Dokter Mafia Kejam!

Dokter Mafia Kejam!
Bab 11 - Operasi Pertama


...✫✫✫...


Bill berhasil menyelinap masuk ke tempat utama perkumpulan The Joker. Sejak awal, tas ransel bertengger di punggungnya. Berisi kumpulan senjata utama. Setidaknya itulah yang dikira Winter dan kawan-kawan.


Pintu dibukakan oleh Bill. Sehingga Winter, Five, dan tiga orang lainnya dapat masuk.


"Kita harus ikat mereka semua dengan tali," perintah Bill dengan nada berbisik.


"Hei! Itu bukan bagian dari rencana! Kau pikir aku mau melakukan perintah bocah ingusan sepertimu?!" tukas Five dengan dahi yang berkerut dalam.


"Berikan tas berisi senjata itu padaku," tegas Winter.


Bill cemberut. Dia segera melepas tas ransel dari punggung. Lalu menyerahkannya pada Winter. Bill segera memindai tempat dimana dirinya berada. Ia merasa keadaan tempat tersebut masih sama seperti dulu.


Sementara itu, Winter membulatkan mata ketika melihat isi tas ransel. Di sana terdapat bom yang terbuat dari botol, masker, sarung tangan lateks serta peralatan medis.


"What the f**k, Bill! Apa-apaan ini!" geram Winter. Dia tentu sangat marah kepada Bill. Terlebih mereka sudah berada di lokasi musuh. Barang-barang yang ada di dalam tas Bill bukanlah senjata.


Bertepatan dengan itu, salah satu anggota The Joker terbangun. Dia tidak lain adalah Dylan.


Bill menjadi orang pertama yang melihat bangunnya Dylan. Dia mengabaikan omelan Winter dan buru-buru memakai masker. Selanjutnya, Bill melempar bom buatannya ke lantai.


Bunyi letupan yang tidak begitu keras berbunyi. Asap seketika menyelimuti ruangan.


"Maaf, semuanya. Aku terpaksa melakukan ini karena kalian tak pernah mau mendengarkanku," ujar Bill. Tepat sebelum Winter dan kawan-kawan pingsan.


Semua orang yang ada di ruangan pingsan. Kecuali Bill. Sebab bom buatan Bill mengandung obat bius. Itulah alasan dia mengenakan masker terlebih dahulu sebelum melempar bom botol.


"Sekarang saatnya balas dendam," gumam Bill. Dia mengambil kabel listrik untuk dijadikan tali. Bill mengikat seluruh anggota The Joker yang ada di ruangan. Ia juga tak lupa membekap mulut mereka dengan lakban.


Winter dan kawan-kawan dibiarkan tergeletak di lantai oleh Bill. Kini dia hanya perlu menunggu semua orang sadar.


Bill mengambil earpiece milik Winter. Lalu memakaikannya ke salah satu telinga. Dia mencoba menghubungi tim Lexy dan Rylie. Mereka bertugas mencari tawanan The Joker di bangunan lain.


"Ada apa, Bill? Tidak ada masalah kan?" Rylie menjawab dari seberang telepon.


"Ya, kami baik-baik saja. Apa kalian sudah menemukan para tawanan The Joker?" tanya Bill.


"Kami sudah menemukannya. Ternyata ini cukup mudah. Kami bisa mengalahkan semua penjaganya dengan mudah. Mungkin karena The Joker hanya kelompok penjahat jalanan."


"Itu karena penjahat yang berbahaya ada bersama kami. Bawa semua tawanan ke markas. Kalian bisa pulang lebih dulu!"


"Apa? Tapi bukankah rencana Winter--"


"Lakukan saja. Ide untuk menyerang The Joker bukanlah rencana Winter. Tapi rencanaku!"


"Tapi--"


Bill memutuskan panggilan lebih dulu. Sehingga Rylie tidak bisa meneruskan perkataannya.


"Bill... Apa yang kau lakukan! Ini bukan bagian rencana..." Winter baru saja terbangun. Dia menatap tajam ke arah Bill.


"Memang bukan rencanamu. Tapi ini rencanaku. Jadi aku mohon, biarkan aku melakukannya agar tidak ada kesalahan yang terjadi," sahut Bill. Dia beranjak ke kamar mandi. Mengambil air satu ember. Kemudian menyiramkannya kepada semua anggota The Joker. Drac, Roger, dan Dylan lantas terbangun. Mereka adalah orang terkuat di The Joker.


Drac, Roger, dan Dylan membulatkan mata. Ketiganya sama-sama berusaha melepas tali yang menjerat kaki dan tangan mereka.


"Mmmphhh!!!" Drac berteriak dalam keadaan mulut yang dibekap. Ia melotot ke arah Bill.


Saat itulah Bill melepas lakban dari mulut Drac. Hingga sebuah ludahan diberikan oleh Drac sebagai perlawanan. Namun Bill sigap menghindar. Bukannya mengenai Bill, air ludah Drac justru mengenai wajah Five. Lelaki itu masih belum sadarkan diri. Dia perlahan siuman karena serangan saliva Drac.


Mata Winter memicing. Dia sebenarnya sangat marah kepada Bill. Tetapi dirinya memilih membiarkan. Karena Winter merasa yakin kalau Bill akan gagal.


"Biarkan saja. Jika ada masalah terjadi, aku pastikan Bill yang akan bertanggung jawab," sahut Winter.


"Apa-apaan ini? Kenapa di wajahku ada air ludah?" keluh Five yang baru terbangun. Dia berusaha mencerna apa yang terjadi. Winter otomatis menjelaskan.


Five sependapat dengan Winter. Mereka akan membiarkan dan melihat apa yang dilakukan Bill.


"Bill, jika nyawamu terancam, aku dan yang lain tidak akan membantumu. Oke?" cetus Five.


Bill menjawab dengan acungan jempol. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali. Bill fokus bicara dengan Drac.


"Siapa kau?! Aku bahkan tidak mengenalmu?!" tukas Drac.


"Aku tahu. Kau memang tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu dengan sangat baik, Drac." Bill berjongkok ke hadapan Drac. "Aku tahu rokok favoritmu adalah merek A. Kau selalu mendukung Brazil saat piala dunia berlangsung. Kau juga pemabuk akut," sambungnya.


Pupil mata Drac membesar. Sebab apa yang dikatakan Bill benar seratus persen. Fakta tersebut membuatnya penasaran dengan sosok Bill.


"Siapa kau? Apa kau anak dari seorang pela-cur yang pernah kucumbu?" tebak Drac. Asal bicara.


Bill tergelak sejenak. Lalu memegangi dagu Drac dengan kasar. "Kau pikir ini film? Mana mungkin aku anakmu? Dan jika benar ada pela-cur yang punya anak darimu, aku yakin dia tidak akan membiarkan anaknya bertemu dengan ayah sepertimu!" pungkasnya.


Satu tamparan keras diberikan Bill. Sudut bibir Drac sampai memerah dan mengeluarkan darah.


"Keparat!" maki Drac. Dia tentu kesal dengan perbuatan Bill.


"Ngomong-ngomong, aku adalah calon dokter bedah. Aku butuh manusia nyata untuk dijadikan percobaan. Dan manusia beruntung itu adalah kau, dan dua temanmu ini." Bill berucap dengan santainya. Dia yang sejak tadi berdiri membelakangi Winter dan kawan-kawan segera menoleh.


"Apa?!" timpal Five sambil berkacak pinggang.


"Bisakah kalian membantuku?" pinta Bill. Dia butuh seorang asisten untuk melakukan operasi pertamanya.


"Tidak! Jangan ada yang membantunya!" perintah Winter.


"Tentu tidak! Lagi pula tak ada yang mau membantu orang egois sepertinya," sahut Five sembari menunjuk Bill.


"Hahaha! Sepertinya kau tidak hanya menyebalkan pada orang asing, tetapi juga teman-temanmu," komentar Drac meremehkan.


"Diamlah!" Bill kembali menutup mulut Drac dengan lakban. Sedangkan Dylan dan Roger hanya bisa bergumam seraya berupaya melepas ikatan tali mereka.


Karena tidak ada yang membantu, Bill terpaksa melakukan semuanya sendiri. Dia merebahkan Drac ke meja. Lalu menggunting baju atasan lelaki itu.


Kening semua orang mengernyit. Mereka tentu heran dengan apa yang akan dilakukan Bill.


"Aku sarankan kau untuk tidak bergerak, Drac. Kalau bergerak, organ-organ dalam perutmu bisa saja bertukar tempat sendiri," ujar Bill.


Drac membulatkan mata. Siapa yang tidak kaget saat mendengar ada orang bicara begitu?


Drac yang mulai takut, mengerahkan tenaga agar bisa lepas dari tali yang menjerat. Namun tetap tidak bisa.


"Apa yang kau lakukan, Bill?" Winter akhirnya penasaran dengan rencana Bill.


"Aku punya saran untuk bisnis pengganti jual beli manusia Tiger Danger. Yaitu bisnis organ tubuh manusia. Tapi... Kita hanya akan mengambil organ tubuh orang-orang keparat di dunia ini." Bill menjawab sambil mengambil pisau bedahnya. Dia tersenyum. Sedangkan Drac mulai gemetar ketakutan. Mengingat pisau bedah dikenal lebih tajam dibanding pisau biasa.


"Mmph! Mmph!" Drac memohon dengan tatapan mata agar Bill tidak menyentuhnya. Tetapi permohonannya tentu diabaikan oleh Bill. Lelaki itu justru mulai membelah bagian perut Bill.


"Sial! Dia lebih gila darimu!" kata Five kepada Winter.


Winter kehabisan kata-kata. Dia membuang muka ketika melihat perut Drac sudah terbelah. Memperlihatkan organ-organ dalam yang tersusun.