
...✫✫✫...
"Aku rasa kau salah memilih lawan," cetus Rylie sambil melipat tangan ke depan dada.
Bill perlahan berdiri. Dia tidak lupa mengusap darah yang belepotan di sekitar bibir.
"Lawanlah aku," ucap Rylie lagi. Dia melepas jaket kulitnya. Lalu melemparkan jaket itu kepada Rick.
Bill memperhatikan Rylie dari ujung kaki sampai kepala. Dengan tampilan feminin, dia merasa anak perempuan itu tidak ahli berkelahi.
"Tentu saja. Aku akan melawanmu." Bill melakukan pose kuda-kuda. Ia siap menghadapi Rylie yang menurutnya bisa dirinya kalahkan.
Rylie menarik sudut bibirnya dengan angkuh. Dia memutar tubuhnya dengan anggun. Namun siapa yang menduga? Setelah Rylie memutar badan, tendangan langsung menghantam dada Bill. Anak lelaki tersebut sontak terjatuh untuk yang kesekian kalinya.
"Cukup! Bill sudah lemah. Biar aku yang melawanmu." Lexy mengajukan dirinya.
"Tentu saja boleh," sahut Rylie. Ia berdiri mematung dan tersenyum. Membiarkan Lexy menyerangnya terlebih dahulu.
Rylie dapat dengan mudah menghindar. Di waktu yang tak terduga, dia menyerang leher Lexy degan jari tangan yang dirapatkan. Serangan Rylie sukses memberikan sensasi kejut di leher Lexy. Mata anak perempuan itu seketika memerah. Lexy langsung memegangi lehernya yang tercekat dalam sekian detik.
Melihat Bill dan Lexy sudah kewalahan, Rylie mengakhiri perlawanannya. Dia kembali memasang jaket kulit.
"Hmmh... Mungkin Dave benar. Sia-sia mengajari pemula seperti kalian," ungkap Rylie. Dia hendak beranjak.
"Siapapun kau, aku harap kau bersedia membantuku dan Lexy. Apa kau tidak mau memiliki teman yang sepantaran denganmu? Aku dan Lexy sudah berjanji akan menjadi anggota yang setia kepada ayahmu. Jadi izinkan kami juga untuk setia kepadamu..." ucap Bill sembari menahan rasa sakit di tubuhnya. Dia menatap ke arah Rylie penuh harap.
Rylie yang tadinya hendak beranjak, berhenti melangkah. Dia tertarik mendengar kata 'teman' yang disebutkan Bill. Mengingat dirinya tidak memiliki satu pun teman di markas sang ayah. Bahkan Rylie juga selalu sendiri saat di sekolah.
"Teman?" Rylie menoleh. Dia menatap Bill dan Lexy secara bergantian.
"Kepribadianku agak berbeda dari anak-anak pada umumnya. Banyak anak seumuranku yang enggan menjadi temanku. Aku tidak yakin kalian--"
"Kami akan tetap menjadi temanmu!" Bill sengaja memotong perkataan Rylie.
"Kami akan menerima bagaimana pun jati dirimu. Aku dan Bill berjanji akan jadi teman terbaikmu." Lexy ikut angkat suara. Bill lantas mengangguk sebagai pertanda setuju.
Rylie memiringkan kepala. Dia berbalik dan tersenyum. Mengamati kesungguhan Bill dan Lexy. Sampai akhirnya dia setuju untuk membantu dua anak yang satu tahun lebih tua darinya tersebut.
Hari demi hari berlalu. Bill dan Lexy mulai mengenal bagaimana Rylie. Anak itu memang memiliki pola pikir psiko. Dia tidak akan segan-segan menyakiti orang yang berani mengganggunya. Sikap Rylie itu sama sekali bukan hal buruk bagi Bill dan Lexy. Keduanya justru semakin menyukai Rylie. Mereka benar-benar sefrekuensi. Hingga pertemanan di antara ketiganya lama-kelamaan kian erat.
Melihat kedekatan Rylie dengan Bill dan Lexy, Ron merasa cukup terganggu. Dia takut putrinya terlalu akrab dengan Bill dan Lexy. Ada sesuatu yang ditakutkan Ron. Sesuatu yang hanya diketahui dirinya sendiri. Meskipun begitu, Ron membiarkan Bill dan Lexy untuk terus berlatih sampai waktunya tiba. Ron berharap dua anak itu gagal.
Di setiap harinya, Bill, Rylie, dan Lexy tidak pernah melewatkan hari untuk berlatih. Mereka selalu dilatih oleh Rick dan Ken. Dari ketiga anak itu, Bill menjadi anak yang paling gencar berlatih. Bahkan saat malam, dia seringkali menyelinap ke tempat latihan. Kemudian berlatih sendirian di sana.
"Aku yakin kau bisa jadi kuat!" gumam Bill sembari menatap dirinya di pantulan cermin. Dia baru saja selesai berlatih tinju di samsak selama satu jam lebih.
"Tapi aku masih harus mengatasi satu hal," ucap Bill. Dia terpikir untuk bersekolah. Bill akan membuktikan bahwa dirinya bisa jadi orang yang pintar. Ia akan membicarakannya kepada Ron nanti.
Saat memiliki kesempatan, Bill berusaha mengajak Ron bicara dan meminta untuk di sekolahkan. Akan tetapi Ron menolak tegas keinginan Bill.
Ketika Bill bertanya, Ron selalu menjawab tidak dan pergi begitu saja. Lelaki dewasa itu terlihat selalu disibukkan dengan sesuatu.
"Ayahku memang begitu. Aku bahkan jarang bicara dengannya. Tapi dia sangat protektif kepadaku," ucap Rylie. Sebenarnya dia juga sudah memohon kepada Ron untuk membantu Bill. Namun sang ayah tetap menolak.
"Kau yakin ingin pergi sekolah?" tanya Lexy.
"Ya, aku sangat yakin. Kau?" tanggap Bill.
Lexy menggeleng. "Tidak. Aku sudah merasa nyaman di sini. Lagi pula aku bisa belajar sendiri," sahutnya.
Tiga bulan terlewat. Keahlian berkelahi Bill dan Lexy semakin hebat. Di usianya yang masih muda, Bill sudah memiliki otot kuat. Dia hanya perlu waktu lebih lama agar bisa membentuk tubuhnya jadi kekar.
Selama tiga bulan lamanya, Bill masih belum bisa membuat Ron setuju untuk menyekolahkannya. Sampai suatu hari, tepat di tanggal 29 Juni 2002, Bill tidak sengaja mendengar pembicaraan Ron, Five, dan Winter. Ketiganya membicarakan taruhan besar-besaran yang selalu dilakukan para bos mafia di dunia. Yaitu taruhan piala dunia.
"Tahun 1998 Brazil kalah. Jadi aku merasa tidak yakin kalau tahun ini Brazil akan menang," cetus Winter.
"Ya, permainan mereka di turnamen sebelumnya kurang memuaskan. Aku yakin mereka akan kalah lagi. Tapi bisa saja Brazil akan menang kali ini." Ron tampaknya belum membuat pilihan atas taruhannya.
"Apa yang kau pertaruhkan kali ini?" tanya Five. Bill yang berdiri di depan pintu terus menguping pembicaraan.
"Markasku yang ada di Dubai," jawab Ron.
"Apa?! Kenapa kau mempertaruhkan itu, Bos? Bisnis di sana berjalan dengan sangat baik!" protes Winter.
"Itulah alasan aku mempertaruhkannya. Kita harus memberikan taruhan yang berani. Semua bos mafia melakukan semua itu. Aku akan dibilang pengecut jika mempertaruhkan hal kecil," jelas Ron.
"Kalau begitu kau harus menang taruhan!" imbuh Five.
"Tentu saja. Aku bahkan mengirimkan mata-mata untuk melihat bagaimana perkembangan dua tim sepak bola yang melaju ke final."
"Lalu bagaimana?"
"Jerman cenderung berlatih dengan baik."
"Sudah kuduga. Brazil pasti kalah lagi. Dan aku--"
"Tidak!" seru Bill. Dia membuka pintu begitu saja. Ron, Five, dan Winter sontak menoleh.
"What the f**k!" umpat Winter sambil berdiri.
"Apa yang kau lakukan, Bill? Kau menguping pembicaraan kami?!" timpal Five. Menatap tak percaya.
"Aku tidak sengaja lewat dan merasa tertarik mendengarkan kalian bicara," ungkap Bill.
"Lalu? Kau mau apa?!" Ron menuntut jawaban.
"Pilihlah Brazil! Tahun ini mereka akan menang!" kata Bill dengan penuh keyakinan. Sebagai orang dari masa depan, dia tentu mengetahui segala kejadian di tahun-tahun yang telah terlewat. Termasuk perihal piala dunia.
Tidak jarang Bill menonton piala dunia saat bersama The Joker. Dia sering disuruh untuk menuangkan minuman kala itu. Namun Bill selalu menikmati pertandingan sepak bola yang berlangsung. Negara-negara yang meraih kemenangan sudah di ingat jelas dalam kepalanya.
Ron, Five, dan Winter tergelak. Mereka tentu tidak mempercayai omongan seorang anak berusia 13 tahun.
"Bagaimana jika aku dan kau juga membuat taruhan, Bos? Kalau aku menang, kau harus mengangkatku dan Lexy jadi anggota resmi. Lalu menyekolahkanku ke sekolah terbaik di negeri ini," usul Bill yang lagi-lagi menjadi bahan tertawaan semua orang.
"Anak ini sangat menghibur. Dia harusnya menjadi pelawak," kata Five.
Ron berhenti tertawa. Dia memasang ekspresi serius sembari menatap Bill. "Lalu jika kau kalah? Kau akan melakukan apa untukku?"
"Bunuh saja aku. Jual semua organ-organ tubuhku," tantang Bill.
Ron, Winter, dan Five terperangah tak percaya. Mereka tidak menyangka Bill melakukan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk taruhan kecil.
"Shi*t!" Ron berdiri dan berjalan ke hadapan Bill. Dia mengulurkan tangan. "Tapi itu sangat sepadan dengan permintaanmu. Aku setuju bertaruh denganmu. Berjanjilah kau tidak akan menangis kalau kalah," ucapnya. Ron tentu berharap Bill akan kalah. Sehingga anak itu bisa pergi dari markas secepatnya.
"Deal!" Bill menyambut tangan Ron. Keduanya saling tersenyum licik.