Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 49


Semua tamu berteriak panik, dua pengawal menarik tangan kak Ikmal. Sedang Angga yang terjatuh, di bantu Mona untuk bangkit.


Ibu mertuanya menuruni tangga, kemudian datang mendekat ke arah Airin.


"Apa yang kau lakukan?" bentak ibu mertuanya.


"Apa?! Angga masih sah menjadi suamiku!" sahut Airin mendekat dan berbicara lantang.


Angga berdiri, kemudian menengahi pertengahan, berdiri di antara Airin dan Ibunya.


"Aku akan jelaskan, Rin," ucap Angga, menarik tangan Airin, keluar dari kerumunan semua mata yang melihat mereka.


"Tidak!" , " Katakan disini!" bentak Airin.


"Anakmu di rumah menangis, memohon untuk kau datang di acara sekolahnya, kau malah bertunangan dengan wanita lain!"


"Bukan begitu, ini hanya sebuah rencana," Angga berbisik lirih.


"Rencana apa?" ucap Airin keras, tidak ingin ada hal yang tersembunyi lagi.


"Rencana untuk kamu menyakiti aku dan anakmu diam-diam! Katakan!" bentak Airin.


"Jangan gitu dong, Rin. Kita bisa bicara baik-baik," Mona mendekat dan menyela pembicaraan.


"Kau juga, belum puas merencanakan untuk membunuhku dengan cara yang kejam! Saat ini dengan wajah barumu, kau masih menjadi iblis di pernikahanku!" bentak Airin.


Semua tamu terdengar saling berbisik, kemudian pergi meninggalkan pesta satu persatu.


Mona mengernyit, kemudian menampar pipi Airin. Membuat kak Ikmal terkejut, lalu berusaha melepaskan diri dari dua pengawal. Setelah berhasil, kak Ikmal mendekat dan langsung mendorong tubuh Mona hingga tersungkur.


"Jangan berani menyentuh adikku!" kak Ikmal, menuding ke arah Mona.


Angga mengulurkan tangannya hendak membantu Airin, namun Airin menangkisnya dan bangkit sendiri.


"Pengawal bawa mereka berdua keluar!" teriak ibu mertuanya.


Kemudian tangan Airin dan kak Ikmal, ditarik keluar rumah Angga, Angga menyuruh pengawal itu melepaskan, tapi ucapannya tidak dituruti, akhirnya mengikuti langkah Airin dan kak Ikmal keluar.


Setelah keluar dari pintu, kedua pengawal melepaskan cengkeramannya. Angga mendekat, dan ingin meraih tangan Airin. Namun, kak Ikmal menangkisnya. Kemudian memberikan pukulan keras ke wajah Angga lagi, hingga Angga terjatuh. Airin menarik tangan kak Ikmal, mengajaknya pergi.


"Aku mau pulang, Bang," ucap Airin dengan tangisan, sambil terus menarik tangan kak Ikmal.


"Dasar baj*ng*n!" kak Ikmal mengucapkan kalimat sumpah serapahnya kepada Angga sampai keluar dari gerbang.


Airin memukul dadanya berulang kali dengan kepalan tangannya, menguatkan diri dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Pikirannya kacau, hanya air mata yang berlinang terus menetes.


Masuk kedalam mobil, Angga mengetuk-ngetuk jendela mobil berulang kali, memanggil nama Airin dan menyuruh Airin keluar untuk bicara. Airin menggelengkan kepalanya, kemudian menyuruh kak Ikmal segera melajukan mobilnya kemudian pergi dari rumah Angga.


Angga masih terlihat dari kaca spion, berusaha mengejar Airin, kak Ikmal mempercepat laju mobilnya. Hingga Angga akhirnya berhenti berlari dan masih meneriaki nama Airin berulang kali.


"Sudah jangan sedih dek, Abang akan lakukan sesuatu, lihat saja! Dia bukan sekedar membohongimu, dia juga membohongi kakak dan kedua orang tua kita," ucap Kak Ikmal menoleh. Airin menatap mata yang basah di kak Ikmal, kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela, agar kak Ikmal tidak melihat air matanya.


"Aku sangat membenci dia," ucap Airin lirih, sambil berusaha berulang kali menyeka air matanya.


'Apakah ini akhir dari pernikahanku?'


'Apakah ini cinta yang kau janjikan padaku?'


Airin terus bertanya pada dirinya sendiri. Cintanya perlahan hilang bukan sekedar karena hubungan jarak jauh, namun karena kebohongan yang dibuat Angga secara bertubi-tubi.


Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan. Kak Ikmal diam fokus dengan menyetir, Airin memendam kesedihannya di dalam hati. Menahan Air matanya berulang kali, untuk tidak membuat kak Ikmal merasa lebih khawatir.


***


Setibanya dirumah, Airin langsung berlari kedalam kamar, tanpa mengucap salam kepada orang tuanya yang tengah duduk di ruang tamu.


Pikirannya masih bingung, harus menceritakan mulai dari mana permasalahan rumah tangganya ini. Airin takut, melihat air mata orang tuanya. Karena mereka selalu menganggap Angga adalah menantu yang baik.


Suara ketukan pintu pun terdengar, bersamaan dengan suara ibunya. Airin menyeka air matanya, kemudian membuka pintu.


Tanpa kata dan kalimat, ibunya langsung memeluk Airin dengan erat. Sambil meneteskan air mata di pundak Airin. Tangisan Airin pun ikut pecah dan tidak terbendung lagi. Ibunya mengusap kepala Airin dengan lembut.


"Maafkan aku, Bu …" ucap Airin lirih dan terbata-bata.


"Tidak dek, kamu tidak salah," sahut ibunya.


Pelukan itu semakin erat, ketika ayahnya ikut mendekat dan ikut memeluk Airin.


"Jika berat, lepaskanlah," ucap ayahnya lirih.


"Jangan kau paksakan lagi untuk bertahan,"


Airi mendongak, ayahnya mencium kening Airin, kemudian memeluk Airin dengan erat dan juga penuh linangan air mata.


Malam yang cerah, bintang-bintang bertaburan di langit. Tapi, kali ini hujan tidak turun dari langit lagi, melainkan dari mata.


Hati yang pedih, menyalahkan diri sendiri berulang kali, itu yang Airin lakukan saat ini. Memikirkan kebodohannya yang berniat memperbaiki kesalahan di masa lalunya, namun berakhir dengan kepedihan yang dalam.


'Harusnya, masa lalu itu aku buang dan lupakan. Kenapa aku genggam. Itu bahkan bukan bunga mawar yang harum, aku di bodohinya, itu hanya tangkai yang penuh duri aku genggam dari awal hingga saat ini' batin Airin.


Air mata perlahan kering, dengan semakin larutnya malam. Airin mencoba menenangkan pikirannya yang risau. Mencari jalan keluar yang baik, agar kesedihan ini tak berlarut.


'Apakah ini akhirnya?'


'Apakah aku harus bercerai?'


'Aku tidak ingin bertahan lagi,'


'Aku tidak ingin dibohongi lagi,'


Airin menyalakan ponselnya, tiba-tiba hatinya rindu ingin mendengar suara Ringga. Namun, panggilan lain masuk. Dan itu adalah panggilan dari Angga.


Airin segera mematikan panggilan itu, namun lagi-lagi Angga masih berusaha menghubungi. Airin kemudian mematikan ponselnya dan menahan kerinduannya untuk mendengarkan suara Ringga.


Airin keluar dari kamar untuk mengambil minum, tapi pandangannya beralih ke arah ruang tamu. Terdengar suara orang tuanya dari sana.


Airin tidak mendekat, namun diam-diam mendengarkan obrolan kedua orang tuanya yang sedang membahas tentang pernikahan Airin dan Angga. Ibunya terdengar sesenggukan menangis.


"Apa kita datangi saja kesana? Aku tidak tega melihat putriku disiksa secara batinnya,"


"Tapi kita harus apa? Semua kan tergantung Angga, jika dia ingin bertahan dengan Airin, makan dia akan datang."


Airin diam, masih mendengarkan obrolan orang tuanya.


"Bagaimana jika Airin juga masih mencintainya, kita juga tidak bisa menahannya?" ucap Ayahnya.


Airin kemudian melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah orang tuanya.


"Tidak, aku ingin bercerai dari dia." sahut Airin, yang berdiri di depan orang tuanya.