Dokter Mafia Kejam!

Dokter Mafia Kejam!
Bab 18 - Dendam Yang Diredam


...✫✫✫...


"Memangnya kenapa dengan Bill? Apa kalian punya teman yang memiliki nama sepertiku?" tanya Bill. Berpura-pura tidak tahu.


Selena dan Thomas reflek bertukar pandang. Salah satu dari mereka langsung angkat suara.


"Tentu saja tidak. Kami sama sekali tidak pernah memiliki teman atau keluarga yang bernama Bill," bantah Thomas. Dia reflek memegangi bibir bawahnya. Mengingat apa yang pernah dilakukan Bill terhadapnya.


"Kecuali kau, Tuan Asgard." Selena membenarkan. Dia tersenyum dan meneruskan, "jujur. Nama Asgard masih agak terdengar aneh di telingaku."


"Terima kasih. Aku tahu itu," tanggap Bill sembari terkekeh bersama Selena.


Bill berusaha sebisa mungkin mengakrabkan diri dengan Selena dan Thomas. Dengan begitu rencananya bisa terkendali.


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Matilda datang bersama Joseph. Keduanya tampak sangat khawatir. Mereka memeluk Selena dan Thomas secara bergantian.


Bill yang melihat, diam-diam mengepalkan tinju di salah satu tangan. Merasa sebagai anak kandung Joseph, dia benar-benar terhina. Bagaimana bisa dirinya ditelantarkan? Sementara Selena dan Thomas mendapatkan begitu banyak kasih sayang.


'Aku pastikan keluarga ini hancur. Terutama kau Joseph! Jangan harap aku akan sudi memanggilmu ayah!' batin Bill.


"Dad! Kenalkan ini Bill Asgard. Tanpa dia, mungkin kami tidak akan selamat," ujar Selena seraya memperkenalkan Bill.


"Bill?" Joseph segera menengok ke arah Bill. Memperhatikan dari ujung kaki sampai kepala.


"Halo, Tuan Owens." Bill terpaksa harus menyapa dengan ramah. Padahal hatinya ingin sekali mencaci maki lelaki yang sudah membuatnya jatuh ke dalam derita.


Jujur saja, Bill menyalahkan semua kehidupan sialnya kepada Joseph. Andai tidak ditelantarkan di jalanan, dia tak akan pernah bertemu dengan The Joker. Bill merasa Joseph harus bertanggung jawab atas segala penderitaan yang dialaminya selama bertahun-tahun.


Joseph terpaku menatap Bill. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Dia tentu memiliki firasat kalau lelaki yang dilihatnya adalah Bill. Akan tetapi sikap dan penampilan Bill yang sangat berbeda, membuat Joseph menepis jauh-jauh firasat tersebut.


"Aku sangat berterima kasih dengan segala bantuanmu, Tuan Asgard. Kau sangat pemberani." Joseph menyalami Bill.


"Ya, kami sangat berterima kasih." Matilda ikut mendekat.


Ingatan mengenai betapa kejamnya Matilda, langsung terlintas dalam ingatan Bill. Satu kata untuk wanita itu, JAHAT!


"Sudah kewajibanku untuk membantu orang kesulitan." Bill berusaha keras meredam amarah. Dia hanya bisa melampiaskan semua itu dengan menenggak ludahnya sendiri.


"Dad! Bill juga sudah membayarkan biaya rumah sakit Thomas. Dia seorang dokter!" ujar Selena antusias. Dari sana Bill dapat mengetahui bahwa gadis itu tertarik kepadanya.


"Benarkah? Jadi kau dokter?" kelopak mata Matilda membesar. Bill lantas memberi jawaban dengan anggukan.


Joseph nampak tersenyum lebar. Sebenarnya dia juga merasa lega. Sebab Bill yang dirinya kenal, diketahui sangat bodoh. Jadi Joseph semakin yakin kalau Bill di hadapannya bukanlah Bill yang dia kenal.


"Apa ada hal penting yang kalian ketahui mengenai para perampok bertopeng itu?" tanya Joseph menyelidik.


"Salah satu dari mereka adalah wanita. Hanya itu ciri spesifik yang aku ingat," ucap Selena sembari mengulik ingatannya.


"Aku mendengar ada seseorang yang bernama Rio dan Cali," imbuh Thomas. Jelas yang dia ingat adalah nama palsu Rick dan Five.


Bill membuang muka. Diam-diam dia mengukir seringai. Untuk sekarang, Joseph kesulitan menemukan petunjuk mengenai fakta orang-orang yang merampok kedua anaknya.


"Aku pastikan akan menangkap mereka. Berani sekali mereka berbuat masalah dengan anak-anakku." Joseph mengepalkan tinju di salah satu tangan. Dia semakin marah dengan berita yang tersiar di televisi.


Dalam berita itu disebutkan bahwa mobil jeep yang digunakan perampok hangus terbakar. Hal tersebut membuat polisi semakin kesulitan mencari pelaku. Apalagi memastikan apakah para pelaku masih hidup atau mati.


...***...


Semua berjalan sangat lancar bagi Bill, dia kembali pulang ke markas. Sebagai terima kasih, Bill membelikan sampanye mahal untuk Lexy dan kawan-kawan. Orang pertama yang ditemui Bill di markas adalah Winter.


"Winter! Lihat apa yang kubawa untuk tim skenario perampokan terbaik di abad ini," ujar Bill bersemangat.


"Hahaha! Ya skenario yang pantas mendapatkan piala oscar." Winter tertawa hambar. Apa yang dikatakannya adalah kalimat sarkas. Namun Bill tentu tidak tahu itu.


"Ya, tentu saja. Namun sayangnya dunia tidak mudah menerima apa yang kita lakukan sekarang," tanggap Bill. Ia merangkul pundak Winter.


"Ayo ikut aku! Semua orang sudah menunggumu." Winter balas merangkul Bill. Menuntun langkah Bill menuju ke tempat dimana Lexy dan kawan-kawan berkumpul.


Ketika pintu terbuka, Winter langsung memegang kedua tangan Bill. Lalu mendorong Bill sampai jatuh ke lantai.


"Ini dia bajingan yang kita tunggu!" ujar Winter.


Lexy, Rick, Five, dan Ken yang tadinya duduk, segera berdiri. Mereka meregangkan jari-jemari.


Kebetulan Rylie sedang ada di sana. Ia duduk di sebelah Lexy. Rylie juga sudah mengetahui perbuatan Bill terhadap Five dan kawan-kawan.


"Kita harus apakan dia?" cetus Rick dengan gigi menggertak kesal. Dia memainkan sebuah pisau besar di tangannya.


"Kita potong-potong dia dan jadikan dagingnya untuk makan malam Saga," sahut Five. Dia siap melontarkan tinju untuk Bill.


"Ide bagus!" seru Lexy.


"Kalian kenapa?" Bill justru heran. Dia bingung kenapa semua teman-temannya tampak marah.


Sementara Rylie, dia menggeleng tak percaya saat melihat reaksi Bill. "Kali ini kau benar-benar bajingan, Bill!" cibirnya.