Dilema Cinta Satu Malam

Dilema Cinta Satu Malam
Bab 28


"Ah, ayo masuk banyak nyamuk, dia bukan Papamu," ucap ayahnya Airin menarik tangan Ringga, lalu menggendongnya.


Airin dan Angga masih saling menatap dari kejauhan. Airin semakin berdebar dan akhirnya menutup pintu rumahnya, bersembunyi di balik pintu agar tidak melihat kepergian Angga.


***


Pagi yang ramai, suara tawa Ringga sudah menggema di ruang tamu bersama kakeknya. Keduanya sedang melakukan permainan sepak bola. Ayahnya Airin dengan nafas tersengal-sengal mencoba mengejar langkah kaki cucunya yang menendang bola.


"Astaghfirullah, ayo mandi!" teriak Airin kepada Ringga. Ringga diam tidak menyahut dan masih berlari kecil bersama kakeknya.


"Huh… huh…" nafas ayahnya Airin yang terengah-engah sampai terdengar di telinga Airin, Airin lalu menarik tangan Ringga dan membawanya ke kamar mandi, karena Airin juga harus bersiap diri berangkat kerja.


"Mama, papa itu akan kesini lagi nanti?" tanya Ringga, yang berhenti menyikat giginya dan membuka pintu kamar mandi, sambil melihat Airin sedang menjemur baju.


"Papa Ikmal kan kerja, nanti kamu sama mama Dista saja," sahut Airin.


"Bukan papa Ikmal, yang kemarin itu, yang sama Ringga," ujar Ringga, dengan suara tak beraturan karena sambil menyikat gigi lagi.


"Hah sudah, cepat mandi! Mama nanti telat kerjanya." balas Airin lalu masuk ke kamar mandi dan menuangkan sampo ke kepala Ringga.


Setelah semua siap, Airin mengantar Ringga ke rumah kakaknya, lalu seperti biasa ikut satu mobil bersama kak Ikmal.


Kak Ikmal sesaat sering terus menoleh ke arah Airin, hingga membuat Airin bingung.


"Ada apa?" tanya Airin pada kakaknya yang ber gelagat mencurigakan.


"Ah sudah, tidak jadi. Kata Raffi ponselmu tidak bisa dihubungi?" tanya kak Ikmal.


"Iya rusak, nanti pulang kerja baru aku beli ponsel lagi," jawab Airin.


Setelah pertanyaan itu kak Ikmal tidak mengeluarkan kalimat lagi, namun masih seperti menyimpan pertanyaan. Airin lalu tertunduk dan pura-pura tidak mengetahuinya.


Hari yang sama, apakah cinta itu masih sama?


Seharian Airin memikirkan ucapan Ringga yang mengatakan papa pada Angga, perasaannya kini bercampur aduk, ingin melangkah jujur pada ayahnya namun sesaat ketakutan itu datang kembali.


Malam ini, Airin tidak melihat mobil Angga terparkir di depan tokonya. Rasanya seperti aneh, terkadang jika ada Angga ingin rasanya menghiraukannya, namun saat tidak ada malah ingin bertemu.


Airin berjalan ke toko ponsel untuk membeli ponsel baru. Setelah memilih dan membayar, Airin terkejut dengan kehadiran Raffi yang berdiri di belakangnya. Keduanya tersenyum lalu berjalan keluar dari toko bersama.


"Sedang apa kesini?" tanya Airin pada Raffi.


"Bertemu takdir? ya beli ponsel lah," jawab Raffi tersenyum.


" Aku tanya kakakmu katanya ponselmu rusak, aku mau kerumahmu dan mampir ke toko ini, eh malah kamu sudah beli," imbuh Raffi.


Airin mengangguk dan tersenyum, kemudian Raffi pun menawari Airin untuk pulang bersama, karena sebelumnya juga Raffi berniat akan ke rumah Airin. Airin pun tidak menolak dan duduk di boncengan motor Raffi.


Airin merasa sedikit gugup, sudah lama tidak seperti ini. Naik motor bersama pria lain, dan duduk berdekatan dengan pria lain.


Sesampai dirumah, kedatangan Raffi pun disambut baik oleh keluarga Airin. Ibunya mengeluarkan berbagai kue enak dan cemilan yang banyak. Airin berpamitan masuk kedalam kamar untuk mandi.


Setelah selesai mandi dan merias diri, Airin keluar dari kamarnya dengan perasaan gugup karena akan bertatap muka lagi dengan Raffi. Namun, saat hampir sampai ke ruang tamu, Airin terkejut dengan kehadiran Angga yang juga duduk di sofa mendengarkan obrolan ayahnya bersama Raffi, Airin berbalik badan dan langsung menghapus lipstik di bibirnya. Setelah itu mendekat ke arah Ibunya yang duduk di ruang tamu juga.


Angga menyipitkan matanya ke arah Airin, Airin menjadi salah tingkah lalu menghapus bedak di pipinya agar tidak ketahuan oleh Angga jika dirinya berias untuk bertemu Raffi.


"Ya keluar saja, tapi ingat jangan malam-malam pulangnya," sahut ayahnya Airin. Airin tersenyum mendengar jawaban ayahnya.


"Makan di sekitar sini saja, sambil mengobrol, Rin," imbuh ibunya Airin memberi saran.


Airin mengangguk dan tersenyum, lalu sesaat menatap mata Angga yang terlihat kesal dengan senyum Airin.


Setelah beberapa obrolan, Raffi pun pamit untuk pulang, Airin kali ini diminta ayahnya untuk sendirian keluar teras mengantar kepergian Raffi. Airin pun tidak bisa menolak perintah ayahnya. Angga yang akan bangkit dari kursi mengikutiku langkah Airin langsung tangannya ditarik ayahnya Airin untuk duduk kembali.


Setelah Raffi pulang, Airin masuk kedalam kamar, Ibunya sibuk di dapur membuat nasi goreng untuk ayahnya dan Angga.


Airin mengintip lagi dari pintu kamarnya, melihat Angga dan ayahnya kali ini tidak bermain catur melainkan sedang mengobrol serius dan tegang.


"Heh, bawa itu nasi goreng keluar!" ucap Ibunya dari belakang, Airin melompat terkejut kemudian tersenyum tipis karena ketahuan mengintip. Airin lalu ke dapur dan membawa dua piring nasi goreng ke ruang tamu. Obrolan antara ayahnya dan Angga pun berhenti saat kedatangan Airin hingga akhirnya Airin dihantui rasa penasaran.


Kali ini tidak terlalu lama Angga main kerumah, setelah makan nasi goreng Angga berpamitan pergi pulang. Ayahnya lalu meminta Airin membereskan meja.


Airin menoleh ke arah ayahnya yang terlihat lesu, kemudian Airin pun mendekat untuk bertanya langsung kepada ayahnya.


"Ada apa, yah?" tanya Airin.


"Hah …," ayahnya hanya menghela nafas panjang.


"Ada apa?" ujar Ibunya yang juga penasaran.


"Dewangga berpamitan akan keluar kota tiga hari karena pekerjaan," jawab ayahnya dengan lesu.


"Terus apa hubungannya?" sahut Airin.


"Lalu siapa yang akan main catur dengan ayah selama tiga hari, Ikmal setelah menikah tidak ada waktu lagi kesini," ujar ayahnya, lalu kali ini duduk di ruang makan, Airin masih mengikuti langkah Ayahnya.


"Ya Allah, Ibu kira ayah kenapa? Hanya karena nak Dewangga keluar kota jadi tidak bersemangat," sahut ibunya terkekeh.


Ayahnya diam dan meneguk segelas air putih di meja sambil masih menghela nafas panjang.


"Padahal jika ibu yang izin pulang ke kampung, ayah tidak seperti ini, aneh …" ujar ibunya terheran.


"Yah kan ibu tidak bisa main catur," sahut ayahnya lalu berjalan pergi ke kamar.


Ibunya yang mencuci piring menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Ayahmu itu aneh, bersemangat menjodohkanmu dengan Raffi, tapi malah memberikan perhatian lebih dengan Dewangga," ucap Ibunya. Airin hanya tersenyum menanggapinya, kemudian berjalan ke arah kamarnya.


Perasaan sedih itu pun juga dirasakan Airin, rasanya sedikit berbeda. Mulai terbiasa dengan kehadiran Angga yang datang ke rumahnya setiap hari lalu kali ini tidak akan melihatnya untuk beberapa hari.


"Apakah dia akan pergi dengan Mona?" gumam Airin, yang terbesit kecemburuan.


Airin berusaha berbaring di tempat tidur, namun kegelisahannya membuatnya tidak nyaman. Airin bangun lagi lalu meraih ponselnya, mengingat nomor ponsel Angga untuk di ketiknya di ponsel dan nomor barunya.


Akhirnya Airin memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Angga tentang rasa penasarannya.


Airin mendengar nada dering tunggu, kemudian …,


"Hallo …," suara yang tidak asing menyahutnya. Bukan suara Angga melainkan Mona.