
Brooklyn, 2 Februari 2013...
...✫✫✫...
Satu minggu terlewat. Bill membiarkan Matilda, Selena, dan Thomas tetap hidup. Dia sengaja menyembunyikan mereka sampai Joseph benar-benar tersiksa dengan menghilangnya seluruh keluarganya.
Benar yang dikatakan Bill, Joseph sekarang sangat menderita. Dia terlihat berantakan. Kumis dan jabangnya bahkan tidak dicukur. Segala cara sudah Joseph lakukan untuk mencari istri dan kedua anaknya.
Bill memang sudah mengatur semuanya. Dia menggunakan koneksi Ron agar bisa terus menutupi kejahatannya dengan baik.
Meskipun begitu, Joseph tetap berhasil menemukan keterlibatan Bill. Dia menemukan rekaman black box mobil. Rekaman tersebut memperlihatkan Bill berjalan mengikuti Matilda ke toko perhiasan.
Tanpa pikir panjang, Joseph langsung memberitahu anak buahnya untuk mencari tahu asal-usul Bill.
Pergerakan yang dilakukan Joseph dan anak buahnya langsung diketahui Bill. Dia diberitahu James yang kebetulan ditugaskan untuk mengintai Joseph.
Kini Bill keluar dari ruang operasi. Dia baru saja mengoperasi penjahat tangkapan Winter.
Bill mengambil ponsel. Dia menghubungi Rick, Winter, dan Five. Bill hendak membicarakan sesuatu hal penting dengan mereka.
Ketika mendatangi ruang utama, Bill menyaksikan semua orang sudah berkumpul. Dia langsung mendapatkan tatapan penuh tanya dari semua orang. Bill juga dikejutkan dengan kehadiran Lexy dan Rylie di sana.
"Apa kami akan membantumu melakukan rencana balas dendammu lagi?" tebak Five.
"Apa kau belum puas? Aku lihat ketiga tawananmu itu sudah sangat menderita," timpal Rick sambil melipat tangan di depan dada.
"Aku pastikan dendamku tuntas malam ini," sahut Bill dengan ekspresi wajah penuh tekad.
"Biarkan aku dan Rylie ikut kali ini!" seru Lexy.
Bill mendengus. Dia memperhatikan Lexy dan Rylie secara bergantian. Kedua perempuan itu tampak berdiri agak berjauhan. Jelas hubungan mereka belum membaik.
"Aku tidak yakin--"
"Aku dan Lexy tidak akan bertengkar!" Rylie segera merangkul Lexy. "Benarkan, Lex?" tanyanya. Meminta persetujuan.
"Ya! Tentu saja." Lexy lekas mengangguk. Dia menjawab dengan kikuk.
"Lagi pula apa gunanya bertengkar untuk memperebutkan pria gila seperti Bill," imbuh Winter sembari mengulurkan kedua tangan.
"Terserah..." Bill memutar bola mata jengah. Ia benar-benar malas mengurus sesuatu yang berkaitan dengan cinta.
Sementara Rylie dan Lexy membuang muka. Mereka berhenti berangkulan. Keduanya sama-sama tidak membantah pernyataan Winter. Hubungan mereka memang bersitegang karena mencintai lelaki yang sama.
"Sekarang bisakah kita fokus dengan misi?" cetus Rick yang sudah tak mau menunggu.
Bill segera menjelaskan rencananya. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka. Sosok Ron muncul dari sana.
"Bill! Aku ingin bicara!" kata Ron seraya melangkah pergi lebih dulu.
"Bisakah kau lakukan sesuatu dengan tiga tawananmu itu? Kenapa kau tidak kunjung membunuh mereka?!" timpal Ron dengan sorot mata yang menyalang. Dia marah terhadap apa yang dilakukan Bill. Menurutnya pencarian yang dilakukan pihak kepolisian untuk mencari ketiga tawanan Bill adalah ancaman.
"Aku pastikan malam ini semuanya selesai!" tegas Bill.
"Kau harus tahu, Joseph sekarang sudah--"
"Aku tahu! Dia sudah menemukan sesuatu tentangku. Makanya malam ini aku akan bergerak," potong Bill. Dia berjalan ke hadapan Ron dan memegangi bahu bos mafia tersebut. "Jangan khawatir, Bos. Semuanya akan baik-baik saja," sambungnya. Lalu beranjak.
Ron mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia masih belum bisa sepenuhnya mempercayai Bill. Mengingat lelaki itu selalu bertindak semaunya sendiri.
...***...
Bill membiarkan Lexy dan Rylie ikut untuk melakukan balas dendam terakhir. Mereka semua sepakat mendatangi rumah Joseph saat tengah malam nanti.
Sekarang Bill baru saja masuk ke ruangan dimana Selena ditawan. Dia segera melepas kain yang menutupi mulut perempuan itu.
"Hei, Babe. Merindukanku?" sapa Bill dengan seringai licik.
"Cuh!" Selena membalas dengan meludah. Dia tentu kesal atas segala yang telah dilakukan Bill terhadapnya.
Bill menghela nafas. Kemudian mengelap air ludah Selena yang mengenai pipinya. "Kau selalu saja begini. Tapi aku akan memaafkanmu sebagai tanda perpisahan," ucap Bill.
"Perpisahan? Apa maksudmu?" Selena sontak penasaran.
"Nanti kau akan tahu sendiri." Bill kembali membekap mulut Selena. Dia membawa Selena keluar dari ruangan.
Matilda, Selena, dan Thomas sama-sama dimasukkan ke dalam kantong mayat. Di sana keadaan kaki dan tangan mereka terikat. Ketiganya dimasukkan ke mobil pengangkut. Di sana ada Lexy dan Rick yang bertugas menjaga mereka sampai ke rumah Joseph.
Bill dan kawan-kawan menggunakan dua alat transportasi. Mereka berhenti di tempat terdekat rumah Joseph.
Kediaman keluarga Owens begitu sepi. Penjaga yang ada juga kebetulan tertidur. Hal itu membuat Bill dan kawan-kawan semakin mudah menyelinap masuk ke rumah.
Dalam rencana kali ini, Bill akan melakukan rencananya dalam diam. Seluruh rekaman CCTV juga sudah dalam kendali James semenjak kepergian Bill dan kawan-kawan.
Pertama, Bill menyuruh semua rekannya untuk tidak bicara. Mereka hanya akan bicara dengan isyarat. Kedua, mereka tidak akan menggunakan pistol. Ketiga, Bill akan membuat Joseph menjadi kambing hitam atas nasib keluarganya sendiri.
Kala itu Joseph sedang sibuk di ruang kerja. Tidak seperti para penjaganya yang tidur, dia masih terjaga. Joseph sibuk menemukan keterkaitan Bill dengan menghilangnya istri dan dua anaknya.
Pintu di belakang Joseph terbuka dengan pelan. Kebetulan pintu itu juga tidak memperdengarkan suara saat dibuka. Joseph tentu tidak tahu.
Tanpa diduga, sepasang tangan tiba-tiba membekap mulut Joseph. Dalam sekejap lelaki itu pingsan.
..._____...
Catatan Author :
Halo buat pembaca setia novel ini. Hari ini aku pastikan tamat ya. Kebetulan sejak awal novel ini memang ceritanya nggak akan kubikin panjang. Makasih 😘