Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 34


Angga akhirnya datang dan menemui Airin di halte, kemudian keduanya pergi ke sebuah taman, dan menghentikan mobil.


Angga enggan keluar dari mobil dan ingin mengobrol di dalam mobil saja, Airin pun menurutinya. Sejenak keduanya saling menatap tanpa kalimat yang keluar. Hanya terdengar suara debaran jantung yang gugup dan juga suara hela nafas.


"Aku baru saja menemui Mona," ucap Airin, Angga kemudian menoleh.


"Dia sangat mencintaimu, dan aku tahu cintanya lebih besar dariku, aku ingin kamu benar-benar memikirkan, apakah kamu ingin bersamaku hanya karena aku melahirkan Ringga atau kau benar menginginkanku dalam hidupmu? Aku tidak ingin belas kasihan dan iba darimu," imbuh Airin, mengungkapkan isi hatinya.


Angga kemudian menarik tangan Airin, dan menggenggamnya dengan kuat. Airin menatap mata Angga mencari ketulusan yang belum di percayainya.


"Aku sangat mencintaimu dari dulu, karena itu aku melakukan hal itu hanya kepadamu, saat itu …, awalnya aku hanya merasa terjebak dalam situasi yang mendebarkan tapi ternyata aku salah, aku memang melakukannya karena mencintaimu," ucap Angga, kedua mata mereka saling menatap dan menelan ludah. Debaran jantung terdengar satu sama lain, lalu Airin mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Angga, namun Angga malah semakin erat menariknya kemudian mencium tangan Airin.


"Ayo kita perbaiki bersama masa lalu kita sebagai pengecut di hadapan Mona, aku akan menerima hukuman apapun dari Mona, aku sudah katakan itu padanya, aku juga sangat merasa bersalah padanya, namun …, semakin aku berjuang ingin melupakanmu dan menjalani hubungan dengan Mona, hatiku semakin sulit untuk melupakanmu. Karena itu bukan hanya kesalahanmu, melainkan aku juga," ucap Angga, sambil menatap mata Airin dalam.


Keduanya kemudian hening tanpa kalimat, Airin masih melihat tangan kanannya di genggam Angga begitu erat. Setelah hampir 30 menit hanya saling memandang tanpa kata, Airin meminta Angga untuk mengantarnya ke tempat kerja.


Airin belum bisa memberikan jawaban yang pasti kepada Angga, namun dirinya sudah mengirimkan pesan pada Raffi untuk meminta maaf atas semua yang terjadi, dan mengakhirinya perjodohan ini.


***


Seharian memikirkan kepastian, seseorang yang memenuhi pikirannya, sekarang berdiri di depan toko. Setelah mengunci toko, langkahnya ditemani Angga untuk ke rumah bosnya. Keduanya saling menatap dengan senyum.


Angga kemudian mengantar Airin pulang kerumah, tapi sebelumnya singgah ke rumah kak Ikmal untuk menjemput Ringga. Kak Ikmal masih kesal dengan sikap Airin maupun Angga karena itu tidak menemui mereka, Ringga langsung berlari ke arah Angga dengan senyum yang gembira. Memeluk Angga dengan erat, hingga membuat kak Dista sedikit cemberut.


Setelah tiba dirumah, Angga langsung menemui ayahnya Airin. Keduanya berbincang, sedang Airin pergi ke kamar untuk membersihkan diri setelah seharian bekerja di toko. Selesai itu, keluar dari kamar dan membuatkan dua cangkir kopi.


"Jadi apa pilihanmu?" tanya Ayahnya.


Airin tertunduk dan duduk di samping Angga.


"Jika ayah setuju, kami akan menikah," sahut Angga.


"Lalu Raffi, kau sudah katakan padanya, Rin?" tanya Ayahnya.


"Ya Allah, ada saja kalian ini … kenapa semuanya dibuat rumit," sahut ibunya datang.


"Airin sudah mengatakannya pada Raffi," jawab Airin.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi, sebenarnya ayah ingin marah denganmu, ah … tapi?"


"Tapi tidak bisa, karena ayah sudah terlanjur sayang denganmu nak Dewangga," imbuh Ibunya memperjelas.


***


'Cinta ini akankah berjalan dengan baik dan indah seperti keinginanku,'


Ketiganya berjalan bersama di taman dengan tawa lepas dan penuh kebahagiaan. Airin melihat Ringga berlarian kesana kemari mengejar Angga, perlahan senyum nya mengembang. Seakan tidak percaya dengan semua hal yang saat ini terjadi.


Namun, kebahagiaan itu lagi-lagi diterpa ujian, ketika Angga membawa Airin ke rumah orang tuanya. Angga mendapatkan beberapa tamparan keras dari Ayahnya, karena merasa malu dengan semuanya. Orang tua Angga sudah menjalin hubungan kekeluargaan bahkan hubungan bisnis dengan keluarga Mona, namun malah Angga ingin menikahi wanita lain dan bahkan sudah memiliki anak tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Airin hanya bisa diam, melihat Angga yang kesakitan mendapatkan hukuman. Airin sendiri juga ketakutan dan tidak berani mengatakan apapun. Ibunya Angga pun hanya diam melihat situasi itu, karena keduanya sudah sangat mencintai Mona.


Orang tua Mona sangat berpengaruh dalam bisnis keluarga Angga, sehingga mereka tidak bisa memutuskan hubungan begitu saja. Banyak kerja keras yang sudah tercurahkan untuk menaikkan bisnis keluarga.


Setelah puas memarahi Angga, orang tua Angga menyuruh Airin duduk di hadapan mereka. Airin hanya mampu tertunduk dan masih dipenuhi rasa takut. Tidak menyangka, jika orang tua Angga sangat keras.


"Lalu, Mona sudah tahu hubungan kalian?" tanya ayahnya Angga dengan nada ketus. Airin dan Angga mengangguk.


Ayahnya Angga mengepalkan kedua tangan dan terlihat masih kesal.


"Jangan menikah dulu, tunggu sampai tender kita yang satu ini lolos," ucap ayahnya Angga menggertak.


"Apa yang harus ayah katakan pada orang tua Mona, kita bisa bangkrut, dasar bodoh!" gertak ayahnya Angga berdiri dari tempat duduknya kemudian menendang tubuh Angga yang sedang berlutut.


"Aku bisa gila!" Teriak ayahnya Angga, kemudian pergi.


"Ibu juga tidak habis pikir, kamu menyembunyikan itu semua dari kami cukup lama, dan kamu tahu sendiri ibu sudah sangat sayang dengan Mona. Dia gadis baik, dan setara …," sahut ibunya Angga, sambil melirik ke arah Airin. Airin hanya diam dan masih tertunduk.


"Maafkan aku, Bu." jawab Angga. Ibunya lalu pergi mengikuti langkah ayahnya. Angga dan Airin lalu bangkit dan meninggalkan rumah Angga.


Airin mengambil tisu di tas, kemudian mengelap darah di pipi dan bibir Angga yang terkena tamparan. Angga tersenyum tipis sambil menatap Airin, Airin lalu dengan usil menekan luka itu lalu tersenyum, hingga Angga nyengir kesakitan.


"Apa kita bisa melewatinya?" tanya Airin.


"Bisa, tenang saja. Mungkin orang tuaku masih syok. Karena memiliki cucu mendadak," jawab Angga dengan senyum.


Angga kemudian menggenggam tangan Airin.


"Kamu bisa kan, bertahan sebentar lagi," ucap Angga.


"Mau bagaimana lagi," sahut Airin. Angga lalu mencium kening Airin dengan lembut.


"Aku pastikan kita akan menikah dan hidup bahagia," ucap Angga memberikan janjinya, Airin hanya diam dan tersipu malu.


Keduanya pun lalu kembali pulang ke rumah Airin, namun saat akan memarkirkan mobil, mereka dikejutkan dengan kedatangan warga sekitar yang sepertinya sedang marah-marah dengan orang tuanya Airin.


Airin pun masuk kedalam desakan warga kampungnya yang mengerumuni rumahnya, sambil berteriak 'Jangan membawa kesialan di kampung ini!'.


Kemudian setelah warga tahu kehadiran Airin datang, mereka langsung menyerbu dan melempari Airin dengan batu kerikil, hingga Airin ketakutan, dan ibunya berteriak histeris kemudian pingsan.