup dan jangan rewel."ucap Almaira sambil meraih tubuh Devan kepelukannya. memberikan kecupan hangat di wajah tampan Devan Ia seolah-olah memang benar menganggap depan itu seperti percaya diri.


Melihat interaksi keduanya, Bimo mengembangkan senyumnya menatap Devan dan Almaira secara bergantian. Sorot matanya mengatakan sesuatu. Tetapi ia tidak sanggup mengucapkannya. Ketika Almaira dan juga Devan saling bercanda gurau tiba-tiba seorang dokter tampan dan suster cantik datang menghampiri ruang rawat Inap yang ditempati Devan selama berada di rumah sakit.


"Hai tampan, sapa dokter berparas Tampan itu kepada Devan yang terlihat sudah mengembangkan senyumnya.


"Hai juga dokter, apa Devan sudah bisa pulang hari ini? sepertinya Devan sudah bisa pulang karena ada mami yang merawat Devan di rumah." ucap Devan dengan nada suara khas anak kecil kepada dokter itu yang merupakan sepupu Bimo.


Mami?


"Yes,


"Dokter itu menatap ke arah Bimo dari sorot bola matanya, bertanya sesuatu kepada Bimo benar tidaknya kalau wanita yang ada di dekat Devan itu merupakan maminya Devan.


"Sejak kapan kamu menikah lagi bro? Kok tidak memberitahuku? bisik dokter yang berparas tampan itu kepada Bimo.


"Siapa juga yang sudah menikah Jangan ngaco kamu. Jika saya menikah sudah pasti akan mengundangmu. bodoh! gerutu Bimo yang percaya begitu saja kepada anak kecil.


Kalau kamu belum menikah Mengapa keponakanku memanggilnya mami? kamu tidak perlu malu mengakuinya. Harus aku akui seleramu Memang luar biasa. Keren, cantik alami dan inner beauty nya kelihatan bro. Kalau wanita ini memang benar-benar perfect dan cocok untuk kamu bro." kalau kamu tidak mau nanti aku ambil.


"Enak aja main ambil!" kamu pikir dia barang? gerutu Bimo dengan nada suara kecil agar Almaira tidak mendengarkan pembicaraan mereka. "Papi dan om bisik-bisik. lagi ngomongin apa sih? jangan bilang lagi ngomongin mamiku." Gerutu Devan yang seolah-olah mengetahui kalau Bimo dan dokter itu membicarakan tentang Almaira.


"Gila, ponakanku kok tahu banget sih kalau kita lagi ngomongin gadis cantik itu?


"Siapa dulu dong Papinya. Dia pintar seperti Papinya. Punya raut wajah tampan, dan juga otak yang jenius." Puji Bimo yang dapat membuat dokter itu langsung terkekeh.


"Ya....ya.. .ya, harus diakui keponakanku memang sangat tampan, pintar dan juga gemesin. Masih lebih tampan keponakanku daripada kamu." ucap dokter itu sambil langsung menghampiri Devan.


"Keponakan Om dokter yang tampan, sekarang izinkan Om dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan. Supaya keponakan dokter yang tampan ini cepat pulang ke rumah dan bisa bermain dengan maminya. bukan? ucap dokter itu membuat Devan semakin bersemangat.


Devan menurut dan langsung membaringkan tubuhnya di atas branker. Netranya terus menatap Almaira. Kasih sayang yang tulus yang diberikan Almaira kepada Devan benar-benar dapat dirasakan Devan.


Entahlah Bagaimana nantinya hubungan keduanya. Hanya Allah yang mengetahui jalannya semua. Yang pasti Almaira memang benar-benar tulus menyayangi Devan seperti putranya sendiri. Walaupun Gadis itu masih berusia 21 tahun saat ini.


Kebiasaan menjaga dan merawat anak kecil, membuat gadis berusia 21 tahun itu menjadi dewasa. Di usianya yang masih muda, dia benar-benar telaten dalam mengurus anak kecil dan juga bayi. Dibesarkan disebuah panti asuhan membuat dirinya lebih dewasa dan berpikir positif. Di dalam pikirannya hanya ada untuk tetap memberikan kasih sayang penuh kepada Devan tanpa ada memikirkan hal lain.


Terima kasih Alamaira kamu sudah merepotkan kamu. Jujur saya tidak tahu harus bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kamu. Santai aja Tuan, saya tulus membantu Devan. Saya sudah menganggap Devan seperti adik saya sendiri.


Kenapa kamu tidak menganggap devan seperti Putra kamu saja? tanya Bimo sambil mengembangkan senyumnya.


Almaira hanya tersenyum sendiri mendengar pertanyaan Bimo yang seolah terlalu lebay menurutnya. "Bagaimana mungkin saya beranggapan seperti itu Tuan. Itu sudah tidak mungkin. Tetapi Tuan Tenang saja, saya akan tetap menyayangi Tuan muda dengan segenap hati saya." ucap Almaira sambil terus mengelus wajah tampan milik Devan yang tertidur di pangkuannya.


Jujur selama ini Devan sulit sekali untuk dekat kepada setiap orang. Apalagi itu kepada wanita. Tetapi entah mengapa ketika ia bertemu sama kamu, pertemuan kalian pertama sekali saat kamu mengantarkan obat untuk mami saya. Devan begitu dekat dengan kamu. seperti ada ikatan batin Di Antara Kalian. ucap Bimo sambil tetap memandang lurus ke depan.


"Maaf Tuan, kita langsung pulang ke rumah? tanya sopir pribadi yang selama ini setia menghantarkan Bimo ke mana saja.


"Kita langsung ke rumah habis itu, kamu antar saya ke kantor.


"Baik Tuan!"


Pak Yono yang merupakan super pribadi yang selama ini setia menghantarkan Bimo kemana saja, Ia pun melajukan mobil menuju rumah utama keluarga Setiawan.


Tidak menunggu lama, yang kebetulan jalanan ibu kota lumayan lancar. Hingga Mereka pun hanya memakan waktu 20 menit saja mereka sudah tiba di rumah. Tampak Nyonya Anita yang duduk di kursi roda, tepatnya di ruang tamu. Mengembangkan senyumnya melihat Almaira menggendong tubuh mungil Devan, masuk ke dalam rumah. setelah mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah utama keluarga Setiawan.


"Ya Ya....ya...., harus diakui kedekatan antara Devan dan juga Almaira sangat dekat. "Alhamdulillah akhirnya cucu Oma sudah kembali ke rumah. Oma sangat merindukannya." ucap Nyonya Anita sembari mengelus wajah tampan cucunya yang masih tertidur pulas di gendongan Almaira.


Bimo menuntun Almaira agar membawa Devan masuk ke kamarnya. "Ayo kita antar Devan ke kamar. lebih baik kamu baringkan dulu di sana. Pasti tubuhmu sudah pegal karena menggendong Devan sepanjang perjalanan." ucap Bimo kepada Almaira dibalas anggukan dari Almaira.


Kini Devan sudah dibaringkan di atas tempat tidur yang selama ini menemani tidur Devan. Ketika Devan sudah dibaringkan, tetapi tangan Devan terus memegang tangan Almaira. Seolah dirinya tidak rela kalau Almaira meninggalkannya begitu saja.


Almaira kembali berbalik lalu memberikan kecupan hangat di kening Devan. "Istirahat Sayang, Mami tidak akan pergi dari sini." bisiknya dengan pelan seolah-olah Devan mendengarnya. Ia pun melepaskan tangan Almaira.


"Astaga, Putraku benar-benar menginginkanmu tetap berada di rumah ini. tolong pikirkan tawaran saya kemarin. Saya tidak ingin kamu pergi meninggalkannya dari sini." mohon Bimo berharap Almaira bersedia tetap tinggal di rumah utama keluarga Setiawan, dan Bimo berjanji akan membantu membiayai dan menambah donasi ke panti asuhan yang selama ini dikelola oleh ibu Fatimah dan juga tempat Almaira dibesarkan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


sambil menunggu karya ini up yuk mampir ke karya teman emak.