Dokter Mafia Kejam!

Dokter Mafia Kejam!
Bab 16 - Skenario Perampokan


Michigan, 10 Agustus 2012...


...✫✫✫...


Bill sudah mencari tahu perihal Thomas dan Selena. Kedua kakak beradik itu akan pulang bersama ke rumah. Thomas memang bertugas menjemput Selena dari bandara.


Mudah bagi Bill melacak keberadaan Thomas dan Selena. Terlebih keduanya sering membagikan informasi melalui akun media sosial pribadi.


Kini Bill dan kawan-kawan sedang bersiap untuk melakukan skenario perampokan. Orang-orang yang terlibat adalah Lexy, Rick, Ken, Winter, dan Five. Rencana tersebut juga dipastikan sudah disetujui oleh Ron. Mengingat dua anggota andalannya ikut andil untuk membantu Bill.


Rencana Bill sederhana. Lexy dan yang lain hanya perlu menggunakan kostum sama serta menutupi wajah. Kebetulan Bill sengaja memesan desain topeng sesuai keinginannya sendiri. Ia memilih topeng yang mirip dengan film serial Money Heist. Salah satu film kriminal favoritnya yang tayang di tahun 2017.



"Ini! Pakailah topeng kalian. Percayalah, topeng ini akan tren di tahun 2017," imbuh Bill sembari membagikan topeng.


"Ini cukup keren," komentar Ken.


"Menurutku ini cukup garang dan mengancam. Aku yakin dua kakak beradik itu ketakutan setengah mati saat melihat kita," ujar Five.


"Aku benci saat melihatmu berlagak sok tahu," tukas Winter. Dia dan yang lain memakai kostum yang sudah siap. Termasuk Lexy. Meski dia satu-satunya wanita, tampilannya tampak sama seperti para pria tangguh yang bekerjasama dengannya.


Hanya Bill yang tidak memakai kostum. Dia mengenakan setelan biasa karena akan bertindak sebagai pahlawan untuk Thomas dan Selena.


"Untuk berjaga-jaga, kalian harus memanggil nama palsu satu sama lain," ujar Bill.


"Ide bagus. Aku ingin dipanggil--"


"Aku sarankan nama kota saja. Aku cukup tergila-gila dengan serial Money Heist," sergah Bill. Tepat sebelum Lexy berucap.


"Tidak usah berlagak memimpin! Kau--"


"Ini rencanaku! Jadi aku yang memimpin!" tegas Bill sambil berkacak pinggang. Dia kali ini memotong perkataan Winter. Lelaki itu hanya bisa memutar bola mata sebal.


Lexy berdecak. Dia dan yang lain terpaksa setuju.


"Panggil aku Brooklyn," kata Lexy. Memilih nama kota yang akan menjadi panggilan palsunya.


"I love California," ucap Rick. California menjadi nama palsunya.


"Michigan," imbuh Winter sambil mendengus kasar.


"Rio de Janeiro." Five memilih dengan semburat wajah cemberut.


"Aku Houston. Berjaga-jaga kalau kalian akan memanggilku saat menyetir," cetus Ken. Dia sama sekali tak masalah terhadap ide Bill.


"Sekarang kita tinggal tunggu kabar dari James. Kita lihat--" perkataan Bill terpotong saat orang yang dikatakannya menelepon. Hacker andalan Tiger Danger itu memberitahu bahwa Thomas dan Selena sudah berangkat.


Bill dan kawan-kawan langsung bergerak. Lexy, Rick, Ken, Winter, dan Five akan pergi bersama mengendarai mobil jeep. Sedangkan Bill menunggu di tempat yang telah dipilih untuk dilakukannya skenario perampokan.


Dari kejauhan mobil mewah Thomas mulai terlihat. Di sana Thomas dan Selena duduk di kursi depan. Kedua anak konglomerat itu hampir memiliki sifat yang sama. Thomas dikenal dengan sikap sombongnya. Sementara Selena diketahui manja dan sangat terikat dengan kehidupan mewah.


Sekarang saja pakaian Selena begitu glamor. Dia selalu mengutamakan tiga hal dalam tampilan. Yaitu seksi, cantik, dan mahal.


"Bisakah kau antar aku ke penthouse saja? Aku sedang malas bertemu Mom dan Dad," cetus Selena seraya sibuk bercermin dan membedaki wajah dengan spons seharga ribuan dolar Amerika.


"Kau mau apa? Berniat hangout dengan Charlie?" sahut Thomas. Menatap selintas ke arah selena.


"Tentu tidak! Orang tuanya bangkrut sekarang. Dia jatuh miskin. Jadi jelas aku tidak akan berdekatan dengan lelaki sepertinya lagi," jawab Selena sambil meringis jijik.


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil jeep tiba-tiba menghalangi jalan. Thomas sontak menginjak rem. Dia dan Selena tentu kaget. Apalagi mereka sedang berada di jalanan sepi.


"Jantungku rasanya akan melompat keluar!" ungkap Selena sambil memegangi dada. Dia dan Thomas tetap berada di mobil.


"Aku akan memberi mereka pelajaran dan--" perkataan Thomas terhenti tatkala menyaksikan orang-orang yang keluar dari mobil jeep. Amarahnya seketika berubah menjadi panik. Sebab bukan orang biasa yang dirinya dan Selena lihat. Melainkan empat orang yang mengenakan kostum dan topeng mengerikan.


"A-apa itu, Thom? Ki-kita tidak akan celaka bukan?" gagap Selena yang merasakan adanya ancaman. Terlebih orang-orang yang dilihatnya memegang senjata berbahaya di tangan masing-masing.


"Cepat hubungi Daddy!" perintah Thomas. Dia terlihat mencari-cari sesuatu. Thomas sebenarnya mencoba mencari pistol yang diam-diam dibelinya sendiri. Di Amerika sendiri, memiliki pistol bukanlah sesuatu yang ilegal.


Belum sempat Thomas dan Selena bertindak, Rick dan Five mencoba membuka pintu mobil. Akan tetapi seluruh pintu mobil tentu dikunci oleh Thomas.


"Buka pintunya!" desak Five sembari menendang pintu mobil. Hal itu membuat Selena berteriak. Dia tambah gemetaran. Mengetik ponsel saja Selena jadi kesulitan.


Menyaksikan Selena bermain ponsel, Lexy berinisiatif menghentikan. Dia mengetik pesan di ponsel. Kemudian mengetuk jendela kaca terdekat Selena.


Saat Selena menoleh, Lexy lantas menunjuk ke layar ponsel. Hingga Selena dapat membaca pesannya dengan jelas.


'Menelepon seseorang? Maka aku pastikan kau dan kakakmu mati!' begitulah pesan yang dibaca Selena. Matanya tampak bergetar dan mengeluarkan air mata.


"CEPAT KELUAR! Lakukanlah selagi kami meminta dengan baik!" titah Winter. Dia menodongkan senjata ke arah Thomas yang masih enggan keluar dari mobil. Lelaki itu juga sama takutnya seperti Selena.


"Apa kau sudah menelpon Daddy?" tanya Thomas. Sang ayah tentu hal utama baginya. Apalagi ayahnya bekerja sebagai kepala kepolisian pusat.


"Ti-tidak. Mereka akan membunuh jika--"


"Cepat telepon Daddy!!!" desak Thomas sambil memegang pundak Selena.


"Tidak!! Aku tidak ingin mati!!" tolak Selena yang sudah menghamburkan air mata.


Mendengar hal itu Winter dan Rick bertukar pandang.


"Mereka berdebat," ucap Winter menyimpulkan.


"Kita tidak punya waktu untuk itu!" sahut Rick. Karena tidak mau ketahuan polisi, dia dan Winter terpaksa melakukan cara paksa. Yaitu dengan cara menghancurkan jendela kaca mobil.


Rick dan Winter bekerjasama menghancurkan jendela kaca di sebelah Selena. Sementara Lexy dan Five melakukan hal sama di jendela kaca dekat Thomas. Apa yang dilakukan mereka membuat dua kakak beradik itu panik.


"Hentikan! Baiklah! Kami akan keluar!" pekik Thomas. Akibat takut, dia menonaktifkan kunci mobil. Hingga Rick dan kawan-kawan bisa menyeretnya dan Selena keluar.


"Diam dan turuti saja perintah kami! Kalau tidak, maka kalian berdua mati dalam hitungan detik!" ancam Winter.


Thomas dan Selena dibiarkan terduduk di aspal. Keduanya ditodongi senapan dari berbagai arah. Mereka hanya bisa menampakkan ekspresi ketakutan.


"Cepat ambil semua barang berharga mereka!" titah Five.


Lexy segera merampas barang berharga yang ada di tubuh Thomas dan Selena. Sedangkan Rick bertugas menjarah barang berharga yang ada di mobil.


"Kumohon jangan ambil ponselku. Ambil saja yang lain, tapi tidak dengan ponselku..." mohon Selena sambil memeluk ponselnya. Tepat ketika Lexy hendak mengambil.


"Serahkan atau mati?" Lexy tak mau basa-basi. Dia menempelkan ujung pistol ke dahi Selena. Gadis itu memecahkan tangis dan menyerah. Lalu merelakan ponselnya untuk diambil Lexy.


"Kalian siapa? Apa mau kalian?!" tanya Thomas dengan mata yang bergetar. Dia mengamati ke-empat orang bertopeng yang merampoknya.


"Diamlah anak muda!" Winter memegang kepala Thomas, kemudian memasukkan ujung pistol ke mulut lelaki berambut pirang tersebut. Namun Thomas mendadak menyerang. Ia menonjok perut Winter dan berusaha melarikan diri.


Five reflek menarik pelatuk pistol. Dia menembakkan peluru ke kaki Thomas. Lelaki itu otomatis terjatuh.


"Rio!" seru Rick. Sebab menembak korban bukanlah bagian dari rencana.