Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 37


Setelah cincin itu melingkar di jari manis, Angga bangkit dan kemudian memeluk Airin dengan erat. Airin hanya mampu menangis dan terus memukul dada Angga karena kesal, membuat hatinya selalu risau.


"Kamu kemana saja?" tanya Airin, terbata-bata sambil masih menangis.


"Aku berjuang supaya kita bisa menikah," jawab Angga, kemudian mencium kening Airin. Suasana romantis dan haru pun bercampur jadi satu.


"Sudah, sudah kalian belum sah nikah, jangan seperti itu," ucap ayahnya Airin, menarik tangan Angga. Angga pun mengeram kesakitan karena beberapa luka di tubuhnya.


Airin mengambil obat luka di kamarnya, sedang Angga duduk bersama kedua orang tua Airin di ruang tamu.


Angga menjelaskan jika kepergiannya tanpa kabar karena disekap kedua orangtuanya. Orang tuanya masih tetap ingin Angga dan Mona menikah dengan alasan bisnis. Hingga akhirnya Angga berusaha kabur, namun pengawal ayahnya berhasil membawa Angga kembali kerumah kemudian Angga di hajar habis-habisan. Hingga akhirnya Angga kabur kembali kedua kalinya, kemudian langsung menemui orang tua Mona, jika dirinya tidak bisa menikah dengan Mona karena sudah memiliki anak dengan Airin. Akhirnya orang tua Mona pun, membiarkan Angga pergi bersama Airin dan mereka akan bicara dengan Mona dan orang tua Angga.


"Lalu, orang tuamu tidak akan datang saat kita menikah?" tanya Airin, duduk di samping Angga sambil membersihkan luka di pipi Angga.


"Aku tidak tahu soal itu, semoga saja mereka membuka hatinya untuk merestui kita," jawab Angga lirih.


Orang tua Airin pun antara bingung dan juga cemas. Akhirnya ayahnya memutuskan tetap akan menggelar akad nikah di rumah saja tanpa pesta yang megah. Angga dan Airin pun meng-setujui semua keinginan ayahnya.


***


3 hari kemudian setelah mengurus beberapa dokumen, akhirnya pernikahan ini pun akan terlaksana. Dengan gaun muslimah berwarna putih, Airin duduk di depan cermin di bantu dengan kakak iparnya untuk merias wajahnya.


"Semoga kalian bahagia," ucap kak Dista tersenyum, sambil memeluk pundak Airin. Airin menjawabnya dengan senyum dan sedikit ada air mata di pelupuk karena terharu.


"Tapi kakak masih bolehkan Rin, mengasuh Ringga?" tanya kak Dista muram.


"Tentu dong, kak Dista kan juga ibu bagi Ringga," jawab Airin, kemudian memeluk kakak iparnya.


Melihat lagi kebelakang tentang dirinya yang kabur dari rumah dan akhirnya kembali lagi kerumah ini, kemudian menikah dengan pria yang membuatnya hampir setengah tidak waras, membuat Airin gugup. Semua hal ini tidak pernah terbesit di pikiran Airin, karena saat itu pikirnya akan benar-benar pergi jauh dari kehidupan Angga.


***


Upacara akad nikah pun terlaksana dan berjalan dengan baik. Airin dan Angga mengabadikan hari ini dengan beberapa foto keluarga yang akan menjadi kenangan seumur hidupnya.


Tawa dan tangisan membalut semua luka, Airin untuk pertama kalinya berani memeluk Angga dengan erat.


***


Mungkin ini bukan malam pertama bagi mereka berdua, tapi malam ini semua kerinduan dan rasa takut ingin dilenyapkan. Setelah lampu di padamkan …,


"Aku sangat mencintaimu," kalimat cinta yang pertama Airin ungkapkan untuk seseorang yang saat ini akan mulai menemani hari-harinya.


Dua hati menjadi satu, genggaman tangan semakin erat, dan saat ini pelukan hangat ini bukanlah kesalahan, melainkan kewajiban baru yang akan Airin berikan kepada Angga.


Pagi yang dingin, suara hujan masih terdengar. Dan sepertinya Allah memang membuat keduanya ingin berlama-lama di atas ranjang tempat tidur.


Airin tersenyum malu mendengar pertanyaan itu, dia menutup wajahnya dengan selimut, kemudian Angga membukanya dan menatap Airin lebih dalam.


"Apa kamu menyukaiku sejak pertama kita bertemu di pertandingan futsal? " tanya Angga lagi, sambil menyentuh rambut Airin. Airin tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian sembunyi di balik selimut. Angga menarik nya lagi, dan satu ciuman …, mungkin dua, atau bahkan tiga ciuman itu, tidak membuat Airin ketakutan seperti sebelumnya.


"Aku juga sangat menyukaimu saat itu, tapi kamu bilang sudah punya pacar, sampai aku penasaran, akhirnya saat SMA mencari tahu kamu sekolah dimana, dan ternyata aku juga tidak pernah melihat pacar yang kamu katakan, aku tahu kamu berbohong, begitupun aku …, aku tahu kamu melihatku dari jauh bersama Mona, begitupun aku …," ucap Angga lirih, menatap mata Airin. Airin tertegun sesaat kemudian airi matanya perlahan turun.


"Maafkan aku." balas Airin kemudian memeluk Angga.


'Aku ingin cinta ini akan selamanya begini, aku ingin kami menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kami,' doa itu di ucap Airind dalam hati.


***


Hari berikutnya …


Kebiasaan sudah berubah, saat ini Airin dan Angga masih tinggal dirumah orang tuanya Airin, begitupun dengan Ringga. Airin mulai belajar menjadi ibu yang sesungguhnya. Airin masih meneruskan pekerjaannya di toko, meskipun sudah menikah dengan Angga. Saat ini Angga juga sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan baru, karena sebelumnya bekerja di perusahaan ayahnya.


Setelah mengantar Airin bekerja, Angga pergi kesana kemari menemui beberapa relasinya untuk mendapatkan pekerjaan baru. Hingga akhirnya sebuah pekerjaan sebagai manager di swalayan didapatkannya. Angga langsung menelpon Airin untuk memberikan kabar baik ini. Airin pun berjanji setelah pulang kerja akan membuatkan masakan yang enak untuk Angga.


Keduanya hidup baik, namun masih terganjal restu oleh keluarga Angga. Semenjak menikah dan hampir satu Minggu berlalu, orang tua Angga tidak memberi tanggapan, meskipun Angga sudah selalu mencoba menghubungi ayah dan ibunya.


Airin dan Angga juga datang kerumah orang tua Angga, namun yang didapatkan pengusiran dari satpam rumahnya.


Cinta ini, apakah akan baik-baik saja?


Keduanya kemudian izin dengan orang tua Airin, untuk pindah ke kontrakan rumah yang sebelumnya ditempati Angga. Angga menginginkan hidup bersama Airin dan Ringga tanpa campur tangan orang tua lagi, tapi juga tidak serta merta meninggalkan orang tuanya. Karena jarak rumah mereka juga berdekatan, jadi Airin sering bolak-balik kerumah orang tuanya dan kakaknya.


"Apa kau bahagia hidup dan menikah denganku?" tanya Airin, yang duduk di teras sambil bersandar di bahu kiri Angga.


"Tidak juga," jawab Angga. Airin pun mengangkat kepalanya dari bahu Angga kemudian cemberut.


"Tidak juga, karena aku juga belum bisa membuatmu bahagia, kita masih mengontrak dan hidup pas-pasan. Jika kita sudah punya rumah, dan kamu tersenyum merekah bahagia, aku akan bahagia juga. Karena bahagiaku adalah melihat istriku bahagia," imbuh Angga, lalu mencium pipi kiri Airin. Airin tersenyum mendengar gombalan receh Angga untuk pertama kalinya, kemudian memeluk Angga.


Di tengah perbincangan hangat dan romantis itu, ponsel Airin berdering, dan melihat di layar jika ibunya menelpon. Airin pun bergegas mengangkatnya, karena tidak biasanya ibunya menelpon di jam malam seperti ini.


"Iya, Bu," sahut Airin.


"Rin pulanglah, Mona datang kesini," ucap ibunya.


Airin diam sejenak dan terkejut.