
Kesunyian sangat terasa, sejenak duduk di teras. Melihat papan bertuliskan nama Ayahnya. Airin menyeka air matanya kembali, tertunduk menyembunyikan kesedihannya.
"Sabar, semua sudah takdir," ucap Kak Ikmal. Duduk di dekat Airin, mengusap kepala Airin lembut. Airin masih tertunduk, sesenggukan menangis tanpa suara.
"Ayah sakit apa sebenarnya, Bang?"
Airin mendongak, menatap wajah kakak laki-lakinya.
"Abang juga tidak tahu, Dek. Kau tahu sendiri kan, Ayah tidak pernah mengeluh hal apapun. Mungkin karena terlalu banyak begadang,"
"Masa iya hanya karena banyak begadang, bukankah dari dulu memang Ayah suka begadang, tapi tidak apa-apa kok,"
"Ya sudah jangan dibahas lagi. Sekarang, kita doakan saja semoga Ayah mendapatkan tempat terbaik disisi Allah,"
Airin mengangguk, menyeka air matanya. Kemudian, memeluk Kak Ikmal.
"Bagaimana Angga? Apa dia masih dekat dengan Mona?" tanya Kak Ikmal, menatap mata Airin. Airin menghindar dan bangkit.
"Aku masuk kedalam dulu, Bang. Aku lupa nyiapin Ringga tadi, dia pasti lapar." jawab Airin.
Kak Ikmal menarik tangan kiri Airin, membuat Airin kembali duduk. Airin menunduk, dan berusaha bangkit kembali.
"Duduk dulu! Abang mau bicara, Dek."
"Tapi, aku …"
"Sudah, duduk dulu."
Airin kembali duduk, melihat raut wajah kakaknya yang kesal, membuatnya tidak bisa berkutik.
"Ceritakan sejujurnya. Apa yang membuatmu pulang?" tanya Kak Ikmal.
Airin tersenyum dan menatap wajah kakaknya.
"Kan sudah aku bilang, Ringga rindu kakeknya,"
"Jangan bohong!" sahut Kak Ikmal.
"Ti … tidak,"
"Katakan sejujurnya,"
Tatapan Airin berubah tertunduk. Mengutak-ngatik tangannya dengan gugup. Maju mundur perasaannya untuk jujur.
"Iya," jawab Airin.
"Iya apa?" tanya Kak Ikmal menatap Airin. "iya, dia masih bersama Mona maksudmu?"
Airin mengangguk perlahan.
"Astaghfirullah, padahal kau sedang hamil pun dia masih mengurusi Mona?"
"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya suamiku inginkan. Sejauh ini aku melihat mereka masih bersama dan lebih dekat. Apalagi sejak perusahaan Angga mulai bangkrut, dan mengandalkan pinjaman dari perusahaan Mona."
Kak Ikmal mengepalkan tangannya, memukul bangku dengan keras. Meluapkan kekesalannya pada orang yang tidak berada disini.
"Lalu, kau masih mengharapkannya?"
Airin tertunduk mengusap perutnya.
Kak Ikmal berdiri, berkacak pinggang dengan memasang raut muka kesal menatap Airin. Airin tertunduk, menghindar.
"Lalu? Apa langkahmu sekarang? Kau hamil lagi, kau masih ingin bertahan?" tanya Kak Ikmal.
"Aku tidak tahu,"
"Astaghfirullah Rin, dari awal dia datang kakak sudah benci dengan dia. Tapi kamu dan Ayah berusaha memaafkan dia. Sampai kalian menikah. Coba saja, kamu menikah dengan Raffi, hidupmu tidak akan seperti ini!"
Airin diam, mendengar amarah yang bercampur nasihat dari mulut kakaknya. Hanya air mata yang jatuh dari pipinya, memberikan jawaban atas penyesalannya.
TLILILIT
Ponsel Airin berdering, Airin merogoh saku celananya. Menatap layar ponselnya, panggilan dari suaminya menunggu untuk di jawab.
"Siapa? Angga?" tanya Kak Ikmal.
Sebelum Airin menjawab, Kak Ikmal langsung menarik ponsel di tangan Airin. Menekan tombol speaker.
"Kamu dimana? Cepat pulang!" gertak Angga dengan lantang.
Mendengar suara keras dari Angga untuk Airin, Kak Ikmal pun menyahutnya.
"Kau yang pulang ke Bandung. Aku tunggu!"
Kak Ikmal, langsung mematikan telepon setelah memberikan jawaban. Memberikan ponselnya kepada Airin lagi, lalu pergi meninggalkan Airin di teras.
Ponsel Airin berdering kembali. Suaminya menelepon kembali. Airin menatap layar ponselnya sejenak, lalu mengurungkan niatnya untuk mengangkatnya.
Panggilan berhenti, lalu beberapa menit kembali ponselnya berdering. Airin kemudian mematikan ponselnya dan fokus mengurus acara pengajian di dalam rumahnya. Karena beberapa kerabat satu persatu datang.
Hingga malam pengajian pun tiba, setelah adzan isya berkumandang. Satu persatu tamu datang. Airin yang baru saja lima menit merebahkan tubuhnya di tempat tidur, bangkit kembali dan keluar dari kamar, setelah mendengar suara ramai di ruang tamu.
Airin duduk di samping kak Dista yang sedang memangku putranya. Membagikan buku Yasin kepada para tamu yang hadir. Setelah itu, mendengarkan kalimat sambutan dari Kak Ikmal.
Air mata mulai tak terbendung lagi, saat membacakan beberapa doa untuk almarhum Ayahnya. Setiap moment dan kenangan terlintas di pikiran Airin. Tawa dan senyum Ayahnya terbayang saat ayat-ayat Alquran didengar dan dibacanya lirih.
Sebuah penyesalan yang tidak bisa diubah. Tidak berada di saat-saat terakhir Ayahnya menghembuskan nafas, bagaikan sebuah sayatan yang dibuat tanpa menyentuh. Menyalahkan dirinya, yang akhir-akhir lalu jarang menghubungi Ayahnya, hingga berita duka pun tak terdengar.
Sibuk dengan ketakutannya, menutup luka agar semua orang yang dia sayangi tidak melihat kesedihannya. Itulah yang dilakukan Airin. Tapi hal itu, justru membuatnya merasa bersalah. Hingga akhirnya dia tidak bisa jujur pada Ayahnya, jika sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Hal yang sama juga dilakukan Ayahnya ternyata, menutup luka dan rasa sakit sendirian hingga sampai ajal menjemput..
'Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi,' batin Airin keras.
Setelah acara pengajian selesai. Airin duduk mendekati Kak Ikmal yang sedang menggulung tikar.
"Bang," ucap Airin lirih. Kakaknya menoleh. "sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan,"
Kak Ikmal berhenti menggulung tikar, dan menatap wajah Airin.
Namun, sebelum ceritanya dimulai …
"Assalamualaikum,"
Suara yang tak asing terdengar, mengetuk pintu beberapa kali. Membuat Airin dan Kak Ikmal menoleh kebelakang bersamaan.
"Papa!" teriak Ringga yang berlari, menghampiri Angga.