
Kehangatan itu terasa kembali lagi setelah sekian lama. Meskipun tidak seutuhnya bisa menjadi istri yang mampu melayani Angga seperti sebelumnya, Airin berusaha sebaik mungkin, agar kehangatan ini tetap kembali dan bertahan selama-lamanya.
"Aku sangat lelah,"
Angga berbalik badan dan memejamkan matanya perlahan. Airin sedikit kecewa karena dikiranya pelukan itu akan sedikit lebih lama. Namun, Airin juga tidak berani mengatakan sesuatu.
Airin turun dari ranjang, mengambil handuk yang tergantung di balik pintu. Kemudian, ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Melihat tubuhnya dari ujung kaki, terlihat tak sempurna seperti dulu kala. Mungkin gairah cinta itu sedikit memudar karena kondisi tubuh Airin yang berubah.
Setelah mandi, Airin memakai piyama, dan keluar dari kamar. Berjalan perlahan sambil merambat ke dinding menuju teras depan. Melihat bunga-bunga yang tumbuh bermekaran di halaman rumah. Matahari mulai terik, orang-orang lalu lalang berjalan melewati depan rumahnya.
"Mama!" teriak Ringga dari kejauhan. Airin tersenyum, membuka kedua tangannya lebar. Ringga berlari dan langsung jatuh kedalam pelukan Airin.
"Papah sudah pulang, ya?"
Ringga menoleh ke arah tempat parkir, melihat mobil sedan putih berada disana.
Airin tersenyum dan mengangguk.
"Aku mau melihat ayah,"
Ringga bersiap melangkah pergi, namun Airin segera menarik tangan anaknya untuk menahannya.
"Papah sedang tidur, kasihan kar…,"
Sebelum penjelasan Airin selesai, Ringga menarik tangannya dan berhasil melepaskan diri, kemudian berteriak memanggil 'papa' sambil berlari masuk kedalam kamar. Airin tidak bisa menahan langkah anaknya lagi.
Setelah itu, Kak Dista datang dan melambaikan tangan ke arah Airin.
"Angga sudah pulang?" tanya kak Dista.
Airin tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa malah terlihat sedih?" tanya kak Dista, kemudian duduk disamping Airin.
"Ah, Angga baru saja mengalami kecelakaan, Kak," jawab Airin.
"Astaghfirullah, lalu bagaimana kondisinya?"
Kak Dista beranjak dari tempat tidur, mencari Angga dari jendela luar.
"Dia di kamar, alhamdulillah dia baik-baik saja, hanya mengalami luka di tangan kirinya,"
"Syukurlah, kaget aku …, semenjak kecelakaan terjadi padamu, kakak jadi parnoan. Sampai sebelum kak Ikmal berangkat kerja, kakak selalu menyuruh cek semua mobil, takut jika tidak ada yang beres. Tahu sendiri kan, mobil kak Ikmal kadang sering mogok," kata kak Dista, lalu duduk kembali di samping Airin.
"Sepertinya kau sudah terlihat lebih baik, dek?"
Kak Dista menepuk pundak Airin, Airin menoleh dan tersenyum.
'A …, a ….,' teriak Ringga dengan keras hingga terdengar sampai teras. Airin perlahan bangkit di bantu kak Dista untuk masuk kedalam rumah melihat apa yang sedang terjadi.
Airin masuk kedalam kamar, dan sudah melihat anaknya tersungkur di lantai, sedang Angga mendengar teriakkan itu masih bisa terlelap tidur. Airin membantu Ringga bangun, kemudian menarik tangan anaknya keluar dari kamar.
"Papah lagi istirahat, kamu ini!"
"Tapi Ringga mau bicara sama papah?"
"Sudah, main diluar dulu!"
Ringga semakin menangis sejadi-jadinya, sambil terus memanggil 'papa'. Hingga akhirnya, Angga bangun dan keluar dari kamar.
"Ada apa?!" tanya Angga dengan nada kesal.
Ringga berlari ke arah papahnya, kemudian mengatakan jika besok Angga harus datang ke sekolah. Angga menggelengkan kepala dengan cepat.
"Besok papah sibuk, ada papah Ikmal, kan?" ujar Angga. Airin melirik dengan sedikit kesal, pasalnya Angga jarang sekali meluangkan waktu untuk Ringga. Padahal Ringga adalah anaknya bukan anak kak Ikmal. Kak Dista mendekat lalu memaksa Ringga pulang.
Kak Dista mengendong Ringga, namun, Ringga meronta dan ingin turun, dia ingin bermain dengan Angga. Angga menolak dan masuk kedalam kamar, menutup pintu kamar dengan keras kemudian terdengar menguncinya.
Airin memeluk Ringga kemudian menyuruh kak Dista pulang untuk istirahat, karena melihat wajah lelah kak Dista.
"Biar Ringga disini saja, aku ajak main. Kakak istirahat, pulang saja. Nanti sore kalau kakak mau, di jemput lagi juga boleh,"
Kak Dista mengangguk, kemudian pergi. Sedangkan Ringga sudah berlari ke arah dapur mencari neneknya. Airin mengikuti langkah Ringga perlahan.
Airin menggunakan waktu ini, untuk memberikan waktu terbaiknya untuk Ringga, meskipun belum terlalu cukup bisa mengasuh Ringga sepenuhnya.
Di dapur Ringga terus mengganggu neneknya yang tengah memasak, hingga Airin terus berteriak ketakutan, jika terkena ai panas atau minyak. Airin merasa anaknya semakin besar, semakin banyak ulah dan manja.
"Ini karena kak Ikmal selalu memanjakan dia," keluh Airin.
"Ya wajar, habisnya kamu juga dirumah terus, Angga juga jarang pulang. Ya begini, kalau anak lebih banyak diasuh orang lain, kalau dirumah ada aja tingkahnya." sahut ibunya.
"Kamu kan sudah sehat, rawat saja Ringga sendirian, biar Angga juga belajar jadi ayah yang baik. Dista kan sedang hamil, kasihan."
"MasyaAllah, kak Dista hamil, pantesan wajahnya terlihat lesu terus dari kemarin,"
Airin menarik tangan Ringga dan memaksanya anaknya untuk duduk tenang. Kemudian mengelap wajah Ringga yang penuh dengan ingus dengan tisu.
"Mama Dista mau punya adek, kamu bobok disini saja!"
"Nggak ah, nenek bawel," sahut Ringga.
Neneknya menoleh dan mengernyit.
"Papah juga nggak main-main sama Ringga, Ringga mau sama ibuk Dista saja," Ringga bangkit dari kursi dan berlari keluar rumah.
Airin sampai kuwalahan mengikuti langkah anaknya. Melihat Ringga sepertinya pulang kerumah kak Dista. Airin mengetuk pintu kamar dan berniat mengajak Angga untuk berbicara tentang Ringga anak mereka.
Angga membuka pintu, dan masih terlihat kesal.
"Em …, kak Dista sudah hamil, aku ingin Ringga kita asuh saja berdua," ucap Airin. Angga menoleh sebentar, kemudian kembali menatap layar ponselnya.
"Dia kan, anak kita. Aku harap kamu berubah dan ada waktu dengan dia,"
Angga menoleh lagi dan berdecak.
"Kerjaanku di Jakarta, kita tinggal di Bandung, syukur-syukur setiap 3 hari sekali aku pulang," sahut Angga.
"Tapi kan Ringga juga butuh perhatian, lihat dia menjadi anak yang kasar karena kita kurang perhatian," timpal Airin.
"Kan kamu dirumah, kamu dong yang urus anak!"
Airin cemberutnya, kemudian menarik ponsel Angga dari tangannya.
"Aku sedang berbicara, kita ini sudah menikah. Dan kita ada tanggung jawab untuk mengurus Ringga," ujar Airin kesal.
"Aku ini sedang bertanggung jawab, mencari nafkah. Kau tahu uang yang aku pinjam dari perusahaan untuk membawamu berobat ke Singapura? Belum juga saat kau koma, mikir dong Rin!"
Angga mengambil ponselnya lagi dari tangan Airin.
"Aku kerja, kamu urus saja Ringga!"
"Jika kau ingin aku bisa setiap hari bersamamu dan Ringga, pindah ke Jakarta! Aku saja bisa tinggal dengan orang tuamu, kenapa kamu sulit untuk tinggal dengan orang tuaku!" sahut Angga, dengan wajah kesal.
Airin diam, menatap wajah Angga dengan kesal. Angga seakan tidak tahu alasan apa yang membuat Airin tidak bisa tinggal dengan orang tua Angga. Karena jelas-jelas restu itu belum pernah di berika hingha saat ini.
"Aku akan kesana! Jika orang tuamu datang kesini terlebih dahulu!" bentak Airin.