Dokter Mafia Kejam!

Dokter Mafia Kejam!
Bab 21 - Praktek Rahasia


...✫✫✫...


Bill tentu ingat dengan lelaki yang menyapanya. Dia ternyata adalah Khaled. Bos mafia Qatar yang pernah kalah taruhan dengan Bill. Tidak heran Khaled menanyakan tentang Saga. Sebab harimau itu diambil Bill darinya.


"Dia sangat baik." Bill menjawab sambil berjalan mendekat.


"Kau masih ingat dengannya kan?" tanya Ron.


"Tentu saja," tanggap Bill sembari tersenyum. Ia segera duduk ke sofa. Bergabung bersama Ron dan Khaled.


"Uhuk! Uhuk!" Khaled tiba-tiba batuk cukup parah. Atensi Bill dan Ron sontak tertuju ke arahnya.


"Jadi begini, Khaled sedang sakit. Dia ingin menyewa seorang dokter agar penyakitnya bisa disembuhkan lebih cepat," ungkap Ron.


"Benarkah begitu?" Bill menyeringai. Dia duduk menyandar sembari memegangi dagu dengan satu tangan. Muncul pemikiran untuk memanfaatkan keadaan.


"Aku tahu makna senyuman licik itu," tukas Ron penuh curiga.


"Hahaha!" Bill tergelak. "Baguslah kalau kau tahu," sambungnya.


Ron memutar bola mata jengah. "Sudah kubilang. Dia pasti akan memanfaatkan tawaran ini untuk keuntungannya," ucapnya. Memberitahu Khaled.


"Itu wajar. Aku yakin kalau kau dan aku berada di posisi Bill, pasti akan melakukan hal sama," sahut Khaled. Dia menatap ke arah Bill. "Jadi apa yang kau mau?" tanyanya.


Bill kembali tersenyum miring. Dia segera mengatakan apa yang di inginkannya. Yaitu peralatan medis lengkap, serta asisten yang juga menguasai ilmu medis seperti dirinya.


Khaled tidak butuh lama untuk berpikir. Dia akan mengabulkan keinginan Bill. Dengan catatan, Bill harus bersedia merawatnya sampai sembuh.


Perjanjian lantas dilakukan oleh Bill dan Khaled. Karena perjanjian itu, Bill mendapatkan bangunan praktek rahasianya, yang hanya dikhususkan untuk penjahat kelas kakap.


Semuanya tentu membutuhkan proses. Terutama untuk membangun rumah sakit rahasia Bill. Sambil mengutamakan Khaled, dia harus mencari tenaga medis untuk bekerjasama.


Sampai akhirnya keinginan Bill benar-benar terwujud. Dia memiliki tempat praktek rahasianya dan asisten medis. Semuanya benar-benar berjalan dengan baik bagi Bill.


Satu minggu berlalu. Kini Bill sedang berada di rumah sakit umum tempatnya bekerja. Dia merasa kelelahan karena jadwal yang begitu padat.


"Aku harus secepatnya balas dendam pada keluarga Owens. Sehingga aku bisa semakin cepat berhenti bekerja di sini," gumam Bill. Dia mendadak mendapat panggilan telepon dari Selena. Wanita itu mengundangnya ke rumah. Sebab Selena mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran di sana.


"Aku pasti datang." Itulah jawaban Bill untuk Selena. Dia yang tadinya merasa lelah, menjadi bersemangat. Bill segera beranjak dari rumah sakit.


Sebelum mendatangi rumah keluarga Owens, Bill tidak lupa membelikan Selena hadiah. Dia sengaja memilih kalung berlian agar bisa membuat wanita tersebut terkesan.


"Aku pilih yang itu!" Bill berseru bersamaan dengan seorang perempuan. Dia langsung menoleh ke asal sumber suara. Ternyata perempuan itu adalah Rylie.


"Membeli sesuatu," jawab Bill sambil membuang muka.


"Perhiasan?" Rylie menuntut jawaban.


"Mungkin. Aku akan membelikan pacarku hadiah," jelas Bill.


Rylie mendelik. Ada rasa cemburu sekaligus marah yang langsung menyelimuti. "Dengar, Bill! Aku tegaskan kepadamu kalau hubungan satu malam kita berakhir di sini. Kumohon jangan paksa aku untuk melakukannya lagi!" ujarnya. Lalu beranjak lebih dulu.


Bill hanya diam. Meski dia menyukai Rylie, dirinya tidak pernah berniat ingin membangun hubungan serius. Bill segera memesan kalung yang tadi ingin dibelinya. Ia sengaja membeli dua agar yang satunya bisa diberikan kepada Rylie. Sebab perempuan tersebut tadi juga menginginkan kalung pilihannya.


Sementara itu, Rylie baru keluar dari toko perhiasan. Dia berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah Bill.


"Dia tidak mencoba menghentikanku? Oh, jadi dia benar-benar ingin membuat hubunganku dengannya berakhir?" Rylie mengomel sendiri. Dia mengepalkan tinju di kedua tangan. Kemudian menendangi bak sampah dengan penuh amarah. Jujur saja, Rylie tidak bisa mengelak kalau dirinya sudah jatuh cinta kepada Bill. Mungkin itulah alasan dia kesulitan menolak segala sentuhan lelaki tersebut.


"Kau kenapa mengamuk?" tegur Bill yang tiba-tiba muncul.


Rylie membulatkan mata. Dia langsung berhenti menendangi bak sampah.


"Enyahlah!" hardik Rylie. Melihat wajah Bill terus-menerus, hanya membuatnya tambah kesal.


Akan tetapi Bill sigap meraih lengan Rylie. Dia memaksa perempuan itu untuk menggenggam sebuah kotak perhiasan.


"Ambillah! Kau tadi menginginkannya kan?" ujar Bill. Setelah memastikan Rylie menerima kalung pembeliannya, dia segera pergi dengan langkah gagah.


"Kau pikir aku mau menerimanya! Jangan harap hal seperti ini bisa merubah pemikiranku!" geram Rylie seraya melempar kotak perhiasan ke arah Bill. Kotak itu terhempas dan terbuka sendiri. Sehingga kalung berlian yang indah terpampang nyata.


"Kalau tidak mau, berikan saja pada Lexy!" sahut Bill yang terus melangkah maju.


Rylie yang sempat marah, tidak bisa melepaskan perhatiannya dari kalung pemberian Bill. Dia ingin memungut kalung itu, tetapi merasa gengsi.


Saat Rylie terpaku dengan kebimbangan, seorang wanita paruh baya terlihat hendak mengambil kalung berliannya. Mengingat kalung itu tergeletak di tanah.


"Hei! Jangan sentuh itu!" tegas Rylie. Dia berlari mendekat dan langsung mengambil kalung berlian.


"Kau sangat murahan, Rylie! Aaarghhh!" Rylie merutuk dirinya sendiri. Karena dia tidak pernah bisa menghindar dari pesona Bill.


Di sisi lain, Bill sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga Owens. Ketika telah tiba di tempat tujuan, dia disambut oleh semua anggota keluarga Owens. Termasuk Joseph.


Pesta yang digelar begitu mewah. Hanya didatangi oleh pengusaha besar, pejabat, dan orang- orang kaya.


Bill berusaha sebisa mungkin untuk berbaur. Tujuannya hanya satu, yaitu berniat mencari informasi lebih banyak. Terutama mengenai cara terbaik untuk menghancurkan Joseph. Dia berniat ingin menjelajahi rumah keluarga Owens agar bisa menemukan sesuatu yang penting.