
...✫✫✫...
Satu per satu organ di ambil Bill dari badan Nick. Dari mulai ginjal kedua, hati, paru-paru, bahkan jantung. Dalam sekejap Nick kehilangan nyawanya. Ruang operasi dibanjiri oleh darah yang keluar dari perut Nick. Wajah Bill juga tampak belepotan dengan darah. Apalagi seluruh pakaian yang dikenakannya.
"Dia sudah mati," ucap Harold.
"Lalu? Apa kau mencemaskan pembunuh berantai sepertinya? Kau tidak tahu berapa manusia yang dibunuh dengan sadis olehnya," sahut Bill.
Harold mengangguk. Kekejaman Bill tentu membuatnya getir. Dia tidak pernah melihat orang beraksi semengerikan itu. Namun Harold berusaha membantu dengan memasukkan organ yang di ambil Bill ke dalam toples.
"Sekarang kita periksa bagian wajahnya." Bill berpindah haluan ke wajah Nick. Dia memeriksa mata serta gigi milik lelaki itu. "Cukup bagus," komentarnya.
Bill segera mencongkel mata Nick secara bergantian. Dia juga tak lupa mengambil semua gigi Nick.
"Suruh Dave, Olivia, dan Jack untuk membersihkan ruangan ini. Kau bisa beristirahat sekarang karena sudah membantuku," ujar Bill seraya beranjak meninggalkan ruang operasi. Dia pergi ke kamarnya. Lalu melepas seluruh pakaian.
Bill berdiri di bawah pancuran shower. Wajahnya tampak mengeras. Urat-urat lehernya juga terlihat lebih jelas. Bill masih belum bisa melupakan kesalahan Joseph. Semakin sering dirinya mengingat hal itu, maka tambah memuncak pula kemarahannya. Terlebih Bill tidak pernah melupakan penderitaan yang dialaminya saat ditelantarkan.
Bill mengeratkan rahang kesal. Dia sudah sepenuhnya selesai membersihkan diri. Kini Bill berdiri di depan cermin sambil mengenakan handuk kimono berwarna hitam.
Bersamaan dengan itu, seseorang membuka pintu kamar mandi. Dia tidak lain adalah Lexy.
"Kita harus kembali ke markas! Bos ingin merayakan kesembuhan Khaled. Mereka ingin kau berada di sana," ujar Lexy. Dia menatap Bill dengan perasaan cemas. Dirinya tahu keadaan lelaki itu sedang kacau. Apalagi setelah Lexy mengetahui apa yang dilakukan Bill di ruang operasi.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Lexy sembari mendekati Bill.
"Lexy..." lirih Bill. Dia menoleh ke arah Lexy. "Bisakah kau menemaniku di sini?" pintanya.
"Menemani?" Lexy menuntut jawaban pasti. Dia tidak tahu menemani yang dimaksud Bill seperti apa. Apakah hanya sekedar mengobrol atau lebih dari itu?
"Ya." Bill hanya menjawab singkat. Dia semakin mendekati Lexy. Lalu memegangi tengkuk gadis itu. Tanpa permisi, Bill melumaat dalam bibir Lexy.
Lexy tak kuasa menolak. Mengingat dia memiliki perasaan khusus untuk Bill.
Lama-kelamaan ciuman Bill dan Lexy semakin memanas. Tangan Bill mulai menjamah setiap jengkal badan Lexy. Anggapan Bill terhadap gadis itu yang katanya selalu dianggap saudara, musnah begitu saja. Bill butuh pengalihan agar dirinya dapat berpikir lebih jernih.
"Eummphh!" dahi Lexy berkerut saat merasakan sentuhan liar Bill. Dia tidak punya pilihan selain pasrah.
Satu per satu pakaian Lexy dilepaskan Bill dengan cepat dan kasar. Hingga keadaan gadis itu berakhir tidak mengenakan satu helai benang pun.
"Bill!" seru Lexy. Sama seperti wanita lainnya, dia juga terangsang terhadap sentuhan jantan seorang Bill.
Bill menarik rambut pendek Lexy. Ulahnya membuat kepala gadis tersebut terdongak paksa. Lexy mengangakan mulut tatkala mulut Bill menjelajahi leher dan dadanya dengan liar.
"Akh... Bill..." Alhasil Lexy mulai mendes-ah. Apalagi jari-jemari Bill dapat dia rasakan sedang asyik bermain di organ intimnya.
Nafas Bill terdengar menderu-deru. Setelah memastikan Lexy sudah bergairah, dia langsung memutar tubuh gadis itu membelakanginya. Saat itulah Bill melakukan penyatuan.
Tangan Bill menekan kepala Lexy ke wastafel. Lexy yang telah termakan oleh kenikmatan hasrat, memilih pasrah. Membiarkan Bill melakukan penyatuan dari belakang.
"Bill! It's hurt!" lenguh Lexy.
Alhasil Bill mempercepat pergerakannya. Terus memberikan hentakan dalam. Dia segera melepaskan penyatuan saat dirinya dan Lexy telah mencapai puncak.
Lexy tetap diam di tempat. Masih meletakkan kepala di wastafel. Dalam posisi menungging.
Bill memeluk Lexy dari belakang. Lalu menciumi punggung gadis itu. Keduanya sama-sama berusaha mengatur nafas.
"Aku akan membawamu ke ranjang. Kau bisa beristirahat di sana," tawar Bill sembari menggendong Lexy. Kemudian meletakkan perempuan itu ke ranjang. Selanjutnya Bill duduk ke sofa. Dia menikmati sebatang rokok.
Bill sudah sepenuhnya tenang. Dia duduk sambil berpikir dengan serius. Bill menyusun kembali rencana balas dendamnya dalam kepala.
Rencana pertama Bill adalah membangun hubungan erat kepada orang-orang terdekat Joseph terlebih dahulu. Barulah dia akan menghancurkan Joseph secara perlahan.
Bill mengambil ponsel. Dia mencari akun sosial Matilda di internet. Matilda sendiri adalah istri Joseph. Ibu kandung dari Selena dan Thomas. Niat Bill selanjutnya adalah mendekati Matilda.
Senyuman miring terukir di wajah Bill. Tepat saat dia menemukan foto Matilda di sosial media. Wanita itu sering berfoto sendiri dibanding teman-temannya yang tampak masing-masing membawa pasangan.
Bill berniat mengacaukan keluarga Owens terlebih dahulu. Ketika itu sudah berhasil dilakukan, maka barulah dia melakukan rencana inti. Yaitu menyiksa Joseph dan merebut harta warisan keluarga Owens.
"Kau sepertinya sudah membaik," tegur Lexy yang terlihat duduk di ranjang. Dia berhasil memergoki Bill berseringai sendiri.
"Semuanya karenamu," sahut Bill sambil mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulut.
"Jadi aku hanya pelampiasanmu?" Lexy menyimpulkan.
"Entahlah. Tapi kalau boleh jujur, aku masih belum puas," ujar Bill ambigu.
"Belum puas apa?" Lexy menyelidik. Dia membuka selimut. Lalu turun dari ranjang. Lexy masih belum mengenakan pakaian apapun di tubuhnya.
"Aku yakin kau tahu apa yang kumaksud," jawab Bill dengan tatapan nakalnya ke arah Lexy. Lagi-lagi seringai muncul di wajahnya.
"Ya, aku bisa menebak." Lexy berjalan ke hadapan Bill. Menyibak handuk kimono yang dikenakan Bill. Ia segera duduk ke pangkuan lelaki itu.
"Kau ternyata memang menyukaiku," tukas Bill.
"Harusnya kau menyadari itu sejak lama," sahut Lexy. Dia segera menyatukan mulutnya dengan bibir Bill. Mereka kembali bercumbu.
Sementara di depan gedung tempat klinik rahasia Bill, sebuah mobil berhenti. Rylie datang bersama Saga. Rylie terlihat sudah mengenakan riasan. Dibalut dengan gaun yang cantik. Dia juga memakai kalung berlian pemberian Bill.
Rylie berniat menjemput Bill untuk pergi ke perayaan kesembuhan Khaled. Ia mengira Lexy tidak berhasil membujuk Bill untuk ikut ke pesta.
Rylie melangkah masuk ke klinik rahasia Bill yang cukup besar. Di iringi oleh Saga dari belakang. Rylie mendatangi ruang operasi. Tetapi dirinya tidak menemukan Bill di sana.
"Bill sepertinya ada di kamar. Berhati-hatilah, Nona. Suasana hatinya buruk hari ini. Lihatlah yang dia lakukan pada Nick," ujar Dave seraya menunjukkan keadaan mengerikan di ruang operasi. Bau anyir seketika menyeruak jelas.
"Ugh!" Rylie reflek menutupi hidung. Dia buru-buru pergi ke kamar Bill.