
...✫✫✫...
Bill membawa Matilda ke tempat praktek rahasianya. Dahi wanita itu berkerut ketika Bill membawanya ke tempat sepi.
"Apa ini tempatmu?" tanya Matilda.
"Ya, aku suka tempat sepi," jawab Bill.
Senyuman mengembang di wajah Matilda. Seolah dia mengerti dengan maksud Bill. "Jujur, aku pikir selama ini kau menyukai putriku. Tapi ternyata..." ujarnya sembari menatap ke arah Bill.
"Aku hanya berusaha menemukan waktu yang tepat." Bill mengambil tisu dan sebuah botol kecil dari dashboard mobil. Dia terlihat mengoleskan isi cairan itu ke tisu.
Matilda terheran. Dia tentu bingung dengan tindakan Bill. Meskipun begitu, tidak ada kecurigaan sama sekali dalam benaknya.
"Kau mau apa dengan--" belum sempat Matilda bicara, Bill sudah membekap mulutnya dengan tisu yang tadi sempat di olesi sesuatu. Ternyata cairan yang dioleskan Bill adalah obat bius.
Dalam sekejap Matilda kehilangan kesadaran. Saat itulah Bill membawanya ke sebuah ruangan gelap. Di sana Bill mengikat tangan dan kaki Matilda ke kursi. Tak lupa juga dirinya mengambil semua barang milik wanita tersebut.
"Ayo kita lihat. Bagaimana reaksimu saat mengetahuiku adalah Bill yang pernah kau aniaya," ucap Bill sambil tersenyum smirk. Ia akan menunggu Matilda sadar.
Bill beranjak ke balkon dengan ditemani Saga. Mereka duduk santai bersama di balkon. Bill menikmati seduhan kopi panas untuk menghangatkan badan. Dia butuh kafein yang banyak agar bisa bergadang mengurus Matilda.
"Aku sepertinya tidak bisa menunda lagi, Saga. Aku ingin secepatnya membuat keluarga Owens sengsara," cetus Bill. Lalu menyesap kopinya.
Saga hanya menatap selintas. Dia segera meletakkan kepala ke pangkuan Bill dengan nyaman. Apa yang dilakukan binatang itu membuat perasaannya merasa lebih tenang. Namun bukan berarti amarahnya langsung reda.
Setelah puas menghabiskan waktu di balkon, Bill dan Saga mendatangi ruangan dimana Matilda berada. Wanita itu ternyata sudah siuman.
Ketika Bill membuka pintu, Matilda tidak berhenti meneriakkan kata tolong berulang kali. Air matanya berlinang. Dia merasa takut bukan kepalang.
"Berteriak saja sepuasmu. Tidak ada orang yang akan mendengar," kata Bill sembari masuk ke dalam ruangan. Di belakangnya ada Saga yang mengikuti.
Penampakan Saga membuat ketakutan Matilda bertambah. Melihat seekor binatang buas di depan mata tentu bukanlah hal biasa baginya. Bibir dan tangan wanita itu gemetar. Peluh juga sudah membasahi separuh tubuhnya.
"Si-siapa kau?" tanya Matilda.
Bill terdiam. Dia justru bersiul sambil memainkan pisau bedah.
"Mau tahu siapa aku? Coba kau tebak lebih dulu," tanggap Bill. Dia tersenyum lebar. Lalu berjongkok ke hadapan Matilda.
Melihat perjuangan Matilda yang sia-sia, Bill memutar bola mata jengah. Dia berdiri dan berucap, "Apa kau ingat dengan anak kecil yang bernama sama sepertiku?"
Deg!
Matilda berhenti memberontak. Matanya menatap Bill. Memperlihatkan binar kegetiran di sana.
"Ya, akulah anak itu Matilda. Anak yang pernah kau tampar karena tidak becus melakukan pekerjaan rumah. Anak yang kau telantarkan karena melakukan kesalahan kecil!" ungkap Bill. Dia berbicara tegas di kalimat akhir. Hingga Matilda kaget sampai tersentak.
"Ka-kau adalah Bill?" Matilda benar-benar sulit untuk percaya. Karena penampilan Bill yang dulu dan sekarang sangat berbeda.
Bill yang dulu sangat kurus dan bodoh. Jadi Matilda merasa tidak percaya dengan Bill yang terlihat di depan mata.
"Kenapa? Kaget?" Bill menarik sudut bibirnya ke atas. "Aku tidak akan mengampunimu, Matilda!" sambungnya sembari mendekatkan wajah.
"Maafkan aku, Bill... Ampuni aku... Aku melakukan ini karena kau adalah putra dari selingkuhan Joseph," ucap Matilda. Berharap Bill memberikan belas kasih.
Bill terperangah. Sebab dia sudah tahu kalau dirinya bukan anak Joseph. Di saat sedang terancam saja Matilda masih tetap berbohong.
"Aku tahu. Aku memang bukan anak kandungmu. Tapi baru-baru ini aku juga tahu kalau aku bukan anak kandung Joseph!" ujar Bill dengan mata menyalang.
Matilda kembali dibuat kaget. Dia tidak menduga Bill sudah tahu sampai sejauh itu.
"Kau pasti sudah tahu semuanya?..." Matilda menangis tersedu-sedu. Ketakutan dan penyesalan bercampur aduk dalam dirinya. Dia benar-benar belum siap untuk mati. Terlebih Bill tidak berhenti memainkan pisau bedah di tangannya. Pisau itu sangat tajam dan menakutkan. Jari-jemari Bill bahkan sampai terluka dan mengeluarkan darah. Namun hal itu bukanlah gangguan bagi lelaki tersebut.
"Jadi bagaimana? Apa kau masih berniat ingin tidur denganku? Dengan Bill yang dulu kau anggap dekil dan tak berguna!" pekik Bill dengan semua amarahnya. Membuat tangisan Matilda semakin menjadi-jadi. Keadaan Bill sekarang seperti orang kesetanan.
"Maaf... Aku minta maaf... Kau pasti sangat tersiksa saat tinggal bersama para penjahat. Aku harusnya mengantarmu ke panti asuhan. Bukannya malah menjualmu pada mereka..." rengek Matilda. Tanpa sengaja dia membeberkan kebenaran lain.
"Apa?!" Bill tersungut. Ternyata dia tidak pernah salah sasaran terhadap dendam yang dimilikinya. Dengan pernyataan Matilda, maka dendam Bill semakin membara.
"Dasar *******!" Bill menggores wajah Matilda dengan pisau bedah.
Matilda mengerang kesakitan. Cairan merah nan segar langsung menghiasi wajah wanita itu.
"Aku akan membunuhmu!" geram Bill. Amarahnya membuncah hebat. Ternyata alasan dirinya harus hidup bersama The Joker karena ulah Matilda.