Dokter Mafia Kejam!

Dokter Mafia Kejam!
Bab 15 - Dendam Yang Serius


...✫✫✫...


Dengan cepat Bill dan Lexy merunduk. Mereka bersembunyi di antara rerumputan yang tinggi. Keadaan yang gelap gulita juga mendukung persembunyian Bill, Lexy, dan Saga. Sehingga para The Eve tidak dapat melihat keberadaan mereka.


Meskipun begitu, The Eve tetap curiga. Dua di antara mereka berjalan menuju tempat persembunyian Bill, Lexy, dan Saga.


"Mereka ke sini," bisik Lexy. Dalam mode waspada.


"Sekarang, Saga!" perintah Bill.


Saga yang sudah tahu rencana Bill, segera melompat keluar dari tempat persembunyian. Lalu berlari ke balik kabin. Saga memang mendapat tugas untuk menarik perhatian The Eve.


Benar saja, seluruh perhatian anggota The Eve hanya tertuju ke tempat persembunyian Saga. Mereka juga langsung berdiri saling berdekatan. Terlihat ada tiga orang yang memegang pistol. Sedangkan dua yang lainnya memegang pisau.


Lexy segera mengeluarkan bom buatan Bill dari tas. Sebelum itu, dia dan Bill mengenakan masker terlebih dahulu. Setelahnya, barulah Lexy melemparkan bom tepat ke arah para The Eve.


Bunyi letupan terdengar. Obat bius seketika menyebar melalui asap. Dua anggota The Eve berbalik ke arah Bill dan Lexy yang sudah keluar dari tempat persembunyian. Namun belum sempat menyerang, mereka pingsan. Semua anggota The Eve tidak sadarkan diri.


"Sekarang bagaimana kita membawa mereka?" Lexy menatap Bill.


"Mudah, bawa mobilnya ke sini." Bill membalas tatapan Lexy.


"Kau yang bawa! Aku rekanmu, Bill. Bukan bawahanmu," tukas Lexy.


Bill memutar bola mata jengah. Ia segera beranjak tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Dari balik kabin, Saga segera keluar. Dia bergegas mencari bonekanya yang sempat dilepas di rerumputan.


"Saga! Bonekanya ada padaku." Lexy memperlihatkan boneka Saga. Dia tadi sempat mengambil boneka itu saat melihat Saga melepaskannya.


Misi Bill berjalan lancar. Kini dia sedang sibuk mengoperasi satu per satu anggota The Eve. Mengambil organ-organ tubuh yang dirinya butuhkan.


Hampir setengah hari Bill melakukan operasi. Dia yang sudah selesai, menyusun organ-organ tubuh ke dalam toples bersih.


Pintu tiba-tiba terbuka. Rick muncul dari sana dengan nafas tersengal-sengal. Dia sepertinya membawakan kabar penting.


"Bill! Bos ingin bicara kepadamu!" Rick memberikan ponsel kepada Bill. "Dia mencoba meneleponmu. Tapi kau tidak kunjung mengangkat!" tambahnya.


"Itu karena aku sedang sibuk. Aku juga meninggalkan ponselku di kamar." Bill memberi alasan. Dia segera meletakkan ponsel Rick ke telinga.


"Ada apa, Bos? Sepenting apa hal yang ingin kau--"


"Kau bisa melakukan operasi bukan?!" ujar Ron dari seberang telepon. Ia memotong perkataan Bill.


"Ya, tapi--"


"Bagus! Kebetulan ada bos mafia yang sedang sakit keras. Jika kau bisa menyembuhkannya, kau akan mendapat kepercayaanku sepenuhnya, Bill! Dan aku pastikan kita akan mendapatkan uang yang banyak!"


"Apa kau berniat mejadikanku ladang bisnismu sekarang?" Bill menyelidik.


"Anggaplah begitu. Lagi pula aku tidak mau menyia-nyiakan uangku yang dikorbankan untuk pendidikanmu. Jadi bisa dibilang aku ingin kau membayarnya dengan keahlianmu," tukas Ron.


Bill menarik sudut bibirnya ke atas. "Baiklah. Bawalah bos mafia itu kepadaku. Aku juga butuh seseorang yang sakit untuk bahan percobaan," katanya. Memutuskan untuk setuju.


Bill melakukan operasi dengan lancar. Dengan keahliannya, dia mampu menyembuhkan seorang bos mafia dari penyakit kanker. Karena hal itu, Ron mendapatkan banyak uang. Nama Bill semakin dikenal dikalangan penjahat kelas kakap.


Karena sudah sering praktek sendiri, Bill dapat menyelesaikan pendidikan kedokterannya dengan cepat. Dia juga dikagumi oleh kalangan orang biasa. Sekarang dia baru saja menerima penghargaan dari pihak Universitas tempatnya kuliah. Kebetulan Bill meraih prestasi sangat luar biasa. Nilainya menjadi yang tertinggi di bidang akademik dan praktek.


Dua wanita yang menjadi korban Bill demi modus nilai akademik, lantas merasa bangga. Pertama ada mahasiswi bernama Emma. Dia merupakan mahasiswi terpintar di Fakultas Kedokteran. Sedangkan yang satunya adalah dosen bernama Helen. Kedua wanita itu tentu tidak tahu sudah diduakan Bill.


Sementara di kursi paling belakang, ada Rylie, Lexy, Rick, Ken, dan Five. Mereka hadir untuk melihat keberhasilan Bill. Namun tidak untuk Five, kedatangannya berdasarkan suruhan dari Ron.


Bill turun dari panggung. Saat itulah Emma dan Helen tidak sengaja menghampiri secara bersamaan. Keduanya sontak bingung.


"Hai guys. Aku sangat berterima kasih atas semua bantuan kalian." Bill memegangi dadanya dan meneruskan, "honestly, aku sangat menghargainya."


"Babe, kau bicara--" ucapan Emma terhenti ketika Bill mengecup bibirnya.


"Babe?" Helen membulatkan mata. Terutama saat Bill tiba-tiba mencium Emma. Belum sempat berucap, dia juga mendapat ciuman di bibir dari Bill.


Dari kejauhan, Rylie, Lexy, dan yang lain bisa melihat kelakuan Bill. Rylie, Rick, dan, Ken terperangah tak percaya. Sementara Lexy dan Five tampak melipat tangan di dada. Keduanya tentu sudah tahu bagaimana sikap asli Bill. Terutama Lexy.


"Dia benar-benar bajingan," komentar Rylie sembari mengepalkan tinju.


Lexy melirik sinis. "Tapi kau sudah tidur dengan Bill dua kali," sahutnya.


"Apa?!" Rick, Ken, dan Five kaget bersamaan.


"Lexy!" Rylie sigap memukul kepala Lexy. Temannya itu tidak sengaja keceplosan.


"Itu bukan apa-apa. Bill cukup hebat." Rylie segera memberi alasan. Dia bermaksud membicarakan permainan Bill saat bercinta.


"Cu-cukup hebat?" Ken menuntut jawaban.


"Tidak usah berlagak polos, Ken!" Lexy memegangi pundak Ken.


Sementara itu, Bill terlihat masih berhadapan dengan dua pacarnya. Ia tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Karena aku sudah ketahuan, aku rasa sebaiknya hubungan kita berakhir," ucap Bill sembari memberikan buket bunga kepada Helen. Tatapannya segera diarahkan kepada Emma. "Aku memberikannya pada Miss Helen karena dia dosen kita," ucapnya yang lagi-lagi tersenyum. Kemudian berjalan melewati Emma dan Helen. Kedua wanita itu tercengang. Mereka juga saling bertukar pandang. Kehabisan kata-kata menanggapi sikap kurang ajar dari Bill.


Sambil memasukkan tangan ke saku celana, Bill melangkah gagah. Dengan setelan wisuda itu dia memasang raut wajah garangnya. Membuat aura kejantanan Bill semakin berkharisma. Namun tebar pesona yang dilakukannya harus gagal ketika ada seseorang yang mendadak menendang pantatnya.


Bill nyaris terhuyung ke lantai. Tetapi dia mampu bertahan dan segera menengok ke belakang.


"Lexy!" geram Bill. Orang yang menendangnya tidak lain adalah Lexy.


"Itu ucapan selamat dariku," ujar Lexy.


"Ucapan selamat darimu sangat tidak normal," komentar Bill. Meskipun begitu, dia tersenyum. Senyuman tulus penuh kasih sayang yang selalu diberikannya pada Lexy. Walau berfirasat kalau gadis itu menyukainya, Bill selalu menganggap Lexy sebagai saudara paling utama.


Bersamaan dengan itu, Rylie muncul. Dia sengaja berjalan menabrak Bill sambil memasang raut wajah cemberut.


"Apa dia cemburu?" tanya Bill.


"Tanya saja sendiri," jawab Lexy ketus. "Five dan yang lain sudah menunggu di luar," sambungnya.


Bill mengangguk. Dia berderap keluar dari gedung. Melangkah senada dengan Lexy yang ada di sampingnya.


"Lex, setelah ini aku ingin kau membantuku melakukan skenario perampokan," cetus Bill.


Dahi Lexy berkerut. "Untuk?" tanyanya.


"Untuk menipu keluarga Owens. Yang jelas tugas ini sangat mudah. Aku akan mengajak Rick dan yang lainnya juga," jelas Bill. Dia kali ini sangat serius. Mengingat dendamnya terhadap keluarga Owens bukanlah main-main.