
...✫✫✫...
Setelah membuat Joseph tidak sadar, Bill berniat membunuh Matilda, Selena, dan Thomas. Ia mengumpulkan semua keluarga Owens di ruang tengah.
Bill memberi isyarat kepada Winter dan Five. Dia menyuruh mereka untuk membunuh Selena dan Thomas.
Di depan pintu, Lexy dan Rylie bertugas berjaga. Mereka juga bisa melihat apa yang akan dilakukan Bill.
"Aku tidak menyangka Bill akan jadi sekejam ini," bisik Lexy ke telinga Rylie.
"Ya, aku tahu. Dia sangat berbeda." Rylie. Balas berbisik. Dia dan Lexy sama-sama memandangi Bill.
Selena, Matilda, dan Thomas dikeluarkan dari kantong mayat. Kain yang membekap mulut mereka dilepas. Setelah itu barulah Bill dan kawan-kawan membius mereka.
Dalam melakukan segala kejahatannya, Bill dan yang lain tentu menggunakan sarung tangan.
Setelah tiga tawanan pingsan, Bill mengeluarkan pisau dari saku celana. Dia membiarkan Selena dan Thomas dibunuh oleh Winter dan Five. Sedangkan Bill sendiri akan mengurus Matilda. Lelaki tersebut berjalan mendekati Matilda yang telah tak sadarkan diri.
Segala siksaan dan perlakuan kasar yang pernah dilewati Bill kembali teringat. Semua itu tergambar jelas di kepalanya.
Bill menarik sudut bibirnya ke atas. Tanpa pikir panjang, dia menusukkan pisau ke tempat dimana jantung Matilda berada.
Jleb!
Seketika darah mengucur deras dari dada Matilda. Tubuh wanita itu bergetar hebat. Mata Matilda terbuka lebar. Dia tentu tersiksa dengan pisau yang ditusukkan Bill di dadanya.
"Kkkk.... Kkk..." Matilda akhirnya meregang nyawa. Selanjutnya hal serupa juga terjadi pada Selena dan Thomas. Leher mereka disayat dengan pisau yang sama. Bill menggunakan satu pisau agar bisa menjadikan Joseph sebagai penjahatnya.
Setelah memastikan Selena, Matilda, dan Thomas mati, Bill sengaja membuat Joseph memegang pisau yang tadi digunakannya untuk membunuh. Kini sempurna sudah rencana Bill. Dia dan yang lain hanya perlu pergi dari rumah Joseph.
Selang beberapa menit setelah kepergian Bill dan kawan-kawan, Joseph sadar dari pingsan. Matanya membulat sempurna tatkala melihat mayat istri dan dua anaknya di lantai.
"Tidaaaak! Tidaaaak!" pekik Joseph histeris. Dia tambah dibuat kaget saat melihat ada pisau dalam genggaman tangannya. Joseph langsung membuang pisau itu jauh-jauh. Dia segera menghampiri mayat Thomas. Kebetulan posisi Thomas berada paling dekat dengannya. Joseph lalu menangis tersedu-sedu.
Mendengar adanya keributan, para penjaga terbangun. Mereka segera berdatangan. Para penjaga tentu sangat kaget melihat pemandangan mengerikan di dalam rumah.
"Cepat panggil bantuan!" titah Joseph yang langsung dilakukan oleh salah satu penjaganya.
Di sisi lain, Bill sedang ada di mobil. Dia dan teman-temannya dalam perjalanan pulang. Bill mendengus lega dan tersenyum lebar.
"Aku merasa sangat damai sekarang..." lirih Bill sambil memejamkan mata.
"Kau puas dengan dendam beringasmu itu?" tukas Rylie.
"Bukankah sudah jelas?" sahut Bill. Jelas dia tidak membantah pertanyaan Rylie.
"Kalau begitu kau harus berterima kasih pada kami, Bill!" seru Five yang sibuk menyetir.
"Tenang saja. Aku sudah menyiapkan pesta besar. Terutama setelah memastikan prediksiku tepat sasaran," tanggap Bill.
"Prediksi? Maksudmu?" Winter menuntut jawaban. Dia duduk di sebelah Five.
Bill tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Tak lama kemudian Bill dan yang lain tiba di markas.
Bill langsung beristirahat ke kamar. Ia menunggu sampai pagi tiba. Televisi terus menyala karena dirinya tak sabar mendengar berita tentang keluarga Owens.
Bill memprediksi kalau Joseph akan bunuh diri. Berita yang sekarang dilihatnya membuktikan kalau prediksinya tepat sasaran. Bill yakin, Joseph pasti akan bunuh diri saat sadar kalau dirinya akan menjadi tersangka pembunuhan. Selain itu, terbunuhnya seluruh keluarga Owens, juga pasti akan membuat Joseph tidak berpikir dua kali untuk menembak kepalanya sendiri.
Dalam sekejap berita tentang keluarga Owens menyebar luas. Semua orang juga menganggap Joseph sebagai pelaku yang membunuh istri dan dua anaknya sendiri.
Satu hari berlalu. Bill mengadakan pesta untuk merayakan kemenangan atas dendam yang dia lakukan.
Ron juga sepenuhnya mempercayai Bill. Terutama setelah kubu mafianya dapat disembunyikan dengan baik dari publik.
Musik DJ menggema. Seluruh anggota mafia Tiger Danger bersenang-senang. Mereka menikmati suguhan penari striptis yang disewa oleh Bill. Saga bahkan terlihat ada di pesta. Dia duduk di sebelah Ron. Bos mafia itu mulai menyukai keberadaan binatang tersebut.
Sementara Bill, dia hanya muncul sebentar di pesta. Lelaki itu mendadak menghilang dan membuat dua perempuan yang menyukainya mencari.
Bill ternyata ada di kamar. Dia duduk di sofa sambil menikmati sampanye. Bill mengirim pesan pada Lexy dan Rylie secara bersamaan. Dia memberitahu pada mereka kalau dirinya ada di kamar.
Orang yang pertama datang adalah Lexy. Selanjutnya, barulah disusul oleh Rylie.
"Kau kenapa di sini?" tanya Lexy.
"Sepertinya dia tidak begitu menyukai pestanya," komentar Rylie.
"Tidak. Aku hanya ingin membuat pesta pribadi. Jadi aku memanggil kalian berdua." Bill berdiri. Ia menghampiri Lexy dan Rylie yang berdiri bersebelahan.
"Apa maumu?" tukas Rylie.
"Ayo kita bermain taruhan kartu remi lagi!" seru Bill. Lexy dan Rylie reflek bertukar pandang. Keduanya lantas setuju saja. Lagi pula sekarang adalah pestanya Bill. Mereka ingin membuat lelaki itu senang. Seperti sebelumnya, pemenang permainan akan mendapatkan apapun yang di inginkan dari dua lawannya.
Bill tergelak senang saat bisa memenangkan permainan pertama. "Sekarang aku akan mengatakan keinginanku," ujarnya.
"Ayo putar botolnya," suruh Rylie.
"Tidak perlu memutar botol. Kau bisa memilih siapa yang akan mewujudkan keinginanmu," ucap Lexy cemberut. Walau pernah bercinta dengan Bill, dia merasa lelaki itu tetap menyukai Rylie.
"Ide bagus, Lex. Karena kebetulan aku menginginkan kalian berdua," ungkap Bill.
"Maksudmu?" dahi Rylie berkerut.
Bill tersenyum miring. Dia memegangi dagu Lexy. Lalu mencium bibir perempuan itu. Setelahnya, Bill beralih mencium bibir Rylie.
Mata Lexy dan Rylie membulat. Kini mereka paham dengan yang di inginkan Bill.
"Semakin hari cara kau bercinta semakin parah," imbuh Lexy. Dia memperhatikan Bill dan Rylie yang masih asyik berciuman.
Lexy menggigit bibir bawahnya. Dia menarik Bill. Hingga tautan bibir lelaki tersebut lepas dari mulut Rylie. Saat itulah Lexy duduk ke pangkuan Bill. Lalu mengambil alih posisi Rylie tadi.
Rylie segera bergabung. Dia duduk ke belakang Bill. Menciumi leher lelaki tersebut sambil melepaskan pakaiannya. Malam itu, Bill bercinta dengan dua sahabatnya sendiri.
...____...
Catatan Author :
Masih ada satu bab lagi setelah ini.