
Airin sengaja menggenggam tangan suaminya dengan erat sambil berjalan menyandarkan kepalanya ke bahu Angga.
Beberapa saat kemudian, Bi Imah mengetuk pintu kamar, dengan membawa beberapa makanan dan lauk di atas nampan.
"Besok lagi, kalau di telepon Bu Airin segera datang," kata Angga, dengan raut muka masih terlihat kesal menatap pembantunya. Airin menunduk dengan tersenyum tipis, hatinya sangat lega. Karena, Angga sangat perhatian dengannya.
Ringga langsung menuangkan secentong nasi ke piring dan diberikannya pada Airin.
"Ini, Mah,"
Airin mengusap kepala putranya, melihat Ringga juga perhatian membuat hatinya tersentuh.
Ketiganya menikmati makanan, sambil bercengkrama. Membahas tentang liburan di hari Minggu. Ringga ingin sekali berlibur di Dufan, setelah Airin menceritakan masa-masa liburannya saat di Jakarta kala itu. Angga pun meng "iya" kan keinginan putranya dan berjanji jika hari Minggu akan pergi ke Dufan bersama-sama. Ringga melonjak kegirangan, Airin melihat kebahagiaan di wajah putranya yang hampir dua bulan suram setelah tiba dirumah ini.
'Semoga kebahagiaan ini selalu dilindungi Allah," batin Airin. Menatap senyum kebahagiaan kedua orang yang dicintainya berada di depan matanya.
Hari Minggu pun tiba, namun …, sesuatu terjadi dan liburan itu dibatalkan. Subuh tadi ibu mertuanya mengeluh kesakitan dan dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan. Airin menunggu Angga hingga tengah hari. Namun, sepertinya pemeriksaan itu butuh waktu yang lama. Ringga yang terus merengek ingin segera liburan, suaminya yang tak memberi kabar dan panggilannya selalu ditolak, membuat Airin semakin gusar.
Terus menerus membujuk Ringga yang berdiri di depan pagar menunggu kedatangan Angga. Namun, Ringga bergeming dan tak mau masuk kedalam rumah. Setelah lelah hampir pukul 2 siang menunggu, Ringga akhirnya dengan langkah sempoyongan masuk kedalam kamar diantar satpam.
"Kan sudah mamah katakan, besok Minggu depan kita bisa liburan. Nenek sedang sakit, nak," kata Airin.
Ringga tidak menyahut, dengan wajah cemberut berjalan ke arah jendela kamar dan masih menatap ke arah pagar menunggu kedatangan papanya.
Airin hanya mampu menghela nafas, anaknya memiliki watak yang sama keras kepalanya dengan Angga. Jika tidak benar-benar lelah, dia tidak akan berhenti.
Hingga adzan ashar terdengar, Ringga baru beralih berbaring di tempat tidur.
"Papah bohong ya, Mah," ucap Ringga dengan mata yang basah karena sedari tadi menangis. Airin mendekat, mengusap air mata di pipi putranya.
"Tidak, Nenek lagi sakit, Minggu depan insyaallah kita liburan,"
Ringga membuang muka, lalu menutup kepalanya dengan bantal sambil menangis sesegukan.
Suara klakson mobil terdengar, Ringga bangkit dan langsung berjalan ke arah jendela kamar. Melihatnya papanya sudah pulang, langsung berlari keluar kamar sambil berteriak "Papa" berulang kali. Airin mengikuti langkah putranya dari belakang.
Di atas tangga, Airin melihat suaminya dan ibu mertuanya membuka pintu. Kemudian, dibelakangnya ada Mona. Ringga menarik tangan papanya berulang kali, menanyakan tentang pergi ke Dufan Namun, Angga tidak menyahut dan lebih memilih mengobrol dengan Mona. Dan sepertinya perbincangan mereka terdengar serius hingga keduanya berbicara sangat lirih.
Airin menuruni tangga dan mendekat. Angga dan Mona pun langsung saling menjauh. Mona membawa ibu mertuanya ke kamar. Sedangkan Angga, menggendong Ringga mendekat ke arah Airin.
"Semua baik-baik saja?" tanya Airin. Angga mengangguk kemudian menaiki tangga. Airin mengikuti langkah suaminya, namun, juga sesaat menoleh ke arah Mona yang berdiri di depan kamar ibu mertuanya sambil matanya menyorot ke arah Angga.
"Papah, ayo!"
Ringga masih terus merengek dan menarik tangan Angga. Angga diam dan fokus mengetik pesan di layar ponselnya. Airin mencoba menenangkan putranya, agar tidak menyulut kemarahan suaminya yang terlihat kelelahan.
"Ringga diam dulu ya, nak. Ayah sedang sibuk," kata Airin, menarik putranya. Namun, Ringga masih bertahan dan bergeming dan terus merengek.
"Diam!" bentak Angga.
Dan akhirnya hal yang paling ditakutkan Airin terjadi. Angga membentak ke arah Ringga dengan keras. Membuat Ringga ketakutan, kemudian menangis lebih keras. Airin lalu menarik tangan putranya dengan paksa untuk menjauh dari kekesalan Angga. Lalu, memeluk Ringga dengan erat dan menepuk pundak Ringga berulang kali untuk menenangkan.
"Kamu bisa nggak sih ngurus dia dulu, jangan dibiarkan sedikit-sedikit merengek." ucap Angga, dengan raut wajah kesal bangkit dari tempat duduknya lalu keluar kamar untuk menelpon seseorang.
Pintu terbuka, Angga berjalan menjauh agar suara bising tangisan Ringga tidak mengganggu teleponnya. Airin hanya diam, matanya menatap bayang suaminya yang menuruni tangga.
Airin juga melihat Mona mengikuti langkah Angga dari belakang menuju teras. Airin penasaran, namun, juga tidak bisa meninggalkan Ringga yang menangis hanya untuk mencari tahu tentang apa yang dilakukan Mona dengan suaminya.
"Ringga, kamu disini dulu ya, mamah ambilkan minum," ucap Airin.
Sesaat cemburu terbesit, Airin keluar kamar dan mencari keberadaan suaminya. Dari atas kamarnya dia bisa melihat setiap sudut lantai dasar. Namun, tidak menemukan bayangan suaminya atau Mona. Airin mengambil segelas air dari dapur, kemudian kembali sambil masih mencari keberadaan suaminya.
"Apa mereka pergi ke halaman belakang?" gumam Airin. Saat berdiri di depan pintu kamar, langkahnya tiba-tiba beralih ke tempat lain. Berjalan ke lorong, menuju balkon, disana akan bisa melihat halaman belakang rumah.
Airin membuka tirai, dan benar … kedua matanya melihat suaminya sedang berbincang dengan Mona di halaman belakang. Mona mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Angga, sedang Angga menanggapinya dengan manggut-manggut saja.
"Apa yang mereka bicarakan?" gumam Airin.
"Mamah," teriak Ringga yang berjalan menuju ke arahnya. Airin pun menutup tirai dan berjalan mendekati putranya.
"Ada apa, Mah?" tanya Ringga.
Airin menarik tangan Ringga, mengajaknya kembali ke kamar. Namun, Ringga mengelak lalu berlari mendekat jendela dan membuka tirai dengan lebar.
"Papa!" teriak Ringga dengan melambaikan tangan.
Mengetuk-ngetuk jendela kemudian membukanya.
"Papa!" teriak Ringga lagi. Airin mendekat, berniat menarik tangan putranya. Namun, apa yang dilihatnya saat ini membuatnya terkejut dan tatapan matanya tidak bisa berhenti menyorot ke arah suaminya. Airin melihat suaminya dan Mona saling bergenggaman tangan dengan erat.