
'Cukup beranikah aku kali ini mengambil Angga dari Mona,' kalimat itu sempat terbesit, namun saat mendengar suara Mona, nyali Airin menciut lalu mengakhiri panggilannya dan mematikan ponsel.
Dengan perasaan gugup dan gemetar, Airin kembali berbaring di tempat tidur. Jantungnya terus berdebar, bagaikan seseorang yang akan mencuri milik orang lain diam-diam.
Airin lebih risau kali ini, pemikirannya tentang Angga yang akan pergi keluar kota bersama Mona semakin mendominan di otaknya.
Malam ini Airin tidak bisa tidur nyenyak, berulang kali terjaga dan bangun lalu mondar-mandir. Pikiran kotornya, tentang Mona dan Angga yang akan pergi berduaan menyengsarakan batinnya. Airin menatap cermin dan melihat ke dalam hatinya, 'Apakah aku benar masih mencintainya?' batin Airin keras.
***
Pagi ini di sapa dengan mata sembab yang karena mengalami insomnia. Airin keluar dari kamarnya dengan tubuh sempoyongan menuju dapur, kemudian meneguk segelas air putih.
"Ya Allah, ada apa dengan diriku ini," gumam Airin lalu kembali lagi ke kamarnya, namun saat akan membuka pintu kamarnya, Airin melihat ayahnya yang murung duduk di ruang tamu sambil merokok. Tidak seperti biasanya, biasanya pagi-pagi ayahnya setelah sholat subuh langsung lari pagi. Setelah pensiun menjadi kepala desa, ayahnya terlihat kesepian dan kurang kegiatan.
Airin mendekati ayahnya, lalu duduk bersandar di bahu ayahnya dengan manja, sambil masih terus menguap.
"Ayah kenapa? Mau Airin bikinin teh?" tanya Airin.
"Tidak," jawab ayahnya dengan nada yang lesu.
"Kalau saja Ringga sudah besar, dan Ikmal sudah punya anak, pasti ramai, ayah pagi-pagi bisa mengantar Ringga sekolah lalu siangnya bermain dengan anaknya Ikmal," imbuh ayahnya mengeluh.
Airin tersenyum tipis mendengarkan curhatan ayahnya pagi-pagi. Setelah itu Airin kembali ke kamar untuk bersiap berangkat kerja, karena hari ini kak Ikmal tidak bisa mengantar Airin kerja, kakaknya sedang ingin cuti.
Airin seperti orang linglung berdiri di depan jalan raya menunggu angkot datang, sesaat menghela nafas panjang karena kurang tidur dan pikirannya masih dipenuhi rasa penasaran tentang Angga dan Mona, Airin menepuk kedua pipinya berulang kali untuk sadar.
Hari yang panas dan kurang bersemangat.
Hampir seharian toko sepi, hanya ada 5 pembeli yang datang, Airin dan pegawai lainnya mendapatkan beberapa omelan dari bosnya karena tidak bisa meningkatkan target penjualan. Airin yang biasanya paling depan berdiri membela teman-temannya, hari ini dia hanya diam, tubuh dan hatinya lelah setelah semalaman memikirkan Angga.
Setelah pulang kerja, Airin mencoba menyapa Raffi lewat chat agar suasana hatinya yang risau tentang Angga bisa beralih ke hal lainnya. Keduanya saling bercerita perjalanan hidup masing-masing lewat pesan. Namun, beberapa hal masih ditutupi Airin, yaitu tentang dirinya yang sudah memiliki anak. Airin belum cukup berani mengaku kepada Raffi. Airin masih menunggu kakaknya untuk mengizinkan Airin jujur, karena kakak dan ayahnya juga masih ingin status Ringga tetap menjadi rahasia.
Satu, dua , tiga hari berlalu …
Malam ini, kesunyian masih terasa, Airin melihat ayahnya menoleh ke arah pintu berulang kali seakan menanti seseorang datang kerumah. Ibunya sampai tersenyum melihat tingkah kekanakan ayahnya.
"Assalamualaikum, ayah …" suara yang dirindukan akhirnya datang.
Airin melihat ayahnya tersenyum, kemudian berpura-pura tenang saat Angga datang.
Airin mengintip dari pintu kamarnya, dan melihat Angga datang dengan membawa beberapa tentengan tas di tangan kanan kirinya, kemudian menjatuhkannya dan langsung memeluk ayahnya Airin.
"Ayah, aku bawakan sesuatu," ujar Angga lalu mengeluarkan salah satu barang dari tas yang dibawanya.
"His, jangan panggil aku ayah, om atau pak saja, aku bukan ayahmu," sanggah ayahnya, lalu mengintip tas yang dibawa Angga.
Ibunya keluar dari dapur setelah mendengar suara Angga, Angga juga memberikan hadiah kepada ibunya Airin. Sebuah tas anyam berwarna putih, ibunya tersenyum merekah senang menerimanya. Sedang ayahnya mendapatkan sepatu putih baru untuk bermain badminton. Airin tersenyum dari kejauhan.
Ibunya lalu melewati kamar Airin dan memamerkan pada Airin oleh-oleh yang dibawa Angga, Airin tersenyum lalu mendekat ke ruang tamu.
"Lihat Rin, ayah keren kan," ujar ayahnya memamerkan sepatu baru di kakinya. Airin mengangguk dan tersenyum, kemudian sedikit mengintip berharap Angga juga memberikan sesuatu padanya. Namun saat semua isi tas tentengan itu dikeluarkan, sisanya hanya mainan baru untuk Ringga. Airin menelan ludah dan sedikit mendesah kesal, kemudian masuk kedalam untuk mengambil dua cangkir kopi untuk ayahnya dan Angga.
"MasyaAllah, cantik banget ya dek tasnya, bisa buat jalan-jalan," ucap Ibunya yang masih berputar-putar memakai tas pemberian Angga, Airin mengangguk dan tersenyum, menyimpan sedikit kekesalan karena sepertinya Angga tidak membelikan apapun untuknya.
Airin keluar membawa dua cangkir kopi dengan raut muka yang lesu, namun melihat ayahnya tersenyum kembali dan mengeluarkan papan caturnya membuat Airin sedikit bahagia.
Setelah mengantar minum, Airin kembali ke kamar dan mengintip Angga dari kejauhan seperti biasa. Airin melihat tawa Angga yang lepas dan sumringah, sesaat mengobati kerinduan Airin. Angga bangkit dari tempat duduknya dan mengarah ke Airin, Airin lantas kelabakan untuk menutup pintu.
"Rin," suara Angga lirih dari balik pintu, Airin lalu membuka pintu kamarnya dan melihat Angga berdiri di depan kamarnya.
Airin mengangkat dagunya, mengisyaratkan maksud kedatangan Angga di depan kamarnya.
Tanpa kalimat, Angga lalu menarik tangan kanan Airin dan memberikan kotak kecil hitam. Kemudian Angga pergi menuju kamar mandi. Airin tersenyum, lalu menutup pintu kamarnya. Dengan perasaan berdebar Airin membuka kotak pemberian dari Angga. Kemudian matanya berbinar-binar ketika mengetahui isi kotak itu adalah sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Airin melompat senyum kegirangan, sambil menahan kegembiraannya di dalam hati.
Airin langsung memakai kalung itu, dan duduk di depan cermin. Sesaat tersenyum lalu melompat kegirangan lagi seperti anak kecil. Kemudian Airin berbaring di tempat tidur, sambil terus melihat liontin berbentuk hati itu.
Setelah perasaannya bisa dikendalikan, Airin membuka pintu kamarnya dan duduk di depan pintu sambil melihat Angga duduk di sofa ruang tamu. Keduanya saling bertatapan dari jauh. Angga melempar senyum tipis ke arah Airin, Airin membalasnya dengan menganggukkan kepala.
Keduanya memberikannya kode isyarat dari jarak jauh, Airin menunjukkan jika kalungnya sudah dia kenakan, Angga tersenyum malu dari jauh, sampai berulang kali kepala Angga di tarik ayahnya Airin untuk fokus dengan pion di papan catur. Airin menahan senyumnya, lalu terkekeh dalam diam. Kerisauannya seakan hilang hanya dengan kalung yang melingkar di lehernya. Airin lalu memasang senyum tersipu sambil menatap Angga.
"Ayo kamu jalan!" ujar ayahnya yang terus memarahi Angga karena sedari tadi menatap ke arah Airin.
Set..
"Kamu suka nak Dewangga ya, dek?" ucap Ibunya yang tiba-tiba. Airin menoleh dan terkejut.