Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 48


Angga hanya diam menanggapi keinginan Airin. Baginya juga cukup sulit, untuk membuat kedua orang tuanya bisa mencintai Airin seperti mereka masih menaruh cinta kepada Mona yang dianggap seperti anak.


"Sejak kita menikah, bahkan saat aku sakit, mereka tidak datang. Kau pikir aku tidak kecewa?"


"Saat Mona menceritakan kedekatannya dengan orang tuamu terus menerus, padahal aku istrimu, apa kau pikir aku tidak cemburu?"


"Aku diam, karena menunggumu, menunggumu untuk membuat aku dan orang tuamu bisa dekat, seperti menantu lainnya, bahkan mereka juga tidak pernah menyentuh atau menanyakan kabar Ringga Padahal dia cucunya."


Airin berbicara lantang tanpa jeda. Hingga membuat Angga tidak bisa menjawabnya.


Angga menyingkirkan ponselnya, kemudian mendekati Airin. Merangkul pundak Airin.


"Aku ini juga ingin seperti Mona, mendapatkan kasih sayang dari orang tuamu," ucap Airin, sambil menangis. Rasa sakit hati dan kesedihannya selama ini yang terpendam, diluapkannya untuk pertama kali kepada Angga.


"Jika tidak bisa menyukaiku, setidaknya rasa sayang lah dengan Ringga, dia kan anakmu."


Airin mencoba menyingkirkan tangan Angga dari pundaknya, namun Angga semakin mendekat kemudian memeluk Airin dengan erat. Airin pun menuangkan air matanya di dada Angga.


"Aku juga tidak enak dengan orang tuaku, kau tahu? Seakan orangtuamu juga tidak menerima kedua orang tuaku."


"Sudah tenang, nanti aku pikirkan caranya untuk kamu bisa mendapatkan perhatian dari orang tuaku. Saat ini papahku sedang sakit, kau tahu kan? Aku tidak ingin memperumit suasana. Kerjaan menumpuk, dan mau tidak mau aku harus tetap menjenguk papah dan bekerja." ucap Angga, menjelaskan posisinya yang sama juga sulit jika untuk membagi waktu.


"Maafkan aku, ya."


Angga mengusap air mata di pipi Airin, kemudian mencium kening Airin. Airin hanya diam tidak mengatakan apapun.


Pertengkaran itu pun selesai, setelah mengeluarkan isi hati masing-masing. Airin mencoba memahami situasi Angga saat ini.


***


Esok harinya, Angga pagi-pagi sekali berangkat ke jakarta. Namun tidak sendirian, melainkan menyewa seorang tetangga untuk dijadikannya supir sementara hingga tangan kiri Angga sembuh.


Sedang Ringga, menangis sejadi-jadinya, saat datang ke rumah. Melihat papanya sudah pergi, Ringga sangat kecewa berat. Dan akhirnya dibujuk oleh kak Ikmal, jika kak Ikmal akan menggantikan posisi Angga di lomba sekolah nanti.


Ringga sempat tidak mau, dan merajuk tidak ingin pergi ke sekolah. Namun ayahnya Airin juga ikut menasehati dan akhirnya membuat kesepakatan untuk datang juga ke sekolah Ringga, menemani Ringga.


Airin sebenarnya juga sedih, namun bagaimana lagi? Situasinya memang tidak memungkinkan Angga untuk bisa menemani anaknya. Bahkan saat Angga masih merasa sakit setelah mengalami kecelakaan, dia tetap berangkat kerja.


"Papah jahat! Nggak sayang aku!" gerutu Ringga lalu keluar rumah. Ayahnya Airin dan kak Ikmal, mengikuti langkah Ringga dari belakang.


Sedang Airin merasakan luka di hati Ringga, hingga membuatnya menangis.


"Sudah tenang, dia masih anak-anak, nanti kalau sudah tumbuh dewasa juga akan memahami kesibukan Ayahnya," ucap kak Dista.


"Maaf ya kak, aku jadi merepotkan, padahal kakak juga sedang hamil, malah masih sibuk mengurus Ringga" sahut Airin.


"Ringga itu kan juga anakku, aku tidak masalah Rin, kamu banyak istirahat saja biar cepat pulih, jadi bisa gendong ponakan mu nanti,"


Airin tersenyum, menyeka air matanya, kemudian memeluk kak Dista.


***


Nomor telepon Angga sering tidak aktif, dan komunikasi pun semakin jarang.


Airin memikirkan kerinduannya berulang kali, dia mondar-mandir di kamarnya.


"Bagaimana jika aku ke rumahnya di Jakarta?"


pertanyaan itu memenuhi pikiran Airin. Mau tidak mau Airin harus mengalah terlebih dahulu, kerinduannya sangat dalam kepada Angga daripada keegoisannya.


Airin meminta bantuan kak Ikmal untuk mengantarnya ke Jakarta, kerumah orang tua Angga yang baru. Alamat pun sudah dikantongi, tinggal persiapan Airin memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya.


Entah kenapa? Perasaannya tidak karuan, padahal sebelumnya sudah pernah ke rumah mertuanya.


Kak Ikmal sudah duduk di dalam mobil menunggu Airin keluar rumah. Airin berpamitan kepada kedua orang tuanya, dan meminta orang tuanya untuk merahasiakan kepergian Airin ini kepada Ringga.


Setelah mencium kedua tangan ayah dan ibunya, Airin pamit dan masuk kedalam mobil kak Ringga. Keduanya pun memulai perjalanan ke Jakarta dengan 'bismillah'.


"Dia masih tidak mengangkat teleponnya?" tanya kak Ikmal.


Airin mengangguk dan masih terus mencoba menghubungi Angga di sepanjang perjalanannya.


"Maaf ya bang, merepotkan," ucap Airin menoleh ke arah kakaknya.


"Sudah tidak apa-apa, kakak juga merasa ada yang aneh," sahut kak Ikmal.


Perjalanan yang cukup panjang, mobil kak Ikmal sempat berhenti di bengkel, karena bannya pecah. Mau tidak mau waktu perjalanan ke rumah Angga pun semakin terasa lama.


Ponsel Airin berdering, namun bukan Angga yang menelepon, melainkan Ringga. Airin pun segera mematikan ponselnya, dia tidak mau mendengar tangisan Ringga. Karena hal itu akan membuat pikirannya semakin cemas tidak karuan.


Beberapa jalan, lupa Airin ingat hingga beberapa kali tersesat, hingga akhirnya tiba di rumah Angga. Namun, Airin merasa aneh, karena rumah Angga terlihat ramai tamu dan lampu berwarna-warni menyala di sepanjang gerbang hingga masuk kedalam rumah.


Beberapa orang datang dengan mobil mewah masuk kedalam rumah Angga. Pikiran Airin pun semakin risau, kak Ikmal keluar dari mobil dan mendampingi langkah Airin.


Beberapa pengawal berjaga di luar, Airin menanyakan apa yang sedang terjadi di dalam rumah.


"Hari ini pertunangan Tuan Angga dan Mona, Bu," jawab salah satu pengawal.


Sontak Airin dan kak Ikmal pun terkejut. Airin syok dan tiba-tiba tubuhnya lemas. Sedang kak Ikmal, bersikeras masuk kedalam rumah, sambil meneriaki nama Angga berulang kali.


Kegaduhan itu membuat pengawal yang berjaga menarik tangan kak Ikmal, namun kak Ikmal tak gentar terus meneriaki Angga dari luar rumah. Airin menggunakan kesempatan itu, untuk masuk kedalam rumah diam-diam melihat apa yang dikatakan pengawal itu adalah kebenaran yang pahit yang harus diterimanya.


Air mata perlahan tumpah, bersamaan dengan tubuh yang terus gemetar. Dengan nafas yang sesak Airin masuk kedalam rumah. Kemudian berdiri di depan pintu.


"Angga!" teriak Airin lantang.


Hingga semua mata tertuju kepada Airin.


Airin mampu melihat Mona dengan gaun merahnya menoleh ke arah Airin. Sedang Angga pun ikut menoleh. Semua tamu saling berbisik, Airin tidak peduli. Angga mendekat ke arah Airin, namun langkahnya ditahan oleh Mona.


Langkah itu semakin berat. Namun tiba-tiba kak Ikmal berlari mendahului langkah Airin, kemudian memberikan pukulan yang keras di wajah Angga.