Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Lampu Hijau


Roby datang setelah beberapa menit kemudian. Andi menunggu di taman. Karena ia tahu Roby pasti belum makan siang.


Anisa hanya makan es krim. sementara Andi hanya minum kopi. Roby makan dengan lahapnya.


" Santai makannya bro. lu sudah berapa hari nggak makan..? " Tanya Andi santai. Tapi Roby tersedak dengan pertanyaan Andi.


" Lu tuh ya. nggak pernah berubah.. tapi serius ini enak. gue serasa makan di kampung nenek. masakan rumahan" Jawab Roby dan terus makan dengan lahapnya.


" Tentu saja. permaisuri gue yang punya ide. kalau gue sih cuman tempat yang bisa di gunakan semua kalangan, seperti yang lu lihat.. ' Jawab Andi bangga dengan istrinya.


" Gue dah nyangka. oh ini beneran Buk. ini enak.. " Jawab Roby tersenyum pada Anisa.


Andi melotot kan matanya. " eh jaga tuh sikap dan tolong kondisikan tuh mata" Ucap Andi posesif.


" Ih dasar posesif.. " Anisa tertawa melihat perdebatan kedua siswanya tersebut.


" Kalian kalau ketemu. kayak tom dan jeri. heboh.. mengalahkan hebohnya pasar malam.. Kalau nggak ketemu saling merindukan..ha.. ha.. " Jawab Anisa tertawa. ia geli sambil memegang perutnya.


Andi dan Roby saling pandang. dan bergidik ngeri.. " Ih.. apaan sih yang.. aku masih normal lo. buktinya ini hasilnya.. " Jawab Andi dan memegang perut istrinya.


Roby mengerutkan keningnya." Buk saya tuh bukan suka sesama jeruk Buk masih suka semangka.. atau lainnya.. " jawab Roby nggak mau kalah.


Anisa makin tertawa. sampai air matanya berair karena lelah tertawa. Andi mengelap air mata yang jatuh di pipi istrinya.


" Sayang.....jangan nangis. aku masih normal kok... dan tetap selalu sayang sama kamu dan calon anak kita..


Anisa memegang tangan suaminya. dan menutup mulut suaminya. sambil menggeleng kan kepala. Andi dan Roby makin bingung. Namun mereka berdua diam saja. Melihat Anisa yang kelelahan tertawa.


" Kalian benar membuat aku sakit perut. nggak ada yang bilang kalian tuh jeruk makan jeruk. aku bilang kalian tuh ibarat tom dan jeri.. Tapi sudah.. jangan di sambung lagi.. ok aku lelah tertawa. hingga kepengen buang air kecil. ." Jawab Anisa dan pamit ke kamar kecil.


Andi dan Roby melongo. dan geleng-geleng kepala kayak boneka. hingga Boby datang pun sempat tertawa melihat bos dan temannya. Hingga Andi dan Roby kembali saling tatap melihat sikap Boby.


Andi memukul kepala Boby dengan kertas yang dipegangnya. " Eh mau di pecat.. ketawa terus. spontan Boby menutup mulutnya. malah Roby yang tertawa melihat Boby yang spontan diam menutup mulut.


" Aduh... oh ya. gimana Rob. lu mau nggak kerja di sini. bantu Boby mengelola Resto ini..? " Tanya Andi langsung. Karena sebelumnya Andi sedikit menceritakan tentang rencananya meminta temannya itu datang.


" Yah.. gue suka.. lagian.. gue suka dengan konsep masakannya. gue rasa makin laris.. karena menunya yang mendunia.. " Jawab Roby semangat.


' Ok.. kalau begitu lu tekan kontrak ini. mulai besok lu boleh kerja. tapi ingat lu. jangan campur adukan dengan kerja dengan urusan pribadi..! " Ancam Andi pada sobatnya.


" Ok bos.. saya siap.. " Jawab Roby mengangkat tangan hormat. Boby menutup mulutnya menahan tawa.


" Eh kenapa kamu tutup mulut Bob. apa ada yang bau..? " Tanya Anisa yang baru datang dari toilet.


" Ah nggak Buk. saya suka aja lihat pertemanan bos.. " Jawabnya jujur.. Yang juga di anggukan Anisa serta kedua jempolnya.


Andi menarik tangan istrinya. dan duduk di sampingnya. " Nggak baik bicara dengan bukan muhrim berdekatan.. " Ucap Andi posesif.


" Baiklah suamiku.. oh ya gimana Rob. kamu ok?" Tanya Anisa mengalihkannya.


" Ok Buk bos.. yang penting ininya.. " Jawab Roby menggesek jarinya dan tersenyum.


Andi pura-pura batuk melihat Roby kembali tersenyum pada istrinya.


Setelah perjanjian kerja dan sedikit humor. mereka akhirnya pulang. Karena Andi merasa kasihan dengan istrinya yang harus banyak istirahat.


Sementara Jakson hari ini ke kantor. semenjak kepergian Wijaya. Jakson yang membantu mengurus perusahaan properti mereka.


" Pak Jakson, saya lihat hari ini anda kurang fokus. apa ada masalah..? " Tanya sekretaris nya Luciano. Karena nggak mau dekat dengan cewek. makanya ia lebih memilih laki-laki yang melambai tersebut sebagai sekretarisnya.


" Ah ia. saya kepikiran sesuatu yang akhir-akhir ini selalu mengganjal hati saya.. " Jawab Jakson menghela nafas dalam.


" Bapak bisa cerita sama saya. mana tau saya bisa bantu. " Ucap Luciano.


Jakson hanya menggeleng kan kepala." Nggak apa.. semoga saya bisa atasi sendiri." Jawabnya mantap.


" Oh ya pak. sebentar lagi ada meeting di mall SS tentang kerja sama kita. Dan Bapak bisa pergi sendiri kan. kebetulan kerjaan saya masih banyak. " Yang di anggukan Jakson.


Sementara Feby. hari ini dosennya nggak masuk pada jam terakhir ia berencana ke mall dengan temannya.


Mereka asyik tertawa cerita ke sana kemari. hingga mereka berakhir di restoran siap saji. mereka cari tempat pojokan agar bebas melihat ke sana kemari. dan tentunya bebas cerita.


" Feb. lu putus dengan Hans. kan baru kemarin kalian jadian.? " Tanya Fany sahabatnya.


" Gimana ya Fan. gue memang besar di London. tapi gue di besarkan oleh norma. Gue kurang suka dengan sikapnya Hans. dia kira gue ini cewek apa mudah di sosor gitu aja.. " Jawabnya mengeluh kesal.


" Tapi kan lu bisa bilang.. jangan langsung putus aja kali.. " Ucap Fani


Feby menarik nafasnya dalam." Maaf ya Fan.. gue bukan nggak hargain lu. untuk jodohin kita, tapi memang gue nggak nyaman. suatu hubungan akan berlanjut jika kita saling nyaman. ya nggak..? " Tanyanya pada sobatnya tersebut.


" Oh.. ok. terserah lu.. gue bisa apa.. " Jawab Fani acuh. Feby heran lihat sikap Fani yang berubah dingin.


Suasana yang tadinya heboh. malah jadi sunyi. Saat itu datang Hans berdua dengan temannya. ia langsung duduk di depan ke dua cewek tersebut. Feby melihat Fani yang berusaha menghindar.


" Lu yang rencana ini..? " Tanya Feby langsung. Hans menenangkan dan merangkul pundak Feby. Tapi Feby mengelak nya.


" Sorry. Hans. kita sudah putus. gue harap lu mengerti.. " Ucapnya menghindar dan hendak pergi.


Hans. mencoba mencegah ia mengejar Feby yang berlari menghindar. ia tidak melihat ke depan. sampai ia menabrak seseorang.


" Maaf.. ucap Feby tidak melihat lelaki yang di tabrak nya.


' Nona Feby ngapain lari-lari.? " Tanya Jakson yang mengejutkan Feby. Jakson memegang tubuh Feby karena terdorong tubuhnya yang kekar. Kalau tidak tentu Feby sudah mencium lantai. Ia pun segera melepaskan saat Feby sudah berdiri tegak.


"Katanya nggak mau peluk gue tuh.. lu mau di peluk laki-laki nggak jelas.." Tuduh Hans. Jakson yang mendengar kekasih dalam diamnya di hina. sangat marah.


" Eh bung.. siapa yang nggak jelas. saya ini dari kecil mengenalnya.." Jawab Jakson. " Nona nggak apa-apa..? " Tanya nya lagi. Karena Feby diam dengan linangan air mata.


" Oh jadi lu anak pembantu nya. pantesan. atau lu bodyguard kali.. ha.. ha... " Kata Hans yang membuat Jakson naik pitam.


" Hei jaga ucapan anda. ini tempat umum... " Balas Jakson tegas. ia pun mendekati Hans dan akan memberikan bogel mentah pada lelaki yang sudah menghinanya. Namun suara seseorang membatalkannya.


" Pak Jakson. sudah datang.. ayok kita sudah menunggu anda dari tadi.. " Ucap seorang wanita yang cantik pemilik Restoran tersebut.


" Oh nggak Buk Cia. saya baru datang.. saya harap anda mengamankan pengunjung yang suka buat onar.. " Ucap Jakson melihat Hans.


Dengan kedipan mata.. Hans pun di ringkus satpam. Fani yang melihat kejadian tersebut pun pergi meninggalkan Feby dengan memandangnya marah.


" Pak Jakson ini ceweknya. cantik. Pak Jakson pandai memilih pasangan." Ucap Buk CIA setelah di akhir kesepakatan.


Jakson hanya tersenyum. ia bingung mau jawab apa. sementara Feby hanya diam tak menanggapi percakapan mereka karena pikiran masih menerawang ke mana-mana. Sampai mereka berdua pulang.


" Non.. maaf ucapan Buk Cia tadi. ia nggak bermaksud.. " ucap Jakson terbata-bata.


"Oh.. " Jawab Feby singkat.


Jakson heran dengan sikap Feby yang dari tadi bengong. " Apa laki-laki tadi berbuat tidak baik pada nona..? " Tanya Jakson menyelidiki.


" Entahlah... " Jawab Feby kembali singkat.


Jakson menarik nafas dalam. " Jika nona cerita mana tahu saya bisa bantu." Ucap Jakson yang masih fokus ke jalanan.


Feby memandang Jakson dalam diam. " Kenapa kamu masih panggil saya Nona? kakek kan nggak ada lagi..? " Tanya Feby yang membuat Jakson mendadak menghentikan mobilnya.


" Hai kamu gila ya. bisa-bisa aku mati mendadak kalau begini... " Ucap Feby kesal.


" Ha.. ha.. tenanglah Non.. saya senang lihat non cerewet dari pada diam kaya boneka." Jawab Jakson entah kemana.


"Ah pusing. aku mau istirahat pulang.. " Kesal Feby. Sementara Jakson terus tertawa menjalankan mobilnya.


"Aku belum mau mati sekarang...! " Ancam Feby. Jakson pun diam. tidak mau melanjutkan pembicaraan. Sampai di rumah mereka di sambut mamanya karena terdengar suara mobil.


" Wah anak mama. sering sekali bareng pulang.. apa kalian janjian..? " Goda Felisha..


" Tau ah...aku pusing... " Jawab Feby dan berlalu meninggalkan mama dan Jakson.


" Maaf Buk. tadi kita nggak sengaja ketemu di mall saat saya mau meeting.." Jawab Jakson sungkan.


" Oh nggak apa. maaf ya Jakson. Feby selalu merepotkan mu.. " Jawab Felisha tersenyum.


" Hm.. nggak juga Buk. saya nggak merasa di repot kan.. saya senang kok.. " Jawabnya sungkan.


" Iya ma.. biar aja mereka. kenapa mama selalu kepo..! " Tanya Handoko yang baru datang dari belakang.


"He.. he.. papa.. " ucap Felisha cengengesan.


" Oh ya. saya ada perlu dengan kamu. ada yang mau saya bicarakan sebelum saya berangkat besok.." Ucap Handoko. ia mengajaknya ke ruangan kerja kakeknya. Jakson mengikuti langkah Handoko. hatinya agak berdebar kali ini.. apakah Tuannya marah...


" Duduklah... " Ucap Handoko. Jakson pun duduk di depannya.


" Begini. besok saya harus berangkat ke London. saya percayakan perusahaan pada mu. sampai Andi benar-benar siap. papa telah mempercayakannya pada mu selama ini. Jadi jangan kecewakan papa.! " Ucap Handoko tegas.


" Terima kasih Tuan atas kepercayaannya. saya akan berjuang untuk perusahaan. saya ingin lihat Tuan Wijaya bangga pada saya.. " jawab Jakson mantap.


" Satu lagi.. tolong jaga Feby untuk saya. seperti nya ia butuh kamu.. walau ia kelihatan judes dengan kamu.." Ucap Handoko mengejutkan Jakson.


" Maksud Tuan..? " Tanyanya memastikan.


Handoko menarik nafas dalam. " Begini.. istri saya menyukai mu.. jadi tolong kepercayaan saya di jaga. apa betul pendapat istri saya tersebut tentang kamu. Dan saya juga tidak memilih dalam mencari menantu. asalkan anak saya nyaman. itu yang penting. karena kamu pasti tahu gimana saya dengan mendiang mamanya Andi. untuk itu jaga kepercayaan saya.." Ucap Handoko tegas.


" Baik Tuan.. saya akan selalu menjaga putri Tuan dengan baik." Jawab Jakson semangat.


" Panggil saja kami seperti orang normal." ucap Handoko. yang membuat Jakson mengerutkan keningnya.


" Maksud Tuan..? " Tanya serius.


" Nah itu. cukup panggil bapak. ibuk... atau mungkin pada Feby juga.. jangan buat pembatasan yang terlalu tinggi. kamu bukan pembantu di sini. tapi calon mantu yang sedang di uji.. ha.. ha... " Jawab Handoko yang membuat Jakson salah tingkah.


Ia tersenyum malu. mendengar ucapan Handoko. ia telah mendapatkan lampu hijau lagi dari calon mertua. ia makin semangat meraih hati sang pujaan.


Sementara Feby masih melamun di kamarnya. sikap sobat dan mantan pacarnya sangat aneh menurutnya. Ia tak menyadari kedatangan Anisa.


" Halo adik cantik. kenapa melamun..? " Tanya Anisa menggoda. Awalnya ia hanya mau mengambil minum. namun saat ia lewat pintu Kamar Feby terbuka. dan melihat gadis tersebut melamun.Ia pun penasaran dan masuk.


" Kak. saya mau tanya.? " Ucap Feby meminta Anisa duduk.


" Hm. masalah apa..? " Tanya Anisa antusias.


Feby pun menceritakan sebab ia putus dengan Hans. yang baru pacaran beberapa hari. dan sampai kejadian di mall.


Anisa mengerutkan keningnya dan tersenyum. " Sepertinya dugaan mu benar... mungkinkah Fani dan Hans sebenarnya ada hubungan. dan kita nggak tau hubungan mereka apa... sebaiknya coba kamu buka sosmed nya..? " Ucap Anisa yang membuat Feby setuju.


Keduanya mencari sosmed mereka. dan ketemu. ada sebuah foto membuat keduanya saling pandang.


" Apa mereka sebenarnya pasangan. masak kalau sepupu begitu mesra..! " Ucap Anisa yang heran.


" Iya juga kak.. Fani mengenalkan aku dengan Hans sebagai sepupu. tapi fotonya kayak gini, berpelukan sambil menempelkan bibir.. ih ngeri.. ! " Ucap Feby bergidik ngeri.


" Untung kamu cepat putus dengannya. atau jangan-jangan mereka kumpul kebo. ini lokasinya dalam kamar kosan kayaknya.." Ucap Anisa mengagetkan Feby.


" Siapa yang kumpul kebo..? " Tanya suara seseorang. keduanya dengan cepat menutup letop.


" Ah itu.. si kebo tetangga ku dulu.. dia suka ngumpul kalau di sawah... ha.. ha.. " Jawab Anisa tertawa.. Feby pun ikut tertawa..


" Mana minumnya.. kok malah mampir di sini..? " Tanya Andi.


" Eh emang ini halte.. mampir.. enak aja.. " kesal Feby.


" Ia kamu itu. selalu punya celah merebut istri kakak. sana tuh curhat sama Jakson pasti dengan senang hati bantu kamu.. " Jawab Andi dan berlalu meninggalkan Feby yang kesal. Andi selalu suka membuat adiknya itu kesal.


Anisa hanya mampu tersenyum, ia pun ke bawah mengambil minuman. Tapi juga diikutin Andi.


Sampai bawah mereka bertemu Jakson... " Selamat sore Pak Andi.. " Ucap Jakson sungkan.


" Lu kira gue udah setua itu... " Ucap Andi dengan nada kesal.


" Maaf Pak. eh Tuan.. eh.. aduh saya harus panggil apa..? " Tanyanya pelan pada diri sendiri.


" Terserah...! " Jawab Andi dan berlalu meninggal kan Jakson yang bingung. Anisa melongo mendengar percakapan suaminya dengan asisten kakeknya itu. ada hal yang belum ia tahu..


Jangan lupa like dan komentar nya ya