
Airin mendongak dan melihat seseorang yang dianggapnya sudah pergi namun ternyata masih berada disini.
Airin diam dan menggigit bibirnya, semua orang yang sedang menikmati sarapan pagi menoleh serentak ke meja Airin.
"Ini kak pesanannya," ucap pemilik kedai, mengalihkan tatapan Airin sejenak.
Airin melangkah pergi keluar kedai, diikuti dengan langkah Angga di belakangnya.
Angga tiba-tiba mendahului dan membuka pintu mobilnya. Seakan mengisyaratkan untuk berbincang di dalam mobil. Airin masuk dan duduk disamping Angga yang terlihat berantakan.
"Apa dia belum mandi?" gumam Airin.
"Belum, bahkan aku tidak pulang semalaman," sahut Angga yang ternyata mendengar gumaman Airin.
Keduanya diam tanpa mengeluarkan pertanyaan terlebih dahulu. Airin masih menoleh dan menanti Angga memulai ucapan, namun Angga juga sama saja sepertinya menunggu Airin untuk menanyakan sesuatu.
Hampir 15 menit di dalam mobil, hanya ada keheningan diantara keduanya. Airin menggembungkan pipinya, mengumpulkan angin di dalamnya, bersiap memulai obrolan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Airin menoleh.
"Baik," jawab Angga lirih, sambil menyisir rambutnya yang berantakan, lalu menyemprot minyak wangi di jasnya.
Airin batuk-batuk, kemudian Angga dengan sigap membuka jendela mobil, membiarkan aroma parfumnya keluar.
"Sebentar lagi aku akan masuk kerja, jika tidak ada yang ingin dibicarakan kita akhiri saja," ucap Airin, bersiap membuka pintu mobil, namun Angga menahannya dengan mengunci semua pintu mobil.
"Kemana saja, tidak mengangkat telepon dan meninggalkan sekolah," ujar Angga, kali ini menatap Airin.
Airin yang canggung, menelan ludah dan tertunduk. Mentalnya sangat lemah jika sudah melihat mata Angga, awalnya ingin kesal karena tiba-tiba menggebrak meja di kedai makan, namun saat duduk berdua Airin tidak berani menyinggung hal itu.
"Ada yang harus aku lakukan, tapi aku baik-baik saja … selamat ya untuk pertunanganmu dengan Mona. Aku Ikut senang," sahut Airin, menatap Angga sesaat lalu tersenyum kemudian tertunduk lagi.
"Ada yang ingin kutanyakan" ucap Angga menoleh kearah Airin.
"Apa kamu melahirkan anakku dan melupakanku?" tanya Angga, menarik dagu Airin, hingga kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Airin segera menangkisnya dan tertunduk kembali.
"Hal bodoh apa yang kamu ucapkan," sahut Airin lirih dan dengan nada tertatih.
Angga mengacak lagi rambutnya, seakan pusing mendengar jawaban Airin . Kemudian, menyisirnya rapi kembali. Hal itu membuat Airin yang sesaat melihat tingkah Angga menahan senyum.
Angga menarik nafas kuat dan menatap Airin kembali.
"Aku tidak bodoh, kita sudah dewasa, berusahalah jujur jangan membuat aku selalu dihantui rasa bersalah, kau tahu aku bahkan tidak bisa melakukan hal apapun dengan benar saat memikirkanmu …, jujurlah," ucap Angga lalu menarik kedua pundak Airin. Namun, Airin masih bergeming untuk tetap menyembunyikannya. Melihat cincin yang melingkar di jari Angga, membuktikan saat ini Angga memang bukan miliknya.
"Jangan konyol aku sudah jujur, jika tidak ada yang mau diobrolin lagi, aku ingin pergi." balas Airin. Angga membuka kunci pintu mobil, lalu membiarkan Airin keluar.
Airin tanpa ragu keluar dari mobil dengan diam-diam menahan air matanya keluar. Airin mengepalkan tangannya, dan tidak menoleh kebelakang lagi. Jika dia lakukan, mungkin Airin akan benar-benar kalah dan merasa sia-sia telah sembunyi dari Angga.
Mobil sedan itupun pergi, Airin melihatnya dari kejauhan hingga benar-benar hilang dari pandangannya. Kemudian jongkok, dan menutup matanya dengan kedua tangan. Tangisannya pecah, sudah tidak kuat menahannya lagi. Airin tidak peduli dengan orang yang lalu-lalang di depannya. Dia hanya peduli dengan kebodohannya yang masih ingin dia miliki dan simpan.
Airin mencoba melupakan Angga, dengan lebih sering menghabiskan waktu bersama putranya Ringga. Sepulang kerja, Airin mengambil Ringga dari rumah kakaknya kemudiannya mengajak Ringga tidur bersamanya. Airin tidak ingin kakak iparnya juga memiliki sepenuhnya cinta Ringga karena kesibukannya yang bekerja.
Malam yang cerah, Airin mengajak Ringga untuk pergi ke pasar malam. Untuk pertama kalinya Airin pergi dengan Ringga berdua, biasanya ditemani kakaknya Ikmal dan kakak iparnya yang posesif dengan Ringga. Padahal, Airin Ibunya.
Naik bianglala, lalu menikmati makan harumanis berdua. Sesaat Airin menyadari anaknya sudah tumbuh besar dan sehat.
"Mil, anak kita sudah besar, apa kamu tidak rindu?" Airin menggumam nama Milea. Sahabat baik yang tidak pernah dilupakannya.
Airin kemudian bangkit dan mengikuti langkah Ringga dari belakang.
Ponselnya berdering, dan Airin melihat nama kakaknya di layar ponsel. Airin menggenggam tangan Ringga kuat, sambil mencari tempat yang sedikit tenang untuk bisa menjawab telepon.
Tetapi, langkah orang yang berdesakan membuat genggaman Airin dan putranya terpisah. Airin dengan gugup langsung memasukkan ponselnya ke tas, dan meneriaki nama Ringga disetiap langkahnya berlari.
Dengan wajah panik dan sesegukan karena menangis, Airin terus berlari dan mencari Ringga di setiap sudut meneriaki nama putranya hingga suaranya habis.
Saat sudah lelah mencari, Airin berjongkok sambil masih terus menangis. Airin meminta tolong orang yang lalu lalang untuk membantunya mencari anaknya. Beberapa orang ikut berteriak memanggil Ringga berulang kali.
Hingga akhirnya ada pria paruh baya berlari sambil berteriak " Apakah anak ini?" Airin berlari dengan wajah berantakan mengambil Ringga dalam gendongan pria paruh baya yang menemukan putranya. Airin menepuk punggung Ringga berulang kali karena kesal dan juga bahagia bisa bertemu anaknya lagi.
"Mamah …," Ringga menangis tersedu-sedu setelah mendapatkan pukulan dari Airin.
"Besok lagi jangan pergi kemana-mana, mamah takut … mamah takut," ucap Airin masih dengan menangis, lalu memeluk Ringga erat.
Kemudian Airin tidak berniat lagi untuk melanjutkan keinginannya mengajak Ringga menaiki wahana permainan lain di pasar malam. Pikirannya langsung ingin segera pulang, karena trauma.
Sesampai di rumah, Airin berkata lirih pada Ringga untuk tidak mengatakan kejadian tadi kepada nenek dan kakeknya, Ringga mengangguk sambil mengusap air mata di pipi gembulnya.
Airin langsung membawa Ringga masuk kedalam kamar, mencuci wajah Ringga dan juga wajahnya yang basah karena menangis. Setelah itu keduanya berganti piyama dan bersiap tidur.
"Mama, papa ada dua ya?" ucap Ringga, yang tiba-tiba berceletuk kalimat yang membuat Airin bingung.
"Tidak, kan papa Ikmal aja," sahut Airin, lalu menggendong anaknya ke atas tempat tidur.
"Tidak …, ada dua," Ringga masih mengotot. Airin tersenyum dan mengangguk agar membuat Ringga tenang.
Airin lalu mematikan lampu, dan menepuk punggung Ringga sambil membacakan doa sebelum tidur.
Setelah doa itu selesai, Airin merasa ada yang mengganjal di pikirannya, lalu menyalakan lampu kamar lagi.
"Apa kakek tadi yang bilang?" ujar Airin,sambil menggoyangkan tubuh Ringga, hingga membuat Ringga terbangun lagi.
"Tidak kakek, tapi paman yang tampan seperti papa Ikmal," jawab Ringga, sambil mengucek matanya. Airin sontak terkejut dengan ucapan anaknya.
"Tidak mungkin Angga," gumam Airin.