
...✫✫✫...
Demi mencari informasi penting, Bill sengaja memanfaatkan kedekatannya dengan Selena. Ia mengajak perempuan itu masuk lebih dalam ke mansion milik keluarga Owens.
Selena menarik tangan Bill. Ia membawa lelaki itu menjauh dari keramaian. Kedua tangannya dikalungkan ke leher Bill. Mereka berciuman bibir dengan penuh gairah.
Bill tiba-tiba melepas tautan bibirnya. Selena sontak mengerutkan dahi.
"Kenapa?" Selena mununtut jawaban.
"Aku ingin memberimu tantangan," cetus Bill.
"Tantangan?" Selena merasa tertarik.
"Ya."
"Tantangan apa? Kau tahu aku menyukai tantangan."
"Bagaimana kalau kali ini kita bercinta di ruangan pribadi ayahmu." Salah satu alis Bill terangkat.
Selena tersenyum licik. Dia menarik kerah baju Bill. Langsung menerima tantangan dari lelaki tersebut. Keduanya meneruskan cumbuan di ruangan pribadi Joseph.
Bill duduk dengan nyaman di sofa. Kancing kemejanya dalam keadaan terbuka. Memperlihatkan bentuk tubuh atletisnya.
Selena berada di atas pangkuan Bill. Sibuk melenguh nikmat sembari menghentakkan badan. Ia terlihat hanya mengenakan bra dengan gaun yang tersendat di pinggang.
Sambil menikmati cumbuan Selena, Bill sesekali memindai tempat dirinya berada. Sasarannya ada di laci dan meja kerja Joseph.
Erangan Selena berakhir ketika sudah mencapai puncak. Dia langsung tumbang. Meletakkan kepala ke pundak Bill.
"Beristirahatlah, Babe." Bill mendorong Selena. Hingga penyatuan mereka terlepas.
Selena merebahkan diri ke sofa seraya memejamkan mata. Bill memanfaatkan itu untuk memperbaiki celana dan baju. Lalu melancarkan tujuannya.
Tanpa pikir panjang, Bill segera memeriksa meja dan laci kerja milik Joseph. Dia mencari informasi penting. Sesekali Bill akan melihat ke arah Selena. Memastikan perempuan itu tidak memperhatikannya.
Setelah mencari cukup lama, Bill akhirnya menemukan sesuatu. Pupil matanya membesar. Dia benar-benar kaget melihat bukti yang dirinya temukan.
"Jadi semua yang dia katakan padaku adalah bohong?" gumam Bill tak percaya. Bagaimana tidak? Diberkas yang ditemukannya, Bill berhasil menemukan surat yang menuliskan bahwa pewaris asli keluarga Owens adalah Harry Owens. Kakak dari Joseph sendiri.
Bill juga sukses mengetahui kalau dirinya bukan anak kandung Joseph. Melainkan putra kandung dari Harry dan Olivia Owens. Jadi bisa dibilang selama ini Joseph telah memanipulasi semua orang. Termasuk Bill sendiri. Semuanya dilakukan Joseph demi harta warisan yang sekarang sudah dimilikinya.
Kertas yang digenggam Bill diremukkan begitu saja. Kemarahannya semakin memuncak terhadap Joseph. Pantas saja lelaki itu sama sekali tidak peduli dengannya. Bahkan tega menelantarkan Bill bertahun-tahun tanpa harus melakukan apapun.
"Dasar monster! Aku berjanji akan membedah badanmu itu, Joseph." Bill bertekad. Tanpa pamit dengan Selena, dia keluar dari ruangan. Bill melangkah cepat melewati banyaknya orang. Ia diam-diam meninggalkan pesta. Lalu pergi ke klinik rahasia. Bill butuh menenangkan diri selepas menemukan fakta yang sangat mengejutkan.
Di sepanjang perjalanan, wajah Bill terus cemberut. Rasanya sangat sulit memendam kekesalan di dalam hati.
"Aaaaarghhh!!! Sial! Sial! Sial!" Bill mengumpat berulang kali. Dia melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Sungguh, rasanya Bill ingin membalas perbuatan Joseph dengan cara tersadis.
Bill tidak hanya merasa dibodohi, tetapi juga tertipu. Ditambah hidupnya sangat menderita karena tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Kau dan keluargamu akan mati ditanganku, Joseph!" pekik Bill. Dia sudah tiba di klinik rahasianya. Bill melangkah cepat melewati lorong menuju ruang operasi.
Dari kejauhan, Lexy muncul. Gadis itu berlari mendekatinya.
Lexy mengerutkan dahi. Dia bergegas mengikuti Bill. "Kau kenapa?" tanyanya.
"Aku sedang marah. Sebaiknya sekarang kau tinggalkan aku sendiri!" sahut Bill.
"Apa ada masalah besar? Kau tidak terlibat dengan polisi kan?" Lexy menuntut jawaban. "Bill! Apa kau tuli?" ucapnya lagi.
Bill berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya menghadap Lexy. Menunjukkan mimik wajah sangarnya.
"Dengar, aku baru saja menemukan kenyataan gila tentang jati diriku. Sekarang dendamku semakin membara, Lex. Aku tidak akan pernah mengampuni Joseph dan keluarganya!" ungkap Bill seraya mengepalkan tinju di kedua tangan.
"Kenyataan? Memangnya apa yang kau temukan?" tanya Lexy.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku butuh menenangkan diri agar bisa berpikir dengan jernih." Bill berucap dengan ekspresi serius. Ketika dia melakukan hal itu, sosoknya sangat berbeda. Seakan kebahagiaan telah dibuang jauh oleh Bill. Hanya kegelapan yang mengitari dirinya.
"Katakan kepadaku, dimana pembunuh berantai itu?" tanya Bill.
"Dia ada di gudang. Terikat di--" perkataan Lexy terhenti saat Bill pergi begitu saja. Lelaki tersebut sepertinya memang butuh waktu sendiri.
Bill tiba di gudang dimana pembunuh berantai yang ditangkap Lexy berada. Ia membawa lelaki bernama Nick itu ke ruang operasi. Bill mengikat kedua tangan dan kakinya menggunakan ikatan yang telah menyatu dengan tempat tidur operasi.
"Mmmph! Mmmph!" Nick hanya bisa bergumam dalam keadaan mulut yang dibekap dengan lakban.
Pintu tiba-tiba terbuka. Seseorang bernama Harold muncul. Dia tidak lain adalah perawat yang bertugas menjadi asisten Bill.
"Bill! Aku pikir operasinya dilakukan besok. Katanya kau ada acara penting hari ini," cetus Harold yang bergegas mengenakan sarung tangan lateks. Bersiap membantu Bill untuk melakukan operasi.
"Kau bisa pergi kalau sedang malas membantu," tanggap Bill dingin.
"Tidak. Aku punya banyak uang setelah bergabung denganmu. Aku tidak akan melewatkan satu pun operasi," ujar Harold.
Bill hanya diam. Ia terlihat sudah menggunting baju Nick. Dengan cepat Harold mulai menyerahkan pisau bedah kepada Bill.
"Olivia dan John kebetulan harus mengurus sesuatu. Jadi aku dan Dave yang bertugas menjaga klinik. Dave akan menyusul setelah menyelesaikan urusan di toilet," ucap Harold panjang lebar. "Kali ini kau akan mengambil organ yang mana? Ginjal?" tanyanya.
Sejak tadi Bill terus diam. Dia bahkan sama sekali tidak menegur Harold untuk berhenti bicara. Bill fokus membelah bagian perut Nick. Maka semakin kesakitan pula lelaki tersebut. Dia hanya bisa mengerang dalam keadaan mulut tertutup.
"Sial! Kau sepertinya lupa membiusnya. Aku akan segera--"
"Tidak perlu. Biarkan saja!" sergah Bill.
"Tapi..." Harold merasa tak percaya. Nick akan tersiksa jika tidak mendapatkan proses anastesi.
"Kalau kau tidak sanggup, sebaiknya kau keluar!" titah Bill dengan mata menyalang. Sosok Bill berubah drastis setelah mengetahui fakta mengenai dirinya. Dia menjadi orang yang tidak tahu ampun dan dingin.
"Ma-maaf," gagap Harold ketakutan. Dia mengamati apa yang dilakukan Bill. Lelaki itu tampak memasukkan tangan ke perut Nick. Lalu menarik salah satu ginjal tanpa harus memotongnya dengan prosedur operasi yang seharusnya.
Harold gemetar ketakutan. Terutama saat darah dari perut Nick bercipratan kemana-mana. Belum lagi erangan kesakitan Nick yang di iringi dengan tetesan air mata.
..._____...
Catatan kaki :
Anastesi : Atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah 'pembiusan' merupakan tindakan medis agar pasien tidak merasakan nyeri selama menjalani pembedahan.