
Setelah dokter pribadi keluarga Setiawan berlalu dari rumah utama Setiawan. Kini Bimo Sudah merasa lega. Karena ia merasa terganggu keberadaan dokter itu di sana, mengancam kalau dirinya akan merebut Almaira dari dirinya.
Yang entah mengapa dokter itu mengetahui apa yang ada di dalam isi hati Bimo saat ini.
"Dasar sepupu kurang ajar, tidak ada akhlak.
Tidak tahu apa? saat ini aku sedang memperjuangkan hatiku untuk memantapkan diri melepas masa dudaku." gumamnya dalam hati karena merasa kesal melihat sang sepupu yang ingin sekali terus meledek dan menjahilinya.
Almaira mengembangkan senyumnya menatap Bimo dan memberikan obat yang sudah di resep oleh dokter itu kepadanya. "Mas obatnya sudah Almaira tebus, Jadi sekarang Mas harus makan obat. Agar cepat sembuh. Mas tidak mau kan,membuat Devan Putra kamu merasa sedih.
"Bukan Putraku saja, tetapi putramu. Devan memanggil kamu apa? Mami bukan. Jadi Devan itu bukan hanya putra Ku, melainkan putramu juga." ucap Bimo sambil mengembangkan senyumnya menatap Almaira dengan tatapan penuh arti.
Almaira hanya mengembangkan senyumnya. "Ya sudah, tidak usah banyak komentar lebih baik mas makan obatnya, supaya cepat sembuh dan bisa berangkat ke kantor besok. "Aku tidak akan bangkrut walaupun aku satu bulan tidak ke kantor. Kamu jangan khawatir Panti pasti aman kok.
Asistenku sudah mengatur semua dan sudah dilegalkan kalau Panti asuhan, itu sudah atas nama kamu. Dan saat ini tanah dan bangunan Panti asuhan itu sudah sah menjadi milik kamu. jadi kamu tenang saja Jangan berpikir yang aneh-aneh ucap Bimo kepada Halmahera.
"Kenapa atas nama Almaira?
Bimo menggerdikkan bahunya. Mas Almaira bertanya serius, Mengapa Mas membuat tanah dan bangunan panti Itu atas nama Almaira? Kenapa tidak atas nama Mas atau Putraku Devan
Aku tidak pantas mendapatkan itu mas, yang hanya Almira inginkan kalau Panti asuhan itu tidak akan digusur lagi, atau disuruh pindah dari sana. karena Almaira akan sulit untuk mencari tahu jati diri Almaira sendiri.
Mas tahu sendiri bukan, kalau Almaira sudah pernah cerita kepada masa lalu Almaira ketika masih bayi. Bahkan Ibu Fatimah saja tidak mengetahui siapa orang tua kandung Almaira.
Almaira juga tidak mengetahui apakah orang tua kandung Almaira masih hidup atau tidak. Tetapi bukan berarti mas membuat kepemilikan tanah itu menjadi hak milik Almaira. ucap Almaira kepada Bimo yang tidak mengetahui apa isi hati Bimo sehingga membuat tanah dan bangunan Panti itu menjadi milik pribadi oleh Almaira sendiri.
"Sudah jangan terlalu kamu pikirkan. ini sudah jam berapa? Apa kamu tidak pergi ke kampus hari ini?
"Sebenarnya Almaira ingin pergi ke kampus, tetapi aku tidak tega meninggalkan Mas begini dalam keadaan seperti ini.
Sudah tidak apa-apa pergi saja ke kampus. agar kamu cepat lulus. Aku sudah baikan. kamu sudah merawat ku dan memberikanku obat tadi. Dan ingat Saya tidak ingin kamu menggunakan sepeda, karena kamu pasti akan lelah.
"Itu bisa berakibat kamu tidak maksimal mengurus Putraku Devan. "Terus Almaira naik apa dong ke kampus? tidak mungkin kan GL secara jauh begitu GL?
"Apa itu GL?
"goyang lutut. ucap Almaira sambil terkekeh membuat Bimo ikutan juga tertawa ngakak mendengar jawaban Almaira.
"Tidak akan saya biarkan kamu pergi ke kampus dengan goyang lutut. Seperti yang kamu ucapkan itu. Ada pak Yono yang menghantarkan kamu, dan jika kamu juga pulang nanti, kamu hubungi Pak Yono agar Pak Yono menjemputmu di kampus." ujar Bimo kepada Almaira.
"Kamu lupa?
"Lupa apanya?
"Lupa kalau kamu maminya Devan? tanya Bimo sambil menatap Almaira dengan Devan secara bergantian.
Almaira menghela nafas panjang menatap Bimo dengan Tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba saja Pak Yono yang sudah mendapat kiriman pesan Whatsapp dari Bimo datang menghampiri Almira di kamar yang selama ini ditempati oleh Bimo.
"Mari Nona saya antar ke kampus." Ucap pak Yono sambil membungkukkan badannya. Masya Allah, tidak perlu seperti itu kali Pak Yono. Posisi kamu dengan posisi saya di rumah ini sama saja. jadi tidak perlu membungkukkan badan seperti itu kepada saya, yang kamu harus lakukan seperti itu kepada bos kamu Tuan Setiawan, dan nyonya Anita, Begitu juga dengan tuan muda Devan ucap Almaira di hadapan Bimo dan juga Devan.
"No, melakukan hal yang sama kepada mamiku. Dia mamiku." ucap Devan kepada Pak Yono dibalas anggukan dari Pak Yono. Membuat Almaira hanya menggelengkan kepalanya menatap kedua pria berbeda generasi itu secara bergantian.
Karena mereka merasa komplain ketika Almira mengatakan kalau dirinya dengan Pak Yono sama saja posisinya di tengah-tengah keluarga Setiawan.
Ya sudah, sebentar lagi pak Yono. Saya akan bersiap pergi ke kampus. "Sayang kamu tidak apa-apa kan mami tinggal dulu. Karena Mami harus pergi ke kampus hari ini." ucap Almaira meminta maaf kepada Devan
Setelah bersiap-siap Almaira berpamitan kepada Bimo dan Devan begitu juga kepada Nyonya Anita. Almaira melambaikan tangannya ke arah devan dan juga Nyonya Anita. Masuk ke dalam mobil mewah milik keluarga Setiawan.
Pak Yono melajukan mobil yang selama ini ia kendarai untuk membawa Bimo ke mana saja yang dia inginkan. Ia pun melajukannya ke arah jalan raya menuju kampus tempat Almaira menimba ilmu.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit, Almaira tiba disana tampa gelisah. kali ini Almaira benar-benar bingung dengan sikap manis Bimo, devan dengan Nyonya Anita kepadanya.
"Nona kita sudah sampai." Ucap pak Yono sambil membuka pintu mobil itu kepada Almaira. Sementara Stefani sudah menunggu kehadiran Almaira di kampus, heran melihat Almaira diantar sebuah mobil mewah dilengkapi dengan Pak sopir membuka pintu mobil untuknya .
"Hai Almaira kamu sekarang sudah kaya raya ternyata. Sehingga kamu tidak memiliki waktu lagi bersamaku. ucap Stefani kepada Almaira "Sudah tidak usah bercanda. lebih baik kita masuk ke dalam kelas." gerutu Almaira sambil meminta kepada Pak Yono untuk segera meninggalkan kampus itu. karena ia tidak ingin Bimo merasa kecewa jika Pak Yono terlalu lama kembali ke rumah utama keluarga Setiawan.
Kamu harus cerita kepadaku, karena kamu masih hutang penjelasan kepadaku mengenai anak itu yang memanggil kamu dengan panggilan mami." ucap Stefani yang begitu penasaran kepada sahabatnya itu.
"Kamu tenang saja, aku pasti akan menjelaskannya nanti. Tapi jangan sekarang, karena sebentar lagi kita akan masuk jam kuliah, dan setelah istirahat Aku akan memberitahunya kepadamu.
"Jadi tenang saja kamu di pengkolan." ucap Almaira sambil berlalu meninggalkan Stefani begitu saja masuk ke dalam ruang kelas. Karena ia tidak ingin dosen yang akan mengajar di sana melihatnya telat masuk ke ruang kelas.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓