Dokter Mafia Kejam!

Dokter Mafia Kejam!
Bab 9 - Bertemu The Joker


11.46 pm.


Brooklyn, 25 November 2009...


...✫✫✫...


...🎶...


...Don't stop, make it pop...


...DJ, blow my speakers up...


...Tonight, I'ma fight...


...'Til we see the sunlight...


...Tick-tock on the clock...


...But the party don't stop, no...


...Oh, whoa, whoa-oh...


...Oh, whoa, whoa-oh...


Lagu hits 2009 terputar. Lagu dari Kesha yang berjudul Tik Tok itu menggema. Akan tetapi lagu penuh semangat itu tidak senada dengan hati Lexy. Gadis tersebut duduk sendirian di depan meja bartender. Dia tidak berhenti menenggak minuman alkohol.


"Kau baik-baik saja, Nona?" tanya bartender bernama Tyler itu.


"Sahabatku akan bercinta dengan sahabatku. Menurutmu aku akan baik-baik saja dengan itu?!" sahut Lexy yang mulai merasa mabuk.


Bill memenangkan permainan. Di antara Rylie dan Lexy, Rylie terpilih untuk menemani Bill tidur semalaman. Pemilihan dilakukan Bill dengan memutar botol.


Di sisi lain, Bill dan Rylie sudah ada di salah satu kamar hotel. Keduanya sedang berciuman panas.


"Eumhh..." Rylie benar-benar terbuai dengan segala sentuhan Bill. Rambut dan pakaian mereka tampak sudah acak-acakan.


Bill merasa sangat senang semuanya berjalan seperti yang dia inginkan. Awalnya dia ragu untuk membuat pilihan dengan memutar botol. Bill takut botol akan berhenti ke arah Lexy. Namun pada kenyataannya tidak.


Keberuntungan benar-benar mendatangi Bill setelah dirinya menemukan batu zamrud. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Walau Bill tidak pernah tahu kemana perginya batu zamrud ajaib itu.


Bill mendorong Rylie hingga telentang di ranjang. Nafas gadis itu terdengar terengah-engah. Bill kembali melanjutkan cumbuan.


Satu per satu pakaian dilepaskan oleh Bill dan Rylie. Sampai akhirnya mereka telanjang. Lalu melakukan penyatuan.


Rylie tak berhenti melenguh saat Bill melakukan pergerakan. Tubuh keduanya menghentak. Hingga menimbulkan bunyi tepukan daging yang khas.


Bill ikut mengerang. Dia merasakan kenikmatan surga duniawi. Segalanya sangat berbeda ketika dirinya lakukan bersama Rylie. Gadis yang disukainya sejak dulu. Satu ronde mungkin tak cukup untuk Bill. Malam itu, mereka melakukannya sampai saling terpuaskan satu sama lain.


...***...


Mentari menyapa dari balik jendela. Bill perlahan membuka mata. Dia menemukan dirinya masih telanjang dari balik selimut. Sedangkan Rylie sudah menghilang.


Bill merubah posisi menjadi duduk. Ia segera mengenakan celana pendek. Lalu mencari Rylie. Namun perempuan itu tidak ada dimana-mana.


"Dia pasti pulang duluan karena merasa malu," imbuh Bill. Dia membersihkan diri ke kamar mandi.


Bill tidak berhenti tersenyum. Ia bahkan melakukan aktifitas sambil bersiul.


Setelah berpakaian lengkap, Bill beranjak dari kamar. Saat itulah ada seorang lelaki yang menabraknya dari belakang.


"Kau harusnya tidak melamun di tengah jalan!" tegur lelaki itu.


Pupil mata Bill membesar. Sebab dia mengenal lelaki tersebut. Dia tidak lain Drac. Salah satu anggota The Joker!


Segala penderitaan yang dialami Bill seketika terlintas dalam bayangan. Dia yang tadinya bahagia karena bisa menghabiskan waktu semalaman bersama Rylie, kini mendadak diselimuti amarah.


Karena merasa sudah hebat, Bill mengikuti Drac. Dia ikut masuk ke dalam lift. Hanya ada mereka berdua di sana. Drac tersenyum sinis ketika melihat Bill muncul.


"Apa kau masih punya seorang budak, Drac?" celetuk Bill.


Drac mengerutkan dahi. Dia tentu tidak mengenali Bill. Sebab lelaki itu telah memilih jalan kehidupan lain. Sehingga Bill tidak ditakdirkan bertemu dengan kelompok The Joker.


"Siapa kau? Kenapa kau-- Ugh!" belum sempat bicara, Bill melayangkan tinju ke leher Drac. Hingga lelaki tersebut merasa tenggorokannya tercekat hebat.


Serangan Bill tidak sampai di sana. Ia mendaratkan pukulan lain ke perut Drac. Mata lelaki berkepala pelontos itu sontak terbelalak. Drac tidak akan mengira akan mendapatkan serangan dari orang random.


"Keparat! Berani sekali kau mencari masalah denganku!" geram Drac. Dia melakukan perlawanan.


Perkelahian sengit terjadi di dalam lift. Bill yang terpacu karena dendamnya, mengerahkan tenaga semaksimal mungkin.


Sekarang leher Drac berada dalam apitan tangan Bill. Lelaki tersebut kesulitan bernafas. Dia mendelik ke arah Bill. Perlahan Drac tidak sadarkan diri.


"Aku akan pastikan--" Bill berhenti bicara tatkala pintu lift terbuka. Karena tidak mau membuat masalah, dia langsung melepaskan Drac. Lelaki itu terjatuh ke lantai. Bill menyeretnya keluar dari lift.


"Tolong! Sepertinya lelaki ini pingsan!" seru Bill. Para pihak keamanan berdatangan. Mereka bergegas membantu Drac. Sementara Bill diam-diam melarikan diri.


Bill pergi dengan mobilnya. Dia tersenyum sumringah.


"Seharusnya sejak awal aku memilih hidup begini. Puas sekali rasanya bisa memukuli bajingan itu!" gumam Bill. Dia tidak pulang ke markas. Melainkan apartemen pribadinya yang berdekatan dengan kampus.


...***...


Tiga hari berlalu. Bill semakin sibuk dengan jadwal praktek. Apalagi sebentar lagi dia akan resmi menjadi seorang dokter.


Waktu menunjukkan jam 11 malam. Bill baru saja pergi dari rumah sakit. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen.


Tanpa diduga, rombongan pengendara motor muncul mengelilingi mobil Bill. Salah satu dari mereka menghalangi.


Bill yang mengantuk, reflek menginjak rem. Mobilnya sontak berhenti.


Kebetulan jalanan sedang sepi. Mengingat malam sudah sangat larut.


Salah satu pengendara motor itu memaksa Bill keluar dari mobil. Bill segera melakukan perlawanan. Mengambil pistol yang tersimpan di laci dashboard mobilnya.


Dor!


Dor!


Dor!


Bill keluar dari mobil. Lalu menembaki orang yang menyerang tanpa ampun. Matanya yang sempat mengantuk, menjadi segar dalam sekejap.


Ketika sibuk menyerang, atensi Bill tertuju ke arah tato salah satu lelaki. Dia melihat tato bergambar tengkorak. Dari sana dirinya yakin kalau rombongan orang yang menyerang adalah komplotan The Joker.


"Bagus. Dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah mendatangi tempat kalian," gumam Bill dengan senyuman pongah. Kini dia menggunakan keahlian berkelahinya ke arah lawan.


Bersamaan dengan itu, seorang lelaki membuka helm. Dia tidak lain adalah Drac. Lelaki itu menyerang Bill dari samping. Menusukkan sebilah pisau ke perut Bill.


Mata Bill langsung membulat sempurna. Dia mematung saat merasakan sakit di perutnya. Sekarang Bill tak bisa melakukan perlawanan lagi. Ia perlahan jatuh ke aspal.


"Itulah balasan karena sudah membuat ulah denganku!" ujar Drac. Dia meludahi Bill. Kemudian menyuruh rekannya untuk memeriksa identitas Bill. Namun suara sepeda motor menghentikan tindakan mereka.


Sosok yang mengendarai motor itu tidak lain adalah Lexy. Wajah cantiknya tertutupi dengan helm hitam. Ia juga mengenakan pakaian yang berwarna senada dengan helm. Membuat siapapun akan mengira kalau dia seorang lelaki.


Tidak tanggung-tanggung, Lexy mengambil dua pistol dari saku jaket. Lalu menembaki kelompok The Joker sambil terus mengendarai motor.


"Kita pergi sekarang!" seru Drac. Entah apa yang membuatnya memilih mundur. Dia dan semua anggota The Joker bergegas pergi.


Lexy menghentikan motor. Dia buru-buru menghampiri Bill.


"Bill!" panggil Lexy cemas.