
Airin kemudian membuka selimut, dan menyalakan lampu tidur di meja.
Angga dan Mona seakan kelabakan dengan situasi ini, Angga kemudian mendorong Mona untuk keluar dari kamar.
"Kau belum tidur, sayang?" tanya Angga, dengan wajah yang gugup, kemudian menoleh ke arah Airin dengan senyum. Airin menggelengkan kepala menanggapinya.
"Maaf tadi aku keluar sebentar," ucap Angga, duduk di samping Airin dan menggenggam tangan Airin. Airin bisa merasakan tangan yang dingin dari Angga, serta suara detakan jantung yang kuat terdengar jelas.
Angga bangkit dan melepas jaketnya, lalu pergi ke kamar mandi. Airin mencium parfum Mona di jaket suaminya. Kemudian langsung melemparnya ke lantai. Angga kembali dengan wajah yang basah, dan berganti piyama di depan Airin.
"Hah …, aku lelah," kata Angga lirih, kemudian berbaring di samping Airin. Airin masih diam dan terjaga. Mulutnya ingin memaki suaminya namun, masih sangat sulit dilakukannya saat ini.
"Ayo tidur!"
Airin masih diam, matanya menatap sesuatu yang kosong. Pikirannya dipenuhi dengan kalimat yang baru di katakan Mona. Soal ciuman yang dilakukan Angga dan Mona.
"Kau ingin pulang …, aku juga, tinggal 2 Minggu lagi kita disini, bersabarlah." kata Angga, sambil mengusap rambut Airin dengan lembut. Airin perlahan menangkis tangan Angga dari rambutnya dengan raut wajah kesal, kemudian berbalik menghadap arah sebaliknya Angga. Angga mendekat dan memeluk Airin dari belakang, kemudahan mencium leher Airin dan kepala Airin. Airin hanya diam, dan memejamkan mata dengan air mata yang perlahan tumpah.
Angga tidak menanyakan, Apakah Airin mendengar ucapan Mona tadi? Airin juga tidak membahasnya. Keduanya bisu dalam keheningan. Tangan Angga perlahan mengisi jari-jari Airin yang kosong. Airin masih mendengar suara degup jantung kuat di dada Angga. Kegugupan yang Angga sembunyikan terbaca jelas tanpa harus bertanya.
***
Esok harinya, Mona datang dengan alasan ingin mengantar Angga dan Airin ke rumah sakit untuk mengantar terapi. Angga dan Mona saling mencuri pandang, kemudian Airin menyela dan menarik tangan Angga untuk berjongkok.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Angga, lalu mendekatkan telinganya ke arah bibir Airin.
"U … u … sir … di … dia," ucap Airin tertatih. Angga menatap mata Airin. Kemudian diam sejenak.
"Mona, sebaiknya kamu pulang saja ke Indonesia, Aku akan menemani Airin sampai selesai terapi," kata Angga kepada Mona yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa? Kenapa aku harus pergi?!" tolak Mona, kemudian membungkuk dan menatap Airin.
Airin menatap Mona, kemudian menampar pipi kiri Mona dengan kekuatan tangannya yang belum terlalu kuat.
"Per … per … gi!" bentak Airin dengan kalimat yang masih tertatih. Mona kemudian marah dan bersiap melayangkan tangannya ke arah Airin. Kemudian Angga melerai dan menyingkirkan tangan Mona.
"Sudah, kau pergi saja," ucap Angga, kemudian mendorong kursi roda Airin dan meninggalkan Mona.
"Kenapa aku yang harus pergi?" jawab Mona, mengikuti langkah Angga, kemudian menarik pundak Airin.
"Sudah lah Mon, jangan buat masalah disini," kata Angga.
"Tidak, kenapa harus aku yang pergi? Kenapa bukan kamu?" tolak Mona dengan suara lantang.
Airin mendongak dan menatap Mona, sambil berkata "Ka … ka … rena … a … aku … is … istri sah …. nya,"
Mona terdiam, kemudian mengernyit.
"Pergilah! Jangan buat suasana semakin buruk," pinta Angga.
***
Hari yang dinanti akhirnya datang juga, hari ini hari kepulangan Airin ke rumah yang dirindukannya. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat, Airin tersenyum menatap keindahan alam dari jendela. Itu membuatnya sedikit tenang, daripada menatap Angga. Hatinya masih perih, mengingat ciuman antara Angga dan Mona. Airin menguatkan dirinya untuk mencoba tetap tersenyum ke arah lain.
Setibanya di rumah, semua keluarga pun menyambut kedatangan Airin dan Angga dengan kehangatan. Ringga berlari ke arah Airin, kemudian mencium kedua pipi Airin sambil menangis.
"Mama, mama kenapa meninggalkan aku …," rengek Ringga. Airin ikut menangis di dalam pelukan Ringga dan menyentuh kepala putranya perlahan. Ringga terkejut ketika menyadari tangan Airin bisa menyentuh kepalanya.
"Mama, sudah bisa menyentuhku?" ucap Ringga, kemudian menarik tangan Airin ke arah pipinya. Airin lalu mencubit pipi Ringga perlahan sambil mengangguk. Keduanya tersenyum dengan dibalut air mata kerinduan.
Setelah itu Ringga mendorong kursi roda Airin dan membawa ibunya ke kamar. Menunjukkan beberapa hadiah untuk ibunya dan juga menceritakan apa saja yang dilalui Ringga selama ibunya pergi.
"Ma … ma … ka … ngen," ucap Airin.
"Ringga juga, Ringga seneng banget mamah sudah bisa bicara, mamah jangan sakit-sakitan lagi ya," jawab Ringga, kemudian memeluk Airin.
***
Setelah hari itu, Ringga setiap pulang sekolah selalu datang ke rumah dan membantu Airin untuk berjalan perlahan-lahan. Airin merasa bahagia, memiliki Ringga yang selalu berada disisinya dan menghapus kesedihannya.
Sedang Angga, sibuk dengan pekerjaannya dan jika berada di rumah hanya berbaring tidur dengan rasa lelahnya. Kerisauan masih menghampiri, membuat Airin sering mengecek isi chat Angga dan menjadi perdebatan di antara mereka.
"Apa yang kau lihat?" tanya Angga, menarik ponselnya dari tangan Airin.
"Masih … de … dengan Mon ... Mona?"
"Kami hanya teman saja, keluarganya memang dari dulu dekat dengan keluargaku itu saja. " jawab Angga.
"Ben … benar … itu saja,"
"Benar, sudah jangan berpikir aneh-aneh. Aku sudah capek dengan pekerjaan, aku pulang ingin rileks,"
Angga kemudian menghindar dengan pura-pura tidur dan menutup wajahnya dengan bantal.
Entah kenapa, rasa cemburu itu semakin berbuntut panjang hanya karena mendengar satu kalimat, Airin diam sebenarnya menunggu penjelasan dari Angga, namun sampai detik ini Angga tidak membahasnya. Seakan kalimat itu hanya sebuah rahasia antara Angga dan Mona.
***
Malam itu, entah kenapa rasa curiga itu semakin dalam. Angga yang baru saja pulang, tiba-tiba pergi keluar rumah lagi. Tanpa kata pamit, dan pulang saat tengah malam.
Airin melihat wajah Angga yang berantakan. Namun hanya bisa diam, tidak berani banyak bicara. Saat Angga tertidur di sampingnya, Airin melihat beberapa goresan merah di leher Angga. Bukan hal baru lagi untuk orang dewasa, karena Airin sudah bisa memahami bekas apa itu.
Hati Airin bagaikan di robek dengan sayatan yang meninggalkan luka lagi. Airin turun dari ranjang, kemudian mengambil ponsel Angga yang berada di meja. Kali ini ponsel suaminya di kunci dengan kata sandi. Airin mencoba memikirkannya dan menebaknya kata sandi di layar ponsel suaminya.
Bukan tanggal lahir Airin dan Angga, melainkan tanggal pernikahan mereka. Sebuah chat masuk …
"Aku masih merindukanmu," gumam Airin membaca isi chat itu.