
Baik keluarga Airin maupun Raffi pun terkejut dengan pernyataan yang dibuat oleh Angga. Tidak pernah terbesit sedikitpun di pikiran mereka, pria yang mereka anggap tidak waras karena selalu memohon ingin menikahi Airin adalah ayah dari Ringga.
Angga masuk ke ruangan pemeriksaan untuk pengecekan golongan darah dan menandatangani dokumen pendonoran darah.
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, semuanya berdiam tanpa mengeluarkan kata. Hanya menunggu kabar tentang operasi Ringga.
Airin beberapa kali mencuri pandang ke arah Angga yang berdiri di sudut ruangan sendirian. Airin merasa khawatir dan juga bersalah pada Angga.
2 jam setelah operasi, dokter mengatakan jika detak jantung Ringga mulai normal dan akan dipindahkan ke ruang rawat pemulihan. Hanya satu keluarga saja yang boleh berjaga untuk sementara. Angga maju ke depan terlebih dahulu, mendahului langkah Ikmal maupun Airin. Dan keduanya baik Ikmal dan Airin akhirnya mengalah dan mundur.
"Apa dia benar ayahnya?" tanya Raffi pada Airin, Airin tertunduk dan menganggukkan kepalanya. Raffi mendesah kesal kemudian pergi meninggalkan Airin dan keluarganya dari rumah sakit.
Semua mata keluarganya saat ini menuju ke arah Airin. Ibunya berulang kali mencubiti punggung Airin dengan kesal tanpa kalimat, dan Airin pun tidak menghindar mendapatkan hukuman itu.
"Kakak capek mengerti kamu, dek," ucap kak Ikmal, kemudian menarik tangan istrinya pergi keluar dari ruang tunggu. Airin hanya mampu tertunduk dan menangis dengan diam.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah," ayahnya berulang kali istighfar sambil mengelus dada, sesaat memandang Airin dengan nafas yang berat.
Hampir 4 jam menunggu, akhirnya Ringga sadar, dan Angga keluar dari ruang pemulihan. Angga menyuruh Airin untuk bergantian berjaga di dalam. Angga yang menyadari posisi Airin saat ini tersudut, berusaha membantu Airin menghindar dari keluarganya.
Ayahnya Airin lalu mengajak Angga untuk mengobrol di kantin rumah sakit, Angga mengikuti langkah ayahnya Airin dari belakang.
Kedua mata yang tertunduk tidak berani berucap sepatah katapun, begitupun ayahnya Airin yang hanya diam dan hening, padahal awalnya ingin memaki pria yang menghamili putrinya saat bertemu. Namun, saat ini yang ada hanya diam di antara mereka.
"Hah …," ayahnya Airin berulang kali menghela nafas panjang di depan Angga, namun Angga masih bergeming dan tetap diam.
"Jadi kamu pria itu?" tanya ayahnya Airin menatap Angga, sedang Angga masih tertunduk karena merasa bersalah.
"Iya," jawab Angga lirih.
"Maafkan saya ayah, seharusnya dari awal saya dan Airin jujur, " imbuh Angga.
Ayahnya Airin melempar pecinya di meja dengan keras kesal, namun tanpa keluar kalimat lain.
"Kalian hidup seperti ini, apa untungnya?" gertak ayahnya Airin dengan nada rendah, dan melotot tajam.
"Saat itu saya belum siap mengatakannya, dan membiarkan Airin seorang diri menanggungnya, saya akan menanggung makian dari ayah, tapi jangan Airin, dia sudah cukup menderita," ucap Angga, kemudian bangkit dari kursi dan duduk berlutut di depan ayahnya Airin, hingga semua mata yang berada di kantin tertuju ke meja mereka. Ayahnya Airin menepuk punggung Angga untuk kembali duduk di kursi.
"Kita bahas nanti saja setelah Ringga pulang dari rumah sakit, untuk sekarang pulanglah dan jangan datang kerumah, sampai ayah menyuruh saya menghubungimu," ucap ayahnya Airin lalu pergi dari hadapan Angga.
Angga hanya diam dan masih bergeming di tempatnya. Meskipun ayahnya Airin tidak memakinya seperti dugaannya selama ini, namun Angga sangat merasa bersalah dengan ayah Airin.
***
Kali ini Airin tidak bisa bersembunyi, keluarganya bahkan Raffi juga sudah mengetahui siapa Angga dan Ringga. Pikiran dipenuhi dengan ketakutan, setelah Ringga keluar dari rumah sakit mungkin dirinya akan diusir lagi dari rumah setelah ketahuan berbohong jika pria yang selama ini diinginkan ayahnya untuk bertekuk lutut meminta pengampunan adalah Angga yang ayahnya biasa panggil Dewangga.
Malam tanpa bintang, tersisa hanya kesunyian.
Airin masih terus menghubungi Raffi dan meminta maaf atas semuanya, namun Raffi masih tidak memberikan balasan. Airin pun sudah mengira hubungan Raffi dan dirinya sudah berakhir.
Setelah Ringga mulai pulih, dokter sudah memberikan izin pada Airin untuk membawa pulang Ringga ke rumah. Ringga bersemangat untuk bertemu dengan nenek dan kakeknya, namun tidak dengan Airin, dirinya yang masih dihantui rasa takut dan berdebar.
Airin pun mengabarkan pada orang tuanya jika akan pulang, ibunya hanya menjawab 'iya' tanpa kalimat lainnya. Hatinya berdebar begitu kencang saat taksi yang dia tumpangi bersam Ringga sudah berada di depan rumahnya. Ringga langsung berlari dan berteriak memanggil kakeknya. Airin tertunduk dan duduk di teras, hingga akhirnya masuk kedalam rumah saat ayahnya menyuruhnya masuk.
"Jangan pergi kemana-mana, sore nanti kita akan berkumpul untuk membahasnya," ucap Ayahnya. Airin hanya tertunduk tanpa menyahut, setelah itu masuk kedalam kamarnya.
***
Hujan datang perlahan, Airin masih berdiri di depan jendela kamarnya melihat setiap tetes air hujan yang turun dari langit, awan bagaikan kapas-kapas kotor yang menggumpal, dan mendung di langit menggambarkan suasana hatinya.
Mobil Angga mulai tampak terparkir di teras rumahnya, kemudian suara motor Raffi juga terdengar datang. Airin gelisah dan bertanya-tanya, pertemuan seperti apa yang ayahnya rencanakan, hingga dua pria di kehidupan Airin datang secara bersamaan.
"Dek, keluar! Kami tunggu di ruang tamu," ucap ibunya, sambil mengetuk pintu kamar Airin. Airin merapikan diri kemudian menghela nafas panjang dan keluar dari kamarnya.
"Ayah mengumpulkan kalian semua disini, agar semuanya terbuka dan jelas. Sebelumnya ayah meminta maaf dengan nak Raffi karena tidak mengatakan soal Ringga," ucap ayahnya yang duduk di tengah-tengah keluarga. Raffi hanya diam dan tertunduk mendengarkan ucapan maaf ayahnya.
"Setelah kamu tahu jika Airin sudah memiliki anak, apakah kau masih mencintai Airin?" tanya ayahnya. Airin menatap Raffi, dan Raffi pun menatap kearah Airin bersamaan keduanya saling menatap dan diam sejenak.
"Saya masih sangat mencintai Airin," jawab Raffi lirih, kemudian menoleh ke arah ayah Airin.
Airin pun terkejut dengan jawaban Raffi.
"Setelah kamu tahu jika ayahnya Ringga adalah nak Dewangga?" tanya ayahnya lagi pada Raffi.
"Iya, karena Airin mengatakan jika sudah tidak memiliki kaitan lagi dengan pria masa lalunya," jawab Raffi.
Ayahnya menelan ludah, kemudian menatap ke arah Airin, namun Airin tetap diam dan langsung menundukkan kepalanya.
"Lalu, apa kau ingin benar bertanggung jawab untuk kesalahanmu, dan benar ingin menikahi Airin?" tanya ayahnya kali ini menatap Angga.
"Tentu, meskipun terlambat aku masih ingin memperbaiki semuanya," jawab Angga, lalu menoleh ke arah Airin.
Ayahnya menghela nafas panjang, dan menatap tiga orang yang berkaitan dalam masalah ini.
"Kau sendiri, siapa yang akan kau pilih?" tanya ayahnya kali ini menatap Airin.
"Siapa yang kau pilih, Rin?" tanya ayahnya lagi, dengan nada gertakan.
Airin mengangkat kepalanya, diam dan masih bingung dengan keputusannya.
"Aku memilih Raffi," jawab Airin, namun matanya masih tak lepas menatap Angga.