
Langkah Airin terasa ringan. Dia menarik nafas dan menghembuskan nafasnya berulang kali ketika keluar dari Pengadilan. Menatap matahari yang sembunyi di balik awan abu-abu. Sepertinya hujan akan turun, mewakilinya untuk menangis.
Airin tersenyum. Kemudian, masuk kedalam mobil.
"Bagaimana, lega?" tanya Kak Ikmal.
Airin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Kak Ikmal kemudian, mengusap kepala Airin dengan lembut.
Kerisauan masih terperangkap dalam hatinya. Memikirkan pada akhirnya Ringga juga tetap tidak memiliki Ayah. Memikirkan bagaimana caranya dia menceritakan kehidupannya sebagai seorang istri yang telah berakhir kepada Ibunya.
Sepanjang perjalanan Airin masih gugup. Tangannya basah karena keringat dingin. Pulang kerumah orang tuanya, setelah sekian lama sembunyi di rumah Kak Ikmal. Bertemu dengan ibunya, tidak memberikan kabar bahagia dengan lahirnya seorang cucu perempuan yang selalu ibunya dambakan. Melainkan, akan mendengar perceraian Airin dan Angga.
Mobil berhenti di halaman rumahnya. Kak Ikmal enggan turun dan memilih kembali ke rumah. Dia juga tidak ingin melihat ibunya bersedih dan menangis di depan matanya.
Dengan langkah berat Airin berjalan memasuki rumah. Melihat ibunya sedang beberes rumah. Kemudian, Airin berlari, memeluk ibunya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung Ibunya.
"Kau kapan pulang, Dek?" tanya Ibunya, menoleh. Airin tersenyum segaris, kemudian menarik tangan Ibunya untuk duduk berdua di sofa sambil berbincang.
Ibunya melirik ke arah perut Airin, kemudian Airin dengan segera merangkul Ibunya.
"Mana bayimu?" tanya Ibunya terbata-bata lirih, dan perlahan mata Ibunya mulai memerah dan basah.
"Maafkan Airin, Bu," jawab Airin.
Ibunya menangis sesenggukan di pundak Airin. Airin menepuk lembut punggung Ibunya agar tenang.
"Apa yang terjadi padamu, Dek?"
Airin hanya diam, air matanya ikut tumpah ketika melihat suara tangisan Ibunya.
"Mana suamimu?"
"Tidak ada"
Ibunya memukul betis Airin berulang kali, karena kesal dengan jawaban Airin.
"Ada apa lagi?"
"Aku dan Angga sudah berpisah, Bu"
Ibunya kali ini memukul punggung Airin berulang kali. Airin yang kesakitan hanya menahannya tanpa melawan.
"Jangan bodoh, ada apa denganmu?"
Airin memberikan sertifikat perceraian dirinya kepada Ibunya. Ibunya kemudian menariknya, dan membacanya dengan seksama. Matanya berjalan kanan kiri mengikuti tiap kata yang tertera di kertas.
"Apa yang membuat kalian bercerai?"
"Airin lelah, Airin ingin hidup bertiga saja dengan Ringga dan Ibu,"
Ibunya memukul punggung Airin sekali lagi, karena masih tidak percaya.
Kemudian, menghela nafas dengan tubuh lemahnya. Airin lalu memeluk Ibunya dengan erat dan mengucapkan kata "maaf" berulang kali. Ibunya diam, dan masih menggenggam kertas itu dengan erat.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Berlalu begitu saja. Airin dengan usianya yang ke 26 tahun telah menyandang status janda. Dia saat ini gigih mencari nafkah dengan bekerja di toko souvenir. Hidupnya lebih bebas dan tidak ada lagi tekanan yang mengusiknya.
Dia telah menyingkirkan semua masa lalunya. Pindah ke tengah Kota. Hidup bersama Ibunya dan Ringga. Membeli rumah kecil yang berhimpitan rumah-rumah lainnya. Tidak seperti saat di kampung, yang halamannya cukup luas bisa untuk bermain bola.
Ibunya memilih mengikuti Airin, karena ingin juga sejenak melupakan kenangannya bersama Almarhum Ayah Airin. Merawat Ringga saat Airin bekerja, menjadi nenek yang sibuk mengasuh cucu siang dan sore hari. Saat dini hari hingga matahari terbit, berjualan sayur di pasar agar tidak bosan.
Senyum yang hilang, mulai tampak kembali. Menjalin hubungan pertemanan dengan teman-teman baru. Namun, Airin masih enggan untuk membuka hatinya untuk pria baru.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu," Airin mengangkat kepalanya, ketika mendengar suara bel, tandanya ada pembeli masuk ke dalam toko.
Senyum itu kemudian mengembang, pria yang memiliki mata coklat dan tatapan lembut itu datang lagi ke Toko seperti hari-hari sebelumnya.
Airin mendekat, dan mengajaknya duduk di teras Toko.
"Mau datang?"
Pria itu menyerahkan undangan. Tertulis nama Angga dan Mona disana.
Airin tersenyum, kemudian memukul pundak pria itu yang bernama Raffi.
"Datanglah denganku," ucap Raffi "kau bilang, sudah melupakan masa lalu,"
Airin mengangguk dan tersenyum.
TAMAT
(Terimakasih untuk para pembaca setia yang telah membantuku bersemangat menyelesaikan kisah cinta pelik Airin, semoga kita mendapatkan pelajaran dalam kisah ini. Jika memulai sesuatu hal dengan kesalahan jangan berharap sepenuhnya akan berakhir dengan kebahagiaan. berhati-hatilah dalam memilih sikap dan keinginan, karena itu yang akan menentukan kehidupanmu untuk kedepannya)
FB@Nioveria kunjungi aku jika rindu, aku akan membuat kisah cinta menarik lainnya.