
Brooklyn, 10 Juli 2006...
...✫✫✫...
Empat tahun berlalu. Bill dan Lexy sudah resmi menjadi anggota Tiger Danger. Bill juga diperbolehkan bersekolah. Sekarang mereka sudah berusia 17 tahun. Semua itu terjadi atas kemenangan yang dia terima dari taruhan piala dunia dengan Ron di tahun 2002.
Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan mafia, Bill dan Lexy sudah terbiasa dengan berbagai macam kegiatan ilegal. Meski sudah ahli berkelahi, Bill dan Lexy tetap rutin melatih fisik mereka. Penampilan keduanya juga berubah drastis.
Bill semakin tampan dengan tubuhnya yang sudah cukup atletis. Sedangkan Lexy memotong rambutnya sependek tengkuk. Dia menjadi sosok gadis tomboi yang cantik.
Tidak seperti Bill, Lexy tidak bersekolah. Dia memilih belajar sendiri di lingkungan markas. Jujur saja, Lexy lebih sering ikut melakukan misi dibandingkan Bill. Semua itu karena Bill menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Terlebih lelaki itu tiba-tiba sangat tertarik dengan ilmu kedokteran.
Ron sangat kesal dengan apa yang dilakukan Bill. Pemuda itu lebih giat belajar dibanding putrinya sendiri. Bill bahkan menghabiskan cukup banyak uang untuk pendidikan. Akan tetapi, Ron tak punya pilihan. Taruhan adalah taruhan. Karena kalah bertaruh, dia terpaksa mewujudkan keinginan Bill.
Kebetulan Bill dan Rylie bersekolah di tempat yang sama. Ron sengaja menyatukan keduanya agar mereka dapat saling mengawasi satu sama lain.
Di sekolah, Bill dan Rylie sepakat untuk berlagak tidak saling mengenal. Rylie tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Dia populer di sekolah. Rylie bersikap flamboyan saat di hadapan umum. Semua itu dia lakukan agar identitasnya sebagai mafia tidak ketahuan. Rylie bahkan punya dua teman yang bernama Stacy dan Amber.
Sementara Bill, dia populer karena ketampanan, kepintaran, dan sifat dinginnya. Tujuan dia ingin bersekolah memang hanya untuk belajar. Bill bahkan sengaja mendekati murid-murid yang pintar saja.
Waktu menunjukkan jam 10.00 malam. Seorang gadis bernama Kate membukakan jendela untuk Bill. Lelaki itu lantas menyelinap masuk.
Saat melompat dari jendela, Bill tidak sengaja menyenggol sebuah buku. Hingga buku itu terjatuh ke lantai.
Bruk!
Suara jatuh terdengar cukup keras karena lantai rumah Kate terbuat dari kayu.
"Kate! Apa itu?!" ibunya Kate bertanya dari luar kamar.
"Itu ulah Coco, Mom!" sahut Kate. Menyalahkan semuanya kepada anjing dalmatiannya.
Kate mengikik pelan bersama Bill. Keduanya segera melakukan ciuman panas. Bill mengangkat Kate. Hingga kedua kaki gadis itu mengunci erat di pinggulnya.
Itulah yang dilakukan Bill. Entah sudah berapa banyak gadis pintar yang sudah kena tipu muslihatnya. Dia menjadi playboy hanya karena ingin pintar. Begitulah cara Bill membuat nilai akademiknya jadi sempurna.
Puas melakukan kegiatan intim, Kate mengajari pelajaran yang tidak dipahami Bill. Gadis itu sudah sepenuhnya jatuh cinta pada Bill. Dia sampai rela menyalin rangkuman penting yang dibuat khusus untuk Bill.
"Terimakasih, Babe." Bill mengecup bibir Kate. Dia segera pergi setelah mendapatkan apa yang dirinya perlukan.
Bill langsung kembali ke markas. Dia mendatangi tempat latihan. Di sana ada Lexy dan Rylie yang sudah lebih dulu berlatih.
"Look! Casanova boy is coming..." ejek Rylie ketika menyaksikan kedatangan Bill.
Lexy menoleh. Dia menyambut kehadiran Bill dengan senyuman mengejek. Lelaki tersebut terlihat bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam
"Kenapa, Rylie? Cemburu?" timpal Bill.
"What?!" Rylie terperangah.
Bill melirik Rylie dengan senyuman menggoda. Jujur saja, satu-satunya gadis yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar adalah Rylie. Namun Bill merasa sangat sulit mendekati gadis itu. Mengingat Ron melarang keras semua anggota lelaki di markas untuk mendekati Rylie.
Di sisi lain, Lexy jatuh cinta kepada Bill. Dia juga tahu Bill mencintai Lexy. Cinta dalam persahabatan memang begitu rumit.
"Apa kau tidak bercermin sebelum meninggalkan rumah pacarmu? Lipstiknya masih belepotan di sekitar bibirmu," tukas Lexy. Dia dan Rylie tergelak bersama.
Bill segera berdiri ke depan cermin. Lalu mengusap bibirnya sampai noda lipstik hilang. Setelah itu, dia berlatih meninju samsak.
"Rylie, apa kau tidak mau berpacaran seperti yang dilakukan Bill?" tanya Lexy. Pupil mata Bill otomatis membesar.
"Ayahku pasti akan membunuh lelaki mana pun yang aku pacari. Tapi bukan berarti aku tidak mau. Aku bisa saja berpacaran tanpa sepengetahuannya," jawab Rylie sembari berolahraga dengan salah satu alat gym. "Lalu kau?" tanyanya.
"Kau bertanya padaku?" Lexy memastikan.
"Tentu saja. Untuk apa aku bertanya kepada Bill," tanggap Rylie.
"Entahlah. Aku sepertinya tidak tertarik dengan hubungan seperti itu," jawab Lexy tak acuh.
"Kau tidak pernah tahu, Lex. Mungkin suatu hari kau akan jatuh cinta," sahut Bill seraya terus meninju samsak. Badan atletisnya sudah bermandikan keringat.
"Lexy sepertinya akan menjadi anggota terbaik ayahku. Kemarin dia bisa melakukan misi yang sulit dengan sangat baik," cetus Rylie. Dia sudah selesai berolahraga. Mengelap peluh dengan handuk kecil.
"Apa kau sedang menyindirku?" Bill berkacak pinggang sambil memutar tubuhnya menghadap Rylie.
"Baguslah kalau kau merasa tersindir," balas Rylie. Lexy yang mendengar tertawa kecil. "Kau hanya beruntung dengan taruhan piala dunia itu," komentarnya.
"Mengenai piala dunia, apa yang dipertaruhkan ayahmu tahun ini?" tanya Bill. Merubah topik pembicaraan.
"Aku tidak tahu. Dan aku tak peduli. I hate soccer!" sahut Rylie. Dia beranjak dari tempat latihan.
Bill juga ingin pergi. Dia baru ingat kalau hari ini adalah pertandingan final piala dunia. Bill harus menemui Ron.
"Kau mau kemana?" tanya Lexy.
"Menemui Bos!" jawab Bill.
"Untuk?" Lexy menuntut jawaban.
"Taruhan piala dunia. Kali ini aku ingin ikut dengannya."
"Aku boleh ikut?"
"Ayo!" Bill setuju saja. Selepas berpakaian, dia dan Lexy menemui Ron.
Tetapi Ron sedang tidak ada di ruangannya. Bill justru mendapat kabar mengejutkan. Dia diberitahu Rick kalau tahun ini markas Bill menjadi tuan rumah atas pertemuan para bos mafia yang melakukan taruhan.
Bill bergegas ke markas rahasia yang ada di hotel bintang lima milik Ron. Markas di sana memang adalah tempat termewah dibanding yang lain. Tidak heran tempat itu dijadikan sebagai tempat pertemuan penting.
"Kau mau kemana?! Ron akan marah kalau kau masuk begitu saja!" Rick mencoba menghentikan Bill. Dia bertugas menjaga pintu masuk.
"Aku tidak akan mempermalukan Bos! Aku justru akan membantunya." Bill memaksa. Namun Rick tetap menghentikan.
"Menyingkirlah, aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri," ujar Bill dengan tatapan mengancam.
"Kaulah yang menyingkir!" balas Rick.
"Sudahlah, Bill. Lebih baik tidak usah. Nanti Bos marah!" ucap Lexy.
"Dengar apa yang dikatakan Lexy. Dia ada benarnya," ujar Rick.
"Aku punya saran untuk kalian berdua. Berkencanlah!" tanpa diduga Bill menendang dengkul Rick. Lelaki tersebut sontak kesakitan. Bill memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke ruangan dimana Ron berada.
Lexy tidak mengikuti Bill. Ia memilih mengurus Rick.
Semua pasang mata tertuju ke arah Bill. Termasuk Ron. Giginya menggertak kesal. Ron tentu marah melihat anggota muda yang paling dibencinya hadir di pertemuan penting.
"Bill! Apa yang kau lakukan di sini?!" geram Ron.
"Aku akan ikut taruhan! Aku akan membantumu, Bos." Bill menjawab dengan tenang.
"Ron, apa dia anak buahmu? Dia masih muda tapi sangat berani."
"Ya, kau tidak seharusnya memarahinya. Biarkan Bill ikut taruhan bersama kita."
"Itu benar. Dia memiliki badan yang sangat sehat. Organ-organ tubuhya pasti juga bagus."
Beberapa bos mafia angkat suara. Ada salah satu bos mafia yang menarik perhatian Bill. Yaitu bos mafia dari Qatar yang tampak ditemani seekor harimau Siberia yang sedang bunting. Terlihat jelas dari perut besar hewan itu.
Melihat reaksi semua bos mafia, Ron lantas meredamkan amarahnya. Mungkin saja kali ini dia bisa membuat Bill pergi dari markasnya.
"Apa yang kau pertaruhkan, Bill?" tanya Ron.
Bill tersenyum singkat. "Apapun yang kalian mau dariku. Tapi jika aku menang, aku ingin anak harimau itu diberikan padaku. Dan satu hal lagi, aku ingin markas Bosku yang ada di Dubai kembali," katanya. Dengan beraninya Bill merangkul pundak Ron.
"Dasar bedebah!" hardik Ron sambil menjauhkan tangan Bill dengan kasar. Matanya melotot tajam.