Dokter Mafia Kejam!

Dokter Mafia Kejam!
Bab 17 - Nama Yang Familiar


...✫✫✫...


"Tenanglah, Cali! Itu hanya tembakan di kaki." Five menanggapi seruan Rick dengan santai.


Gigi Rick menggertak. Dia berbisik, "Tapi peluru yang kau tembakkan bisa jadi jejak untuk kita!"


"Tenanglah. Jenis peluru yang aku gunakan cukup umum," balas Five sambil menepuk pundak Rick. Sekarang hanya perlu menunggu Bill.


Tiga menit berlalu. Akan tetapi Bill tidak kunjung datang.


"Si bodoh itu kenapa belum datang juga? Lelaki berambut pirang itu bisa kehabisan darah!" keluh Five pelan ke dekat Lexy dan Winter.


"Lagi pula siapa yang menyuruhmu untuk menembaknya?" timpal Winter.


"Kau tahu aku benci orang kaya!" sahut Five.


"Kau benci orang kaya tapi menyukai uang mereka?" Winter kembali membalas.


"Itulah sebabnya aku membenci orang kaya. Mereka menyimpan uang terlalu banyak." Five dan Winter belum berhenti berdebat mengenai hal sepele.


"Tapi kalau tidak ada orang kaya, kau tidak akan bisa mendapatkan uang!" Winter tak ingin kalah.


Menyaksikan sikap Five dan Winter, Selena mengerutkan dahi. Menatap heran kedua lelaki itu di tengah ketakutannya.


Lexy lantas menghentikan perdebatan kecil di antara Winter dan Five. "Bisakah kalian berhenti?" ujarnya.


"Kau sebaiknya telepon teman doktermu itu sebelum kami menggila di sini!" tanggap Winter yang sudah lelah menunggu.


Lexy mendengus kasar. Dia segera menghubungi Bill.


"Kau kemana?!" tanya Lexy.


"Bersiaplah untuk kabur. Polisi akan datang!" jawab Bill.


"Polisi? Apa maksudmu? Kau tidak ada mengatakan tentang hal ini!" protes Lexy merasa tak percaya.


"Ini aku lakukan agar penyelamatan yang aku berikan bisa dipercaya!" jelas Bill.


"Kau gila! Kenapa--" belum sempat berucap, suara sirine mobil polisi terdengar. Dari kejauhan Lexy dan kawan-kawan dapat melihat kemunculan mobil polisi.


"Kita harus pergi!" seru Lexy.


Rick, Five, dan Winter sebenarnya bingung. Tetapi mereka tak punya pilihan selain mengikuti Lexy.


"Mampus kalian!" ujar Thomas. Five sempat mendengar perkataannya. Hingga menyempatkan diri untuk memukul kepala Thomas dengan senapan. Lelaki pirang tersebut sontak memekik kesakitan.


"Sialan! Awas saja kalau kau nanti tertangkap! Aku tidak akan mengampunimu!" geram Thomas seraya menunjuk ke arah Five yang sudah masuk ke mobil.


Ketika semua orang sudah ada di mobil, barulah Lexy mengatakan mengenai rencana dadakan Bill.


"Bill sialan! Ini lebih parah dari tembakan tak terduga dari Five tadi!" keluh Winter.


"Lebih cepat, Ken! Jangan sampai polisi menangkap kita!" seru Five. "Awas saja kalau aku bertemu dengan Bill nanti!" sambungnya. Satu tangan Five nampak mengepalkan tinju.


Di belakang, mobil polisi mengejar mobil jeep Lexy dan kawan-kawan. Meskipun begitu, jarak mereka masih cukup jauh. Ken yang bertugas sebagai sopir, bergegas mengarahkan mobil ke tempat lebih aman.


"Coba telepon lagi Bill! Dia harus bertanggung jawab jika ada kekacauan yang terjadi!" ucap Rick.


Lexy mengangguk. Dia langsung menelepon Bill. Namun berulang kali mencoba, tidak ada sedikit pun jawaban dari lelaki tersebut.


Sekarang Bill jelas tidak bisa mengangkat panggilan Lexy. Karena dia sedang beraksi. Bill mendekati Selena dan Thomas. Memberitahu mereka kalau dialah yang sudah menghubungi polisi.


Agar tidak dikenali, Bill merubah tampilannya secara besar-besaran. Dia mengenakan lensa mata agar warna mata birunya tidak diketahui. Selain itu, Bill mewarnai rambut yang tadinya berwarna hitam, menjadi cokelat. Senada dengan warna lensa matanya.


Demi menambah kesan meyakinkan, Bill mengenakan pakaian rapi. Mengenakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana. Berpakaian kantor layaknya seorang dokter pada umumnya. Satu hal yang pasti, pakaian dan aksesoris milik Bill merupakan barang mahal. Dengan tujuan untuk menarik perhatian Selena.


"Terima kasih banyak sudah membantuku dan kakakku," ungkap Selena. Saat Bill datang membantu.


"Maaf aku terlambat. Andai aku ahli berkelahi, mungkin aku akan langsung menyelamatkan kalian!" ucap Bill. Dia menangani luka tembak Thomas terlebih dahulu.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" tolak Thomas, ketika Bill ingin menutupi lukanya dengan kain.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit!" usul Selena.


"Ambulan sedang dalam perjalanan ke sini," sahut Bill. Dia merasa senang karena Selena dan Thomas tidak mengenalinya. Mengingat mereka tidak pernah bertemu selama beberapa tahun. Mungkin dua kakak beradik itu juga lupa dengan wajah Bill.


Di saat rencana pendekatan Bill berjalan lancar, Lexy dan kawan-kawan justru masih kesulitan menghindari polisi.


"Kita tidak punya pilihan lain." Winter mengeluarkan bom dari dalam tas. Dia membukanya dengan gigi. Lalu melempar bom tersebut ke arah mobil polisi.


Suara ledakan menggema. Dua mobil polisi hancur berkeping-keping. Winter dan yang lain berhasil melarikan diri. Sekarang yang tersisa adalah kemarahan mereka terhadap Bill.


...***...


Bill sudah ada di rumah sakit. Dia dan Selena sedang menunggu Thomas melakukan operasi. Keduanya duduk bersebelahan.


Tangan Selena tampak gemetar. Dia masih syok dengan musibah yang menimpanya tadi.


Bill memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pendekatan. Dia perlahan menggenggam tangan Selena yang gemetar.


"Tenanglah... Semuanya baik-baik saja sekarang," tutur Bill sembari merogoh saku celana. Dia menyerahkan ponselnya kepada Selena.


"Ini, bicaralah kepada orang tuamu agar kau merasa lebih baik," saran Bill.


"Terima kasih..." ungkap Selena. Dia merasa terenyuh akan sikap perhatian Bill.


Selena segera menggunakan ponsel Bill. Dia memberikan kabar kepada kedua orang tuanya. Sedangkan Bill memperhatikan dari kejauhan.


Setelah beberapa saat, operasi selesai. Thomas segera dibawa ke kamar perawatan. Bill segera menyusul saat mengurus biaya rumah sakit.


Pintu perlahan terbuka. Bill masuk ke kamar Thomas dirawat. Selena dan Thomas langsung menoleh ke arahnya.


"Kau tidak akan meminta bayaran atas semua pertolonganmu bukan?" tukas Thomas. Walau sedang sakit, sikap sombongnya tidak pudar.


"Thom!" tegur Selena. Sebagai perempuan, dia merasa sosok Bill menarik. Terlebih lelaki itu sempat menyinggung mengenai profesinya sebagai dokter. Belum lagi pakaian dan jam tangan mahal yang dikenakan oleh Bill. Selena menyimpulkan Bill adalah lelaki yang kaya raya.


"Terserah kau mau menganggapnya apa. Aku hanya ingin memberikan ini." Bill mendekat. Dia menyodorkan lembaran kertas berisi bukti bahwa seluruh biaya rumah sakit telah dibayar.


"Kau sudah membayar biaya rumah sakit Thomas?" Selena memastikan. Dia semakin yakin kalau sosok Bill merupakan lelaki kaya raya.


Bill mengangguk. Dia memancarkan tatapan nanar dimatanya sebagai rasa empati. Jelas apa yang dilakukan Bill hanya bagian dari rencana balas dendam.


"Jujur, aku dulu pernah mengalami hal yang sama seperti kalian. Itulah alasan aku tidak bisa langsung turun tangan menolong kalian tadi," ungkap Bill. Mengarang cerita.


"Tidak apa-apa. Yang jelas kau berhasil menyelamatkan kami dari kejaran perampok sialan itu," sahut Selena.


"Aku yakin ayahku dan anak buahnya akan segera menangkap mereka." Thomas menambahkan.


"Kalau begitu, aku sebaiknya pergi." Bill sengaja berlagak seolah ingin pamit. Karena dia yakin, Selena dan Thomas akan mencegahnya. Terutama Selena.


"Tunggu!" benar prediksi Bill, Selena dan Thomas menghentikan kepergiannya.


"Bisakah kau tinggal sebentar? Aku rasa ayahku akan membutuhkan kita untuk bersaksi. Aku ingin menangkap semua bajingan itu secepat mungkin," imbuh Thomas.


Bill berhenti dan berbalik. "Tentu saja," tanggapnya seraya kembali menghampiri Selena dan Thomas. Ia dibiarkan duduk bersama Selena di sofa.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanya Selena.


"Namaku Bill!" jawab Bill.


Deg!


Pupil mata Selena dan Thomas membesar bersamaan. Mereka agak kaget. Mengingat nama Bill adalah nama yang familiar bagi keduanya.


"Bill? Namamu Bill?" tanya Thomas penuh curiga.


"Ya, Bill Asgard. Itulah namaku." Bill memutuskan tidak menyamarkan namanya.


"Asgard! Dia Bill Asgard, Thom!" seru Selena yang merasa lega ketika mendengar nama belakang Bill. Dia dan Thomas tentu tidak tahu kalau Bill sudah merubah nama belakangnya sejak lama.


Thomas mengangguk. Dia ikut merasa lega. Lagi pula dirinya yakin ada banyak lelaki yang bernama Bill di dunia ini.