
"Siapa ini?" tanya Airin.
"Saya sekretaris Pak Angga, saat ini Pak Angga sedang berada di ruang pemeriksaan," sahut suara wanita, yang memegang ponsel suaminya Airin saat ini.
"Ada apa?" tanya Airin dengan nada panik.
"Mobil Pak Angga, tadi pagi mengalami kecelakaan, Bu. Saat ini bapak ada di ruang pemeriksaan,"
"Astaghfirullah.Bagaimana dengan suami saya? Apa lukanya parah?"
"Saya juga belum tahu, sepertinya tidak terlalu parah, karena bapak dan saya duduk di kursi belakang. Sedang supir saat ini sedang masuk dalam ruang operasi, akibat benturan di kepalanya," jawab sekretaris Angga.
"Ya sudah, nanti jika Pak Angga sudah keluar, katakan untuk segera menghubungi saya."
"Baik, Bu."
Setelah panggilan itu berakhir, Airin semakin diselimuti kerisauan. Pikirannya melayang ke hal-hal buruk. Airin kemudian memberitahukan kabar itu pun kepada kedua orang tuanya. Ibunya ikut panik, sampai duduk di sofa dengan raut wajah yang syok.
Setelah itu, Airin tidak bisa lagi menghubungi nomor ponsel Angga. Airin semakin stres karena dilanda kegelisahan.
Malamnya dia mengalami insomnia dan tidak berhenti terus menghubungi Angga.
Mata yah sembab, dan air mata yang kering membekas di pipi. Suara klakson mobil mengejutkannya. Airin turun dari tempat tidur, kemudian berjalan tertatih-tatih keluar dari kamarnya.
Senyumnya mengembang, ketika melihat Angga pulang. Orang tuanya juga keluar dari kamar menyambut kedatangan Angga.
Tangan kiri Angga menggunakan gips dan perban, Airin mendekat sambil menangis tersedu-sedu.
"Kamu tidak kenapa-kenapa, Nak. Ibuk cemas saat Airin bilang kamu kecelakaan?"
Ibunya Airin mendekat dan menepuk pundak Angga. Angga tersenyum tipis, sesaat mengeram kesakitan saat menggerakkan tangan kirinya. Airin kemudian memeluk Angga, sambil terus memukul perlahan punggung Angga.
"Aku cemas,lain kali jika ada apa-apa telepon," ucap Airin.
"Iya, kemarin juga aku langsung ke Rumah Sakit, jadi tidak sempat menelpon"
"Aku takut, apalagi Ringga terus merengek memintamu pulang, kamu baik-baik saja kan?"
Airin menatap wajah Angga, dan menyentuh kening Angga yang tertempel plester luka.
"Iya, hanya tangan kiri ku saja yang ke hantam pintu mobil," jawab Angga, kemudian berangkat masuk kedalam kamar, Airin mengikuti langkah suaminya perlahan dari belakang.
Setelah Angga dan Airin masuk kedalam kamar, kemudian pintu pun terkunci. Angga melepas kemejanya, dan Airin bisa melihat beberapa luka goresan di punggung Angga.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Airin.
"Entahlah, padahal baru saja mobilnya di bawa ke bengkel untuk servis, tapi tiba-tiba remnya blong di tengah jalan, untuk saja hanya menabrak pembatas jalan,"
Airin mendekat, membantu Angga melepas celananya. Airin juga melihat beberapa luka di betis kiri suaminya.
"Kamu sudah makan, Rin?" tanya Angga mendekat, kemudian menatap mat Airin dan menyentuh pipi kanan Airin perlahan.
"Belum, seharian kemarin aku tidak tenang, aku takut setelah mendengar hal itu, kamu tahu sendiri kan …. Aku tidak mau kamu juga mengalami hal yang sama sepertiku," jawab Airin, kemudian menangis.
"Sudah, aku tidak apa-apa, ambil makan sana! Kita makan di kamar saja," pinta Angga, Airin mengangguk kemudian keluar dari kamar perlahan dengan langkah kakinya yang tertatih, karena belum cukup bisa berjalan dengan sempurna.
Setelah mengambil sepiring nasi dan beberapa lauk, Airin kembali masuk kedalam kamar. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu, saat mendengar obrolan Angga dan Mona lewat telepon.
"Kenapa? Dia hanya tanya kondisiku saja," ujar Angga.
Airin melirik tajam sesaat, dan tidak mengeluarkan pertanyaan.
Angga mengambil piring dan meja, kemudian menyodorkan sendok yan berisi nasi dan lauk ke arah mulut Airin. Airin membuka mulutnya, mengunyahnya perlahan dan masih melirik sinis ke arah Angga.
"Beneran, cuma tanya kabar saja, sudah jangan seperti itu, aku jadi malas kalau berdebat saat baru pulang," gerutu Angga, kemudian menaruh piring ke meja dengan keras.
Airin menghela nafas panjang, kemudian mengambil piring di meja dan menyuapi Angga. Keduanya hening dengan saling menyuapi namun tidak mengeluarkan kata atau kalimat.
Setelah makanan habis, Airin kemudian pergi keluar kamar membawa piring kotor, sambil sesaat menoleh ke arah kamarnya, hatinya masih penasaran, Apakah Angga akan menelepon Mona kembali?
Dan benar saja, saat akan kembali ke kamar, Airin mendengar Angga menelepon tetapi dengan suara lirih. Airin bersembunyi di baik pintu sambil mendengarkan siapa kali ini yang menelepon Angga.
Namun hanya kata "Iya" dan "Oke" saja yang terdengar keluar dari mulut Angga, setelah itu panggilan itu berakhir. Entah kenapa, saat ini Airin semakin mudah merasa cemburuan. Padahal Angga sudah memberikan penjelasan tentang hubungannya dengan Mona, namun Airin masih terus merasa penasaran.
Airin masuk kedalam kamar, kemudian berbaring di tempat tidur. Sesaat melirik ke arah Angga yang masih sibuk dengan ponselnya dan mengetik beberapa kalimat di chat.
"Apa tidak bisa, sekali saja saat pulang mengobrol denganku, menceritakan sesuatu hal padaku. Apa harus menatap ponsel terus?" tanya Airin dengan nada suara kesal, Angga menoleh kemudian tersenyum tipis, lalu kembali lagi menatap layar ponselnya.
Airin menarik selimutnya, dan mulai memejamkan matanya perlahan karena merasa mengantuk, setelah semalaman begadang hanya menunggu kabar Angga. Tapi orang yang dikhawatirkan, malah selalu sibuk dengan dunianya sendiri.
"Apa sih?" kata Angga mendekat, dan menarik selimut Airin. Airin menariknya lagi, karena benar ingin tidur.
"Apa kamu tidak merindukanku? Suami pulang malah tidur dan sembunyi di balik selimut," ucap Angga, kemudian mencium pipi Airin.
Airin diam dan bertahan dengan memejamkan mata, perasaannya masih kesal dengan sikap Angga.
"Apa kau tak rindu padaku?" ucap Angga lirih, kali ini ciumannya perlahan mendarat ke leher Airin. Kemudian menggenggam tangan kiri Airin.
"A … a …,"
Angga mengeram kesakitan, saat tangan kirinya di gerakkan. Airin membuka mata karena panik. Angga kemudian tersenyum, dan mendekatkan wajahnya ke arah Airin.
"Apa sakit sekali?" tanya Airin.
"Tidak terlalu, lebih sakit jika aku tidak dipedulikan olehmu," jawab Angga.
"Ish, aku tanya beneran," sahut Airin.
"Aku juga jawab beneran,"
Angga mendekat, kemudian perlahan mendaratkan ciumannya di bibir Airin. Airin masih mencoba menolak, karena terbesit rasa kesal. Angga kemudian tersenyum, dan mencium Airin semakin kuat, seakan membungkam mulut Airin seutuhnya dengan bibirnya.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Angga, menatap mata Airin.
"Bener?" sahut Airin.
"Iya, aku memang jarang menelponmu, karena aku memang benar-benar sibuk dengan rapat dan ha lainnya, tapi aku selalu memikirkanmu dan merindukanmu,"
"Apa kau sudah sehat?" tanya Angga. Airin mengangguk.
"Ayo kita olahraga pagi sebentar,"
Satu persatu kancing piyama Airin pun terbuka.