Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 53


Airin masuk kedalam kamar, dan menutup pintu dengan keras. Beberapa menit kemudian, Angga masuk bersama Ringga. Angga berkacak pinggang di depan Airin dengan wajah yang kesal.


"Bisa tidak jangan seperti itu dengan mamahku?"


Airin mendongak, diam, pura-pura tidak mendengarnya. Mengajak Ringga masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu berbaring menidurkan Ringga dalam pelukannya.


Angga masih terlihat kesal, dan tidak mengajak Airin berbicara lagi. Airin menoleh sesaat, melihat suaminya sibuk dengan menatap ponsel, dirinya langsung memejamkan mata dan tidur.


Esok harinya, setelah sholat subuh. Airin di minta Angga keluar kamar untuk memasak. Karena meskipun keluarganya memiliki pembantu, ibunya tetap memasak semua makanannya sendiri.


Airin mengikuti perintah Angga tanpa mengelak. Berjalan ke arah dapur dan mendengar tawa ibu mertuanya di dapur bersama pembantu rumah.


Airin mendekat, seketika tawa itu sirna. Pembantunya keluar dari dapur, sedang ibu mertuanya sibuk memotong sayuran.


"Mau masak apa, mah? Biar Airin bantu," ucap Airin.


Ibu mertuanya melirik dan diam. Tidak menjawab pertanyaan Airin. Airin duduk di kursi meneguk segelas air. Ibu mertuanya menoleh dengan wajah kesal, sambil mondar-mandir mengambil sayuran dan daging di freezer.


"Mah, Airin bantu apa?"


Airin mendekat, ibu mertuanya mematikan kompor lalu meninggalkan dapur.


"Imah! Terusin masaknya, aku mau joging dulu dengan Mona!" teriak ibu mertuanya, memanggil pembantu.


Airin mengernyit dan menyalakan kompor lagi, karena melihat sayur yang dibuat ibu mertuanya belum matang.


"Sini non, bibi terusin!"


Bi Imah, manarik talenan. Airin menariknya kembali dan meneruskan memotong wortel.


"Sudah bibi lakukan yang lainnya saja, aku yang akan memasak," ucap Airin.


"Jangan non, nanti dimarahi nyonya. Biar bibi saja," Bi Imah memaksa, membuat Airin geram. Airin semakin memotong wortel dengan suara pisau yang keras hingga membuat Bi Imah ketakutan.


"Sudah, saya saja." sahut Airin dengan tegas. Bi Imah pun keluar dari dapur.


Airin pun melanjutkan masakan yang dibuat ibu mertuanya, berulang kali menghela nafas, menenangkan pikirannya untuk tidak tersulut emosi ketika ibu mertuanya bertingkah.


Satu jam kemudian, makanan sudah dihidangkan Airin di meja makan. Airin pergi ke kamar untuk memanggil suami dan anaknya untuk sarapan.


"Kamu sudah selesai masak?" tanya Angga. Airin mengangguk tanpa menjawab. Angga mendekat lalu memejamkan Airin dari belakang yang tengah membangunkan Ringga.


"Kamu sayang nggak sih sama aku?" tanya Angga, bibirnya sambil mencium pipi Airin. Airin mengernyit dan masih tidak menjawab.


"Ringga bangun! Ayo sarapan, setelah itu kita pergi cari sekolah baru," Airin menarik selimut anaknya, dan menepuk pundak Ringga perlahan. Sedang Angga masih mengganggu Airin dengan memeluk Airin dengan kuat dari belakang sambil bersandar di punggung Airin.


"Nanti cari sekolahnya sama supir aja ya, aku ada rapat pagi-pagi,"


Airin menoleh dengan wajah kesal, menarik tangan Angga dari pinggangnya.


"Katamu jika kita pindah kesini kamu ada waktu untuk kami. Mana? Baru hari pertama cari sekolah saja sudah banyak alasan," gerutu Airin, lalu menghindar.


"Iya, iya, ya sudah cepat, bangunin Ringga. Aku turun dulu ya ke ruang makan," ucap Angga, sambil mencium pipi Airin lagi sebelum keluar dari kamar.


Airin menarik kaki putranya, hingga Ringga terbangun lalu menangis manja. Airin kemudian memeluk putranya dan menggelitik ketiak Ringga.


"Ayo cepat mandi Ringga, terus makan!"


"Nggak mau mah,"


"Ya sudah mamah tinggal, awas ya kalau ikut!"


Airin turun dari tempat tidur, pura-pura mengambil tas dan akan pergi. Ringga langsung meloncat dari tempat tidur dan menarik tas Airin.


"Iya, iya." ucap Ringga sambil menahan tangan Airin keluar dari kamar.


Airin langsung mengantar Ringga ke kamar mandi, setelah itu membiarkan Ringga mandi sendiri. Sambil menunggu putranya selesai, dia berganti pakaian agar cepat bisa bersiap.


Setelah Ringga keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Airin mengajak Ringga keluar kamar untuk sarapan di lantai dasar.


Airin sudah mendengar tawa ibu mertuanya dari kejauhan. Dan benar saja, saat berada di ruang makan. Airin melihat ibunya dan Mona serta Angga sedang sarapan. Ibu mertuanya melirik ke arah Airin sesaat. Mona yang sebelumnya terdengar tertawa bersama ibu mertuanya tiba-tiba diam.


Suasana pun hening dan terasa canggung. Berulang kali Mona mengajak Angga mengobrol, namun Airin selalu mengalihkannya dengan obrolan lain.


"Mah, ini Airin lho yang masak. Enak kan?" ujar Angga.


Ibu mertuanya yang sebelumnya lahap makan, tiba-tiba berubah memuntahkan makanan di dalam mangkuk.


"Pantesan nggak enak," gerutu ibu mertuanya, Airin melirik sesaat.


"Enak kok," timpal Angga.


"Enak apanya …,"


Sebelum mendengarkan ocehan ibu mertuanya, Airin bangkit dan dari kursi dan mengajak Ringga.


"Aku tunggu di luar," ucap Airin.


"Istrimu itu nggak ada sopan-sopan nya, kenapa kamu mau sih sama dia, lihat ini Mona! Cantik dan elegan, sumpah dia itu norak banget,"


Airin mendengar gerutuan ibu mertuanya, namun mencoba menutup kedua telinganya.


Airin duduk di halaman bersama Ringga, lalu beberapa saat kemudian Angga menyusul datang.


"Kamu ini, bisa nggak sih jangan ketus begitu!" ucap Angga, sambil berdecak kesal menatap Airin.


Airin diam, dan langsung mengajak anaknya masuk kedalam mobil, saat pintu mobil terbuka.


"Kalau begini terus kapan kamu dan mamahku bisa akur?"


Airin menoleh dan menatap Angga.


"Sampai kapan mamahmu terus seperti itu padaku, dia selalu memuji Mona didepanku dan anakmu," sahut Airin.


"Kalau begitu, buat mamahku memujimu!" bentak Angga. Ringga langsung menangis, ketika Angga melotot dan membentak.


"Mamah, pulang …," rengek Ringga.


Angga menurunkan emosinya dan menghela nafas, sesaat nampak jika Angga membela ibunya daripada Airin.


"Sudah, sudah jangan di bahas."


Angga melajukan mobilnya dengan raut wajah yang kesal. Airin melirik sesaat, melihat suaminya juga terlihat tidak memihak padanya.


"Mamah, aku mau pulang,"


Ringga terus merengek dan menangis. Airin mencoba menenangkan putranya yang terus mengetuk-ngetuk jendela mobil ingin keluar. Hingga akhirnya membuat Angga membentak Ringga dan menepikan mobilnya.


"Ringga, bisa tenang nggak!" bentak Angga lagi, menoleh ke kursi belakang.


Airin melotot tajam, dan langsung membuka pintu mobil. Menarik Ringga keluar dari kursi belakang.


"Ayo masuk!" suruh Angga tegas.


Airin bergeming, dan mengendong Ringga.


"Ayolah, Rin! Aku tidak ingin bertengkar,"


"Pergilah! Aku ingin kembali saja ke Bandung bersama Ringga,"


"Kamu gila!"


"Sudah jangan aneh-aneh,"


Angga mencoba membujuk dan mengambil alih Ringga dalam gendongan Airin. Ringga namun menangkis tangan papahnya dan memeluk Airin semakin erat.


"Jangan gila kamu, Rin,"


"Iya aku gila! Aku gila melihat ibumu dan kamu membentak anakku bergantian!" bentak Airin, menatap Angga tajam.