
...✫✫✫...
Satu malam berlalu. Bill perlahan membuka mata. Suara perdebatan di antara Ron, Winter, dan Five, menyambut pendengarannya.
"Bill? Kau sudah sadar?" tanya Lexy. Di sampingnya terlihat ada Rylie yang juga ikut memasang ekspresi cemas.
"Dimana..." Bill membuka lebar matanya. Dia merubah posisi menjadi duduk. Saat itulah Ron menghampiri dengan raut wajah garang.
"Kau! Kenapa kau mencari masalah dengan The Joker, hah?!" timpal Ron.
"Memangnya kenapa? Mereka bukan kelompok mafia kan?" sahut Bill tenang. Ia sama sekali tidak terintimidasi dengan kemarahan Ron.
"Ya, mereka memang bukan mafia. Tapi mereka adalah salah satu pemasok bisnis ilegal Tiger Danger di Chicago. Tanpa mereka, bisnis kita akan tersendat. Sekarang karena ulahmu, mereka menolak untuk bekerjasama dengan Tiger Danger!" Ron mendorong kepala Bill dengan kasar.
"Aku membencimu, Ron," tukas Bill gamblang.
"Bill!" Lexy lekas menegur.
Semua orang tercengang. Bill memang satu-satunya anggota Tiger Danger yang sering bersikap tidak hormat kepada Ron. Dia seakan menganggap Ron adalah sahabat yang sepantaran dengannya.
"Kau tahu kan, Bill. Mudah bagiku untuk membunuhmu. Aku hanya perlu--"
"Aku hanya ingin kau berhenti melakukan bisnis jual beli manusia. Aku akan berhenti bersikap menyebalkan jika kau melakukannya." Bill memotong perkataan Ron. Jujur saja, dia sudah lama menyarankan Ron berhenti melakukan bisnis perdagangan manusia. Terutama anak kecil dan perempuan yang tak bersalah. Namun hingga sekarang Ron tidak pernah mendengarkan. Mungkin itulah salah satu alasan utama Ron selalu membenci Bill. Selain karena sudah banyak memakai uangnya, Bill juga diketahui terus berbuat masalah dan memprotes perihal bisnis perdagangan manusia.
Ron memutar bola mata sebal. Tangannya segera melingkar ke leher Bill.
"Aku tidak peduli. Sekarang sebaiknya kau cari cara untuk memperbaiki kerjasamaku dengan The Joker!" tegas Ron.
Mata Bill memerah. Dia mendorong sekuat tenaga hingga tangan Ron berhenti menyekat lehernya.
"Bagaimana jika aku bisa mengendalikan The Joker? Mereka selama ini kelompok bebas yang bekerjasama dengan banyak bos mafia bukan?" tanggap Bill.
"Hahaha!" Ron tertawa. Winter dan Five lantas mengikuti. Bahkan Rylie tampak terkekeh. Hanya Lexy yang terus memasang raut wajah cemas.
Ron berhenti tertawa. Dia langsung merubah ekspresinya menjadi serius. Lalu berkata, "Percaya diri sekali kau bicara begitu. Melakukan misi saja kau tidak berpengalaman!"
"Oleh sebab itu. Biarkan aku melakukannya. Percayalah, Bos. Aku sudah menunggu lama untuk menunggu momen ini," ungkap Bill.
Ron menarik sudut bibirnya ke atas. Dia mengambil pistol dari saku celana. Kemudian menodongkannya ke kepala Bill.
"Bos!" Lexy reflek berteriak.
"Dad!" Rylie yang khawatir ikut angkat suara bersamaan dengan Lexy.
Sementara Bill sendiri, terkesan tenang. Dia bahkan tersenyum sambil mengangkat tangan ke udara.
"Aku tahu kau menyayangiku, Bos. Tapi kau bukan tipe orang yang pandai menunjukkan kasih sayang. Bahkan kepada putrimu sendiri," pungkas Bill. "Kumohon berilah aku kesempatan. Kalau aku gagal, baru kau boleh membunuhku. Kita seharusnya mencoba dulu bukan?" sambungnya.
"Aku rasa Bill ada benarnya. Tidak ada salahnya mencoba. Mungkin kita bisa menguasai The Joker. Dengan begitu, kita bisa menguasai bisnis di kota Chicago," cetus Five sambil melipat tangan di depan dada.
"Aku setuju dengan Five. Lagi pula, Bill tidak akan melakukan misinya sendiri. Kami semua akan mengawasi. Aku akan langsung membunuhnya kalau dia gagal melakukan misi," ujar Winter.
Perlahan Ron menurunkan pistol. Dia tidak mengatakan apapun. Ron hanya memancarkan tatapan kesal.
"Kau berhutang padaku, Bill!" kata Five. Dia dan Winter ikut beranjak dari kamar Bill.
Lexy menggeplak kepala belakang Bill. "Dasar bodoh! Kenapa kau berani sekali ingin melakukan misi? Itu tidak semudah yang kau pikirkan! Apalagi ini berkaitan dengan kubu penjahat berbahaya seperti The Joker. Mereka terkenal sangat licik!" omelnya dengan dahi berkerut.
"Kau terlalu percaya diri sekali untuk melakukan hal seperti itu. Padahal pengalamanmu lebih minim dibanding kami berdua!" Rylie ikut menimpali.
Bill tersenyum simpul. Menatap Lexy dan Rylie secara bergantian. "Terima kasih. Aku tahu kalian sangat mencemaskanku. Terutama kau, Rylie," ungkapnya. "Bagaimana dengan malam yang kita--"
"Please! Jangan membicarakan tentang malam itu." Rylie yang tahu Bill ingin membicarakan apa, lekas angkat suara. Menghentikan kalimat yang hendak dikatakan Bill.
Lexy memilih pergi. Dia benci menjadi orang ketiga di antara percintaan tak terduga dua sahabatnya.
"Tunggu aku, Lex!" Rylie yang merasa canggung dengan Bill, segera mengikuti. Bill lantas tersenyum sambil menyaksikan punggung Rylie yang semakin menjauh.
"Aku tahu kau menikmati malam itu, Rylie!" seru Bill. Tepat sebelum Rylie keluar dari ruangan. Perempuan itu tidak menggubris sama sekali. Padahal wajah Rylie sejak tadi memerah bak tomat matang. Jujur saja, semenjak menghabiskan cinta satu malam bersama Bill, jantungnya terus berdebar saat melihat lelaki tersebut.
...***...
Setelah Bill benar-benar sembuh, semua orang sepakat melakukan misi. Lelaki itu sekarang sedang bertanding tinju dengan anggota Tiger Danger yang lain. Ia terus memenangkan pertandingan berturut-turut. Padahal Bill sudah lama tidak melakukan pertandingan.
"Sepertinya kau sangat serius dengan misi menaklukkan The Joker," komentar Ken. Dia menyodorkan sebotol minuman untuk Bill.
"Tentu saja. Mereka sudah menyiksaku selama beberapa tahun. Aku akan pastikan mereka akan membayarnya," tanggap Bill sambil mengambil minuman yang disodorkan Ken.
"Apa?" Ken mengerutkan dahi. Dia tentu heran mendengar Bill tiba-tiba bicara tentang penyiksaan.
Bill berlalu begitu saja. Meninggalkan Ken yang menunggu pejelasan.
Malam itu, Bill berkumpul dengan orang-orang yang akan ikut melakukan misi. Mereka menyusun strategi terlebih dahulu.
"Mereka menyimpan banyak tawanan di salah satu bangunan terbengkalai. Sebagian dari kita harus ke sana. Dan sebagian lagi harus mendatangi tempat perkumpulan utama mereka. Yaitu di gang Alley. Tepat di bangunan kumuh yang dindingnya bergambar grafiti tengkorak," jelas Bill panjang lebar. Semua orang tercengang mendengar penjelasannya. Bagaimana tidak? Bill menjelaskannya seperti orang yang sudah lama tinggal di tempat The Joker.
"Kau bukan mata-mata The Joker bukan?" selidik Winter.
"Astaga, kalau aku mata-mata mereka, lalu kenapa mereka menyerangku kemarin malam?!" balas Bill.
"Kau menjelaskannya seperti orang yang sudah lama tinggal di sana," tukas Lexy.
"Aku mencarinya di internet. Sekarang sedang tren bukan?" kilah Bill. Internet memang sedang menjadi tren di Amerika saat tahun 2006. Bill tentu tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. "Jadi kita akan pergi atau tidak?" tanyanya memastikan.
Semua orang yang ikut misi menganggukkan kepala. Mereka pergi dengan menggunakan tiga buah mobil yang berbeda jenis.
Waktu menunjukkan jam satu malam. Bill dan kawan-kawan telah tiba di tempat The Joker. Lokasi itu sangat sepi. Mengingat sekarang sedang tengah malam.
"Kita harus pastikan kedatangan kita tidak--"
Perkataan Winter terhenti saat Bill bertindak lebih dulu. Dia menyelinap masuk ke bangunan dimana para The Joker sering berkumpul. Atau bisa dibilang tempat Bill dulu sering diperbudak.
"Bill!" panggilnya dengan nada berbisik. "Sialan! Dia tidak mendengarkanku," keluhnya dengan gigi menggertak kesal.
"Maklumilah. Dia tidak terbiasa melakukan misi. Kita tinggal bunuh saja dia kalau misi ini gagal," imbuh Five. Dia, Winter, dan yang lain segera menyusul Bill.