Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 68


Sepasang mata saling bertatapan. Airin menelan ludah, menyadari kedatangan suaminya mendadak. Airin masuk kedalam kamar, menghindar. Sesekali menoleh ke arah suaminya yang sedang memeluk Kak Ikmal.


Awal kejujuran yang meninggalkan rasa gugup. Belum sempat jujur tentang kehidupannya pada Kak Ikmal, kedatangan Angga membuatnya maju mundur untuk berterus terang kepada kakaknya.


Suara ketukan pintu bersamaan dengan suara Angga datang. Memanggil nama Airin berulang kali, hingga Airin membuka pintu.


Tanpa ucapan dan penjelasan, setelah membuka pintu kembali duduk di atasa ranjang tempat tidur.


"Kenapa kamu tidak bilang, Ayah meninggal?" tanya Angga. Airin melirik kesal sambil berdengus.


Angga menepuk pundak Airin, bermaksud mencari jawaban. Namun, Airin hanya bangkit lalu pergi keluar kamar. Langkahnya saat ini menuju dapur.


Rasa malas melihat wajah suaminya sangat kentara, hingga Kak Ikmal berdiri di samping Airin sambil terus bertanya arti wajah cemberut Airin.


"Buatkan, suamimu teh!" perintah Kak Ikmal, lalu pergi.


Airin pun menyeduh teh dengan air hangat dalam cangkir. Lalu, menambahkan 2 sendok teh gula kedalam cangkir.


"Kamu kenapa sih?"


Suara suaminya mengangetkannya yang tiba-tiba datang dan menepuk pundaknya.


Airin melirik, sambil menyodorkan secangkir teh hangat pada Angga. Angga menerimanya, kemudian menahan Airin yang hendak keluar dari dapur.


"Seharusnya kau katakan, jika Ayah meninggal," ujar Angga.


Airin mendongak menatap mata suaminya dengan kesal.


"Kau masih peduli dengan ayahku?"


"Pertanyaan apa? Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu disini!" gertak Angga lirih, melepaskan tangan Airin yang sebelumnya dipegang dengan erat. "semenjak kau hamil, pikiran dan ucapanmu selalu buruk!" Imbuh Angga.


Airin menoleh, ketika langkahnya hampir saja keluar dari dapur. Tanpa pembalasan, Airin pergi menghindari suaminya lagi.


Airin berjalan mendekati Kak Dista yang sedang membereskan beberapa dus kosong, bekas tamu. Airin pun membantu kakak iparnya.


"Kalian bertengkar?" tanya Kak Dista berbisik.


Airin mengangguk perlahan, tanpa mengeluarkan kalimat.


"Bukankah harusnya kalian bahagia? Kan, akan punya anak lagi,"


"Harusnya …" gumam Airin.


Kak Dista menoleh, dan mengelus kepala Airin.


"Jangan pulang dulu, dua bulan lagi aku akan lahiran, temani aku. Aku sering kesepian," ujar Kak Dista, duduk di karpet perlahan, kelihatan mulai kerepotan untuk bergerak di usia kehamilan tuanya.


"Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tinggal disini lagi, Kak," jawab Airin.


"Hah, beneran? Lalu, Angga setuju?"


"Entahlah, setuju atau tidak aku ingin disini. Aku tidak bisa lagi tinggal di Jakarta."


Airin menyandarkan kepalanya di pundak Kak Dista, sambil mengupas kacang kulit.


"Apa yang membuatmu sekesal ini sih, Rin?" tanya Kak Dista, mengambil kacang yang sudah di kupas Airin. Sambil meringis, menahan kesakitan, karena pundaknya tidak kuat menopang sandaran kepala Airin.


Airin duduk tegap, sambil melirik melihat langkah kaki suaminya yang mendekat. Membungkam mulutnya sejenak.


"Kapan Kak lahirannya?" tanya Angga, duduk disamping Kak Dista.


"40 hari lagi, insyaallah. Dek," jawab Kak Dista.


"Semoga lancar ya Kak persalinannya nanti,"


"Aamiin. Kamu udah makan, Dek?"


Kak Dista mendorong kue bolu di piring yang berada di depan Airin beralih ke depan Angga. Airin melihat suaminya mengangguk, dan mengambil sepotong kue.


Angga melontarkan pertanyaan kepada Kakak Iparnya. Airin melirik sesaat.


"Ya biasalah, Dek. Orang hamil memang hormonnya selalu naik dan turun." sahut Kak Dista, diakhiri dengan senyum.


"Sudah, kalian selesaikan dulu pertengkaran kalian, kakak mau ke kamar dulu,"


Kak Dista bangkit di bantu Angga. Kemudian duduk kembali mendekati Airin.


"Kamu mau sampai kapan disini?" tanya Angga.


Airin diam tidak memberikan jawaban. Perasaannya masih kesal mengingat perkataan suaminya yang buruk tentang pernikahan yang mereka jalani.


"Sampai kapan?"


Angga menepuk betis Airin.


"Selamanya." jawab Airin.


"Ya sudah kamu disini saja, sampai melahirkan." ujar Angga, kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu pergi ke arah Ringga yang memanggilnya.


Airin cemberut, melihat jawaban santai yang diberikan Angga. Seperti tidak ada rasa bersalah setelah menyakiti Airin dengan kata-katanya tadi pagi.


Pikiran buruk pun terbesit, Airin merasa suaminya merasa kesenangan pastinya jika dia berada di Bandung. Suaminya bisa sesuka hati menemui Mona tanpa penghalang.


'Itu kan maumu?' batin Airin keras.


Melihat senyum palsu yang suaminya tampakkan di depan kakaknya, membuatnya semakin kesal.


"Kau benar mau disini sampai melahirkan?" tanya Kak Ikmal mendekat.


Airin hanya diam, lalu bengkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamar.


"Heh, kenapa sih? Ada apa?"


Kak Ikmal menarik tangan Airin. Menahan kepergian Airin.


Angga datang, berkecap lalu melirik ke arah Airin.


"Entahlah, semenjak hamil dia suka marah-marah dan cemburu berlebihan," sanggah Angga.


Airin menatap wajah suaminya dengan kesal. Membungkuk lalu mengambil segenggam kacang di piring, kemudian di lemparkannya ke arah Angga.


"Heh, ada apa sih, kalian?"


Kak Ikmal, menahan tangan Airin.


"Tanyakan saja padanya, aku lelah dengan kebohongannya." sahut Airin. Menarik tangannya dari tangan Kak Ikmal.


Kak Ikmal menahan tangan Airin lagi.


"Ada apa? Katakan!" gertak Kak Ikmal. Kemudian, menoleh ke arah Angga.


"apa ini ada hubungannya dengan Mona?"


Airin menarik tangannya lagi dengan kasar.


"Apa sih? Kenapa jadi nyangkutin Mona?" ujar Angga.


"Kamu masih ada hubungan dengan Mona?" tanya Kak Ikmal, menatap tajam Angga. Angga tersenyum tipis, sedikit menyeringai.


"Aku capek, percuma juga aku ngasih penjelasan,"


Angga menghindar dan pergi.


"Pergi, jangan kembali!" teriak Airin keras, hingga Angga menoleh.


"Aku ingin kita bercerai!" teriak Airin dengan gertakan.