
...✫✫✫...
Bill mengerutkan dahi. Dia mencoba berpikir dan mencari tahu sendiri mengenai alasan dibalik kemarahan teman-temannya. Sampai akhirnya Bill mengingat rencana dadakan yang dibuatnya.
"Tunggu, kalian marah karena aku melibatkan polisi? Itu bukan?" tebak Bill.
Bukannya menjawab, Lexy justru melayangkan tinju ke wajah Bill. Menyebabkan lelaki itu sontak terhempas ke lantai.
Setelah mendapat tonjokan di wajah dari Lexy, Five menarik kerah baju Bill. Mengharuskan Bill bangkit dari lantai.
"Kau akan mendapat pelajaran! Aaargghhh!" Five mendaratkan bogem ke perut Bill. Serangannya sukses membuat Bill terhuyung sampai menabrak lemari. Membuat beberapa benda terjatuh dari sana.
"Sekarang giliranku!" ujar Rick. Dia masih memegang pisau besarnya.
"Tunggu, tunggu sebentar. Kalian setidaknya harus mendengar alasanku dahulu," kata Bill sembari mengusap darah yang keluar dari hidung.
"Apa alasanmu?!" timpa Lexy sambil berkacak pinggang.
"Itu karena aku tahu kalau kalian adalah penjahat hebat. Kejaran polisi adalah hal kecil untuk kalian. Dan dugaanku benar seratus persen. Terutama saat melihat wajah Joseph Owens terhadap berita tentang mobil jeep kalian yang terbakar!" jelas Bill panjang lebar.
Semua orang terdiam dalam sesaat. Bill merasa kalau mereka pasti mengampuninya.
"Kau keparat! Kau harus tetap membayar ulahmu!" geram Winter. Dia dan yang lain berusaha kembali menyerang. Akan tetapi kali ini Bill dapat menghindar dengan baik. Bill menarik Rylie dan menjadikan gadis itu tameng.
"Bill! Apa yang kau lakukan?! Jangan libatkan aku!" protes Rylie yang berupaya melepas pegangan Bill.
Keributan terjadi. Lexy dan kawan-kawan yang terlibat skenario perampokan, terus mencoba memberi Bill pelajaran.
Bertepatan dengan itu, Ron datang. Dia menatap malas anak buahnya yang terkesan seperti anak remaja tawuran.
"Bisakah kalian berhenti?!" suara Ron berhasil menghentikan keributan yang terjadi. Bill mendengus lega akan hal tersebut. Dia bergegas mendekati Ron.
"Mereka sepertinya akan membunuhku, Bos!" Bill mengadu.
Ron menatap tajam Bill. Lalu mendorong kepala lelaki itu. "Berhentilah membuat ulah! Kau membuat kepercayaanku padamu menyusut lagi! Kau pikir aku tidak tahu dengan apa yang kau lakukan terhadap mereka?!" timpalnya.
"Aku melakukan itu karena ingin membuat keluarga Owens percaya. Lagi pula aku yakin polisi bukan tandingan kita. Benarkan?" tanggap Bill.
"Poin itu memang benar. Polisi memang bukan tandingan kita. Walaupun begitu, kita harus tetap berhati-hati. Karena hanya satu musuh terbesar kita." Ron berbicara dengan serius. Dia mengamati wajah-wajah semua orang. Menanti jawaban dari mereka.
"Publik." Lexy segera menjawab.
"Ya, publik." Ron membenarkan jawaban Lexy. "Oleh sebab itu kita harus berhati-hati dengan polisi. Karena mereka bisa menjadi pemicu pengetahuan publik terhadap kita. Semakin banyak orang yang tahu, maka tambah terancam pula kita." Ron segera menoleh ke arah Winter dan Five. Mengajak keduanya untuk melakukan misi.
Sebelum beranjak, tatapan Ron teralih kepada Lexy. "Kau! Mungkin kali ini kau bisa ikut bersamaku melakukan misi penting," ucapnya seraya mengarahkan jari telunjuk ke arah Lexy.
"Aku?" Lexy menunjuk dadanya sendiri. Dia merasa senang. Sebab baru kali ini ada anggota lain yang di ajak melakukan misi penting selain Winter dan Five.
"Pilihan bagus, Bos! Karena kalau kau memilih Bill ikut, maka aku akan mundur." Winter mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Aku juga!" sahut Five dengan tatapan sinis kepada Bill. Lelaki itu hanya bisa mendengus sembari memutar bola mata jengah.
Ron, Lexy, Five, dan Winter segera pergi. Sedangkan Bill berusaha menenangkan Rick dan Ken dengan mengajak mereka menikmati sampanye. Meskipun begitu, wajah Rick dan Ken tampak terus cemberut.
"Ayolah, aku minta maaf atas kesalahanku. Kalau terjadi apa-apa, aku berjanji akan membiarkan kalian membunuhku," ungkap Bill.
Ken memicingkan mata. "Aku pegang janjimu itu!" sahutnya sambil menerima gelas berisi sampanye pemberian Bill.
Rick menarik sudut bibirnya ke atas. Dia lebih memilih meminum sampanye langsung dari botol. Sementara Rylie, sejak tadi dia hanya duduk diam dan memperhatikan.
"Thanks. But no," tolak Rylie. Ia bertukar pandang selama sedetik dengan Bill. Lalu pergi dari ruangan dimana Bill sedang berada.
Rylie melangkah menyusuri lorong menuju kamarnya. Sampai dia mencurigai ada orang yang mengikuti dari belakang.
Langkah Rylie terhenti. Dia menoleh ke belakang. Namun tidak melihat siapapun di sana.
Di awal, Rylie memilih tak peduli. Dia kembali berjalan. Tetapi dirinya lagi-lagi merasa ada yang mengikuti. Rylie kali ini langsung menengok ke belakang. Ia kembali tidak menemukan siapapun.
Rylie mengambil pisau lipat dari saku celana jeans untuk berjaga-jaga. Karena tidak menemukan siapa-siapa, dia lanjut melangkah.
Tanpa diduga, sepasang tangan mendadak memegangi pundak Rylie. Gadis tersebut sigap mengarahkan pisaunya. Namun sosok yang ada di belakang, dengan cepat mencekal tangan Rylie. Sosok itu tidak lain adalah Bill.
"Hai!" sapa Bill.
"Dasar! Apa kau sengaja membuatku kaget?!" geram Rylie seraya mendorong Bill. Kemudian menyimpan pisau lipat ke saku celana.
"Apa aku membuatmu kaget?" Bill menaikkan salah satu alisnya.
"Sangat! Masih baik kau tidak kena tikaman pisau!" sahut Rylie ketus. "Kau mau apa mengikutiku?!" tanyanya.
Bill tidak menjawab. Dia malah mengukir seringai licik. Bill berniat ingin menghabiskan malam bersama Rylie.
"Kau jangan coba-coba--" perkataan Rylie terpotong ketika Bill mendadak menyumpal bibirnya dengan ciuman liar.
Bill memberikan ciuman penuh gairah. Hingga Rylie tersudut ke dinding.
Rylie mendorong Bill. Mengingat dia dan lelaki tersebut tidak berada di tempat tertutup.
"Apa kau gila?! Aku tidak akan melakukannya lagi bersamamu!" tegas Rylie. Dia bergegas masuk ke kamarnya. Namun Bill mengikuti.
"Bill! Beraninya kau--" Untuk kali kedua Bill menyerang bibir Rylie dengan ciuman buas.
Rylie terpaksa tidak menolak. Terlebih pegangan Bill begitu sulit untuk dilepaskan. Rylie hanya bisa ikut bermain.
Bill dan Rylie terus berciuman. Memperdengarkan suara kecup-mengecup yang jelas.
Merasa gairanya memanas, Bill melepas tautan bibirnya dari Rylie. Lalu menanggalkan pakaian gadis tersebut satu per satu.
"Hei! Aku bilang tidak mau!" ujar Rylie sembari berusaha memberontak.
"Tempo hari aku melayanimu saat kau menginginkannya. Jadi kau juga harus melayaniku saat aku ingin melakukannya!" balas Bill. Dia mendorong Rylie hingga jatuh ke ranjang. Lalu memegangi kedua tangan gadis tersebut.
"Kau gila!" cibir Rylie. Dia tidak membiarkan Bill melepas pakaiannya.
Bill lantas tak punya pilihan selain merobek baju Rylie.
Srak!
Ulah Bil membuat Rylie tercengang. Apalagi Bill terus memaksanya melepas pakaian sampai benar-benar bugil. Tanpa pikir panjang, bibir Bill langsung menjelajah setiap jengkal tubuh Rylie.
Rylie yang awalnya menolak, berakhir terbuai akan sentuhan Bill. Sekarang dia hanya bisa melenguh sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.
Untuk kali ketiga, Rylie bercinta dengan Bill. Keduanya mengerang hebat saat melakukan penyatuan.
Bill mencengkeram ribuan helai rambut Rylie. Membuat kepala perempuan itu terpaksa mendongak. Menghentak lepas saat dirinya melakukan pergerakan. Sentuhan Bill yang cenderung kasar, begitu luar biasa bagi Rylie.