
Bambang sangat kaget saat Anrez bertanya tentang keseriusan dengan Zulfa. Karena ia belum sepenuhnya cinta, baru saja PDKT.
ibarat pepatah Rasa sayang lebih merujuk pada perasaan lembut berupa rasa peduli atau suka kepada seseorang. Dapat dikatakan juga bahwa rasa sayang tidak lebih intim dibandingkan rasa cinta. Tidak seperti cinta, kasih sayang tidak terdiri atas perasaan romantis.
Nah. Bambang belum merasakan hal tersebut. ia baru merasa kagum dan respek dengan Zulfa. kedepannya nanti ia akan jalani seperti air mengalir.
Karena ia tak ingin mengecewakan orang tuanya, ia dulu berniat untuk sukses dulu. maklumlah keluarganya tidak seperti keluarga Anrez yang serba ada.
kalau dia harus berjuang dulu, makanya ia belum memberitahukan Jackson atau yang lainnya. Sama Anrez dan Azizah saja kebetulan. bukan di sengaja mengenalkan.
"Kita tuh belum lama kenal. dan baru dua hari jalan, istilahnya baru PDKT. Jadi jangan tanya dulu deh sampai ke sana. Maaf ya Fa. bukan maksud menyakiti mu, tapi kita jalani ini dulu seperti air mengalir ya. kemana arahnya kita lewati bersama." Ucap Bambang serius. Karena ia sebenarnya baru merasa nyaman dengan Zulfa. tapi belum sepenuhnya cinta.
"Nggak apa Bang. aku mah mana baiknya." Jawab Zulfa. walau ada sedikit kecewa dengan jawaban Bambang. namun ia pun sadar hubungan mereka baru dua hari dan ia sudah merasa nyaman berjalan dengan Bambang.
"Ya sudah. Sekarang kita makan lagi ya. sudah capek dengar curhat kalian sepertinya nggak habis-habisnya." Ledek Anrez.
Yang dapat pukulan dari Bambang. yang duduk di sampingnya. Anrez hanya cengengesan saja dapat pukulan dari Bambang.
" Nggak apa Fa. namanya aja baru. aku saja yang hampir satu tahun masih sering di cuekin." Sindir Azizah.
"Ih gila lu bro. sudah halal' masih di cuekin. ntar di sambar orang baru nyesel." Goda Bambang.
"Gue mah bukan cuek. tapi lebih di katakan lebih waspada aja. kan kita masih banyak kuliah, takutnya nanti nggak tamat telat waktu, itu aja sih." Jawab Anrez yang juga melirik istrinya.
Azizah yang di kirim menunduk malu, seolah ia wanita ****** yang sedang menggoda laki-laki. padahal Anrez suaminya sendiri
"Wah. matang pemikiran mu An. oh ya.. sepertinya aku ada urusan deh.dan mungkin kembali lagi ke kampus,mau minjam buku. ada tugas yang belum selesai. kamu sudah siap Zah.?" Tanah Zulfa pada Azizah.
"Sudah. semalam, lagi nggak ada kerjaan jadi aku siapkan. kebetulan kita kemaren sampai siang, jadi ada waktu buat kerjakan tugasnya." jawab Azizah.
"Oh. berarti ada dong bukunya. apa boleh minjam.?" Tanya Zulfa ragu.
"Boleh. tapi adanya di apartemen." Jawab Azizah.
"Ya udah kita ke Apartemen saja. sekalian aku juga mau ngambil sesuatu di kamar ku dulu. boleh kan bro.?" Tanya Bambang yang tidak tahu kalau Anrez akan ke apartemen dulu.
"Sekalian saja. kita ngambil pakaian dulu, mau nginap tempat ayah bunda beberapa hari." Jawab Anrez cuek. ia sedikit kesal dengan jawab isi yang menyindirnya tadi.
"Oh. ya udah. karena aku akan balik lagi ke kantor." ucap Bambang yang sudah berdiri
Mereka pun ke apartemen Anrez lebih dulu. setelah mengambil barang yang di perlukan masing-masing. mereka pun berpencar.
"Oh. ya An, ntar aku tempat Om Jack deh. tapi mungkin agak malam nggak apa ya." ucap Bambang sebelum mereka berpisah.
"Oh."Jawab Anrez singkat.
Anrez menuju ke rumah ayahnya. sedangkan Bambang mengantar Zulfa dan langsung ke kantornya lagi.
Di mobil Anrez hanya diam saja. membuat Azizah salah tingkah.
"Abang marah ya sama ucapan aku tadi.?" Tanah Azizah lirih. ia menundukkan wajahnya karena takut
Anrez menepikan mobilnya. ia perlu bicara dengan istrinya. jangan sampai terbawa ke rumah ayahnya nanti malah jadi panjang masalahnya.
"Apa maksud mu tadi dek ?" Tanya Anrez menatap istrinya.
Azizah diam seribu bahasa. tangannya saling meremas. Anrez yang melihatnya sangat sebel. ia meraih tangan istrinya.
Ia tahu istrinya pasti sangat ketakutan. makanya ia merubah nada bicaranya.
"Maaf. jika kata-kata ku tadi buat Abang marah. dan aku tidak tahu apa alasan Abang m ngabaikan aku."Jawab Azizah jujur. ia masih saja menunduk takut.
Anrez mendekat dan mencium pipi istrinya lembut. " Suami mana yang tidak ingin mendapatkan haknya. hanya saja Abang tidak mau egois. adek kan masih butuh waktu menyelesaikan semua mata kuliah." Jawab Anrez menatap mata istrinya intens.
Azizah memejamkan matanya. membuat Anrez gemes pada istrinya. ia pun mencium bibir istrinya sekilas.
"Jangan suuzhon lagi ya. tanya kan. jangan menyindir begitu, dosa loh." Ucap Anrez tegas.Dan di anggukan Azizah.
Setelah merasa lega. Anrez pun melajukan mobilnya menuju rumah ayahnya.
Sampai di sana, Feby menyambut kedatangan anak dan menantunya. " Aduh bunda kangen sekali sama kalian. apa kabar nak.?" Tanya Feby memeluk anak dan menantunya bergantian.
"Alhamdulillah baik bund. bunda gimana semuanya.?" Tanya Anrez dan menarik koper mereka.
"Alhamdulillah juga. eh ayok duduk dulu. kalian pasti masih capek kan. pa kalian sudah makan?" Tanya Feby pada keduanya.
"Udah bund. tadi kita ketemu sama Bambang dan makan bersama sebelum kita ke sini" Jawab Anrez santai duduk di ruang keluarga.
"Adik-adik mana bund. kok sepi.?" Tanya Anrez menatap sekeliling ruangan.
"Oh. Xena di kamar. mungkin istirahat. mereka nggak tahu kalau kalian ke sini. kalau di kasih tahu pasti heboh terus." Jawab Feby tersenyum dan berjalan ke kamar anaknya.
"Xena . udah bangun nak. ini ada Abang daam mbak mu nih datang." ucap Feby membuka pintu kamar anaknya yang tidak di kunci.
Xena dan Cantika tidur sekamar. karena kamar hanya empat. jadi sengaja di kosongkan satu. jika ada tamu tidak pindah-pindah.
"Siapa sih ma.?" Tanya Xena yang baru bangun tidur.
"Abang An sama mbak mu tuh." Tunjuk Feby dengan dagunya.
"Abang An ma. wih sudah kembali lagi Abang ke sini. hore..." Ucap Xena berlari keluar kamar mencari Anrez.
Ia langsung saja memeluk abangnya yang sudah beberapa bulan tidak bertemu.
"Abang.... aku kangen.' Peluk Xena pada abangnya.
Anrez membalas memeluk adiknya yang sekarang makin tinggi saja. padahal baru kelas 6 SD. tapi seperti sudah kelas SMP saja.
"Kamu makin tinggi ya dek." Ucap Anrez saat mereka telah melepaskan diri.
"He..he iya bang.eh mbak Zah. juga datang." Tanya Xena dan bergantian memeluk Azizah.
"Eh iya dek. kirain nggak kangen sama mbak." Jawab Azizah menggodanya.
"Ha..ha sedikit mbak. badan mbak kan mirip sama mbak Ratu. eh gimana keadaan mbak Ratu ya mbak.?" Tanya Xena pada Azizah.
"Alhamdulillah baik. mereka titip salam sama adik princess nya ini." Colek Azizah lada hidung bengil Xena.
"Makasih salam balik ya mbak. oh ya mbak sini aku antar ke kamar.' Ucap Xena mengajak Azizah ke kamar tamu.
Azizah melihat sekilas pada suaminya dan di anggukan suaminya. ia pun mengikuti langkah Xena.