
Airin menyentuh keningnya, dan merasakan luka yang perih. Dengan tubuh sempoyongan berjalan ke arah kamar, sambil terus menyeka darah di kening.
Tiba di dalam kamar, Angga yang tengah duduk diatas tempat tidur menemani Ringga menoleh setelah mengetahui kehadiran Airin saat membuka pintu.
Airin mengambil tisu, dan mengelap lukanya.
"Kamu kenapa?"
Angga mendekat, dan menyentuh pundak Airin. Lalu, terkejut ketika melihat darah di tisu.
"Hah, kamu ini kenapa?" tanya Angga yang panik, menarik tangan Airin untuk duduk. Kemudian mencari obat luka di laci.
"Ibumu mendorongku." jawab Airin.
Angga menoleh sesaat, lalu kembali mencari obat luka. Setelah di dapatnya, Angga duduk.di samping Airin. Mengoleskan obat luka dengan cotton bud. Airin meringis perih, menahan lukanya. Namun, Angga tidak meneruskan membahasnya ketika menyangkut dengan nama ibunya.
Ringga ikut bangkit dan meniup luka di kening Airin.
"Sini mah, biar Ringga tiupin,"
Ringga menarik dagu Airin dan membuat tiupan berulang kali. Airin tersenyum sambil meringis kesakitan.
Tanpa kata, Angga keluar dari kamar setelah menempelkan plester di kening Airin.
Suara amarah ibu mertuanya pun mulai terdengar, langkah kakinya gemuruh menuju kamar Airin.
"Mana? Mamah nggak ngapa-ngapain kok,"
Ibu mertuanya masuk kedalam kamar, lalu mendekat ke arah Airin.
"Kamu nyalahin aku, aku tidak berbuat apapun denganmu ya! Dasar!" gerutu ibu mertuanya, kemudian menarik dagu Airin dengan keras. Melototi luka di kening Airin.
Airin menyingkirkan tangan ibu mertuanya, lalu menghindar.
"Mamah tadi dorong aku ke meja," sahut Airin.
Ibu mertuanya melirik dengan tajam ke arah Airin.
"Sudahlah mah, jangan seperti itu dengan Airin. Dia kan menantu mamah," timpal Angga.
"Jadi kamu lebih percaya dengan istrimu, daripada mamah? Hem!"
Ibu mertuanya berkacak pinggang dan melotot ke arah Angga.
"Hanya luka seperti ini saja kau manja! Membuat keributan! Dasar udik!" Pandangan kejam itu sekarang ke arah Airin sambil menunjuk.
Airin hanya diam, sedang Ringga tampak ketakutan dan berlari ke arah Airin.
Ibu mertuanya lalu keluar dari kamar, menutup pintu kamar dengan keras. Ringga menangis melihat pertengkaran itu.
"Mamah, pulang …" rengek Ringga. Angga menarik tangan anaknya, kemudian mencoba menenangkan Ringga dengan menepuk pundak Ringga berulang kali.
Sedang Airin yang tidak tahan dengan semua ini, menangis sesenggukan sambil menurunkan koper dari atas lemari. Memasukkan satu persatu bajunya kedalam koper.
"Kamu mau kemana?" tanya Angga mendekat. Menarik koper Airin.
"Aku sudah tidak tahan, aku ingin pulang," jawab Airin, mencoba mengambil kopernya lagi, namun Angga menahannya dengan cara memeluk Airin.
"Sudah tenang, jangan tersulut emosi karena masalah sepele,"
Airin mendongak, mendorong dada Angga.
"Sepele?" tanya Airin mengernyit.
"Mungkin, jika aku bisa merekam ucapan mamahmu tadi, kamu akan tahu jika ini bukan hanya sepele,"
"Sudahlah, Rin. Nanti aku coba bicara dengan mamahku baik-baik." sahut Angga lalu keluar dari kamar.
Airin mendekap putranya dengan erat, menangis perlahan.
"Mah, pulang saja, ya?" tanya Ringga. Airin diam dan menyeka air matanya.
***
Malam yang dipenuhi dengan kesakitan batin. Airin menepuk punggung Ringga lembut, membuai anaknya hingga tertidur. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi rasa khawatir.
Angga masuk kedalam kamar, membawa sekotak kue yang ditaruh di meja. Kemudian, mendekat ke arah Airin. Memeluk Airin dengan rayuan bujukan untuk bertahan di rumah ini.
"Bersabarlah sedikit," ucap lirih Angga, menyentuh tangan Airin. Airin diam tidak menyahut.
"Aku sudah bicara dengan mamah, dia juga akan berusaha berdamai dengan semua ini. Biarkan dia menerimamu dengan seiring berjalannya waktu,"
Airin melirik ke arah Angga, tanpa menyahut.
"Sabar ya, sayang. Apa lukamu masih sakit?"
Airin masih diam, menyingkirkan tangan Angga dari pinggangnya dan beralih berbaring di samping Ringga. Angga mengikutinya, dan berbaring di belakang Airin sambil memeluk Airin lagi.
"Aku sangat menyayangimu, menyayangi Ringga dan juga mamaku. Kalian semua sangat penting untukku."
"Jika kamu kali ini mundur dan pulang, bagaimana dengan aku? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Kalimat yang sama terdengar, entah sebuah bujukan atau rayuan. Semua terdengar monoton.
Ciuman hangat mendarat di leher dan pipi Airin. Mata terpejam mencari ketenangan, di temani kehangatan yang terkadang ingin dilepaskan, dan terkadang dirindukan.
Hati bertanya-tanya 'Apakah memang semua salahku?' meskipun mata terpejam, namun pertanyaan itu terngiang-ngiang. Memenuhi pikiran dan terbawa mimpi.
Tengah malam Airin terbangun, karena pertanyaan yang berubah menjadi mimpi buruk. Menoleh ke belakang, Angga masih erat memeluknya. Perlahan menyingkirkan jari-jari Angga dan turun dari tempat tidur.
Mengambil air wudhu, dan menjalankan sholat malam. Mengeluhkan kesedihan ini dengan lirih kepada Sang Pencipta. Air mata perlahan menetes di sajadah. Airin sesegukan dalam diam, menahannya dengan tangan yang berbalut mukena.
Ketika ketenangan sudah di dapatkannya, dia kembali ke atas tempat tidur. Menatap wajah lelah Angga suaminya. Angga terlihat sama lelahnya dengan dirinya. Bekerja bukan sekedar untuk memberi nafkah Airin semata. Namun, juga harus mengurus biaya rumah sakit ayah mertuanya dan juga memberikan kehidupan untuk ibu mertuanya.
Sesaat, mengingat kebaikan Angga kepada orang tuanya. Membuat Airin terenyuh. Mencoba kembali menata hatinya untuk bertahan sekali lagi.
Angga terbangun, setelah mendapati sentuhan Airin di kepalanya.
"Kamu tidak tidur?" tanya Angga, mengucek matanya dan menyentuh pipi Airin.
"Maafkan aku,"
Perlahan air mata turun lagi, ketika melihat mata Angga. Angga bangkit dan memeluk Airin.
"Aku juga ya sayang,"
Pelukan itu berubah menjadi kehangatan yang lebih. Ketika beberapa kecupan lagi-lagi mendarat di tubuh dan menjadi obat untuk menenangkan kesedihan.
Tangan Angga yang menggenggam erat tangan Airin, dua mata yang saling bertatap penuh dengan rasa cinta. Dua insan yang sedang bercumbu mesra, menyeka kesedihan yang sama-sama dirasakannya.
"Apa dengan cucu perempuan, mamah akan berubah?" tanya Angga, berbisik lirih.
Airin menepuk pundak Angga dengan kesal. Angga tersenyum, kemudian menarik selimut dan melakukan tugasnya.