
Devan menangis sesungguhkan di pelukan Almaira. Almaira mengelus pundak bocah kecil yang mencuri perhatiannya. Kamu tenang saja sayang, mami tidak akan pergi lagi dari sini sayang.
"Tuh lihat baju-baju Mami sudah berada di sini semua. " ucap Almaira menenangkan Devan agar Devan percaya kalau dirinya tidak akan meninggalkannya.
"Benarkah Mami, Mami akan tinggal di sini tanya Devan. Seolah belum percaya aku yang diucapkan Almaira kepadanya.
"Iya, sayang mami akan tetap tinggal di sini menemani Devan kemana saja yang Devan mau." ucap Almaira sambil memberi menghujani wajah tampan bocah kecil itu dengan kecupan.
Bimo menggelengkan kepalanya menatap kedekatan putranya kepada Almaira. "Astaga, Papinya ada di sini, bukan dicari malah kamu yang dicari Putraku. Aduh sepertinya tidak ada gunanya lagi aku di sini." gerutu Bimo yang merasa komplain karena tidak dirindukan oleh Devan.
Tapi seperti anak kecil saja, merajuk tidak boleh orang dewasa merajuk anak kecil baru bisa" gerutu Devan yang mampu membuat Almaira dan Bimo tertawa ngakak. Karena bocah kecil yang ada di hadapan mereka begitu bijak, dan juga menggemaskan.
Dari Kejauhan, Nyonya Anita yang duduk di kursi roda pun mengembangkan senyumnya. melihat kebahagiaan terpancar di wajah tampan Putra dan juga cucunya, dengan kehadiran Almaira di sana. Terlihat para asisten rumah tangga dan babysitter yang bekerja di sana, merasa bahagia.
Setelah Devan berhasil tenang, pada hal mereka sudah kesulitan untuk menenangkan Devan saat Almaira dan Bimo belum kembali ke rumah. "Oh iya Bi, tolong siapkan kamar untuk Almaira.
Kamarnya tepat di sebelah kamar saya dan Devan. ucap Bimo memerintahkan kepada salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Setiawan agar mempersiapkan kamar untuk Almaira.
"Baik Tuan." ucap salah satu asisten rumah tangga itu berlalu meninggalkan mereka di sana untuk menyiapkan kamar kepada Almaira.
"Peluk-pelukannya sudah dulu, mami kamu butuh istirahat. Karena Mami kamu lelah.
"Kamu tahu, beberapa hari ketika kamu berada di Rumah Sakit, mami kamu yang selalu berjaga di sana. Tidurnya tidak nyaman karena terus ingin merawat kamu dengan tulus, jadi kamu harus membiarkan Mami kamu istirahat dulu.
"Maafkan Devan Mami, sudah merepotkan Mami. Untuk saat ini, Devan akan membiarkan Mami istirahat dulu,baru nanti kita bermain." ucap Devan sambil memegang kedua daun telinganya menyamakan dirinya meminta maaf kepada Almaira. Sama halnya seperti yang dilakukan Almaira meminta maaf kepada Devan. Membuat Almaira pun mengembangkan senyumnya menatap Devan, melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya.
"Kamu memang anak yang pintar. Membuat Mami menjadi gemas. Bagaimana mungkin aku tega meninggalkan Putra Mami yang tampan ini." ucap Almaira sambil menghujani wajah tampan Devan dengan kecupan tulus yang diberikannya kepada Devan.
"Ayo saya antar kamu ke kamar. Biarkan Devan bermain sama mereka dulu. Kamu butuh istirahat. Sudah beberapa hari tidurmu terganggu, selama berjaga di rumah sakit." ucap Bimo yang tidak tega melihat Almaira terlalu kelelahan.
Almaira menganggukkan kepalanya, berjalan naik ke atas menaiki anak tangga satu persatu mengikuti langkah Bimo. Kini saatnya Almaira memasuki kamar yang sudah disediakan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Setiawan.
Ceklek
Sekali hentakan pintu kamar itu terbuka. Silakan masuk ini kamar kamu." ucap Bimo memberitahu kepada Almaira. Kalau pintu kamar yang dibuka oleh Bimo itu mulai saat ini kamar Almaira .
"Bagaimana Apa kamu menyukai kamar ini? jika kamu tidak menyukainya kita bisa mengganti desain interiornya." ucap Bimo kepada Almaira.
"Saya suka sekali kamar ini. Tapi sepertinya Almaira tidak pantas tidur di sini. " Apa semua asisten rumah tangga tidur di kamar yang seperti ini?" tanya Almaira penuh selidik kepada Bimo.
Bimo mengembangkan senyumnya, menatap Almaira dengan seksama. "Memangnya siapa yang mengatakan kamu asisten rumah tangga?
Kamu juga tidak pernah saya katakan kalau kamu babysitter untuk Devan!. Tapi kamu maminya Devan di sini.
Sudah selayaknya kamu mendapat fasilitas sebagai maminya Devan. Apa kamu tidak mendengar Putraku Devan memanggil kamu apa? Putraku Devan memanggil kamu Mami. untuk itu, karena Putraku memanggil kamu Mami, maka kamu mendapat fasilitas sebagai maminya Devan." ucap Bimo yang mampu membuat Almaira mengerutkan keningnya.
Ia masih bingung apa maksud dan tujuan Bimo mengucapkan seperti itu. "Ya sudah, nikmati istirahatmu, jangan sampai kamu terlalu lelah. Ingat jika kamu membutuhkan apa-apa Panggil asisten rumah tangga, kamu bukan asisten rumah tangga di sini. Jadi kamu tidak perlu melakukan apa-apa. tugasmu hanya menjaga Devan dan memberikannya kasih sayang yang tulus dari seorang Mami okey." ucap Bima sembari berlalu meninggalkan Almaira di kamar.
Pagi itu Bimo berlalu dari rumah utama keluarga Setiawan, setelah memastikan Almaira merasa nyaman tinggal di rumah utama keluarga Setiawan. Bimo berlalu ke kantor sebelumnya ia berpamitan kepada Nyonya Anita.
"Mom, Bimo pamit ke kantor dulu. Mami Jangan berpikir yang macam-macam. Almaira sudah berada di rumah ini seperti yang mami inginkan." bisik Bimo tepat di telinga Nyonya Anita yang mampu membuat Nyonya Anita tersenyum menatap Putra tunggal.
"Mami tidak ingin Almaira hanya tinggal di sini, tetapi Mami ingin kalau Almaira menjadi menantu Mami dan menjadi maminya cucu cucu mami." ucap Nyonya Anita tepat di telinga Bimo, yang mampu membuat Bimo tertawa cengengesan mendengar permintaan Nyonya Anita.
"Mami ada-ada saja, nanti dulu kita bicarakan itu, sekarang Bimo harus berangkat ke kantor. karena sudah beberapa hari ini Bimo hanya sebentar saja pergi ke kantor pekerjaan sudah menumpuk." ucap Bimo sambil memberi salam kepada Nyonya Anita, memberikan kecupan hangat di wajah wanita yang sudah membuat Bimo menjadi orang yang bertanggung jawab dan dewasa.
Di usia Nyonya Anita yang sudah tidak muda lagi,Ia menginginkan putranya kembali menikah setelah kepergian Alena yang meninggalkan satu orang Putra yaitu Devan. Nyonya Anita tidak ingin membiarkan Bimo larut dalam kesedihannya, setelah kepergian Alena.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut. Semoga harimu beruntung ucap Nyonya Anita sambil mengembangkan senyumnya menatap kepergian putranya. Bimo berlalu dari rumah utama keluarga Setiawan, menuju Setiawan group yang selama ini ia kelola
Setelah Bimo tiba di kantor, terlihat para karyawan karyawati yang ada di sana menunduk saat Bimo melintasi mereka ingin masuk ke ruang kerjanya. Tak ada seorangpun yang berani berbicara ketika Bimo Sudah berada di kantor.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓