Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 74


'Aku terlihat bodoh, ketika berhadapan denganmu dan Mona,'


'Perasaan bersalahku kembali datang. Ketidak percayaanku bahwa kau bisa menjadi milikku selamanya kembali datang. Ketika Mona masih mampu mengendalikan mu dan membuatmu tak bisa menahan diri untuk tidak menemuinya.'


"Kau ini kenapa lagi?" tanya Angga.


"Kau yang kenapa? Aku kesakitan kau hanya memakiku, mencercaku. Begitu mendengar suara Mona ingin secepat kilat pergi menemuinya," jawab Airin.


Angga berdecak kesal, senyum menyeringai menatap Airin.


"Kamu ini tidak tahu apa-apa. Aku menemuinya untuk membahas sesuatu?" sanggah Angga.


"Membahas apa? Aku lihat, kamu bahkan bolak balik hanya untuk menemui Mona daripada mengurusi perusahaanmu. Dia akan menikah, apa yang perlu dibahas denganmu?"


"Kau diam kalau tidak tahu apa-apa, otakmu yang berisi kecemburuan itu lebih baik kamu bersihkan. Makanya kamu stres, kamu memikirkan hal yang aneh-aneh. Berpikiran buruk selalu denganku!" gertak Angga.


Airin masih menatap mata suaminya dengan tajam, sambil mengatur nafasnya yang terasa berat kembali.


"Lalu apa yang akan kamu bahas dengan dia, coba ceritakan! Aku ingin dengar,"


"Kamu mana mengerti, ini kan urusan bisnis. Bahkan SMA saja kamu tidak lulus," ucap Angga kesal, kemudian keluar dari kamar dengan menutup pintu kamar keras.


Air mata lagi-lagi tumpah, berulang kali melihat sikap suaminya yang tidak pernah berterus terang dengan tujuannya yang tiap kali bertemu Mona.


"Katanya takut kehilanganku, tapi apa? Dia bahkan tidak peduli dengan perasaanku," gerutu Airin dengan Isak tangis. Mengepalkan kedua tangannya dan memukul berulang kali ke bantal.


"Aku lelah, Ya Allah,"


Tiada hari tanpa menangis, tiada hari tanpa terluka. Itu yang Airin rasakan.


Tidak ada teman untuk berkeluh kesedihan. Bercerita kepada kakaknya hanya akan menambah beban pikiran Kak Ikmal dan Kak Dista yang tengah menjadi orang tua baru. Berkeluh dengan Ibunya takut menjadi beban, apalagi semenjak Ayahnya meninggal, Ibunya terlihat tertutup selalu berada di dalam kamar.


Setelah suasana hati sedikit tenang, Airin mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat ashar. Mengeluhkan semua kesedihan pada Sang Khaliq. Berharap nasibnya berubah, dan kebahagiaan merangkulnya. Memohon ampunan atas kesalahannya di masa lalu, yang menyebabkan dirinya tidak merasa bahagia pada akhirnya, meskipun telah sah menjadi istri dari seorang pria yang dicintainya.


Penantian yang melelahkan, hingga pukul 10 malam suaminya tak kunjung pulang. Airin merintih kesakitan, kekhawatirannya tentang keguguran kedua kalinya membuatnya ketakutan. Ingin menelepon Angga, tapi ponselnya mati. Berteriak pun, meminta pertolongan ibu mertuanya dan pembantunya hanya akan cuek dan pura-pura tidak mendengar.


Berulang kali istighfar, menguatkan diri untuk tetap sadar. Padahal, mata mulai enggan untuk membuka. Kepala seperti merasakan hantaman yang kuat, hingga berkunang-kunang. Tubuh menggigil, bersamaan dengan keringat dingin yang keluar.


Airin mengambil tasbih di meja, dan terus beristighfar. Suara hentakan kaki menaiki tangga, seakan menjadi cahaya untuk dirinya kuat.


"Angga," ucap Airin lirih,


Pintu terbuka dan benar saja suaminya datang. "Angga, aku kesakitan," Airin menatap suaminya dengan mata yang hampir terpejam.


Namun, apa yang dilihatnya saat ini malah membuat kekhawatirannya semakin tinggi. Angga terlihat tidak waras, berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Kemudian, tergeletak di sofa. Tidak menyahut ucapan dan rintihan Airin.


"Ya , Allah …" hanya itu yang Airin bisa ucapkan.


"Angga, Angga …" ucap Airin. Kemudian turun dari ranjang tempat tidurnya perlahan.


Mata merah dan tubuh yang tidak sadarkan diri tergambar jelas di diri suaminya. Airin semakin meronta kesakitan, kemudian berteriak histeris ketika melihat darah menembus dasternya.


Airin kepanikan, menggoyangkan tubuh Angga berulang kali. Namun, Angga tidak merespon. Airin kemudian, menggeledah kantong jas suaminya, dan mengambil ponsel. Menelepon Kamil, dan menyuruhnya untuk datang ke kamarnya.


"Ya Allah, Ya. Allah," ucap Airin terus menerus, kalimat itu yang mampu menenangkan ketakutannya.


Kamil datang ke kamarnya, kemudian Airin meminta Kamil menghubungi Ambulans. Dan membantu menaruh tubuh Airin ke atas tempat tidur.


Darah masih tidak berhenti keluar, Airin merasakan perutnya 100 kali merasakan kesakitan dari kram biasanya. Sepasang matanya yang mulai sayup, melihat suaminya dari kejauhan.


Putus asa, benar-benar putus asa yang saat ini Airin rasakan. Air matanya tumpah, rasa sakit, hancur beradu menjadi satu. Dirinya seakan menjadi wanita bodoh yang terbuai dengan kalimat pria hanya dengan kalimat 'Aku tidak ingin kehilanganmu'. Kenyataannya, itu hanya sebuah bujukan yang tak memiliki arti dan kesungguhan.


"Jika benar memang harus berakhir, setelah ini akan ku akhiri," ucap Airin lirih, sebelum benar-benar tak sadarkan diri.