Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 26


Airin melirik tajam ke arah Angga yang perlahan mendekat.


"Siapa dia?" tanya kak Ikmal bangun dari tempat duduknya sambil berkacak pinggang.


"Ah, dia lagi …, namanya Dewangga baru saja pindah," sahut ayahnya Airin, berdecak kesal.


"Dia sedikit … tidak waras," imbuh ayahnya Airin menatap Raffi, lalu menaikkan telunjuknya ke kening kemudian dimiringkan.


Raffi tersenyum mendengar perkataan dan gaya ayah Airin yang melucu.


Airin diam dan mencoba berdiri untuk mengusir Angga, namun ibunya menarik tangan Airin untuk duduk kembali.


"Memang kenapa nak Dewangga? Kenapa Airin tidak boleh mengenal pria manapun?" tanya ibunya Airin dengan lembut menatap Angga.


Angga langsung mendekat ke arah ibunya Airin, lalu duduk bersimpuh di kaki ibunya Airin. Hal mengejutkan itu, membuat Airin gelisah.


"Saya ingin menikahi Airin, bu," jawab Angga, menatap mata Ibunya Airin dengan berbinar-binar seperti anak kecil yang merengek menginginkan sesuatu.


"Hah," sahut ibunya Airin terkejut dengan ungkapan hati Angga.


"Tidak bisa, sudah pulang saja sana, Airin sudah dijodohkan," imbuh ayahnya Airin lirih dan menatap Angga.


Raffi pun yang melihat situasi ini tiba-tiba tertawa kecil, Airin ikut tertawa, namun dengan rasa malu, karena acara perkenalan ini terasa berantakan.


"Hah, Astaghfirullah. Ada-ada aja." keluh ayahnya Airin.


"Ini anak tahu-tahu datang tidak salam, dan ingin menikah dengan adikku, sudah sana pulang!" gertak kak Ikmal, lalu menarik tangan Angga, hingga bangkit dari hadapan ibunya Airin.


"Sudah Ikmal, biarkan saja dia, anggap saja dia tidak ada," sahut ayahnya Airin.


Angga pun kembali duduk, dan menatap Airin, namun Airin langsung mengalihkan pandangannya ke arah Raffi.


Kemudian ayahnya Airin menarik kursinya untuk berhadapan dengan Raffi, menanyakan perihal pekerjaan orang tua Raffi, dan apa saja yang Raffi lakukan saat senggang. Raffi menjawabnya dengan sopan dan penuh tutur yang lembut, hingga membuat ibunya Airin terus memuji Raffi di depan Airin. Keluarga Airin pun tetap meneruskan percakapan membahas perjodohan, apalagi Airin juga sudah memberikan lampu hijau kepada Raffi dengan mengatakan ingin mulai mengenal Raffi lebih dekat. Sedangkan, keberadaan Angga seperti tidak terlihat bagi keluarga Airin yang terus berpusat ke Raffi. Namun, Angga tidak menyerah dan tetap duduk di sana.


Setelah hampir dua jam mengobrol, Raffi pun berpamitan. Selayaknya pria yang baik hati dan punya etika, tidak ingin berada di rumah seorang wanita yang belum menjadi istrinya lebih dari pukul 9 malam.


Semua keluarga Airin mengantar kepergian Raffi sampai teras, lalu melambaikan tangan dengan saling melempar senyum.


"Astaga," decak Angga yang melihat keluarga Airin terlalu berlebihan, karena bagi Angga wajah Raffi tidak terlalu tampan ketimbang dirinya.


Setelah bayangan Raffi pergi, semua keluarga masuk kedalam rumah.


"Kau tidak pulang?" ujar kak Ikmal, melotot ke Angga.


"Sudah biarkan, dia akan main catur dengan ayah," sahut Ayahnya Airin.


Angga lalu tersenyum dan segera duduk kembali di sofa, kak Ikmal mengernyit lalu pergi kembali ke rumahnya.


"Airin bikinin kopi dua cangkir," ucap Ayahnya memerintah, Airin mengangguk lalu pergi ke dapur. Sedangkan ibunya masuk kedalam kamar.


Beberapa saat kemudian, Airin kembali dengan nampan yang berisi 2 cangkir kopi dan sepiring cemilan.


"Ayah, kenapa membiarkan Airin mengenal pria lain?" ujar Angga kepada Ayahnya Airin.


"Aku bukan ayahmu, panggil saja om atau pak," sahut Ayahnya Airin lalu menatap tiap pion di papan catur.


"Sudah main catur saja, jangan urusi kehidupan Airin," imbuh Ayahnya Airin, lalu menarik kepala Angga untuk menunduk menata pion agar tidak melihat Airin terus menerus. Airin tersenyum melihat kekonyolan Ayahnya, lalu kembali masuk ke kamar.


***


Esok harinya, pagi-pagi sekali Angga sudah datang ke rumah Airin. Airin sampai terkejut ketika membuka pintu kamarnya, Airin yang sedang menguap tanpa memakai kerudung, kemudian panik, karena awalnya ingin ke dapur lalu kemudian kembali masuk kedalam kamarnya dengan malu.


Airin memakai kerudungnya lalu keluar dari kamarnya lagi.


"Ngapain pagi-pagi disini? baru jam 6 ini," ujar Airin mendekat.


"Bukan urusanmu," jawab ketus Angga, lalu membuang muka.


Kemudian, Ayahnya Airin datang dengan baju olahraganya, sambil di tangannya membawa 2 raket.


"Ayo!" ucap ayahnya Airin kepada Angga.


Angga bangkit dari kursi kemudian mengikuti langkah Ayahnya Airin keluar.


"Ayah, mau kemana?" teriak Airin dari pintu.


"Olahraga, da …," sahut Ayahnya sambil berlari dan melambaikan tangan, Angga ikut berlari juga di samping ayahnya Airin.


"Ya Allah, ayahmu ini seakan punya teman baru, setelah Dewangga pindah kesini," ujar Ibunya dari belakang. Airin pun terkejut lalu menoleh.


"Tadi malam sampai jam berapa ayah main catur, bu?" tanya Airin.


"Entahlah sampai jam 12 sepertinya, nak Dewangga saja tadi malam tidur di ruang tamu kok, baru pulang subuh tadi, lalu kemari lagi," jawab Ibunya Airin.


Airin pun jadi semakin gelisah, bagaimana jika nanti suatu saat ayahnya tahu? Jika pria yang selalu diminta untuk kesini bertanggung jawab atas kehamilan Airin adalah pria yang sama selalu menemani hari- hari ayahnya saat ini.


Airin lalu kembali ke kamarnya dan bersiap untuk pergi bekerja, karena meskipun hari minggu kerjanya tidak pernah libur, bahkan kalau hari weekend kerjaannya bertambah dua kali lipat dari hari biasanya.


***


Hari yang cerah dan sibuk,


dari mulai menginjak toko sampai malam, masih banyak pembeli yang masuk ke toko, padahal jam kerja sudah lewat 15 menit lalu, namun Airin tidak bisa menolak pembeli.


Setelah hampir pukul 10 malam, akhirnya Airin menutup toko, kemudian saat keluar dikagetkan dengan keberadaan Angga yang sudah berdiri di teras toko.


"Ngapain kesini!" gertak Airin.


"Jemput kamu," jawab Angga.


"Jangan, aku tidak mau jika orang tuaku tahu kita sebelumnya saling kenal, kamu ngerti dong, aku belum siap bilang jika kamu Angga," ucap Airin, lalu melangkah pergi meninggalkan Angga, untuk ke rumah bosnya mengembalikan kunci toko.


Angga mengikuti langkah Airin …


Setelah selesai dari rumah bosnya, Airin berniat untuk kabur dari hadapan Angga dan bergegas berlari. Namun, Angga yang tidak mawas diri terkejut dengan sikap Airin, kemudian langsung mengejar Airin.


Airin terus berlari hingga sampai jalan raya, dan berteriak menghentikan bus di seberangnya untuk berhenti.


Tinnnnn ….,


Namun, saat akan melangkah, ada sepeda motor yang tiba-tiba datang dari arah lain dan hampir menabrak Airin, untung saja saat itu Angga sigap langsung menarik tangan Airin, hingga saat ini keduanya saling berpegangan tangan, dan sepasang mata mereka saling menatap lebih dekat, Angga menarik pinggang Airin dengan kuat.


"Jangan membuatku ketakutan kehilanganmu untuk kedua kalinya," ucap Angga lirih.