
'Aku dan kamu takkan pernah bersatu, walau waktu terus memaksa kita untuk selalu bersama'
'Aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri lebih lama'
'Jika sekali lagi, aku mendengar cinta dari bibirmu untukku. Kali ini aku akan menampar pipiku berulang kali untuk sadar'
"Airin"
Suara yang ingin Airin hilangkan dari hidupnya.
Airin membuka matanya perlahan, dirinya sudah tidak berada di dalam kamar. Suara monitor detak jantung, menyandarkannya jika saat ini dia berada di Rumah Sakit. Kesakitan yang barusan dia rasakan sedikit hilang.
Airin membuka matanya lebar, dan melihat Dokter yang memeriksa kehamilannya setiap bulan berdiri di depannya. Menggenggam tangan Airin dengan kuat.
"Maaf, bayimu tidak tertolong,"
Kalimat itu tidak lagi membuat Airin terkejut. Airin sudah menyadarinya, jika kehamilan kedua ini tidak akan berhasil.
"Kamu sudah sadar?" tanya Angga mendekat, kemudian merangkul Airin. Airin diam tidak membalas rangkulan itu maupun menolaknya.
Sejenak pikirannya hanya kosong. Air matanya kering, tidak mampu menangis. Padahal, saat ini Airin sedang berada di dalam kesedihan. Kehilangan bayinya untuk kedua kalinya, kehilangan harapannya untuk kesekian kalinya.
Malah, air mata Angga yang membasahi pundak Airin. Dan Airin hanya menanggapinya dengan perasaan kesal yang dipendam.
'Inikan kemauanmu,' batin Airin keras.
Dalam keadaan menyedihkan inipun Ibu mertuanya tidak terlihat datang untuk menjenguk. Airin semakin geram, kemudian mendorong pundak Angga untuk menjauh darinya.
"Aku ingin istirahat," ucap Airin. Menarik selimutnya, dan menyembunyikan wajahnya yang sayu kedalam selimut. Berulang kali menepuk dadanya agar menangis, rasanya seperti ada yang janggal kali ini. Padahal dia baru saja keguguran, namun air mata enggan keluar seperti biasanya saat dia bersedih.
"Akhirnya, mungkin ini akhirnya …" gumam Airin.
Setelah tidak mendengar kembali suara suaminya. Airin membuka selimutnya, menahan rasa sakit di perutnya setelah mendapatkan beberapa jahitan. Berjalan keluar kamar pasien, menuju ke Resepsionis.
Meminta bantuan kepada salah satu perawat untuk meminjamkannya telepon. Airin berniat menghubungi Kak Ikmal.
Panggilan teleponnya pun terjawab. Airin menceritakan pada kakaknya jika saat ini dirinya berada di Rumah Sakit. Dan meminta Kak Ikmal untuk datang menjemputnya. Kak Ikmal pun menyetujuinya, kemudian Airin menutup telepon dan kembali ke kamar pasien.
"Kamu dari mana saja?" tanya Angga yang ternyata sudah kembali ke kamar.
Airin hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun kepada suaminya. Kali ini dia ingin benar-benar pergi dengan keheningan.
"Kamu nggak boleh kemana-mana, paling tidak hari Jumat baru bisa pulang," ucap Angga yang menjelaskan Airin harus di rawat tiga hari di Rumah Sakit. Airin tetap bergeming dan diam. Dia masih mencium aroma alkohol dari mulut suaminya, dan itu membuatnya semakin kesal.
Beberapa jam kemudian, Angga berpamitan pulang untuk mengurus sesuatu. Airin tetap sembunyi dibalik selimut tanpa menyahut. Keinginannya hanya menunggu kakaknya datang menjemputnya dan pulang ke Bandung. Toh, sudah tidak ada lagi yang membuat Airin bertahan di kota Jakarta.
Alasannya untuk bersama dengan Angga, dan membenahi rumah tangganya yang di ujung kehancuran sudah kandas dengan kehilangan bayinya saat ini.
Hingga akhirnya Kak Ikmal datang. Dengan mata yang basah, Airin memeluk erat kakaknya. Kak Ikmal tanpa kalimat hanya menangis dan menepuk punggung Airin berulang kali.
"Aku ingin pulang," ucap Airin lirih.
"Dengan kondisimu yang seperti ini," sahut Kak Ikmal.
"Aku sudah tidak tahan, Bang,"
Air mata baru bisa tumpah di depan orang yang tepat bagi Airin. Airin merasa lega, kesedihannya keluar bersama dengan air mata.
"Coba nanti kakak bicara dulu dengan Dokter," ucap Kak Ikmal.
Airin mengangguk, dan menggenggam tangan kakaknya dengan erat.
Tidak ada keinginan lagi untuk melihat suaminya, yang bagi Airin saat ini Angga hanyalah pria yang hanya memberikan sayatan luka kecil perlahan hari demi hari hingga menganga sampai luka itu tak mampu terjahit dan tertutup kembali.
Dokter datang, kemudian Kak Ikmal membicarakan tentang keinginan Airin untuk pulang. Namun, Dokter melarangnya dengan alasan kondisi Airin yang masih lemah. Airin tetap bersikeras ingin pulang, hingga berteriak sambil menangis. Keinginannya sudah bulat.
Akhirnya Kak Ikmal pun memberikan tanda tangan untuk surat persetujuan jika Airin keluar dari Rumah Sakit saat ini, Rumah Sakit tidak mau ikut campur jika terjadi kesalahan yang fatal dalam kondisi Airin.
Airin tidak meninggalkan pesan terakhir maupun surat kepada Angga. Dia hanya buru-buru ingin pergi dan tidak ingin melihat Angga lagi. Karena dengan melihat Angga, dirinya jadi teringat kembali saat-saat akan kehilangan bayinya suaminya malah terkapar mabuk.
Namun, saat langkahnya berada di Lobby. Sepasang mata yang ingin di hindarinya saat ini sedang menahan langkahnya. Airin merangkul tangan Kak Ikmal dengan erat, mencari tempat perlindungan.
"Kamu mau kemana?" tanya Angga, mendekat ke arah Airin.
Airin menghindar, melepaskan rangkulannya dari tangan Kak Ikmal, berlari sempoyongan menghindari suaminya hingga sampai terjungkal. Kak Ikmal berlari, dan membantu Airin bangkit.
"Sudah tenang, biar aku yang berbicara," ucap Kak Ikmal lirih kepada Airin.
"Hey, berhenti! Airin," ucap Angga, ikut berlari mengejar langkah Airin dan Kak Ikmal.
Angga berhasil meraih tangan Airin, dan menariknya. Kak Ikmal kemudian, melepaskan cengkraman tangan Angga.
"Biarkan kami pergi," ucap Kak Ikmal.
"Tidak, dia masih istriku," ucap Angga. Menarik tangan Airin kembali. Airin kemudian menarik tangannya kuat, dan menampar pipi kanan Angga dengan keras. Hingga semua mata tertuju ke arah mereka.