Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 11


Melihat Airin yang tersungkur di tanah, Milea lari tunggang-langgang. Seorang Pria tua dengan gerobak dorongnya yang menjual aneka buah, tidak sengaja menabrak Airin. Penjual itu pria tua renta yang mungkin saat ini tenaganya telah habis untuk mengendalikan gerobak yang berisi penuh bermacam buah-buahan.


Orang yang lalu-lalang sibuk memunguti buah yang terjatuh, lalu diberikannya pada Pria tua renta itu, tanpa mereka memikirkan wanita yang tersungkur di sebelahnya yang sedang berusaha bangkit dan berdiri dengan kakinya yang terluka.


"Kok bisa sih?" ujar Milea sambil mengangkat tangan Airin, membantunya berdiri.


"Namanya juga jalannya agak sedikit menurun, mungkin bapaknya juga terkejut jadi lepas kendali," sahut Airin.


"Ih, ngagetin. Perutmu sakit nggak?" tanya Milea dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak, sudah jangan ngobrol disini." balas Airin lalu mencoba berjalan, sambil merangkul tangan kiri Milea. Milea mengempiskan nafasnya yang berat dan menuntun langkah Airin.


Tiba didepan toko, Airin berdiri sejenak menenangkan nafasnya.


"Pinjam kursinya, mang," ucap Milea menarik bangku kosong yang dimiliki seorang pria yang memiliki usaha kecil-kecilan memperbaiki jam tangan, tepat di teras toko Milea dan Airin bekerja.


"Iya neng," jawab pria ramah yang bernama Mang karto.


"Kamu duduk dulu, aku belikan plester," ucap Milea kepada Airin.


"Udah Mil nggak perlu, a ...," sebelum kalimat Airin selesai Milea sudah berlari menyeberang jalan menuju apotik.


Airin lalu duduk dan sambil menoleh ke arah belakang, Manda yang mengetahui Airin di teras toko langsung mendekatinya.


"Kok nggak masuk?" tanya Manda.


"Iya, ini aku masuk, kamu makan siang dulu sana!" ucap Airin lalu bangkit dari bangku, dan dengan langkah tertatih masuk ke dalam toko.


"Kenapa kakimu?" tanya Manda, melirik ke kaki kanan Airin dan melihat luka di bagian jari-jari kaki Airin.


"Ada insiden tadi, sudah kamu makan dulu, keburu nanti waktunya habis," ucap Airin yang sudah duduk di depan meja kasir.


"Iya. Em ..., Bu Citra kan barusan pergi, nanti kalau ada temen-temennya Bu Citra datang ke toko bilang suruh nunggu di rumah yang di cipaera ya," ucap Manda meninggalkan pesan sebelum pergi.


"Iya." balas Airin.


Airin berjongkok, dan mencari potongan kain perca bersih di bawah kolong meja kasir yang biasanya dibawa Bu Citra untuk digunakan mengelap keyboard.


Setelah ketemu dengan kainnya , Airin menuangkan sedikit air di kain perca ini hingga basah, dan mengelapnya ke jari-jari kakinya yang terluka.


"Ini!" ucap Milea yang datang, kemudian menyodorkan sekotak plester luka di meja.


Airin dibuat melongo, tak tanggung-tanggung Milea memberikannya satu kotak plester yang berisi sekitar 100 plester luka di dalamnya.


"Buat apa sebanyak ini?" tanya Airin, lalu terkekeh.


"Ah, di apotik nggak boleh beli satu. Sudah simpan saja di kolong, nanti kalau kamu terluka lagi, atau Manda yang terluka jadi nggak repot-repot beli keluar," sahut Milea.


"MasyaAllah, baik banget kamu. Semoga plester ini juga bisa menutup luka di hatimu juga," balas Airin dengan candaan.


"Kalau sekotak ini mana cukup, paling nggak butuh 10 kotak buat menambal hatiku yang terluka karena dikhianati," ujar Milea, yang membahas sakit hatinya dengan sang mantan kekasih.


"Sabar, orang baik memang banyak ujiannya, pasti ada jodoh terbaik untukmu nantinya," sahut Airin, lalu menepuk pundak Milea. Milea menangkisnya dan berjalan ke arah monitor cctv, mengecek setiap sisi sudut toko. Milea memiliki loyalitas yang tinggi di setiap hal yang dikerjakannya, dengan pertemanan juga sangat royal.


Airin dan Manda sibuk mencari kardus bekas untuk ditempatkan didepan pintu masuk toko sebagai keset, supaya jika ada pembeli yang datang sepatu atau sandal mereka yang basah tidak mengotori lantai toko.


Namun, setelah hampir jam 8 malam, tidak ada lagi pembeli yang mampir ke toko.


"Mungkin karena hujan deras, orang malas datang," ucap Milea yang tengah sibuk mengunyah makanan.


"Nggak apa-apa nih, kita baru menjual 5 pasang sepatu hari ini, Bu Citra marah nggak ya?" sahut Airin lalu duduk di samping Milea, dan mengambil potongan roti bakar bagiannya.


"Nggak lah, kecuali memang kalau ada pembeli tapi kita nggak bisa menjualnya. Kalau memang nggak ada yang datang, gimana kita mau nawarin barang." balas Milea, dengan mulut setengah penuh makanan.


Airin dan Manda hanya menganggukkan kepala, mendengarkan ucapan Milea yang lebih lama bekerja di toko sepatu ini.


Malam mulai larut, hujan masih deras saat jam kerja selesai. Setelah menutup toko, Airin dan Milea masih berteduh di teras toko. Sedangkan Manda sudah pulang dijemput oleh pacar barunya.


2 orang pria dengan warna payung yang sama berdiri didepan Airin dan Milea. Wajah keduanya tertutup payung, hingga Milea dan Airin sedikit membungkuk untuk melihat wajah pria asing yang tiba-tiba berdiri di depan mereka.


" Ah, si kembar pujaan hatiku," ucap Milea, dengan senyum mengembang.


"Ayo, kita kan sejalan," Jawab Risal yang saat ini berhadapan dengan Milea.


"Iya, iya aku mau, mana yang Riski kamu atau dia," sahut Milea sambil menoleh kanan kiri memastikan dia berjalan pulang dengan pujaan hatinya.


Risal menunjuk ke orang disampingnya, Milea lantas langsung mendekati Riski dan menarik tangan Riski untuk bergegas berjalan. Sedang Airin masih terdiam canggung.


"Udah, ayo!" ucap Risal lalu menarik tangan Airin.


Airin yang tidak punya pilihan lain langsung mendekat ke Risal agar tidak kehujanan. mereka berempat berjalan bersama di tengah hujan deras dan melewati jalanan yang banjir hingga semata kaki.


Risal sesaat diam-diam mencuri pandangan ke arah Airin, namun Airin yang menyadari hanya diam saja tidak berani memandangnya balik.


Setelah sampai di tempat kos, payung itu ditutup, kemudian Risal dan Riski menaiki tangga menuju kamar mereka. Airin kembali ke kamarnya, Milea juga kembali ke kamarnya.


Airin bergegas mandi untuk mencuci rambutnya yang basah agar tidak terkena flu, namun dirinya dikejutkan dengan air yang benar-benar dingin keluar dari keran. Tubuhnya semakin tambah menggigil setelah mandi.


Airin menarik selimut dan membalut tubuhnya, sambil perlahan memakai pakaian. Lantai kamarnya sangat dingin, bahkan karpet bulu tempatnya untuk tidur juga terasa ikut dingin.


tok ... tok ... tok ....


suara ketukan pintu mengejutkan Airin, Airin bergegas mengancingkan piyama dan memakai kerudung, setelah itu membuka pintu kamarnya.


"Ini buat kamu, minumlah," ucap Risal yang tersenyum sambil memberikan segelas minuman ke Airin.


Airin masih diam dan tidak meraihnya.


"Ini hanya air jahe, sudah dipanaskan. tidak aku tambahi racun," imbuh Risal. Airin lalu meraihnya dan tersenyum.


"Terima Kasih," balas Airin.


Risal tetap berdiri didepan kamar Airin meskipun air jahe sudah berada di tangan Airin.


"Mau ke kamarku nonton film horor nggak, ada cemilan juga," sahut Milea yang tiba-tiba datang dan langsung memberikan tawaran itu kepada Risal.