
Beberapa menit kemudian Almaira, Devan dan sang resepsionis tiba di lantai sepuluh. Devan langsung berlari menuju ruang kerja Bimo. Ia memang sudah mengetahui ruang kerja Bimo. Karena Bimo sering sekali membawa Devan ke kantor. Saat Almaira belum tinggal di rumah utama keluarga Setiawan.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Devan berusaha membuka pintu ruang kerja Bimo. Tetapi karena Devan tidak dapat membukanya, membuat Devan tidak bisa langsung masuk ke ruang kerja Bimo. Devan meminta kepada Almaira untuk segera membuka pintu ruang kerja Bimo.
Almaira mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok...
Tok.....
Tok.....
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Bimo.
"Masuk!" teriak Bimo dari ruang kerjanya.
ceklek
Satu kali hentakan, pintu terbuka. Devan langsung berlari masuk menghampiri Bimo.
Membuat Bimo terhenyak melihat kehadiran putranya. Di ruang kerjanya, Padahal di sana ada Siska sang sekretaris sedang memberikan agenda kerja Bimo esok hari.
"Papi....! teriak Devan sambil langsung memeluk Bimo. Almaira perlahan masuk ke ruang kerja Bimo, sementara sang resepsionis sudah kembali ke lobi kantor untuk melanjutkan tugasnya sebagai resepsionis di kantor yang dipimpin oleh Bimo sendiri.
"Putra Papi ada apa hingga nyamperin Papi ke kantor? dulu saja kamu bilang kamu bosan ke sini, sekarang malah kamu yang datang sendiri." ucap kepada putranya Devan, sambil menggendong tubuh Devan duduk di pangkuannya
"Maaf Mas tadi Devan minta ditemenin datang ke sini. Katanya depan ingin jalan-jalan di mall. Awalnya Almaira menolak. tetapi ia terus memohon dan meminta dukungan dari Omanya. Ternyata Omanya juga meminta Almaira untuk datang ke sini, agar Mas dan Almaira membawa Devan bermain di mall." ucap Almaira berterus terang kepada Bimo dibalas anggukan dari Bimo.
"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu pekerjaan Mas. Almaira merasa tidak enak hati. karena sudah mengganggu pekerjaan Bimo saat ini.
"Tidak kok, lagian pekerjaanku hari ini tidak terlalu banyak, Jadi santai saja. Sebenarnya Mas juga sudah ingin mengajak kalian jalan-jalan. Eh ternyata kalian sudah datang duluan." ucap Bimo sambil memberikan kecupan hangat di wajah tampan putranya.
Sementara Siska yang berdiri tepat di samping Almaira, menatap Almaira dengan tatapan penuh tanya. " Siapa wanita ini mengapa dia memanggil Bimo dengan panggilan mas, tidak mungkin dia kekasih atau calon istrinya. Dari penampilannya saja tidak ada pantas-pantasnya dia menjadi calon istri Bimo. Lebih pantas lagi aku." gumamnya dalam hati sambil melihat Almaira dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Papi, Ayo dong sekarang pergi ke mall main-main bersama mami." ucap Devan sambil menarik-narik tangan Bimo. Agar segera bangkit dari tempat duduknya meninggalkan ruang kerja Bimo. Devan memanggil Almaira dengan panggilan mami, membuat Siska terhenyak.
"Mami? gumam dalam hati seolah tidak percaya apa yang ia dengar sebelumnya.
"Mom, Ayo dong kita pergi." ucap Devan memohon kepada Almaira dan juga Bimo agar mereka segera pergi ke mall sesuai dengan apa yang diinginkan Devan saat ini.
Almaira dan Bimo mengembangkan senyumnya. Bimo pun bangkit dari tempat duduknya, mengambil jas yang ada di sandaran kursi kerjanya. Lalu menggunakannya kembali berlalu meninggalkan ruang kerjanya.
Sementara Siska menatap kepergian Almaira, Devan dan Bimo sampai bayangan ketiganya menghilang dari pandangannya. Ia semakin penasaran sosok wanita yang dipanggil Devan sebagai maminya. "Tidak mungkin Tuan Bimo Sudah menikah. Kalau Tuan Bimo Sudah menikah pasti ada kabarnya." gumamnya dalam hati sambil langsung bersiap ingin mengikuti Bimo, Almaira dan Devan.
Bimo Almaira dan Devan masuk ke lift khusus petinggi perusahaan. Almaira tampak takjub melihat kantor yang dimiliki oleh Bimo.
"Kamu kenapa Almaira." tanya Bimo yang melihat Almaira sedikit kebingungan dengan situasi kantor yang dimiliki oleh Bimo.
Bimo mengembangkan senyumnya, Almaira kamu kuliah jurusan apa? tanya Bimo penuh selidik.
"Almaira mengambil jurusan manajemen.
Memangnya ada apa Mas? tanya Almaira penuh selidik sambil melangkah mengikuti langkah Bimo dengan tangannya memegang tangan Devan. Sementara Bimo memegang tangan kiri seolah-olah ketiga insan itu, keluarga yang sedang bahagia.
"Mami..... papi......, Devan sangat bahagia memiliki Mami dan Papi yang sangat menyayangi Devan. Jangan pernah meninggalkan Devan lagi Mami." ucap Devan sambil terus berjalan diiringi oleh Almaira dan juga Bimo. Almaira menatap Bima dengan Tatapan yang sulit diartikan. Bimo hanya mengembangkan senyumnya, ia tidak ingin mengecewakan Putra kesayangannya.
Setelah tiba di parkiran kantor, Bimo membuka pintu lalu mendudukkan Devan di bangku penumpang. Begitu juga dengan Almaira duduk di bangku penumpang bersama Bimo. Sopir pribadi yang selama ini setia menghantarkan Bimo ke mana saja, Ia pun mengembangkan senyumnya menatap ketiga insan itu, layaknya pasangan yang sedang berbahagia.
"Maaf Tuan, kita mau ke mana?" tanya Pak Karim kepada Bimo.
"langsung saja ke Sogo mall." ucap Bimo meminta kepada Pak Karim untuk segera mengemudikan mobil mewah milik Bimo ke arah jalan raya menuju Sogo mall, yang mana sesuai dengan permintaan Devan, ia ingin sekali menemani putranya bermain di mall. karena sogo mall salah satu mall yang dilengkapi dengan arena permainan anak-anak yang lengkap.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka pun tiba di Sogo mall. terlihat Devan sangat bahagia dengan penuh semangat. Devan keluar dari dalam mobil. diiringi dengan Almaira. Almaira tidak ingin melepaskan perhatiannya dari Devan. Ia takut terjadi sesuatu kepada Devan Putra kesayangannya.
Terlihat Devan sangat antusias bermain. Almaira selalu mendampingi Devan saat Devan berada di arena mandi bola. Almaira duduk di ruang tunggu bersama Bimo.
"Melihat begitu bahagia, saat ini rasa lelah bekerja di kantor seperti tidak terasa.
" Apa kamu tahu betapa sulitnya ketika Mas membesarkan Bimo sendiri, hanya dibantu dengan seorang babysitter. Apalagi kamu tahu sendiri Mami juga membutuhkan perawatan khusus. Entahlah hanya kuasa Tuhan yang bisa membuatku bertahan hingga saat ini. Aku tidak menyangka dapat membesarkan Devan hingga Devan bisa memanggilku dengan panggilan Papi." jujur mas memang tahu kalau Devan membutuhkan figur seorang ibu.
Tetapi tidak mudah melupakan memori lama ketika hidup bersama dengan almarhumahnya maminya Devan. Apalagi Devan sangat sulit sekali berinteraksi dengan orang lain. Entah mengapa Devan langsung dekat kepada kamu, saat kamu datang ke rumah menghantarkan obat untuk mami .
Apalagi setelah kedatangan Almaira, Devan selalu mencari keberadaannya. Hingga kamu tahu sendiri kan Devan sampai sakit ingin bertemu dengan kamu. Mas jadi bingung Mengapa Devan bisa sedekat Itu, Kepada kamu. Padahal dia masih baru kali pertama bertemu dengannya saat itu." ucap Bimo yang belum memahami mengapa Devan begitu dekat dengan Almaira.
Memberikan kasih sayang yang tulus kepada seorang anak, pasti anak itu dapat merasakannya. Jika kita memang benar-benar tulus menyayanginya, Tidak berpura-pura" ucap Almaira sambil terus memperhatikan Devan yang sedang bermain di arena mandi bola.
Jujur Almaira, Mas sangat bingung saat ini.
"Bingung kenapa mas?
"Entahlah sulit untuk diucapkan." ucap Bimo yang belum memahami apa yang sebenarnya di dalam dirinya, ketika ia duduk dekat bersama Almaira denyut jantungnya berdegup kencang.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up, yuk mampir ke karya teman emak